
Pagi harinya, badai sudah reda. Namun salju begitu menumpuk di luar penginapan.
Melody dan Yudha masih tertidur. Saling berpelukkan enggan melepaskan. Ketika Melody ingin beranjak dari tidurnya, Yudha menahannya. Begitupun sebaliknya. Bahkan sampai harus menahan hasrat untuk pergi ke kamar mandi.
"Aku ingin ke toilet, Mel." Kata Yudha.
Melody masih memeluk Yudha di ranjang. "Jangan!"
"Jangan?"
"Sebentar saja, aku ingin memelukmu lebih lama."
Yudha mengusap lengan Melody yang tengah memeluknya. Ia kemudian ikut membalas pelukkan Melody.
"Tubuhmu baik-baik saja?" Tanya Yudha.
Yudha ingat, ia sudah sangat berhati-hati, tapi sama saja ia tetap masih khawatir.
"Hm, baik-baik saja. Hanya sedikit ngilu." Jawab Melody.
"Maaf.."
"Tidak apa-apa, Yudh. Itu wajar, kan?"
"Bagaimana dengan janinnya?" Ini yang paling Yudha khawatirkan.
"Tidak apa-apa juga."
"Kau yakin?" Yudha masih belum yakin.
Melody meraih tangan Yudha yang tengah memeluknya, ia memimpin tangan Yudha untuk menyentuh perutnya.
Yudha mengusap perut Melody lembut. Impiannya terwujud. Ia akhirnya bisa kembali melakukan hal ini.
"Anak-anak baik-baik saja, Yudh.." Jawab Melody.
Anak-anak? Yudha menatap Melody. Melody tersenyum menanggapinya.
"Apa yang sudah aku lewatkan?" Tanya Yudha.
Melody menyentuh pipi kanan Yudha. "Janinnya kembar."
Yudha menimpa jemari Melody yang menyentuh pipinya. "Sungguh?"
"Apa aku terlihat sedang berbohong?" Tanya Melody.
Yudha menggeleng. Ia lalu menggenggam jemari Melody dan menciumnya.
Ada sensasi hangat ketika Yudha mencium jemarinya. Lihatlah raut wajah Yudha yang nampak begitu bahagia! Melody tak menyangka jika Yudha bisa sebahagia ini.
"Kenapa tidak bilang sejak awal? Kau membuatku terlihat seperti calon ayah yang jahat. Ya memang nyatanya aku keterlaluan sih." Kata Yudha.
__ADS_1
"Aku mengetahuinya di hari dimana kau mengurungku di kamar kita. Hari itu juga hari dimana kau melupakan jadwal periksa kehamilanku. Jika seperti itu, tidak mungkin kan aku bisa mengatakannya? Kau tahu sendiri bagaimana situasinya saat itu."
Jika ingat masa itu, rasanya masih sesak dan kesal. Melody sampai harus bertengkar hebat dengan Yudha dengan puncaknya dikurung di kamar selama seminggu.
"Maafkan aku, Mel! Aku salah, aku memang pantas dihukum. Hukumlah aku jika itu bisa menebus dosaku padamu dan anak-anak kita!" Kata Yudha penuh penyesalan.
Ia merasa sudah gagal menjadi sosok suami yang baik impian Melody. Sesungguhnya ia sedang berusaha, tapi ia kesulitan mengekspresikan usahanya. Ditambah rasa egoismenya yang super tinggi membuatnya terlihat tidak berperasaan.
"Aku ingin memukulmu dengan sangat keras waktu itu." Kata Melody.
"Bagaimana dengan saat ini masih adakah keinginan itu? Percayalah Mel, aku akan menerima segala hukuman darimu kecuali perceraian. Meski kau menangis darah sekalipun, aku tidak akan pernah menceraikanmu!"
"Just kiss me!" Pinta Melody singkat.
"Are you sure about that?" Tanya Yudha.
"Yes.."
Yudha menatap Melody. Tatapan ketulusan yang begitu meneduhkan hatinya. Apakah ini rasanya jatuh cinta? Semua menjadi serba indah dan betah. Semua menjadi sangat manis dan romatis.
Yudha menyingkirkan poni dan rambut Melody yang menghalangi wajah ayu Melody. Pelan tapi pasti. Sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ia ingin menikmati setiap detik waktu yang ia habiskan dengan Melody.
Dengan penuh cinta, Yudha mendaratkan kecupan manis di jidat Melody. Melody memejamkan kedua matanya. Menerima kecupan hangat dari bibir Yudha. Kecupan indah atas dasar kasih. Kecupan indah atas dasar sayang. Kecupan indah tanpa dasar nafsu.
Kecupan di kening adalah kecupan bukti kasih sayang yang tak ternoda oleh nafsu dan egoisme.
"Ba-bagaimana?" Tanya Yudha. Ia biasanya mencium Melody di bibir, tapi baru saja ia melakukannya di tempat lain. Di jidat lebar Melody.
Sama halnya dengan Melody, ia baru saja mendapatkan pengalaman ciuman terbaiknya. Ia juga merasa sangat bahagia. Jiwa maupun raganya.
Melody membuka kedua matanya perlahan. Wajah Yudha begitu dekat di depan wajahnya. Ya, nyatanya mereka berdua memang sedang tiduran bersama. Ada semburat merah di kedua pipi Yudha.
Melody tekekeh melihatnya. Suaminya itu sepertinya sedang malu dan itu sangat manis, imut, dan meggemaskan. Ia jadi ingin mencubit hidung mancung Yudha.
Namun, ia urungkan. Ia tidak ingin membuat hidung Yudha yang sempurna itu ikutan memerah.
Melody malah menunjuk matanya sendiri. "Cium mataku! Kau harus melakukan apapun yang aku pinta, setelah itu aku akan memaafkanmu!"
Mencium mata? Ah, maksudnya kelopak matanya.
Yudha menuruti permintaan Melody. Iapun bangun dari tidurannya dan kembali menatap Melody yang sedang tiduran.
Cantik.
Istrinya itu sangat cantik. Semakin cantik saat sedang hamil. Ia sudah lama menyadari kecantikan Melody. Ia juga sudah lama mengakuinya.
Dengan kedua tangan untuk menahan beban tubuhnya, Yudha menghimpit Melody. Membuat Melody berada di bawahnya. Bukan berati ia menindih, hanya tangannya saja di antara kepala Melody. Ia hanya ingin lebih mudah untuk mewujudkan permintaan Melody.
Melody menyentuh kedua pipi Yudha dengan tangannya. Yudha yang berada di atasnya nampak sangat tampan. Kulit pucat itu, hidung mancung itu, bibir tipis itu, mata sayu itu, dan rambut acak-acakan itu. Itulah suaminya, ayah dari anak-anaknya.
"Yu-Yudha-kun.." Ucap Melody sambil menahan rasa malunya.
__ADS_1
"Aku senang!"
"Eh?"
"Aku sangat senang ketika kau memanggilku dengan menambahkan sufix-kun di belakang namaku. Aku merasa bisa dekat denganmu." Kata Yudha yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Seperti tadi malam, sebelum melakukan hubungan suami-istri, Melody juga memanggilnya dengan imbuhan itu di belakang namanya. Ia merasa jika harinya akan membaik ketika mendengarnya.
"A-aku juga ingin memanggilmu dengan imbuhan ini. Sudah sejak lama, tapi Amamiya-san sudah lebih dahulu melakukannya. Meski kesal, sekali dua kali aku ingin memanggimu dengan imbuhan seperti ini." Jelas Melody.
"Ribuan kali aku mendengarnya dari orang lain, tak bisa dibandingkan dengan sekali aku mendengarkannya darimu, Mel. Suaramu menyentuh hati dan jiwaku."
"Gombal." Melody tekekeh.
"Aku suka menggodamu. Apa lagi membuatmu kesal. Itu sangat mengasikkan." Kata Yudha tengil.
"Kejamnya dirimu!"
"Pejamkan kedua matamu! Aku akan memenuhi permintaanmu." Pinta Yudha.
Melody lalu kembali memejamkan kedua matanya. Yudha lalu mencium kedua kelopak matanya. Mulai dari mata kanan, lalu mata kiri.
Sensasi hangat yang sama seperti tadi. Sensansi yang ingin dirasakan lagi.
Melodypun menunjuk pipi kirinya. "Di sini juga!"
Yudha mencium pipi kiri Melody.
"Di sini, Yudh!" Melody menunjuk pipi kanannya.
Yudha mencium pipi kanannya.
Melody sangat bahagia. Ia menatap Yudha sayu. Suaminya bisa sebaik ini dalam waktu kurang dari dua puluh jam. Jika ingat hari kemarin rasanya seperti tidak mungkin.
Dengan berani Melody lalu menunjuk bibirnya. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Kau yakin?" Tanya Yudha.
"Iya."
"Aku bisa saja tidak bisa mengendalikan diriku." Jujur Yudha.
"Kalau begitu jangan dikendalikan!"
"Kau sungguh berani!"
Dan Yudha mendaratkan ciuman di bibir Melody.
Ciuman yang menyengat indah tanpa rasa sakit. Tidak menghimpit apa lagi membuat sempit. Membuat jiwa terbang ke atas dan melejit. Sangat manis tidak ada rasa pahit. Tidak merasa terancam seperti dikejar penguntit. Amat nyaman dan tidak nylekit. Hasrat terpendampun ikutan bangkit. Ingin dilepas menuju langit.
Tidak mungkinkan diteruskan untuk minta duit?
__ADS_1
Labih baik vote, like, komen, & share para pembacaku yang swiit. 😎😂