
Onsen dan penginapan.
Pukul 11.00 malam, Melody dkk memutuskan untuk bermalam di sebuah Onsen pribadi plus penginapan milik keluarga Neil dan Ayumi.
Kata Neil, malam menginap gratis ini sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah menyutujui proposal kerja sama pembangunan hotel bintang lima di kawasan Hokaido. Yudha menerimanya dengan baik mengingat keluarga Tachibana adalah rekan bisnis lama Kazehaya yang terpercaya. Ini adalah suatu bentuk penghargaan.
Onsen yang dilengkapi penginapan itu sangat indah. Bersifat pribadi. Jadi, tempat itu dilengkapi rumah kecil gaya tradisional jepang dengan onsen/ pemandian air panas pribadi sebagai fasilitasnya.
Layaknya rumah tradisional pada umumnya, setiap rumah dilengkapi dengan halaman yang cukup luas dengan kolam air hangat. Ada pembatas pagar yang tinggi untuk kesan privasi. Bunga dan berbagai tanaman hias juga menambah indahnya tempat itu.
Melody dan Yudha yang memang sepasang suami istri harus menginap di tempat yang sama. Bahkan khusus untuk mereka berdua, mereka dapat pelayanan kelas VIP. Berbeda dengan Nao yang memilih sekamar bersama Sai dan Neil. Shuhei, Alvin, dan Yura memiliki ruangannya sendiri meski tak sebesar milik Melody dan Yudha. Ayumi dan Mia di kamar yang sama pula.
Setelah memasukki 'rumah' mereka, Melody dan Yudha tetap masih saling diam. Yudha sudah menyelonong ke toilet. Melody mengamati setiap sudut ruangan 'rumah' mininya itu.
Hanya ada satu ruangan.
Ya, satu ruangan. Melody melihat fuuton/ kasur lipat di ruangan itu. Ada meja makan pendek dengan berbagai macam hidangan dan minuman di atasnya. Makan lesehan?
Satu kotak.
Ruangan itu hanya sekotak saja tapi memiliki desain seperti rumah. Jendela dan pintu geser juga ada. Toilet ada di luar kamar itu. Tepatnya di belakang, dekat kolam air panas.
"Kau tidak ingin mandi?" Tanya Yudha. Sejak tadi sore, akhirnya Yudha buka suara juga.
"Ha-hanya ada kolam air panas di luar itu, kan?"
Melody cukup kaget karena Yudha yang tadi pagi ia buat kesal mau berbicara lagi padanya.
"Hn."
"..."
Yudha tahu apa yang dimaksud oleh Melody."Kau bisa menghadap ke utara, dan aku ke selatan."
Perbincangan pendek itu terasa agak kaku. Canggung untuk hal yang sesungguhnya tak mereka mengerti.
Sesuai dengan perintah Yudha, mereka berdua kahirnya mandi bersama. Melody percaya jika Yudha itu tidak akan pernah mengintipnya mandi.
.
.
.
Secara perlahan ia menapakkan kakinya ke dalam air hangat itu. Ia berada di ujung kolam itu dan menghadap ke utara, membelakangi Yudha yang ada di ujung selatan kolam itu.
Kepulan asap air hangat di malam hari cukup berhasil menyembunyikan tubuh tanpa pakaian mereka.
Berendam air panas di musim panas adalah hal yang sedikit tidak lumrah, harusnya berendam air panas itu dilakukan di musim dingin, tapi karena ini di malam hari, rasanya nyaman juga. Air hangat itu seolah memanjakkan tubuh yang lelah dan pegal.
Saat sedang berendam, Melody mendengar germecikkan air dari arah selatan. Ia tahu meski tak melihatnya, Yudha sudah selesai membersihkan diri. Dengan begitu, ia bisa sedikit bebas di kolam ini karena Yudha kembali ke kamarnya.
Ia ingin lebih lama bersantai di kolam ini.
.
.
__ADS_1
.
Setengah jam kemudian.. Melody merasa pusing karena terlalu lama berendam. Sudah waktunya ia keluar dari kolam. Toh ia juga sudah membersihkan diri dengan sabun.
"Ahhh, kimochi. Rasa lelahku berkurang. Tapi kenapa aku jadi pusing seperti ini ya?" Kata Melody.
Kimochi: Nikmat.
Melody berniat kembali ke kamarnya. Namun, ketika ia bangkit, rasa pusing di kepalanya membuat ia kehilangan keseimbangan, ia lalu terjatuh di kolam dangkal itu.
Suara air karena jatuhnya Melody cukup keras dan sampai ke telinga Yudha.
Karena khawatir, tanpa pikir panjang Yudha langsung berlari ke luar dan memeriksa apa yang terjadi. Dilihatnya Melody terduduk di dalam kolam sambil memegangi kepalanya.
Yudha langsung menyambar handuk besar di dekat kolam dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Melody. Ia lalu mengangkat tubuh Melody dari dalam air dan membawanya ke dalam kamar mereka.
.
.
.
Di dalam kamar..
"Kau baik-baik saja?" Tanya Yudha. Suaranya terdengar jauh lebih baik. Tidak ada nada kesal di intonasinya.
Yudha yang Melody kenal sudah kembali.
"Hm, hanya sedikit pusing."
Jawab Melody lemah.
"Gomen.."
Baka: Bodoh.
Gomen: Maaf.
Dengan gerakkan cepat, Yudha membenarkan letak handuk Melody. Ia tidak mau seperti sedang memanfaatkan keadaan Melody yang telanjang itu. Meski handuk yang dipakai cukup besar, tapi tak bisa juga menutupi dengan sempurna. Handuk itu bahkan sudah basah karena air kolam tadi.
"Aku akan membeli minuman dingin, kau gantilah pakaianmu. Di alamari itu ada pakaian tradisional untuk wanita. Kau bisa memakainya untuk sementara."
Perintah Yudha.
Melody hanya mengangguk. Ia terlalu pusing untuk memikirkan hal lain.
.
.
.
Setelah kembali dari beli minuman dingin, Yudha lalu menyodorkan minuman itu pada Melody. Rasa jambu biji, kesukaan Melody. Melody terlihat senang menerimanya.
Mereka lalu memakan hidangan yang sudah di sediakan pihak penginapan.
"Yudha, terima kasih sudah menolongku tadi."
__ADS_1
"Hn."
"Bo-boleh aku memegang tanganmu?"
Tanya Melody
Yudha menaikkan alisnya. Ia lalu meletakkan sumpitnya dan mengulurkan tangannya.
Melody mengambil sesuatu dari arah sampingnya. Ia lalu mengikatkannya pada tangannya Yudha.
"Apa ini? Gelang?"
Melody mengangguk. "Kemarin aku membuatnya, diajari paman di festival itu. Kata paman, benang yang digunakan untuk membuat gelang itu adalah benang suci dari kuil. Aku harap gelang itu bisa melindungimu."
"Hm, gelang jimat, ya?"
"Sse-seperti itulah. Maaf, mungkin itu tidak seberapa."
"Kupikir kau akan membelikanku alat pijat kepala karena sering melihatku lembur tugas kantor. Tapi terima kasih."
"He? A-aku harusnya lebih peka lagi akan keinginanmu, aku akan membelikanku alat itu besok."
Yudha tersenyum. "Tidak usah, aku hanya bercanda. Ayo lanjut makan! Aku sudah sangat lapar"
Mereka melanjutkan acara makan malam—makan larut malam.
Melody meminum beberapa teguk air yang ada di meja makan itu. Jujur saja, ia tidak begitu menyukai rasa minuman itu. Itu seperti sake yang ia minum saat menikah dengan Yudha dulu.
Minuman itu membuatnya pusing, tapi pusingnya berbeda dengan yang ia rasakan saat di kolam air hangat tadi. Rasanya jauh lebih panas.
Sake: Minuman berakhohol tradisional Jepang.
Yudha merebut gelas mini milik Melody. "Ini sake, kau bisa mabuk jika berlebihan!"
"Aku panas, Yudha. Panas sekali." Melody mulai merengek.
Yudha ingat jika Melody tidak tahan dengan minuman beralkhohol. Minuman yang ia berikan tadi sudah habis ditenggak Melody. Bodohnya, ia tidak membeli lebih. Iapun beranjak dan ingin membelikan minuman kepada Melody lagi. Tapi saat hendak membuka pintu, pintu kamar itu enggan terbuka.
"Tidak bisa dibuka?" Gumam Yudha.
"Yudha, panas sekalihhh. Panasshhh." Rengekkan Melody terdengar janggal di telinga Yudha.
Suara itu rasanya menjadi semakin aneh saja. Ia bahkan sempat merinding karenanya.
Yudha mencoba mengabaikan pikiran anehnya, ia lalu mencari remot AC, tapi tidak ada dimana-mana. AC kamar tidak dinyalahkan. Ia lalu membuka jendela, namun tak begitu membantu.
Jendela kecil itu hanya seperti ventilasi semata.
"Yudha, aku mendapati sms dari ibu di ponselmu seperti ini, kau tahu apa maksudnya?"
Yudha lalu mendekati Melody dan mengambil ponselnya. Meski Melody tak membuka pesannya, tapi pesan yang singkat itu bisa terbaca walau tak harus sampai membuka menu pesannya.
From: Ibu Mikan
'Yudha-chan, Melody-chan, ganbatte."
.
__ADS_1
Ganbatte: Semangat.