MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 30


__ADS_3

Sorry guys, kesehatanku menurun akhir-akhir ini jadi gak bisa update cepat. 😎 Butuh konsentrasi juga nyusun cerita, kan? Ditambah kehidupan pribadi yang juga tetap harus berjalan beiringan. Namun, mencoba ikhlas dan tetap berusaha yang terbaik adalah jalan ninjaku, eh.. maksudhnya jalan hidupku. Lagipula aku tak berminat jadi ninja.


Keep suport dengan cara like ya. Makasih, semua. Selamat membaca!😊😊


________________________________________


Melody tengah asyik memotret dirinya sendiri di depan cermin kaca almari pakaian kamarnya. Ia melakukannta beberapa kali dan tak ada rasa puas di antaranya.


"Gila, badanku ini lucu sekali ya? Aku hamil, tapi gemuknya ngumpul di perut saja. Namun benar kata Mia, setidaknya sehabis melahirkan nanti aku tak perlu terlalu susah menurunkan berat badan." Gumam Melody sembari melihat hasil jepretannya di gallery ponselnya.


Melody kembali memotret dirinya sendiri. Sama seperti sebelumnya, ia melakukannya berkali-kali.


Ketika tengah sibuk memotret dirinya sendiri, tiba-tiba sebuah tangan kekar sudah melingkar dari arah belakang.


"Sebegitu senangnyakah dirimu sampai harus senyum-senyum sendiri? Jadi ingat saat awal-awal kita kenal, kau suka melamun, senyum-senyum seperti orang gila, lalu menggeleng-geleng tanpa sebab. Aku penasaran, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, sih?" Tanya Yudha.


"Yudh, jangan gerak!" Pinta Melody dan klik, ia menekan menu capture foto pada ponselnya. Ia lalu menunjukkannya pada Yudha. "Bagus tidak?" Tanyanya.


Yudha melihat foto yang Melody tunjukkan kepada dirinya. Foto dirinya sedang memeluk Melody dari arah belakang. Bagus. Menurutnya itu sangat bagus.


"Perutmu seperti tempurung kura-kura, Mel." Kata Yudha.


😡


"Itu lagi, hei, memangnya ini hasil perbuatan siapa sih? Bisa tidak mengibaratkan kehamilanku dengan pemilihan kata yang lebih baik?" Kesal Melody.


"Tidak bisa, hanya tempurung kura-kura saja yang muncul di benakku." Jawab Yudha santai.


"Ishh.."


"Ngomong-ngomong, Mel.."


"Ya?"


"Kau yakin tak apa dengan kondisimu saat ini? Kau hamil besar loh, lebih besar dari orang hamil biasanya. Aku takut kau kelelahan."


"Kau khawatir ya?"


"Tentulah aku khawatir, baka! Aku ini kan memikirkan demi kebaikkanmu."


"Aku lelah, itu pasti akan terjadi. Aku paham tubuhku, Yudh. Lagipula, aku merasa butuh suasana baru. Meski hanya sejam apa dua jam di luar kawasan rumah sakit, aku rasa itu sudah cukup." Jelas Melody. Iapun berbalik badan dan mendekap Yudha. "Jika terjadi apa-apa, kan ada Yudha." Cengir Melody sambil menengadah menatap Yudha.


Yudha mengacak-acak rambut Melody. "Kau ini selalu menaruh yang berat-berat padaku."


"Lalu siapa lagi yang harus aku ikuti jika bukan dirimu, wahai suamiku yang paling tampan? Kau menikahiku, kau mencintaiku, maka hidupku dan keselamatanku adalah tanggung jawabmu." Kata Melody. Melody bahkan tersenyum dengan begitu manisnya.


Sial.


Itu sungguh manis sekali.

__ADS_1


Yudha tak tahan. Ia menutup mukanya dengan telapak tangannya.


"Malu ya?" Tanya Melody karena melihat tingkah Yudha yang menurutnya itu sangat imut.


Yudha tak menjawab pertanyaan Melody karena hal itu memang benar adanya. Ia malah semakin merapatkan telapak tangannya untuk menutupi rona kemerahan di kedua pipinya.


"Biarkan aku melihatnya, Yudh!" Pinta Melody.


"A-apaan sih, Mel?"


"Ayolah, biarkan aku melihatnya, ne Yudha... -kun?" Goda Melody.


Yudha harus menyerah sepertinya. Iapun ikhlas saja ketika Melody menyingkirkan telapak tangannya dari wajahnya.


Dan benar, merah merona seperti buah tomat kesukaan Yudha.


"Sebegitu mencintai diriku ya, Yudh?" Tanya Melody.


Yudha memalingkan wajahnya. "Memangnya salah jika aku terlalu mencintaimu?" Kesal Yudha dan masih menahan malu.


Bagi Melody, pangeran tsundere yang sudah menikahinya ini seribu kali lipat lebih manis dari biasanya. Kenapa ya?


"Tidak, justru aku senang karena dicintai oleh dirimu." Melody meraiih kedua pipi Yudha dan mencium singkat Yudha. "Selamat pagi, suamiku." Sapanya.


"Berani juga dirimu..." Kata Yudha. Ia lalu membalas ciuman Melody. "Selamat pagi juga, istriku. Kau siap untuk menikmati bunga sakura?" Tanyanya.


Melody mengangguk bahagia. "Ya, tentu saja. Ayo!"


.


.


.


Rumah sakit Kazehaya Internasional..


"Shuhei, kau lihat Yudha?" Tanya Alvin. Ia terlihat terburu-buru.


"Ada apa, Alvin-sama? Anda nampak terburu-buru?" Tanya Shuhei yang kini sedang menikmati sarapannya.


"Katakan Yudha dimana!" Kata Alvin.


"Yudha-sama dan Melody-sama jalan-jalan berdua." Jawab Shuhei.


"Jangan bilang mereka ke Tulip House?" Tanya Alvin.


Shuhei mengangguk. "Apakah ada sesuatu yang salah, Alvin-sama?" Tanya Shuhei. Ia harus menghentikan acara sarapannya.


"Sial!" Kesal Alvin. "Shuhei, perketat penjagaan mereka!"

__ADS_1


"Saya sudah mengirim banyak bodyguard untuk melindungi Yudha-sama dan Melody-sama." Kata Shuhei.


"Suruh mereka pulang kalau bisa. Batalkan saja acara jalan-jalannya!" Pinta Alvin.


"Sepertinya itu tidaklah mungkin, Alvin-sama. Semua ini permintaan Melody-sama."


Alvin mengambil ponselnya dan menelpon Melody, tapi Melody tidak menjawabnya. Melody sudah janji pada Yudha untuk tidak mengangkat panggilan Alvin. Alvinpun memilih memanggil Yudha.


"Apa?" Tanya Yudha tanpa basa-basi.


"Batalkan perjalananmu ke Tulip House!" Suruh Alvin.


"Aku sudah bukan bawahanmu lagi, kenapa aku harus menurutimu?" Kata Yudha di telepon.


"Kumohon, batalkan perjalananmu ke Tulip House!" Pinta Alvin sekali lagi.


"Aku tidak mau membatalkan rencana yang sudah aku buat tanpa alasan yang jelas! Berhentilah menyuruh-nyuruhku dan sok berkuasa akan diriku!"


"Segerombolan orang akan menyerangmu, jika terjadi apa-apa pada Melody, aku akan membunuhmu!" Ancam Alvin.


"Melody itu istriku, aku akan melindunginya dengan nyawaku, dan satu lagi, berhentilah menghawatirkan wanita yang sudah menjadi masa lalumu!" Kata Yudha.


"Jika aku bilang, paman Orion berniat jahat padamu, apa akan mempercayaiku?" Tanya Alvin.


"Kau sudah tahu jawabannya."


"Kau harus berhati-hati, Yudh!"


"Berhati-hati yang seperti apa? Kau mengerikan, Vin! Aku sudah menjadikanmu CEO Emperor Group, aku juga sudah keluar dari Emperor Group. Kurang apa lagi? Dan sekarang kau ingin memutus hubungan keluarga antara diriku dengan pamanku? Aku sudah lebih dari sekedar bersabar menghadapimu. Namun kau tidak pernah sekalipun mencoba mengerti."


Suara Yudah terdengar begitu kecewa. Alvin tahu itu, tapi Alvin mencoba mengabaikannya.


"Yudha, tak bisakah kau memahamiku?" Tanya Alvin


"Hah? Hahaha, kau tahu? Kau ini sangatlah lucu. Kau meminta diriku memahamimu? Kau sedang memulai panggung komedi? Berapa kali aku harus bilang kepadamu, Vin? Aku akan memberikan apapun padamu, kecuali Melody. Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan dan move on dari masa lalumu! Jangan biarkan diriku ini mengkasihanimu! Bukankah kau membencinya?"


"Aku akan merebut semua yang kau milikki!"


"Terserah kau saja, asal Melody masih mencintaiku, itu sudah cukup."


Panggilan telepon itupun diakhiri. Alvin terlihat sangat kesal karena kata-kata Yudha.


"Alvin-sama, apa yang Anda katakan barusan itu sangat keterlaluan. Orion-san adalah sosok ayah pengganti untuk Yudha-sama. Yudha-sama pastilah sangat menyayangi Orion-san." Kata Shuhei.


"Aku tahu, aku hanya ingin tahu apakah dia memiliki sekutu atau tidak. Nah Shuhei, sampai akhir kau tetap akan memihak Yudha, ya?" Tanya Alvin.


"Menurut Anda?"


"Haha, kau memang selalu memiliki rencana."

__ADS_1


Mereka berdua lalu tersenyum bersama.


__ADS_2