MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 32


__ADS_3

Ied Mubarak ya untuk yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin. ❤


Selamat hari pertama di bulan Agustus juga ya!


________________________________________


Hari berikutnya, Melody dan Yudha memilih langsung kembali ke Tokyo. Yudha merasa heran kenapa Melody tak ingin berlama-lama di Tulip House, padahal Melody sangat ingin menikmati indahnya bunga sakura yang mekar di musim semi.


"Maaf ya, tiba-tiba ingin liburan, lalu tiba-tiba lagi ingin pulang. Maaf suka seenaknya saja, kau pasti kerepotan, kan? Aku tahu kok, aku ini banyak menyebalkannya. Maaf, sekali lagi aku minta maaf, Yudh." Kata Melody.


Yudha masih fokus menyetir. "Banyak sekali kata maafnya? Tidak lelah sedari tadi mengoceh seperti itu? Jika kau sungguh ingin minta maaf, kenapa tak kau buktikan saja dengan aksi? Hmm, misal, menciumku atau melayaniku di ranjang juga tak masalah. Aku akan dengan sangat senang menerima maaf darimu." Kata Yudha.


"Masih mood buat bercanda? Yudha-sama, istrimu ini sedang sangat serius." Melody menggembungkan kedua pipinya.


Yudha menoleh sebentar. Melody sangat lucu. Ia lalu mengelus rambut Melody dan kembali fokus menyetir.


"Aku sudah serius juga, Mel. Kenapa coba? Tidak ada yang salah dari keinginan yang berubah-ubah. Semua manusia memiliki hak itu." Kata Yudha.


Melody tersenyum. "Idih, sok bijak."


"Aku kan memang bijak?"


"Lah, memuji diri sendiri."


"Haha, kalau tak memuji diriku sendiri, apa kau akan memujiku? Di saat semua orang memujiku, kau malah menganggapku biasa saja. Di sini, aku merasa tersakiti." Kata Yudha. Ia bahkan menyempatkan diri untuk memegangi dadanya.


Melody menoleh ke arah Yudha yang sedang fokus menyetir. Ia lalu memegang pundak Yudha. "Aku tak harus membocorkan siapa laki-laki yang terus aku kagumi dalam diamku, kan?"


"Perlulah, karena aku penasaran."


"Cih, kau ini.." Melody bergerak sedikit mendekatkan diri ke telinga Yudha. Yudha memiringkan kepalanya. "Aku selalu mengangumimu, suamiku. Dalam diampun aku selalu berdoa untuk kebaikanmu. Kau senang?"


"Aku senang kalau kau mengatakannya langsung seperti ini. Lebih senang lagi kalau ada bukti. Kiss me, please!" Kata Yudha. Ia menyeringai.


Melody kembali mendecih. Yudha memang selalu ahli memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Iapun mengecup cepat pipi Yudha.


Yudha terlihat senang dengan perlakuan istrinya terhadapnya. Itu manis sekali.


Namun, rasa manis itu rasanya langsung terpotong karena tiba-tiba ada segerombolan mobil yang mengapit mobil yang mereka berdua tumpangi.

__ADS_1


Satu di samping kiri, satu di depan, dan satu di belakang.


Jepang: Sopir kanan.


Belum lagi ada mobil lain yang membuntuti mereka berdua. Melody langsung panik karena tiba-tiba akan mendapatkan 'kejutan' seperti ini.


"Melody, tutup matamu! Bernyanyilah lagu Bintang Kecil dan semua akan baik-baik saja!" Kata Yudha yang mencoba menenagkan Melody.


Melody mengangguk dan langsung memejamkan kedua matanya. Ia lalu bernyanyi lagu Bintang Kecil dengan suara cempreng fals miliknya.


Yudha hanya bisa tersenyum melihat Melody yang begitu nurut pada dirinya kali ini. Tak ada sanggahan. Padahal biasanya ada saja adu argumen sebelum menemukan kesepakatan.


Yudha memacu mobilnya, satu mobil di belakang berhasil menabrak bamper mobilnya, membuat mobilnya sedikit sulit dikendalikan. Yudha bahkan sampai harus memegangi tubuh Melody dengan satu tangannya agar Melody tak membahayakan kandungannya.


Yudha tidaklah bodoh, ia menggunakan handset yang terhubung dengan ponselnya. Ia menyuruh para bodyguardnya untuk membantunya meloloskan diri dari mobil-mobil yang menghimpit mobilnya.


Satu mobil suruhan Yudha menangani mobil yang ada di samping kiri mobil Yudha. Mobil itu berkorban dengan menabrakkan diri ke mobil itu dan berhasil membuat mobil yang ada di kiri mobil Yudha menepi ke pinggir.


Mobil itu masih saling salip. Yudha berusaha menyalip mobil yang ada di depannya karena merasa area samping kirinya longgar, tapi kesulitan karena rupanya pengemudi mobil di depannya terlalu lihai. Ia harus lebih berusaha lagi. Iapun juga harus berhati-hati mengingat bagaimana kondisi Melody. Hamil enam bulan dan sedang ketakutan.


Mobil milik bodyguard Yudha berhasil membuat mobil yang mengganggu mobil Yudha menyingkir. Sempat terjadi baku hantam antara mobil. Menegangkan karena kecelakaanpun tak bisa dihindari. Beberapa mobil terjungkal beberapa kali, sebelum akhirnya membentur batas pembatas jalan dan terbalik.


"Tidak boleh! Teruslah bernyanyi dan tetap memejamkan kedua matamu! Aku senang mendengar suaramu." Kata Yudha.


"Yudh, suaramu penuh nada ketakutan."


"Semua akan baik-baik saja, Mel. Kau percaya kan padaku? Aku pasti bisa membuatmu selamat beserta anak-anak kita."


"Aku percaya padamu." Melody tersenyum dan kembali menyanyi dengan suara ala kadarnya.


"Arigato."


Yudha kembali fokus menyetir. Mengendalikan laju mobilnya. Banyak yang tidak tahu jika Yudha sebenarnya pernah melakukan balapan liat sewaktu SMA karena kejenuhan tekanan ketat aturan keluarga Kazehaya. Tak hanya menguasi relly panjang, ia juga menguasa drift. Untuk masalah lolos dari kejaran dan himpitan mobil seperti ini, bukanlah hal yang sulit untuknya.


Namun, karena ada Melody, ia menjadi lebih takut.


Dengan usahanya, akhirnya Yudha bisa menjauh dari kejaran mobil-mobil itu. Bodyguard Yudha juga berhasil menanganinya.


Yudha dan Melody berhenti di tengah jalan karena tiba-tiba saja mesin mobil Yudha mati.

__ADS_1


"Sudah aman?" Tanya Melody.


"Iya."


"Kenapa berhenti?"


"Mogok."


Melody membuak ke dua matanya. Ia lalu membuka pintu mobilnya, mengikuti Yudha yang sedang memeriksa mesin mobil.


"Sepertinya tadi kau menggunakan mobil melebih batas mampu mobil ini." Kata Melody.


Asap kemepul keluar dari mesin mobil Yudha.


"Sepertinya, tak apa. Harusnya sebentar lagi ada bawahanku yang akan menjemput kita." Kata Yudha.


"Mobil itu?" Tanya Melody sambil menunjuk ke arah sebuah mobil yang berwarna putih.


Mobil putih itu mendekat ke arah Yudha dan Melody.


Yudha menoleh ke arah mobil putih yang ditunjuk oleh Melody. "Mobilnya harusnya hitam." Kata Yudha.


Melody mengamati mobil putih yang tiba-tiba melambat itu. Jendela terbuka dan seseorang menggunakan topeng keluar menampakkan diri. Ada sebuah senapan laras panjang siap diacungkan ke arah Yudha. Melody yang berdiri tak jauh dari Yudha langsung sigap tanpa pikir panjang melindungi Yudha. Alhasil, iapun tertembak.


Suara tembakkan itu terdengar cukup keras karena jalanan yang sepi. Yudha menangkap Melody sebelum istrinya itu terjatuh ke tanah.


Belum sempat otaknya berpikir untuk mencerna apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja ada bunyi tembakkan lain datang dari arah yang sama. Rupanya ada beberapa mobil yang membantu Yudha. Sebuah mobil Limoushine hitam berhenti, sementara yang lain mengejar mobil yang menembak Melody.


"Melody? Mel.." Yudha memanggil-manggil frustasi Melody.


Ada darah cukup banyak di tangannya. Baju lengan panjang Melodypun berubah warna menjadi merah gelap.


"Syu-syukurlah kau tak apa. Aku bisa me-melindungimu, kan?" Kata Melody tersenyum sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


Yudha berteriak, menggila melihat keadaan Melody.


"Cepat bawa masuk ke mobil, Yudh!" Perintah sosok seorang laki-laki.


"Paman Orion?" Gumam Yudha yang langsung membopong Melody ke dalam mobil pamannya.

__ADS_1


Tak banyak bicara, mobil itupun melesat menuju rumah sakit terdekat.


__ADS_2