
Chapter ini berisi flashback dari sudut pandang Alvin. Jadi ini adalah kisah apapun di masa lalu dimana Alvin menjadi pemeran utamanya.
Normal time...
"Alvin-sama, ini obat Anda dan air mineralnya." Kara Daisuke. Ia meletakkan segelas air mineral dan beberap jenis obat di meja kerja Alvin.
"Daisuke, aku menginginkan kopi." Kata Alvin. "Aku tak ingin minum obat." Lanjutnya.
"Alvin-sama, Anda harus meminum obat Anda agar sakit kepala Anda membaik. Sejam setelahnya, saya akan membuatkan kopi untuk Anda." Kata Daisuke.
"Sejam lagi terlalu lama. Aku menginginkan kopi saat ini karena aku tidak boleh istirahat. Banyak hal yang harus aku lakukan. Kalau aku yang lelah ini minum obat, maka aku akan tertidur." Kopi adalah teman Alvin. Dan ia sangat membutuhkan kopi saat ini.
Namun Daisuke selalu melarangnya minum kopi akhir-akhir ini. Ia tahu kondisinya sedang tidak baik, tapi ia benar-benar ingin minum kopi.
"Tapi tubuh Anda perlu istirahat. Anda harus mereset ulang kondisi Anda. Minum obatlah dan saya akan membangunkan Anda satu jam kemudian!" Kata Daisuke mencoba meluluhkan keinginan bosnya itu.
"Daisuke, bagaimana jika obat ini bukan obat untukku?"
"Apa yang sedang coba Anda bicarakan?"
"Mungkin ini adalah obat yang tujuannya bukan untuk mengobatiku. Aku ini dokter, aku cukup mememahami."
"Saya tahu Anda ini dokter, Anda juga tahu hanyak hal soal obat. Ditambah saya ini orang dari Tuan Besar Wijaya, Anda bisa mencurigai saya sesuka Anda. Namun, obat itu sungguh obat Anda... Tolong jangan menunda meminum obat dengan alasan yang tidak jelas seperti ini. Jika Anda tidak minum obat, sakit kepala Anda akan semakin parah." Daisuke tahu jika Alvin hanya membuat alasan agar tak jadi minum obat.
Alvin hanya ingin mengerjakan banyak hal agar urusan mengenai Emperor Group cepat selesai.
Alvin mengambil obatnya. Ada sekitar enam jenis obat. Ia lalu meminumnya.
"Dari semua orang, yang peduli akan kesehatanku hanya kau. Padahal kau orangnya kakek. Hahah, terasa sangat miris." Kata Alvin. Ia tahu ia baru saja mengatakan hal yang tak sopan pasa Daisuke karena mencurigai obat yang Daisuke berikan kepadanya itu adalah obat palsu.
Nyatanya, ia juga tahu jika hanya Daisuke yang saat ini sangat setia ada di dekatnya.
"Anda akan baik-baik saja setelah minum obat Anda. Beristirahatlah. Saya akan kembali lagi ke ruangan Anda setelah satu jam." Kata Daisuke kembali meyakinkan Alvin untuk yang kesekian kalinya.
"Daisuke.." Panggil Alvin.
"Ya?"
"Terima kasih banyak!"
Daisuke menatap Alvin sekilas. Anak muda yang malang yang harus merasakan panas dan menjijikkannya tahta tertinggi Emperor Group.
"Sama-sama, Alvin-sama. Saya akan mengambilkan Anda lagi air putih." Kata Shuhei.
Daisuke pun mengambil sisa air mineral dan sampah bekas wadas obat, lalu pergi meninggalkan kantor kerja milik Alvin.
Sepeninggal Daisuke...
Alvin menyandarkan bahunya ke sandaran kursi kerjanya. Ia meregangkan kakinya beberapa saat. Ia memijat kepalanya yang terasa sangat sakit. Banyak hal yang terjadi di dalam hidupnya. Namun kini ia tahu jika pondasi yang selama ini ia percayai ternyata adalah semu.
Masa kecilnya yang semu.
.
.
.
FLASHBACK ON
Hari itu langit menggelap, namun hujan tak kunjung datang. Ada kilat petir, tapi sepi amarahnya. Susana menjadi mencengkam ketika siang, namun sang mentari nampak betah dipersembunyiannya.
Saat itu, 15 tahun yang lalu dimana Alvin masih berusia 7 tahun.
"Ibu.. apa ayah sungguh akan datang?" Tanya Alvin kecil. Ia sudah menunggu lama, tapi sang ayah bulum juga menunjukkan batang hidungnya.
Kurenai membenarkan jaket yang Alvin kenakan. Tak lupa ia juga memakaian tudung jaketnya. "Tentu ayah akan datang. Bukankah ayah sudah berjanji akan bersama dengan kita?" Jawab Kurenai.
"Bagaimana dengan Yudha? Jika ayah bersama kita, Yudha bagaimana?"
"Yudha akan bersama ibu, kakek, dan neneknya. Dia sudah memiliki semuanya. Jadi ayah yang akan bersama kita."
"Tapi Yudha juga butuh ayah."
"Alvin, dengar, kau dan Yudha itu berbeda."
"Berbeda bagaimana, Bu? Aku dan Yudha memiliki ayah yang sama, ayah Yoga. Kenapa kita tidak bisa hidup rukun bersama? Ibu Mikan orangnya sangat baik pada kita."
Alvin kecil sangat dekat dengan Yudha. Ia ingat ketika pertama kali dibawa yang ayah untuk menemui Yudha dan ibunya, mereka berdua menyambutnya dengan sangat baik. Yudha bahkan mengajaknya bermain kartu Uno bersama.
UNO (bahasa Spanyol dan bahasa Italia dari kata "satu") adalah sebuah permainan kartu yang dimainkan dengan kartu dicetak khusus (lihat Mau Mau untuk permainan yang hampir sama dengan kartu remi biasa). Permainan ini dikembangkan pada 1971 oleh Merle Robbins. Sekarang ini merupakan produk Mattel.
"Alvin, jangan pernah tertipu dengan wajah mereka. Kau itu masih sangat polos. Mereka sangat jahat sama kita. Jika bukan karena mereka, kita tidak akan mungkin hidup susah. Kau tahu kan, kakekmu, kakek Wijaya saja sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai seorang cucu. Ibu sudah lelah mengemis agar kai diakui olehnya. Ibu tidak bisa melihatmu ditindas oleh mereka." Jelas Kurenai.
"..." Alvin tahu jika sang kakek memang sangat dingin padanya bahkan berani terang-terangan tak menganggapnya ada.
"Mereka itu jahat dan orang jahat tidak boleh dekat dengan kita. Alvin mengerti, kan?"
Alvin yang masih lugu hanya bisa mengangguk, tapi dalam hati ia tak mau membenci Yudha.
Selang beberapa saat, sebuah mobil parkir di halaman kontrakan milik mereka. Itu adalah mobilnya Yoga, ayah Alvin dan Yudha.
__ADS_1
"Alvin.." Panggil Yoga usai keluar dari mobilnya. Ia lalu membopong Alvin.
"Selamat datang, ayah." Sapa Alvin.
"Ayah datang putraku."
"Yoga-san, aku akan mengambil barang-barang kita." Kata Kurenai.
Yoga mengangguk dan Kurenai mengambil barang-barang miliknya dan Alvin di dalam kontrakkan super sederhana itu.
"Ayah, Yudha mana? Kenapa Yudha tidak ikut?" Tanya Alvin yang masih ada di bopongan sang ayah. "Aku ingin bermain kartu Uno lagi dengannya." Dalam genggaman jemari mungil Alvin ada setumpuk kartu Uno pemberian dari Yudha.
"Kau merindukan Yudha ya?" Tanya Yoga.
"Iya, aku belum lancar bermain Uno, Yudha berjanji akan mengajariku sampai aku mahir." Jawab Alvin.
Yoga menatap sendu anaknya dengan Kurenai. Mata indah itu masih sangat polos, belum ternoda dosa dunia.
"Alvin, apa kau menyayangi ayah?" Tanya Yoga.
Alvin mengangguk. "Hn, aku menyayangi ayah."
"Lalu, apa kau mau berjanji pada ayah?"
"Berjanji soal apa?"
"Berjanji untuk selalu menyayangi Yudha juga."
Alvin tidak menjawab langsung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia lalu meminta sang ayah mendekatkan kupingnya. Ia pun mengatakan sesuatu pada sang ayah. Hal ini membuat Yoga tersenyum pada Alvin.
"Kau anak yang baik..." Kata Yoga. Ia lalu memeluk Alvin.
Kurenai keluar dengan membawa dua koper besar. Yoga menurunkan Alvin. Ia lalu ikut membantu memasukkan koper itu ke dalam mobil.
.
.
.
Di dalam perjalanan menuju perfektur Miyagi...
Sudah pukul sembilan malam. Mobil yang dikendarai baru saja melewati batas kota untuk masuk wilayah baru, perfektur Miyagi.
Alvin tertidur di pangkuan Kurenai, sementara Yoga masih fokus untuk mengendarai mobilnya. Sesungguhnya Alvin tak benar-benar tidur karena ia masih samar-samar bisa mendengar suara kedua orang tuanya.
"Kurenai, aku sudah memilihmu, jadi kau siap kan memulai hidup baru denganku dan Alvin?" Kata Yoga.
"Ya. Aku pun juga meninggalkan Emperor Group untuk bisa melangkah sampai sejauh ini." Kata Yoga.
"Me-meninggalkan Emperor Group? Lalu sekarang kau sama sekali tidak memiliki apapun dari Emperor Group?"
"Apa maksudmu itu, Kurenai? Bukankah aku sudah bilang padamu jika aku memilihmu, maka aku harus siap meninggalkan marga dan tahtaku padamu! Dan aku sudah melalukannya..."
"Tidak, aku tidak mau kau meninggalkan Emperor Group!!"
"Itu tidak mungkin, Kurenai. Perjanjian ini aku buat dengan ayah. Tidak ada yang bisa merubahnya."
"Bagaimana dengan kepemilikkan Emperor Group? Bukankah kau bilang jika akta kepemilikkan ada padamu? Atas namamu? Kenapa kau tak memanfaatkannya untuk mengusainya?"
"Secara hukum aku memang memiliki Emperor Group, tapi itu adalah bisnis yang ayahku rintis. Sangat tidak sopan jika aku memilikinya karena ego."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Apa kau memiliki uang untuk masa depan Alvin?"
"Uang tidak banyak, tapi kita bisa buka usaha restoran untuk bertahan hidup."
"Lalu bagaimana dengan akta kepemilikan Emperor Group? Apa kau mengembalikannya pada ayahmu?" Kurenai harus mencari tahu akan hal ini. Ini salah satu misinya.
"Masalah tidak hanya soal aku dengan keluargaku, terutama ayah. Namun soal musuh yang ingin menguasai Emperor Group juga. Nyawa ayah selalu dalam bahaya, aku pun memilih untuk mewariskan kepemilikkan Emperor Group ke generasi selanjutnya." Kata Yoga.
"Itu Alvin, kan? Ne Yoga-san? Katakan padaku jika kepemilikkan itu atas nama Alvin, kan?" Tentulah Alvin mengharapkan, ah tidak, tapi mengharuskan jika kepemilikkan Emperor Group akan jatuh di tangan anaknya bukan anaknya Mikan, Yudha.
"Surat wasiat tidak bisa diungkap secara pribadi. Tunggulah pembacaannya saat usia Yudha 23 tahun!"
Kurenai sangat marah akan hal ini. Bagaimana bisa Yoga membuat keputusan yang rumit seperti ini. Dan lagi, apa ini? Kenapa harus menunggu sampai usia 23 tahun? Memakai ulang tahun Yudha lagi. Kenapa tidak memakai ulang tahunnya Alvin saja?
Kenapa rasanya Yoga saat ini membias pada Yudha? Memangnya Alvin tidaklah penting? Apa karena Alvin itu anak darinya yang menurut keluarga Kazehaya itu adalah sesuatu yang menjijikkan.
"Kepemilikkan Emperor Group saat ini semu. Masa depan kita dan anak kita bahkan jauh lebih semu lagi. Kau jahat, Yoga-san! Kau jahat! Kau sama sekali tidak peduli pada kami! Kau tega membiarkan kami seperti ini! Ayo kita kembali! Aku tidak mau hidup tanpa apa-apa denganmu! Aku tak mau Alvin susah! Aku tak mau Alvin dihina karena hidup miskin seperti yang dulu aku alami! Ayo kita kembali!" Kata Kurenai.
Kurenai mencoba meraih gagang stri mobil agar Yoga mau kembali ke Tokyo.
"Kurenai kita sedang di jalan! Ini sangat bahaya!" Teriak Yoga karena tingkah Kurenai yang menjadi-jadi.
"Pokoknya kita harus kembali! Aku lebih memilih menjadi wanita simpananmu daripada melihat Alvin menderita di masa depan!" Kata Kurenai yang semakin getol ingin kembali dan mengganggu Yoga yang sedang menyetir.
Mobil menjadi sulit dikendali. Alvin bangun dan membuka matanya. Ia sangat takut karena mobil yang ugal-ugalan. Akhirnya, Alvin hanya bisa menangis. Anak kecil tidak bisa berbuat banyak.
"Ayah, ibu, aku takut! Tolong jangan bertengkar!" Tangis Alvin.
"Hentikan, Kurenai! Kau membuat anak kita menangis!" Kata Yoga.
__ADS_1
"Alvin diamlah! Kita harus membuat ayah putar balik!" Bentak Kurenai.
"Kurenai! Kenapa kau sebegitu takutnya untuk hidup susah denganku? Kita mungkin akan susah di awal, tapi aku akan bertanggung jawab untuk masa depan Alvin!"
"Itu akan butuh waktu yang lama dan belum tentu akan terwujud! Aku tidak mau hidup miskin!"
Aku..
Tidak mau..
Hidup..
Miskin..
Yoga seperti baru saja mendapat pukulan yang sangat telak di kepalanya.
"Kurenai, apa kau bersamaku hanya karena aku kaya sebelumnya?" Tanya Yoga.
Kurenai menatap Yoga. "Ya! Apa lagi memangnya, hah? Orang kaya sepertimu pastilah diincar oleh pellacurr sepertiku! Kau bodoh ya tidak memahaminya? Tidak menyadarinya?"
Yoga mencolos. Ia kaget bukan main. "La-lu, apa semua kisah kita selama ini adalah palsu?"
"Iya, itu palsu! Yoga-san, cepat kembali! Aku tak mau hidup susah lagi seperti dulu!"
Sejenak Yoga hilang konsentrasi hingga pada akhirnya, sebuah mobil limoushin datang di sampingnya.
Itu adalah mobil milik Orion. Orion mengejar Yoga sampai ke bulak jalan menuju pusat kota Miyagi.
"Nii-san! Kau harus kembali! Kak Mikan sakit!" Teriak Orion. Berkali-kali ia memanggil nama kakaknya. Ia bahkan membunyikan klakson mobilnya. Membuka jendela mobilnya dan tak mempedulikan dinginnya angin malam yang menyapa.
Yoga tersadar, ia lalu membuka jendela mobilnya dan melihat Orion.
"Kak Mikan masuk rumah sakit! Kembalilah, Kak! Aku mohon!" Kata Orion.
"Ayo kita kembali!" Teriak Kurenai yang masih berusaha mengendalikan stir mobil.
"KURENAI DIAM!" Pinta Yoga. Ia lalu kembali menatap Yoga sembari fokus mengendarai mobilnya. "Aku tidak bisa menarik keputusanku. Ini demi kebaikannya juga. Kau akan selalu menjaganya saat aku tak ada." Kata Yoga.
"Kau orang paling egois di dunia ini! Kau membuat orang yang aku sayangi terluka! Kenapa kau tidak mati saja, hah?" Kata Orion.
Orion berusaha menyalip mobil Yoga untuk menghentikan mobil Yoga, namun Yoga berhasil menghindari mobil milik Orion. Mobil yang Yoga kendarai keluar jalur dan menabrak pembatas jalan. Mobil menjadi terbalik beberapa kali mengingat kecepatan yang melampaui batas.
Mobil itu ringsek dan rusak parah.
Orion menghentikan mobilnya lalu memeriksa kondisi sang kakak.
Darah segar mendominasi tubuh Yoga, Kurenai, dan Alvin. Yoga bahkan nampak terluka sangat parah. Ia terjepit badan mobil.
"Ka-Kakak?" Orion tak tahu harus bagaimana. Ia pun memilih untuk pergi dari lokasi itu. "Go-gomenasai..."
.
.
.
Dalam keadaan sekarat, Yoga membelai wajah Alvin. Ada luka di kepala Alvin. Yoga meneteskan air matanya karena tidak bisa melindungi anaknya dengan Kurenai.
"Alvin, maaf... kan... ayah..." Kata Yoga terbata.
Alvin nampak kesakitan. Kurenai sudah tak sadarkan diri, namun Yoga tahu, Kurenai masih hidup.
"Alvin, te-ri-ma... ka-- sih.." Kata Yoga yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Alvin mendengar dan melihat samar-samar wajah penuh luka sang ayah hingga akhirnya ia pingsan.
END OF FLASHBACK
.
.
.
"Alvin-sama..." Panggil Daisuke pelan.
Alvin lalu membuka kedua matanya. Ia mengernyitkan beberapa kali agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya ruangan.
"Sudah satu jam Anda tertidur." Lanjut Daisuke.
"Hm? Sodesu ka?"
"Ya, Alvin-sama."
.
.
.
"Ayah aku berjanji akan selalu menyayangi Yudha. Aku akan menjadi saudara yang baik untuk Yudha. Seperti kata ayah, Yudha adalah adikku."
__ADS_1