MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Hati Yang Terluka 2


__ADS_3

Alvin pingsan.


"Alvin-senpai!" Teriak Mia.


Kenapa Alvin bisa tiba-tiba pingsan seperti ini? Mabuk memang kemungkinan terbesarnya. Tapi, apa Alvin toleransi terhadap alkohol serendah ini?


Huwaaa.. bau sekali. Bau menyengat dari alkohon menusuk hidung Mia. Memang sudah berapa banyak yang Alvin minum sih? Berapa botol? Pantas saja sampai limbung dan tak sarakan diri seperti ini ini.


Sudahlah, tugasnya saat ini yaitu untuk membawa Alvin kembali. Jangan samapi merepotkan bat tempatnya minum. Tidak enak dilihat orang. Orang lain atau pengunjung pastilah sangat terganggu.


Mia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memapah Alvin kembali.


Alvin mabuk berat dan tak sadarkan diri. Akhirnya ia dibantu oleh pelayan bar untuk membawa Alvin masuk ke dalam mobilnya. Ia juga menitipkan mobil milik Alvin kepada pelayan bar itu dan akan mengambilnya esok hari.


Di dalan mobil, Mia hanya mengehela nafas beberapa kali karena laki-laki pujaan hatinya ini menjadi sangat berbeda dari sosok yang ia kenal. Alvin itu tidak pernah mabuk. Ia tahu betul, Alvin pun juga menjauhi minuman berakohol seperti itu. Namun jika saat ini Alvin sampai mabuk, apa lagi mabuk berat, ini sudah dipastikan jika Alvin sedang mengalami banyak tekanan.


"Kau ini kenapa sih? Sampai mabuk-mabukkan segala. Kau itu dokter, ini sangat tidak patut untuk dicontoh! Dasaar!" Omeh Mia.


Mia mulai menyalakan mesin mobilnya dan keluardari area parkir bar tempat Alvin minum.


"Kemana aku harus membawamu? Ke apartemenmu? Selama aku membuntutimu akhir-akhir ini, kau sama sekali tidak pernah kembali ke apartemenmu. Kediaman Kazehaya pun tidak kau tinggali semenjak kecelakaan kakek Wijaya. Kau tinggal dimana sih? Rumah ibumu? Ahh, aku sama sekali tidak tahu dimana itu... Apa aku harus membuka ponselmu dan menelepon sekretarismu? Itu tidak sopan! Lagi pula, aku mana tahu kunci layar ponselmu ... Argghh, kemana aku harus membawanya?" Gumam Mia.


Tak amu ambil pusing, Mia pun akhirnya membawa Alvin ke hotel tak jauh dari bar yang tadi. Ini sudah hampir pukul dua pagi. Badannya pun sudah hampir mencapai batasnya.


Bukan hotel mewah, hanya hotel biasa yang lebih mirip tempat singgah 24 jam.


.


.


.


Usai check in, dibantu pelayan hotel, akhirnya Mia berhasil memapah Alvin sampai masuk ke dalam kamar hotel.


"Terima kasih sudah membantu saya." Ucap Mia.


"Sama-sama, Nona. Itu sudah bagian dari pekerjaan kami. Selamat beristirahat!" Pamit Pelayan hotel.


Mia memasan dua kamar hotel, satu untuknya dan satu untuk Alvin. Namun saat ini, ia masih di dalam kamar Alvin untuk mengurusi Alvin yang mabuk berat.


Mia berkacak pinggang menatap Alvin yang tidur di ranjang. Ia sangat kelelahan. Tubuh Alvin itu tidak main-main beratnya.


"Oke, aku harus melepaskan sepatu Alvin-senpai, melepas jas yang dia pakai dan membersihkan wajahnya! Dengan begitu, dia bisa beristirahat dengan nyaman." Gumam Mia.


Ia lalu melipat ke atas lengan baju yang ia pakai. Kemudian mendekati Alvin dan mulai melakukan satu per satu apa yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Melepaskan sepatu Alvin, melepas jas yang dipakai Alvin, dan membersihkan wajahnya Alvin. Ia hanya melakukannya dengan ikhlas tanpa niat apa pun.


Mia bahkan tak berpikir untuk menikmati betapa tampannya manusia dari klan Adam ini.


"Aaah, lelahnya! Kau hutang banyak padaku, Senpai! Jatah makan siangku nanti ditambahi ya? Aku mau makan lasagna di restoran Italia!"


Mia menatap Alvin pelan.


"Kau pasti sudah melewati hari yang panjang dan melelahkan. Tidak apa-apa terlihat terpuruk, jika kau pernah di atas, lain kali kau bisa meraihnya lagi. Saat ini, kau hanya perlu istirahat dan tidur. Mimpi yang indah, Senpai! Oyasumi.."


Ketika Mia ingin menyelimuti tubuh Alvin, Alvin membuka kedua matanya. Membuat Mia kaget bukan main.


"Senpai, kau sudah bangun?" Tanya Mia.


"Me..lo..dy.." Kata Alvin parau.


Melody?


"Melody sedang ada di rumahnya, tidur. Kau juga harus tidur, Senpai! Ini sudah terlalu larut." Mia bangun dari duduk di ranjang Alvin, ia ingin ke kamarnya untuk istirahat mengingat ia juga sudah sangat lelah.


Alvin memegang tangan Mia. Menghentikan gerak langkah Mia yang ingin meninggalkannya.


"Jangan pergi, Melody!" Pinta Alvin.


"..." Melody lagi?


"Aku mohon, jangan pergi!"


"..."


"Jangan tinggalkan aku, Mel! Aku mohon, jangan tinggalkan aku!"


"..."


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon kepadamu, Mel! Tak sanggup diri ini, hidup tanpa dirimu. Aku tak bisa."


"..." Meski ini bukan ditujukan kepada dirinya, namun rasanya begitu menyayat di telinga. Mia tak kuasa menahan air matanya.


"Kau ingin apa, Mel? Apa pun yang kau inginkan di dunia ini, aku akan mewujudkannya! Demi dirimu, menjadi monster pun aku rela. Jadi, tetaplah di sini! Jangan pergi-pergi lagi! Jangan menolakku! Rasanya sangat hampa ketika kau bilang kau membenciku. Rasanya sangat sakit ketika kau bilang cintaku padamu ini sangat menjijikkan." Alvin masih menduga jika saat ini ia sedang berbicara dengan Melody.

__ADS_1


Alkohol membuatnya semakin sulit berpikir jernih. Di otaknya isinya Melody, Melody, dan Melody. Semua serba Melody. Bahkan Melody juga sudah menguasai pandangan matanya.


"Sesakit itu ya mencintai tapi tak dicintai balik? Kau terlihat sangat menyedihkan, Senpai. Aku tahu kau ini sangat mencintai Melody, tapi Melody bukanlah Melody yang sama dengan Melody saat sekolah menengah dimana laki-laki terdekatnya itu hanya kau seorang... Sekarang laki-laki terdekatnya sudah ganti, bukan kau lagi... Kenyataan itu memang menyakitkan dan pahit, tapi kau tak bisa memaksakan perasaanmu kepadanya. Ini adalah cinta, dimana diri tak boleh egois." Batin Mia.


Tangannya masih dipegang Alvin dengan sangat eratnya. Ia berusaha melepaskannya, namun Alvin justru menyeretnya dan membuatnya jatuh ke pelukkan Alvin yang sedang berada di kasur.


"Aku mencintaimu, Mel! Sangat mencintaimu sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk bisa membuatmu melihat diriku." Kata Alvin.


"Senpai, tolong lepaskan aku!" Pinta Mia.


Baginya, tak pantas ia menerima perlakuan seperti ini dari Alvin yang jelas-jelas mengenalinya sebagai Melody. Hatinya menjadi sangat sakit. Ia mencintai Alvin, tapi Alvin menganggap dirinya sebagai Melody. Sudah begitu, Alvin mengungkapkan cinta lagi. Rasanya sangat perih bagai teriris tajamnya silet.


"Aku tak akan melepaskanmu! Tolong jangan tolak aku! Tolong jangan tolak aku, Mel!" Kata Alvin.


Dengan kekuatan otot tubuhnya, Alvin membuat Mia berada di bawahnya. Mia kaget bukan main dengan perlakuan Alvin ini. Ia meronta-ronta minta ingin lepas, tapi Alvin menahannya, enggan melepaskannya. Ia bahkan juga menangis. Ia ketakutan. Apa lagi saat Alvin menatapnya tajam.


Alvin menatap penuh emosi dan amarah yang meyelubungi sorot indah mata kelam Alvin.


"Apa yang membuatmu menyukainya? Apa yanf hebat dari Yudha sehingga kau mencintai laki-laki itu?" Tanya Alvin.


"Senpai, tolong jangan seperti ini! Aku ini Mia! Bukan Melody! Tolong jangan bercanda! Ini sama sekali tidak seru! Aku tidak suka diperlakukan seperti ini!" Kata Mia.


"Kenapa kau bisa jatuh cinta pada Yudha?"


Alvin lagi-lagi mengabaikannya. Apa wajahnya saat ini sungguh mirip dengan wajahnya Melody? Bagaimana bisa Alvin tak bisa membedakannya?


Cih..


Alkohol sialan itu!


"Alvin-senpai, aku bukan Melody!"


"Tentu saja kau bukan Melody. Melody yang aku kenal adalah Melody yang tak mudah jatuh cinta apa lagi dengan orang baru seperti Yudha... Ne Melody, tolong kembalilah menjadi Melody yang dulu!"


Keidiotan Alvin sudah sampai mana sih? Mia semakin sulit membuat Alvin sadar jika saat ini dirinya bukanlah Melody.


Mia memiliki ide untuk membuat Alvin sadar diri. Ia juga lelah terus-terusan menanggapi Alvin yang sedang mabuk ini.


"Oke, aku akan pura-pura menjadi Melody seperti yang kau mau!" Batin Mia.


"Melody, kenapa kau jatuh cinta pada Yudha?" Tanya Alvin.


Mia tersenyum. "Tentu saja aku jatuh cinta pada Yudha. Yudha tampan, Yudha baik, dan Yudha pintar. Lebih dari itu, Yudha juga sangat mencintaiku." Kata Mia.


"Jangan sebut nama itu berulang-ulang!" Marah Alvin.


"Kenapa? Kenapa kau melarangku? Kenapa tidak boleh? Kau tak masuk akal, Senpai! Aku sangat menyukainya! Sangat mencintainya! Menyebut namanya dari bibirku membuat aku bahagia!" Mia ingin meminta maaf sudah berkata yang menyakiti hati Alvin seperti ini.


Alvin terdiam, kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya, ia tidak mau Mia-Melody dalam pandangannya direbut oleh laki-laki lain, akhirnya Alvin memutuskan sesuatu dan sesuatu itu adalah hal yang akan merusak hubungan mantan sekaligus persahabatannya dengan Melody.


"Heh, sayang sekali, aku tidak akan mengizinkanmu menyukai orang lain. Yang boleh ada di hatimu itu hanyalah aku!" Gumam Alvin tersenyum sinis.


"Hah?" Mia bingung. Alvin ini sedang berbicara apa sih? Orang mabuk memang suka tidak jelas.


Alvin mendorong Mia agar membuat Mia tiduran di kasur. Ia menindih Mia.


Bruuk.


"A-Alvin-Senpai..." Mia sangat kaget. Jantungnya mencolos dengan perlakuan Alvin. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Alvin.


"Kau sangat suka memberontak..."


"Akh!" Mia meringis saat badannya tertimpa badan Alvin. Perlahan ia membuka mata, dan betapa terkejutnya ia melihat Alvin berada di atas tubuhnya dengan jarak yang super dekat ini. Menatapnya tajam. Dari jarak yang cukup dekat Mia dapat mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Alvin.


"Alvin-senpai!" Mia meronta saat Alvin memegang kedua tangannya lalu menciumnya kasar. "Alvin-senpai! Ada apa?!" Lirihnya sebelum Alvin kembali ******* bibirnya.


Alvin menyegel bibir Mia dengan bibirnya, Mia yang akan berontak kedua tangannya dikunci oleh Alvin, kini Alvin tidak ragu-ragu lagi, apapun konsekuensinya dia akan terima, meskipun Mia-Melody dalam pandangannya akan membencinya nanti, dengan cara apapun, Mia-Melody dalam pandangannya harus menjadi miliknya, bukan Yudha,atau yang lain.


Melody harus berpisah dengan Yudha!


"Mmpphh!"


Alvin membuka paksa baju Mia-Melody dalam pandangannya yang berwarna pink itu sehingga kancing-kancing nya terlepas dan terekspos payudara milik Mia.


Dengan lancang Alvin langsung menghisap dada kanan Mia.


"Mmphh! Nnnggg!" Mia berusaha berontak namun tahanan tangan Alvin yang sekarang membungkam mulut Mia begitu kuat.


Siapa yang bisa melawan seorang Alvin? Laki-laki berotot yang sebelumnya rajin nge-gym demi kesehatan.


Melihat Mia-Melody dalam pandangannya berontak dan menangis, Alvin tidak menghentikan kegiatannya, dia malah jauh lebih nekat dengan membuka celana milik Mia-Meldoy dalam pandangannya.


Alvin sendiri sebenarnya tidak terlalu terangsang oleh Mia-Melody dalam pandangannya… setidaknya untuk saat ini, karena saat ini rasa amarah lebih besar dari apa pun.

__ADS_1


Mia-Melody dalam pandangannya selalu menyebut Yudha, Yudha, Yudha, dan Yudha! Dari semua manusia di bumi ini, hanya Yudha yang selalu mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan. Yudha selaly saja memiliki apa yang ingin ia miliki. Itu membuatnya sangat frustasi dan lama kelamaan menumbuhkan rasa iri yang besar.


Alvin membuka bekapannya, dan bibirnya mulai menciumi perut Mia-Melody dalam pandangannya.


"T-Tidaaakk! J-Jangaaan! Alvin-Senpai! Aku mohoon... hentikaaaan!" Pinta Mia, nada yang begitu pilu di telinga Alvin.


Namun Alvin tak mau tergoyahkan. Ia sudah mantap dengan apa yang ia lakukan saat ini. Baginya, ini adalah cara terakhir untuk membuat Melody menjadi miliknya. Gila memang. Ya cinta memang gila. Cinta sudah gila dan semakin menggila.


"Kita ini teman! AKU BUKAN MELODY! MAAFKAN AKU KARENA TADI AKU BOHONG DAN PURA-PURA MENJADI DIRINYA, SENPAI! Aku mohon, TOLONG JANGAN LAKUKAN INI! INI TIDAK BENAR! ... Alvin-senpai tidak boleh melakukan ini padaku! Ini salah.."


Alvin menghentikan gerakannya, kemudian menatap mata Mia. "Melody, aku sangat mencintaimu. Kenapa kau menolakku? Yudha melakukan ini sebelumnya kepadamu, kan? Aku juga ingin melakukannya denganmu."


"Senpai, berhentilah, jangan bercanda lagi! Aku akan memaafkanmu kalau kau tidak melanjutkannya!" Mia sudah kekatutan setengah mati. Meski belum disetubuhi oleh Alvin, tapi tindakan Alvin saat ini sudah termasuk pelecehan.


"Apa mencintai adik iparku sendiri itu juga salah?" Tanya Alvin dengan ekspresi yang sangat pilu. "Maafkan aku..." Tambahnya.


Kalimat terakhir Alvin membuat Mia membatu, karena sekarang Mia bisa merasakan sesuatu menusuk kewanitaannya.


"A-AAKKHH! A-Alvin-senpai! Sakit sekali! Hentikan!" Ronta Mia. Ini kali pertama ia mendapatkan pengalaman sex pertama yang sangat buruk.


Ia menangis sekeras yang ia bisa. Sakitnya luar biasa.


Alvin tidak menghentikannya, ia terus menerus memaju mundurkan pinggulnya sampai darah keluar dari selaput Mia-Melody dalam pansangannya. Ia tak peduli dengan erangan Mia-Melody dalam pandangannya. Ia menulis. Ia tak tak mau kegiatannya terganggu. Ia harus menuntaskan apa yang harus dituntaskan.


Melody harus menjadi miliknya!


"Aaakhh! Alvin-senpai hentikan! … aku mohoon! ... Yamette kudasai.. Ittai! Ittai na, Senpai!"


Memperkosa adik iparnya sendiri, heh?


Sinting bukan?


Setidaknya itu yang ada dalam benak Alvin.


.


.


.


Brukh!


Permainan itu berlangsung lama. Mia sampai kehabisan suara karena terlalu lelah menangis dan memohon untuk dilepaskan oleh Alvin.


Sejujurnya, hubungan pertemanannya dengan Alvin tidak begitu baik. Alvin selalu mengacuhkan keberadaannya, lebih banyak membahas Melody ketimbang dirinya saat sedang bersama. Alvin tetaplah pria yang baik, hanya saja karena saking cintanya pada Melody, ia sering hanya dijadikan sebagai teman curhat untuk membahas apa pun soal Melody.


Itu sangat menyakitkan!


Itu sangat kejam!


Sayangnya, ia tak bisa mengatakan perlakuan kejam dari Alvin yang selalu menyakiti lahir batinnya. Jangan salahkan dirinya kalau ia begitu mencintai si sulung cucu keluarga Kazehaya ini. Ia hanya terlalu mencintai Alvin hingga rela menanggung luka karena Alvin membicarakan wanita lain bukan dirinya.


Seperti saat ini, bagaimana Alvin memanggilnya dengan sebutan Melody berkali-kali saat bercinta.


Mia hanya menangis dalam kungkungan tubuh Alvin yang dikuasai napsu hewani.


Tidak. Bukannya Mia tidak mau disentuh oleh Alvin, sebagai orang yang sangat mencintai Alvin, tentulah ia pernah bermimpi untuk menikah dengan Alvin dan melakukan hubungan sex seperti ini, katakanlah ia mau melakukan hal-hal sexual dengan Alvin. Tapi, tidak dengan cara seperti ini.


Alvin yang dalam keadaan mabuk berat menggeram kesal karena Mia-Melody dalam pandangannya menolak cumbuannya. Padahal sudah disetubuhi berkali-kali, tapi wanita ayu ini masih saja menolaknya. Tak ingatkah jika baru saja cairan kenikmatan itu menghangat di selangkangnya?


Detik berikutnya telapak tangan Alvin melayang tepat di pipi Mia, meninggalkan bekas tangan yang memerah yang mungkin saja besok akan membiru. Mia manangis.


"Melody.. sakit ya? Ma-maaf, aku.. bukan maksudku melukaimu!"


Alvin lebih dari sekedar gila. Ia iblis!


Mia menatap Alvin nanar. Ia ingin tahu apa pandangan Alvin soal dirinya ketika ia memanfaatkan posisi Melody sebagai sosok yang dilihat oleh Alvin fajar ini.


"Senpai, kau tahu, ada wanita yang sangat mencintaimu. Dia selalu melihatmu, menunggumu, menyukai apa pun yang ada di dalam hidupmu. Namanya adalah Hanazawa Mia." Kata Mia.


"Aku hanya melihatmu, Melody!"


Mia menggigit bibirnya sendiri. Sakit minta ampun. "Apa selama ini kau tak pernah menganggapku ada, Senpai?" Mia membatin.


Ia diam terpaku, tidak melakukan perlawanan saat Alvin kembali menjamah tubuhnya dengan brutal, melakukannya dengan sangat kasar untuk yang ke sekian kalinya. Tidak memperdulikan dirinya yang mengisak di bawah tubuhnya.


"Malam yang panjang..."


.


.


.

__ADS_1


Adegan pemerkosaan dalam kisah ini mengawali tahun baru. Haduhh.. jujur saja, sulit dapat feel nya. Berat banget. Alvin dan Mia otw dijodohkan sama Author!


__ADS_2