MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Hp Baru


__ADS_3

"Melarikan diri lagi." Kata Yudha.


"Ti-tidak."


"Jika ada Alvin, kau bisa tertawa. Tapi dengan Yura, kemana tawamu itu, Melody?"


"Alvin-senpai adalah seniorku dan juga man..."


Melody menghentikan ucapannya. Hampir saja ia keceplosan mengucapkan kata mantan.


"Man?" Yudha mencoba mengomfirmasi.


"Temanku. Sedangkan Amamiya-san, sepertinya aku tidak bisa cocok dengannya." Jawab Melody.


Yudha menaikkan sebelah alisnya. "..."


"Lagipula, Amamiya-san itu wanita yang pernah kau sukai, mana mungkin aku bisa bersikap biasa layaknya berteman dengannya. Dia pasti menganggapku orang yang sudah merebutmu, Yudha-kun! Baka!" Batin Melody.


Tunggu, -kun? Kenapa ia ingin sekali memanggil dengan sufik itu? Yura bahkan bisa melakukannya. Kenapa ia sungguh kesulitan? Sufiks โ€“san lebih mudah karena pada dasarnya Yudha adalah seniornya. Tapi ia hanya melakukannya saat awal pertemuan, selanjutnya sampai saat ini, ia hanya memanggil nama kecil Yudha saja.


"Melody, apa kau tidak kesepian karena sering aku tinggal?"


"Tidak."


"Tidak?" Jawaban macam apa itu?


"Hm, tidak. Memang kenapa? Di rumah masih ada ibu, nenek, dan Alvin-senpai!"


Alvin ya. Cih, tiba-tiba rasa tak jelas itu muncul lagi. "Begitu ya?" Jujur, Yudha merasa dunianya sedikit sepi karena kesibukkannya di kantor.


"Kenapa ketus begitu?"


"Tidak. Siapa juga yang ketus."


"Yudha."


"Tidak ketus."


"Tapi nada suaranya seperti itu."


"Ini gayaku, Melody!"


Yudha memang sulit dipahami. "Sejujurnya.." Melody sejenak berfikir.


"Sejujurnya?" Yudha menatap lekat Melody.


"Sejujurnya, kau terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya. Aku tidak kesepian, tapi lebih ke khawatir."


Yudha tersenyum. "Aku tahu, Shuhei bilang kau menelfonnya belasan kali memakai tepon rumah hanya untuk menanyaiku. Kenapa kau tidak telpon ke nomorku langsung, Melody?"


"Aku takut mengganggumu.. Aku tidak tahan jika hanya menelpon satu atau dua kali."


"Tidak menggangguku selama masih jam istirahat."


"Jadi, aku boleh menelponmu?"


"Hn tentu saja. Jadi, pilihlah Hp yang kau sukai."


"Kau ingin membelikanku lagi?"


"Akan susah kalau kau tidak memiliki Hp, Melody. Kita sudah di pusat pembelian Hp, cepat pilihlah mana yang kau suka!"

__ADS_1


"Tapi apa tidak apa-apa? Maksudku, sebelumnya aku dikasih kepercayaan, tapi aku menghilangkannya."


"Sudah aku bilang kan, hidupmu adalah tanggung jawabku! Biarkan aku melakukannya sebagai seorang suami. OK?"


"Kau serius dengan hubungan ini, Yudha?"


"Pertanyaan macam apa itu, Melody?"


Kok kesal ya?


"Maksudku.. Kita kan menikah karena bisnis. Kau memiliki perasaanmu sendiri, begitu pula dengan diriku."


Melody berhati-hati akan ucapannya.


"Jangan membuatku terlihat seperti orang jahat setelah apa yang sudah kita lakukan, Melody!"


Panas.


Melody ingin sekali menutup mukanya yang memanas. Yudha terlihat ringan saat mengatakan 'apa yang sudah kita lakukan.' Kenangan malam ulang tahun Yudha di Okinawa kembali menghampiri.


"Habisnya. Yudha dan Amamiya-san itu. Kalian..." Gumam Melody.


Ia lalu menundukkan kepalanya. Ingatannya tentang perasaan Yudha ke Yura membuatnya kesulitan.


"Jangan menduga tidak jelas, Melody!"


Yudha ingat, dulu Melody sempat menguping pembicaraannya dengan Yura. Melody tahu jika saat itu Yura menolaknya.


Yudha memegang ke dua bahu Melody. Ia mengangkat dagu Melody dan menatapnya.


"Dengar, apapun yang terjadi, percayalah padaku sampai akhir!" Kata Yudha mantap.


Apapun yang terjadi? Yudha bahkan sampai menambahkan kata-kata dengan makna yang banyak itu. Apapun yang terjadi, berarti masih akan terjadi banyak hal setelah ini, kan? Otak minimnya itu cukup paham dengan apa arti kata-kata itu.


Apa artinya juga, Yudha menyuruhnya untuk bersiap diri dengan kisah yang akan segera terjadi? Baik buruknya nanti, ia hanya perlu percaya pada Yudha, kan?


Seperti itu maksud Yudha? Kenapa di relung hati kecilnya muncul rasa takut? Kenapa rasa takut itu menusuk cukup dalam? Kenapa ia takut untuk... terluka?


"Kau mendengarku, Melody?" Tanya Yudha.


"Eh, ah, iya, aku mendengarmu."


"Percayalah padaku!"


"Iya, aku percaya padamu, Yudha."


Yudha kembali tersenyum. Ia lalu mengacak-acak rambut Melody. Ia berbalik dan menggandengan tangan Melody menuju stand penjual Hp.


"Arigatou." Kata Yudha.


Melody memegang bekas tangan Yudha yang mengacak-acak rambut di kepalanya. Rasanya ada yang ahh.. bagaimana ia harus menjelaskannya? Seperti ada ribuan kupu-kupu menari bersamanya, bertabur bunga warna warni yang indah, berhiaskan pemandangan perbukitan nan asri. Melody tidak bisa mengakuinya jika saat ini ia merasa lebih bahagia dari biasanya.


Rasa indah nan sejuk di hatinya belum usai, kini ia merasa lebih nyaman karena Yudha menggandeng tangannya.


Ini bukan pertama kalinya ia bergandengan tangan dengan lawan jenis. Dulu ia pernah melakukannya dengan Alvin. Tapi saat ini berbeda, nyaman iya, tapi juga merasa terlindungi. Yudha memang selalu memberikan sikap perlindungan terhadapnya. Tapi, apa ia sampai merasa seaman ini? Maksudnya, tangan Yudha terasa begitu hangat. Apa biasanya memang seperti itu? Hangat dan menenangkan.


Tunggu!


Apa yang sudah otaknya pikirkan?


Kenapa ia bisa sesenang ini? Bibirnya menyunggingkan senyuman tanpa lelah.

__ADS_1


.


.


.


Melodi Cinta


.


.


.


"Nyonya, semua sudah beres. Tuan Han juga sudah melaporkan hal yang sama kepada saya." Kata Tuan Kang.


Kurenai tersenyum penuh arti. "Kerja bagus, Tuan Kang. Kadang kita memang harus berbulu domba untuk mencapai sesuatu."


"Kami akan selalu mendukung Anda sampai akhir, Nyonya. Jangan khawatir, semua rencana besar yang sudah kita susun sejak lama akan segera terealisasi. Sedikit demi sedikit, semua berjalan seperti keinginan kita." Lanjut Tuan Park.


"Tuan Wijaya sudah mengambil alih bisnis kami. Membuat kami harus menyerahkan perusahaan yang sudah kami bangun dari nol menjadi miliknya. Dia memang menjadikan kami bagian dari perusahaannya, tapi sama saja, perusahaan kami sudah bukan milik kami. Dan kami harus berkerja untuk memperkaya dirinya. Aku tidak bisa melupakannya.." Kata Tuan Kang.


"Tuan Kang, Tuan Park, kalian pengaruhi para dewan anggota yang lain untuk berpihak pada kita. Mereka harus menjadi pendukung Alvin. Anakku akan mendapatkan nama setelah ini." Kata Kurenai.


"Dendam harus terbalas." Kata Tuan Park.


Kurenai menyeringai. "Pion penting seperti mereka memang sangat berguna. Aku akan mengorbankannya sampai akhir."


.


.


.


Melodi Cinta


.


.


.


"Wijaya-sama. Ini dokumen yang Anda minta.." Kata Aron.


Kakek Wijaya menerima amplop coklat besar yang Kakashi berikan kepadanya. Ia membuka amplop itu dan mengintip isinya. Sesuai yang ia harapkan, tangan kanannya ini memang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.


"Kerja bagus, Aron."


"Kalau begitu, saya permisi." Kata Aron undur diri.


Setelah Aron meninggalkan ruangannya, kakek Wijaya berdiri dan mengambil kopinya. Ia berjalan menuju jendela lebar ruangan kantornya. Ia menatap indahnya senja yang menyapa kota Tokyo. Orange. Langit berwarna jingga itu terlihat sangat indah. Ia tidak ingin melewatkan pemandangan singkat penuh kenangan ini.


Kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan. Kenangan indah itu kini sudah tidak mungkin dapat terulang. Karena kenangan hanyalah tinggal kenangan. Seindah apapun, seperih apapun itu, itu tetaplah kenangan. Banyak kisah yang sudah ia lalui selama ia hidup lebih dari setengah abad.


"Hadinata..." Kata kakek Wijaya pelan. Ia lalu tersenyum dan meminum kopinya. Sembari menikmati pemandangan senja yang penuh kenangan itu.


________________________________________


Aron muncul setelah sekian lama. Bawahannya mbah Wijaya yang paling setia ini banyak mengambil peran penting di ujung nanti.


Satu hal yang muncul. Hadinata itu siapa e?

__ADS_1


__ADS_2