
Yudha terjebak di Miyagi selama dua hari karena harus menunggu pembersihan salju di jalan dan pohon tumbang. Selama itu pula ia terus bersama dengan Melody. Menikmati semua waktu yang ada. Sebenarnya, egoisnya hati berharap jika badai akan terus berlanjut agar kisah di bawah salju tidaklah usai. Namun itu terlalu keterlaluan, jangan coba-coba berharap keburukkan meski tujuannya untuk kebaikkan.
Semakin hari, semakin cinta. Semakin lama, semakin cinta. Semakin bersama, semakin dalam perasaan yang ada. Dua sejoli yang dimabuk asmara.
Tahu hanya rindu saat berjauhan. Tahunya hanya sedih jika ditinggalkan. Tahunya hanya nangis karena rasa tak mudah saluran. Tidak mau tahu, pokoknya ingin cepat ketemuan. Ingin pelukkan. Ingin ciuman. Ingin ini, ingin itu banyak sekali seperti soundtrack anime Doraemon yang terlantunkan. Pengabdi cinta alay ini sungguh tak terlukiskan.
.
.
.
Melody menatap kosong pemandangan luar kamarnya. Salju masih turun, tapi tidak banyak.
Ingat salju, inga Yudha.
Sebuah lagupun menjadi terdengar mengisi backrground perasaannya. Sebuah lagu rindu.
"Kemanapun ada bayanganmu, dimanapun ada bayanganmu, di semua waktuku ada bayangmu
suamiku.."
Yudha ada rasanya berdiri melambai di depan sana, di bawah salju. Sedang memanggil namanya. Namun ketika ia sadar, Yudha sudah tidak ada.
"Ku menagis, menagisku karena rindu. Ku bersedih, sedihku karena rindu. Ku berduka, dukaku karena rindu. Ku merana, meranaku karena rindu.."
Melody menangis ketika menyadari suaminya itu tidak ada di dalam pandangannya. Ia bersedih karena apa yang baru ia lihat hanyalah halusinasinya. Ia merana karena ternyata, Yudha harus kembali ke Tokyo untuk bekerja.
"Mau tidur teringat padamu, mau makan teringat padamu, mau apapun teringat padamu, suamiku.."
Tidur tak nyaman, makan terasa hambar, mau melakukan apapun hanya Yudha yang terlintas di pikiran. Memenuhi setiap kapasitas memorinya. Seperti sel tubuh yang melekat kuat dan menguasai.
"Kemanapun ada bayanganmu, di manapun ada bayanganmu, di semua waktuku ada bayangmu, suamiku.."
Kembali ke semula. Apapun yang Melody lakukan usai ditinggal Yudha kembali ke Tokyo, halusinasinya tentang Yudha menjadi-jadi. Yudha ada dimana-mana.
Senyuman Yudha, tawa Yudha, semua wajah dan tubuh itu menghantui matanya. Pelukkan Yudha, ciuman Yudha, sentuhan Yudha, begitu terasa di sekujur tubuhnya. Bagai sengatan lebah yang meninggalkan bekas. Bukan berarti jahat, tapi rindu ini saja yang berat.
"Aku tak mau menanggung rindu sendirian, biar Yudha saja! Enak saja dia membuatku sedih seperti ini! Mana lagi hamil lagi. Yudha... aku ingin dipeluk lagi." 😢😢
Melody merremas seprai kasur miliknya. Rasanya sangat sakit ketika dadanya menyempit memikirkan Yudha.
"Kenapa aku bisa seperti ini? Apakah karena aku terlalu mencintainya? Baru saja sehari ditinggal, sudah seperti ini. Tuhan? Rinduku ingin bertemu!"
Melody menangis di kamarnya. Akhirnya Mia masuk dan berkacak pinggang. Melody tak kunjung juga memakan makan siangnya. Sebagai sahabat tentulah ia merasa khawatir.
"Anak ini tidak punya harapan sama sekali!" Kata Mia. Ia menggelengkan kepalanya. "Hoi, Yudha bilang akan menemuimu di akhir pekan nanti! Belum ada sehari ditinggal sudah mewek tidak jelas. Bagaimana jika seminggu?" Lanjutnya.
Melody masih tiduran sambil meringkuk. "Jomblo seperti dirimu mana bisa mengerti!!"
Jomblo?
Seperti dirinya?
Mana bisa mengerti?
😡😡😡
"Sebenarnya apa yang sudah Yudha lakukan padamu sih sampai-sampai kau menggila seperti ini? Kalian tidak bertengkar lagi, kan?" Tanya Mia. Ia mati-matian menahan rasa kesalnya. Enak saja dikatain jomblo mana bisa mengerti, mirisnya itu benar. Dirinya memanglah jomblo dan tak mengerti.
"Sudah baikkan kok. Yudha kemarin suka peluk-peluk aku, suka elus-elus perut aku, suka cium-cium aku. Tapi kini Yudha sudah tidak ada, katanya perginya hanya sebentar tapi lama. Dia bohongi aku, Mel.." Jawab Melody.
Mia tepok jidat. Melody bisa berlebihan seperti ini ya?
"Ditidurin tidak?" Tanyanya asal.
__ADS_1
"Iya ditidurin juga, beberapa kali malahan." Jawab Melody jujur. Terlampau jujur malahan.
Mia mangap.
Biasanya, sejauh yang ia tahu, Melody itu sangat malu jika harus membahas hubungannya dengan Yudha. Melody bahkan selalu menutup-nutupi jika menyangkut ke hal yang intim. Ia butuh waktu untuk menggodanya. Namun ini? Lihatlah sendiri bagaimana Melody bisa alay bin lebay hanya karena merindukan Yudha! Bahkan tak malu mengungkap perlakuan intim yang sudah Yudha lakukan padanya!
"Yudhaaa.. Huwaaa.." ðŸ˜ðŸ˜
"Yah mewek dia.." Kata Mia. Ia menghela nafas, lalu dengan keberaniannya yang sangat kecil itu , ia menelpon Yudha.
Sangat gugup karena ini pertama kalinya ia memberanikan diri menghubungi idolanya. Bagaimana ia bisa mendapatkan nomor Yudha? Ingat yang Yudha mencari kabar mengenai Melody? Nah, saat itu ia mendapatkannya karena Yudha yang pertama kali mengirimnya pesan. Beruntung ia menyimpannya, rupanya akan berguna juga.
Setelah berbicara seperlunya ia lalu menyodorkan ponselnya pada Melody.
"Yudha ingin bicara!" Kata Mia.
Melodu melirik ponsel yang Mia sodorkan padanya. Mendengar nama Yudha membuatnya bersemangat, ia mencoba bangun dari tidurannya. Mia membantu Melody yang terlihat cukup kesulitan itu.
"Berbicaralah dengannya, aku akan memanaskan makanan!" Kata Mia.
Melody menangguk dan menghapus air matanya. Mia tersenyum tipis dan pergi ke dapur kost.
.
.
.
"Yu-Yudha.." Gugup Melody.
"Hn. Mel-Melody.." Yudhapun juga gugup.
"..."
"..."
"A-ano.."
"Ano.."
Mereka berbicara bersamaan.
"Yudha dulu saja.."
"Kau dulu saja, Mel.."
Mereka berbicara bersamaan lagi.
"Aku, me-merindukanmu.." Kata Melody akhirnya.
"Baru beberapa jam ditinggal sudah kangen.."
"Biar! Aku tahu, aku sendiri yang menderita karena menanggung rindu ini. Kau mana peduli!" Kesal Melody. Ia kembali menangis.
"Jangan menangis! Kau membuat hatiku terluka. Rindu itu memang berat, bagilah denganku! Aku akan menyangganya bersamamu."
"Kau tahu, Yudh?"
"Nani ka?"
Nani ka: Apa?
"Aku melihatmu dimana-mana. Kau selalu saja menghantuiku, ketika aku memanggilmu, kau hanya tersenyum, lalu saat aku mengedipkan mataku, kau menghilang. 😢 Katakan, Yudh! Katakan jika kau tidak akan meninggalkanku!"
__ADS_1
Yudha juga merasa teriris hatinya. Melody yang ceria dan kadang cukup tomboy itu bisa menjadi selemah ini hanya karena sedang merindukannya. Apakah kehamilannya begitu mempengaruhinya?
"Aku tidak akan meninggalkanmu dalam artian lain. Dengar, aku memiliki urusan di Tokyo, dan kau memiliki urusan di Miyagi. Secara harafiah kita sedang berpisah, tapi aku akan mengunjungimu di akhir pekan. Aku merindukanmu juga. Aku bertahan karena cintaku padamu."
"Pengen dipeluk olehmu lagi, Yudh. Aku merindukan bau badanmu.."
"Bersabarlah! Saat kau bersabar, nanti ketika kita bertemu, pertemuan kita akan semakin indah. Belajar untuk bertahan menahan rasa rindu, lampiaskan sesukamu saat kita bertemu!"
"Apakah nanti aku boleh memelukmu?"
"Hn."
"Apakah nanti aku boleh menciummu?"
"Hn."
"Apakah nanti.."
"Lakukan sesukamu agar rasa rindumu terobati. Pelukkan, ciuman, bahan sentuhan di sekujur tubuhmu akan aku berikan. Jadi aku mohon, jangan menangis! Makanlah dengan benar, ini demi anak-anak kita juga!"
"Aishiteru yo.."
"Aishiteru yo.."
Klik.
Dan panggilan itu di akhiri.
Melody memeluk ponsel milik Mia itu. Ia kembali menangis, tapi menangis bahagia. Yudha berhasil menenangkannya.
.
.
.
Sementara itu di Tokyo..
"Tuan Muda, jalan ke kamar Anda bukan ke sana!" Kata Shuhei.
"Oh." Yudha ganti jalur.
"Tuan Muda, sebelah sana!" Shuhei bahkan harus menunjukkan jalannya dengan tangannya. Sebaiknya ia mengantar Tuan Mudanya itu ke kamarnya, takut nyasar.
"Hn."
"Apakah sesuatu yang menarik telah terjadi di Miyagi saat badai salju berlangsung? Yudha-sama bisa menjadi gagal fokus seperti ini. Bukankah Nona Melody baik-baik saja?" Batin Shuhei.
.
.
.
Di dalam kamar Yudha..
Yudha sedang menderita karena dirinya sendiri juga begitu kesulitan menahan rasa rindunya pada Melody.
Ia bahkan sampai menangis.
________________________________________
Yang sedang sedang kangen sama keluarga, kekasih, atau teman-teman kalian di lebaran kali ini, cobalah tahan. Kata Yudha, saat ketemu nanti akan lebih indah. 😎
__ADS_1
Happy 200 chapter! Keknya aku deh author yang suka update berkali-kali? 😂 Kalo lagi jalan otaknya ya gini deh, gak nahan buat nulis. Tapi aku juga memiliki kerjaan lain yang harus aku lakukan, so ada someday aku gak bisa up lancar. 😎 Aku suka piknik juga soalnya. Haha.
Salam baper! Tetap rindu, karena beratnya akan indah saat bertemu. 😉