
Mia kesal bukan main. Ia sudah menyelesaikan beres mebereskan barangnya dan bersiap untuk pulang, tapi malah harus kembali menunggu karena Melody asyik bermesraan dengan Yudha. Ia harus menghela nafas berulang kali untuk meredakan rasa kesalnya.
Ia hanya harus maklum, kan? Seperti orang-orang pada umumnya yang memaklumi pasangan suami istri yang wajib melepaskan rasa rindu akibat lama tak bertemu. Rindu yang dilepaskan itu butuh waktu. Semenit tak cukup, nambah sepuluh menit lagi. Sepuluh menit tak cukup, nambah sejam lagi. Sejam tak cukup, sudahlah akhiri semua di ranjang! Yakin itu beres.
Ok, sebagai jomblo wati yang masih setia menyendiri, Mia memang harus mengerti semua hal berlebihan dan tak masuk akal ini. Sebisa mungkin ia sudah mencoba bersikap normal, tapi Melody dan Yudha membuatnya berpikir keras melebihi batas normalnya.
Kenapa berbelit-belit seperti ini sih?
Kenapa tak disimpulkan dengan kata yang singkat?
Melody dan Yudha adalah pasangan alay dan lebay abad ini!
"Sudah kangenannya?" Tanya Mia kesal.
Melody meringis. "Sudah. Lama ya nunggunya? Maaf, tadi harus mengurus bayi besar minta disayang dulu. Sayang-sayangannya harus kelas VVIP." Jawab Melody.
"Ckckck, sayang banget ya sama dia sampai rela kasih servis plus-plus?" Goda Mia.
"Iya, sayang banget. Semakin hari rasa sayangnya semakin meningkat."
"Seberapa tinggi meningkatnya, Mel? Setinggi gunung Fuji?"
"Lebih tinggi dari gunung Fuji. Setinggi gunung Everest, Mia."
"Jiah, tingginya itu hanya 8848 meter! Rasa sayangmu hanya segitu? Tidak meyakinkan sekali."
"Tentu saja tidak! Awalnya rasa sayangnya sudah menembus langit ke tujuh, kalau hari ini nambahnya 8848 meter. Kalau besok mungkin akan menembus black hole dan menuju dimensi lain." Melody malah semakin ngawur tidak jelas.
"Alay!"
"Dan lebay!"
"😂"
"😂"
Mereka berdua malah tertawa renyah. Sudah lama tidak tertawa lepas seperti ini. Candaan dan garing yang mulai berkurang karena keterbatasan waktu untuk bercengkrama.
Akhir-akhir ini terlalu sering serius, membuat suasanya ikutan serius. Kadang justru tegang dibuatnya. Tidak nyaman untuk jantung, dan bercanda adalah cara jitu untuk mencairkan suasana. Untuk meredam suasana hati agar bisa berpikir jernih atas masalah yang sedang terjadi.
Itulah gunanya sahabat.
Sahabat akan selalu ada dalam semua keadaan. Susah dan senang. Duka dan cita. Bersama saat bahagia, meraih dan menguatkan saat terpuruk. Bukankah diri ini sudah sangat beruntung karena memiliki sosok seorang sahabat?
"Aku tak menyangka Yudha bisa seperti itu. Seriusan? Masak sih? Yudha? Seorang pangeran kampus kita yang melegenda itu?" Tanya Mia tak percaya.
Melody menoleh ke kanan dan ke kiri. Ship Yudha tidak ada di ruang tamu. Yudha sedang membantu Shuhei memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Sementara ia dan Mia menunggu di ruang tamu.
"Iya, tadi dia kesal sama orang yang ada dalam mimpinya. Dia bilang, aku ini direbut sama laki-laki lain. Aku kira itu Alvin, ternyata itu Ray!" Jelas Melody.
"Ray? Siapa dia? Nama yang bagus." Tanya Mia bingung.
Memang Ray itu siapa? Ia bahkan tidak pernah sekalipun mendengarkannya. Apakah Ray itu juga seorang pangeran? Pangeran dari negeri sebrang?
"Kata Yudha, Ray itu salah satu rekan bisnisnya dari Indonesia. Mereka saat ini sedang bekerja sama untuk proyek resort di Bali. Ah, aku jadi ingin ke Bali." Melody kembali melanjutkan penjelasannya.
"Rekan bisnis tapi bisa masuk ke dalam mimpi? Yudha memimpikanmu direbut oleh Ray? 😂 Konyol. Sumpah itu konyol sekali. Apa lagi Yudha bisa sangat cemburu setelahnya." Kata Mia.
"Yudha suka seperti itu, dia kan memang cemburuan. Kalau aku bisa mengecil, Yudha akan selalu membawaku ke dalam saku bajunya!"
"Waduh, Yudha itu bucin juga ya?"
"Dia suka berlebihan saja."
"Tapi Mel.."
"Hm? Nani desu ka, Mia?"
Nani desu ka: Apaa?
"Ray itu seperti apa? Masih penasaran karena Yudha sampai memimpikannya." Tanya Mia.
"Entahlah, kurang paham juga aku, Mia. Intinya, Ray itu memiliki aura yang dingin dan gelap. Kata-kata yang terucap seperti mengandung sayatan. Hanya itu yang Yudha katakan kepadaku." Jawab Melody.
Mia langsung berpikir jika Ray adalah pangeran es dari selatan!
Sayangnya, Mia melupakan jika di Indonesia itu negeri tropis tanpa es. Adapun jauh di atas puncak gunung Jayawijaya di Papua.
"Kenapa tidak kau tanya lebih lagi sih, Mel? Misal nomor ponselnya? Apakah dia tampan?Aku kan jadi penasaran sama sosok ini. Apa dia sungguhan ada? Karena ini Yudha yang bercerita, berarti dia sungguhan. Dia hidup di bawah langit yang sama dengan kita!" Mia antusias jika mengenai hal seperti ini.
__ADS_1
"Seleramu terlalu imajinatif!"
"Biar saja!"
"Aku sudah bertanya lebih soal Ray, tapi Yudha keburu cemburu. Gagal sudah karena dia melarangku membicarakan laki-laki lain."
"Sabar! Dia hanya laki-laki yang sedang cemburu. Kalau tidak menyayangimu, dia akan bereaksi biasa saja."
"Iya aku tahu kok, Mel. Alvin saja aku rela lepasin demi Yudha. Apalagi sosok Ray yang tak aku kenal, kan?"
"Kau benar. Melihatlah hanya pada Yudha! Aku tahu dia laki-laki yang sangat bertanggung jawab terhadapmu."
"Iya tahu kok, Bebek paling manis se-Jepang!"
"Jiah, Jenong Jepang. J-J-J!"
"Apaan sih? Garing amat."
Dan mereka berdua kembali tertawa. Meski tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi menyempatkan diri untuk tertawa tidak ada salahnya.
"Sudah tertawanya? Butuh toak agar suara kalian bisa terdengar sampai ke seluruh penjuru perfektur Miyagi?" Sindir Yudha karena mendengar suara Melody dan Mia yang sangat keras sampai di depan rumah.
"Yudha ganggu deh! Orang kita lagi senang-senang seperti ini." Kata Melody.
"Suamimu sendiri kau anggap sebagai pengganggu? Oh begitu ya rupanya? Hm, paham, tadi diminta jangan bahas Ray, malah bahas dia. Jatuh cinta kau sama dia?" Kata Yudha. Ia mendengar sekilas saat mengambil tas milik Melody di kamar.
Lagi-lagi seperti ini. Yudha terlalu berlebihan menanggapi sesuatu. Kesal lama-lama. Yudha membuatnya merasa menjadi tersangka yang jahat.
"Yudha, haruskah aku menciummu di hadapan Mia agar kau tetap mempercayaiku jika aku ini hanya melihatmu?" Tanya Melody.
"Tentu saja!" Seringai Yudha.
Ah, jiwa Melody terasa melayang ke udara. Apa yang baru saja terjadi? Apa ia sedang terkena jebakkan manis Yudha? Rasanya Yudha ini sedang menggodanya. Seperti dipermainkan secara manis. Namun membuat kesal.
"Cih, punya suami gini amat ya?" Gumam Melody.
"Apa katamu?" Kesal Yudha. Sepertinya ia baru saja mendapat sumpah serapah dari istrinya.
Melody bangkit perlahan dari duduknya. Ia harus tetap berhati-hati akan kandungannya. Ia lalu berjalan mendekati Yudha.
Melody mencengkram mantel Yudha. Memaksa suami yang jauh lebih tinggi darinya itu agar menunduk menyeimbangkan dengan tinggi badannya.
Yudha melebarkan kedua matanya. Ia tak percaya jika Melody bisa menciumnya dengan cara seperti ini. Bahkan berani menujukkannya di depan Mia.
Tak sampai semenit berciuman, Melody melepaskan ciumannya. Ia lalu menatap Yudha dan menyeringai.
Yudha hanya menatap Melody. Ia kembali dikejutkan dengan tindakkan Melody. Melody tiba-tiba menyingkirkan kerah mantel yang dipakainya, lalu mendaratkan ciuman di sana.
Bukan!
Bukan ciuman!
Itu gigitan!
Melodi menggigit leher Yudha.
Yudha meringis menahan perih. Melody sungguh menggigitnya. Lihatlah wajah tanpa rasa berasalah Melody di hadapannya! Melody bahkan bisa tersenyum manis tanpa dosa setelah berhasil membuat bekas gigitan gigi di leher mulusnya.
Melody menoleh ke arah Mia. "Mia, kau mendapatkan videonya?" Tanya Melody. Mia mengangguk. Melody senang. "Nanti bagi ke aku ya?" Lanjutnya.
Oh jadi Melody saat ini juga sedang mempermainkannya dengan jebakkan video? Kenapa nanggung sekali? Yudha itu memiliki banyak ide.
Yudha lalu membalas mengecup leher Melody yang sedang berpaling menghadap ke Mia. Bukankah itu artinya Melody sedang mempersembahkan leher untuk dinikmati olehnya?
Kini giliran Melody yang kaget akan perlakuan Yudha. Sementara Mia masih mangap tak percaya. Sial atau beruntung, video rekam ponselnya masih menyala.
Melody mendelik pada Yudha usai Yudha berhasil membuat tanda merah di lehernya. Ia mengusap cepat bekas yang baru saja dibuat oleh Yudha. Perih dan panas.
"Di rumah nanti, aku akan mengajarimu bagaimana caranya membuat kiss mark." Kata Yudha.
Melody kembali kalah untuk yang ke sekian kalinya dari Yudha. Yudha itu lawan yang terlalu berat. Meski kepepet, Yudha bisa langsung menjalankan rencana lain. Sementara Mia, sepertinya ia sedang mendapatkan harta karun yang tak tak ternilai harganya.
.
.
.
Dalam perjalanan kembali ke Tokyo, Yudha mengajak Melody, Mia, dan Shuhei mampir ke kedai ramen sekaligus penginapan milik Takaoka. Mereka mampir untuk menikmati ramen dan sekaligus mengucapkan banyak terima kasih karena sewaktu badai salju sudah banyak dibantu.
__ADS_1
Melody dan Mia tengah sibuk menikmati ramen mangkok kedua mereka. Sementara Yudha dan Shuhei berbincang serius dengan Takaoka. Melody dan Mia tidak terlalu memusingkan apa yang Yudha, Shuhei, dan Takaoka bahas. Rasa miso ramen lebih menggoda.
"Yudha-san, arigato gozaimasu sudah menyumbang banyak hal untuk panti asuhan milik saya. Panti asuhan itu terlalu terpencil di pegunungan, tak banyak orang yang tahu." Kata Takaoka.
"Setelah Anda mengetahui jati diri saya, apakah Anda tidak berniat membenci saya?" Tanya Yudha.
Takaoka tersenyum. "Orang yang benar tulus memiliki aura yang berbeda. Saya sudah banyak bertemu dengan berbagai jenis orang yang mengunjungi kedai milik saya. Dan sorot mata Anda menyiratkan ketulusan di sana."
"Terima kasih sudah mempercayai saya, Takaoka-san." Kata Yudha. "Saya akan melakukan sesuatu untuk mencegah proyek tidak masuk akal ini. Sampai saat itu tiba, bisakah Anda dan orang-orang sini bertahan? Saya mohon, apapun yang terjadi, jangan lepas tanah kalian!" Lanjutnya.
"Saya tidak paham apa yang terjadi pada orang-orang besar di atas sana. Saya hanya orang kecil yang tak tahu apa-apa. Jika ada yang bersedia membantu mempertahankan tanah milik saya dan kota saya, tentu saja saya akan menerimanya dengan sangat senang. Saya akan mencoba mempertahankan hak milik saya." Kata Takaoka.
"Shuhei kau sudah menyebar orang-orang kita di tempat ini, kan?" Tanya Yudha.
"Ya, Yudha-sama." Jawab Shuhei.
"Takaoka-san, saya akan mengawasi segala gerakkan mencurigakan di wilayah ini. Jika Anda merasa ada yang janggal juga, saya harap Anda berkenan mengabari saya." Kata Yudha.
Takaoka mengangguk setuju. "Saya pasti akan segera melaporkannya."
"Terima kasih banyak, Takaoka-san."
"Sama-sama, Yudha-san."
Usai berbincang dengan Takaoka-san, Yudha dan Shuhei kembali menemui Melody dan Mia yang sedang menikmati ramen misonya.
"Serius amat berbincangnya, aku pasti tidak akan diberitahu, kan?" Tanya Melody.
"Takaoka-san memberikanmu hadiah karena sedang mengandung bayi kembar." Jawab Yudha.
"Apa itu?" Tanya Melody penasaran.
"Kau mendapatkan semangkok ramen gratis lagi." Kata Yudha.
Melody tersenyum sumringah. "Benarkah?"
"Ya."
"Yes. Aku juga berencana ingin nambah lagi."
"Apa perutmu akan baik-baik saja? Kau sudah hampir menghabiskan dua mangkok, Mel!" Mia ikut nimbrung.
"Aku ini sedang hamil kembar. Minimal tiga mangkoklah." Jawab Melody.
"Enak ya, hamil kembar, makan banyak, tapi kau tidak terlalu mengalami kegemukkan. Semua lari ke perut." Kata Mia.
"Hehe, aku juga tidak tahu. Kalau aku gemuk, mungkin Yudha akan meninggalkanku. Dia kan sukanya yang sexy-sexy macam Amamiya-san." Kata Melody.
"Mel, aku mendengarnya." Kata Yudha.
"Hehe, peace, bercanda kok. Yudha tidak akan meninggalkanku, kan?" Tanya Melody.
"Tidaklah, aku tidak akan meninggalkanmu apapun keadaanmu. Meski kau gemuk sekalipun, kaulah makhluk paling sexy di mataku." Jawab Yudha mantap.
"I love you, calon papa." 😍
"I love you too, calon mama." 😘
Mia dan Shuhei cengo.
Melody yang urak-urakkan bisa seperti ini?
Yudha yang keren itu bisa seperti ini?
Sebenarnya Melody dan Yudha sedang memainkan drama sinetron apaan sih? Tiba-tiba sebagai jomblo mendadak kesal berjamaah. Orang yang sedang kasmaran itu memang beda. Semua serba indah. Semua serba pink. Semua serba mesra. Semua serasa milik berdua.
Kalau cinta sudah melekat, tahi kucingpun terasa coklat.
"Tuan Muda Yudha, apakah itu benaran diri Anda yang sesungguhnya? Saya merasa bahagia karena akhirnya Anda bisa mendapatkan kisah cinta yang indah dengan Nona Melody. Namun, apakah Anda tidak berpikir jika kekerenan Anda saat ini menghianati Anda? Semoga tidak ada orang lain yang melihat Anda seperti ini!" Batin Shuhei.
Ngenes?
Tidak, Shuhei memilih untuk ikut bahagia.
"Astaga. Jadi benar jika orang sedang jatuh cinta itu seperti ini? Menjadi bodoh dan idiot tidak jelas. Hah, apa mereka saja yang berlebihan? Tidak juga, mereka hanya saling menunjukkan rasa saya. Sial, aku iri. 😑 Jomblo mah bisanya apa?" Batin Mia.
________________________________________
Sosok Ray memang ada. Aku memasukkannya ke dalam novel karanganku yang lain! Aku sudah beberapa kali mengatakannya. Lebih tepatnya mempromosikannya. 😂 Ray adalah penjelmaan dari sosok iblis yang sangat kejam. Menindas dan mengurung dewi cantik di dalam sangkar burung jerat cinta gelapnya. Cemburuan akut tingkat iblis dan level +++. Beda jauh sama Yudha yang manis dan membuat senyum-senyum. Cara cemburu Ray itu menyakiti dewi cantik tawanan cintanya, mbak Kiara. Alhasil, mbak Kiara banyak menanggung duka dan lara. Bodohnya lagi, mbak Kiara memiliki rasa yang tak bisa. Benci setengah mati, tapi juga cinta. 😤
__ADS_1
Sumangga cus baca ERROR: Iblis in Love