MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 17: Balau


__ADS_3

"Mia, kau mau kemana?" Tanya Ayumi khawatir. Ia melihat Mia tak tenang karena tiba-tiba saja berlari menjauh darinya. "Situasinya sedang sangat berbahaya!" Lanjutnya.


"Aku harus mencari Melody! Aku yakin Alvin-senpai tidak merencanakan semua ini. Yang menculik Melody adalah orang lain!" Kata Mia. Mia ikutan panik dan kalang kabut.


Sahabatnya diculik dan orang yang sangat dicintaimya dituduh yang melakukannya.


Ia khawatir pada Melody, ia khawatir pada Alvin juga. Ia tidak bisa memilih salah satu di antara keduanya.


"Aku harus menemukan Melody! Melody pasti masih ada di sekitar sini." Kata Mia mantap.


"MIA!" Kata Ayumi cukup keras. "Dengar, masalah ini itu bukan ranah kita! Kau harus tahu seberapa mengerikannya kekuatan yang sedang menggempur keluarga Kazehaya! Tidak seperti kisah yang ada di TV! Ini menyangkut soal nyawa! Nyawa! Kau yak lihat betapa banyaknya darah Ayane-san saat dibawa ke rumah sakit tadi? Itu belum seberapa! Jangan gegabah dengan tindakan bodohmu seperti itu! Semua butuh proses! Tidak boleh asal! ... Kau mau karena tindakan asalmu justru membuat Melody celaka? Mereka bisa membunuh Melody kapan saja yang mereka mau!" Jelas Ayumi. Ia berharap jika Mia tidak gegabah yang justru akan merugikan dirinya sendiri dan membuat repot yang lain ke depannya.


Ayumi ada benarnya. Mia langsung menangis. Ia sadar diri, betapa kecilnya kekuatannya saat ini. Tak cukup untuk membantu Melody.


Ayumi memeluk Mia. Sampai akhirnya Nao datang dan mengajak mereka ke tempat yang lebih aman. Menjauhi aula pesta yang kini kacau balau.


.


.


.


"Yudha-sama, sudahi dulu kecurigaan Anda pada Alvin! Kita harus ke tempat yang lebih aman!" Kata Shuhei.


Beberapa orang sedang adu tembak di aula pesta. Orang-orang berjas hitam dan memakai penutup kepala itu menghalangi para orang-orang Yudha yang berusaha keluar gedung hotel untuk mengejar Melody.


"Yudha-sama, lepaskan Alvin!" Kata Shuhei lagi.


Tangan Yudha gemetar. Ia akhirnya melepaskan Alvin. "Urusan kita belum usai!"


Avin terbatuk-batuk karena cekikan dari tangan adiknya sendiri.


Ia hanya bisa melihat Yudha dan Shuhei menjauh darinya.


"Alvin, kau baik-baik saja?" Tanya Kurenai.


Wajah Kurenai nampak santai meski ada kekhawatiran di sana.


"Ya, aku baik-baik saja, Bu." Jawab Alvin. "Aku harap ibu tidak menyembunyikan sesuatu dariku." Batinnya.


Mereka berdua lalu menjauh dari aula itu.


.


.


.


Orion dan Azumane sibuk memerintahkan bawahannya untuk saling mengamankan diri. Suasana yang kacau balau membuat sulit membedakan mana kawan, mana lawan. Saling tembak, saling curiga, dan saling bunuh. Itu yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Azumane, sebaiknya kau tak telibat dengan semua insiden ini!" Kata Orion.


Azumane tertawa. "Menurutmu aku sekejam itu?"


"Aku masih mengingat bagaimana caramu menyingkirkan ayahmu sendiri untuk menggulingkan dominasinya di yakuza Macan Selatan!" Kata Orion.


"Kau ingat juga kisah itu. Hei, aku hanya menginjak ekor macan saja dan macan itu langsung membunuhnya dengan sadis. Aku tak membunuhnya seperti yang kau tuduhkan."


"Tapi aku membunuh dengan cara tidak langsung!"


"Dia mati itu menjadi syukur semua orang. Predator sex dan pembunuh seperti dirinya memang pantas mati. Hei, kau menjadi salah satu penikmat syukur itu! Kau menjadi penguasa Jepang Utara dan aku menjadi penguasa Jepang Selatan."


Fakta ini memang tak dapat dipungkiri. Ayah Azumane, Uchiyama Natsuo memang terkenal dengan kebrengisannya. Tidak hanya sekedar jahat, tapi ia adalah evil. Natsuo adalah bos yakuza yang menguasai Jepang seutuhnya pada jamannya. Azumane adalah satu-satunya keturunannya dari istri sah Natsuo. Ibunya Azumane tewas bunuh diri karena sang ayah, Natsuo suka gonta-ganti wanita untuk menghangatkan ranjangnya.


Hal ini membuat Azumane dendam pada sang ayah. Akhirnya Azumane menginjak ekor singa yang diketahui sebagai musuh bebuyutan sang ayah, Hadinata. Ya Hadinata, kakeknya Melody, orang yang sangat kuat di jamannya. Pebisnis ambisius yang ingin menaklukkan sektor bisnis seluruh Jepang.


Hadinata harus menyingkirkan dominasi Natsuo untuk melancarkan bisnis yang dirintisnya. Natsuo waktu itu terlalu mendominasi dunia bawah sehingga bisnis-bisnis menjadi sulit berkembang. Mau tidak mau Hadinata harus menyingkirkan orang ini. Dan berhasil, Hadinata berhasil membunuh Natsuo dengan tangannya sendiri.


Apakah Hadinata di penjara?


Ini lelucon atau mencari keadilan HAM?


Nyatanya Hadinata tidak dipejara sama sekali. Sesuai kata Azumane, meninggalnya sang ayah adalah syukur untuk banyak orang. Bahkan termasuk pemerintah Jepang sendiri.


Bukankah Hadinata ini seorang pahlawan?


"Kharisma singa itu tak bisa aku lupakan." Gumam Orion.


"Mentalnya lemah karena cinta. Jika dia masih hidup sampai saat ini, tentulah dia menjadi saingan ayahku. Dia akan menjadi pesaing yang sepadan dengannya."


"Apa kau masih merasa selalu kalah dari ayahmu?"


Orion tertawa. "Aku akan melampauinya!"


"Kau licik memang."


"Aku keturuannya, makanya harus licik! Sama seperti dirinya, kan?"


"Siapapun memang tak ada yang bisa dipercaya. Aku tak akan pernah mempercayaimu, Orion."


"Akupun sama. Awas saja jika kau terlibat dan berani menyakiti keponakan tersayangku!"


"Ah, kau mengancamku rupanya. Ingat, keponakanmu tak hanya Yudha, tapi Alvin juga! Sebaiknya kau bersikap adil pada merka berdua jika tak ingin 'kejadian lama' terulang kembali.".


"Alvin sudah menjadi anakmu, 'kejadian lama' itu tidak akan terulang lagi di masa ini."


"Kau terlalu yakin jadi orang. Padahal Tuhan memiliki andil besar dalam berjalannya kisah manusia di dunia ini."


"Hoo, aku baru tahu jika pendosa kelas kakap seperti dirimu mempercayai Tuhan." Orion menyindir.

__ADS_1


Azumen terkekeh. Orion selalu memuaskan untuk diajak bicara. "Masih ada surga untuk pendosa."


"Digoreng dulu di neraka, habis itu baru dilempar ke surga."


.


.


.


Yudha dan Shuhei berusaha keluar dari aula yang berbahaya itu. Adu tembakkan semakin banyak. Shuhei bahkan harus mengeluarkan senjata api untuk melindungi Yudha.


"Yudha! Ikuti paman!" Teriak Orion.


Yudha dan Shuhei lalu berjalan cepat mendekati sang paman, Orion.


"Kau tak apa-apa? Kau terluka?" Tanya Orion khawatir.


"Aku baik-baik saja, Paman. Oh iya, bagaimana dengan tamu undangannya? Teman-temanku?" Tanya Yudha. Ia menghawatirkan banyak orang.


"Bawahanku bilang mereka sudah berhasil diungsikan ke tempat yang lebih aman." Jawab Orion.


"Lalu.. bagaimana dengan Alvin?" Tanya Yudha ragu-ragu.


"Ho, kau menghawatirkan kakakmu juga rupanya?"


"..." Yudha terdiam. Ia enggan menjawabnya atau sekedar mengakuinya.


Orion pun menepuk pundak Yudha pelan. "Azumane sudah membawa mereka ke tempat yang lebih aman. Harusnya mereka baik-baik saja."


Dalam hati ada syukur diucap. Ada kelegaan di sana.


"Ayo kita pindah tempat!" Kata Orion.


Namun, tanpa Yudha dan Shuhei ketahui, tiba-tiba seorang sniper atau penembak jitu jarak jauh sedang membidik Yudha dengan sinar leser warna merah sebagai tanda. Melihat hal itu, Orion lantas memagari Yudha dengan dirinya. Peluru seukuran 3 cm mengenai lengannya.


Orion memegangi bekas tembakkan itu. Beberapa bawahannya langsung melindunginya dan melakukan serangan balik.


"Yudha-sama? Anda baik-baik saja?" Tanya Shuhei yang khawatir dengan Tuan Mudanya.


Yudha mengangguk dan kini lebih fokus ke pamanya yang memasang badan untuk melindunginya.


"Paman? Paman baik-baik saja? Paman terluka! Da-darah? Paman?" Tanya Yudha.


"Hei, Pamanmu ini sudah biasa dengan hal seperti ini. Paman akan baik-baik saja!"


Mereka memilih mencari tempat yang aman dahulu. Banyak hal yang harus dibicarakan dan dilakukan setelah ini. Semua rumit dan kacau balau. Sangat sulit untuk dijabarkan mengenai apa yang terjadi saat ini. Ditulispun tak akan bisa mewakili bagaimana sitausi yang tercipta.


"Aku akan menguliti mereka semua jika berani menyentuh Melody seujung rambutpun darinya! ... Paman Orion terluka karena melindungiku. Sekali lagi, orang-orang di sekitarku harus kembali tersimba darah. Ayane-san bahkan jauh lebih parah. Aku belum tahu nasibnya bagaimana... Ku lihat Shuhei sedang kacau. Maklum saja, Shuhei dan Ayane itu sangat dekat layaknya kakak dan adiknya.. Sumane, sumanakata Shuhei, aku tak bisa melindungi orang yang kau sayangi." Batin Yudha.

__ADS_1


Sumane, sumanakata Shuhei: Maaf, maafkan aku Shuhei.


__ADS_2