MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Mantel


__ADS_3

“Maafkan aku senpai, aku merepotkanmu lagi.” Kata Melody.


“Tidak apa-apa Melody, aku pasti akan membantumu.” Alvin tersenyum. “ Karena Mia sedang menghadiri pernikahan saudaranya, untuk sementara kau tinggalah di apartement milikku ini. Aku berjanji tidak akan memberitahukannya pada Yudha. Jadi, berhentilah menangis!”


Melody menghapus air matanya. “Terima kasih, Senpai.”


“Aku akan ke supermarket di depan, kau menginginkan sesuatu?”


“Ano, susu hamil untuk usia 4 bulan aku lupa membawanya, apa kau bisa membelikannya untukku?” Kata Melody memerah.


Alvin mengelus kepala Melody. “Tentu saja.”


Sebenarnya, Alvin melihat bagaimana Yudha memberi perhatian pada Yura saat di rumah sakit. Yura memang bukan pasiennya, tapi ia adalah petinggi rumah sakit yang cukup sering mondar-mandir di rumah sakit. Ia juga banyak menghabiskan waktu di IGD.


Melihat sebegitu besar perhatian Yudha pada Yura, ia menjadi lebih menghawatirkan Melody. Ia tidak tega memberitahu apa yang ia lihat pada Melody. Istri adiknya itu sedang hamil, ia tidak ingin membuat Melody semakin cemas.


Sepeninggal Alvin ke supermarket, Melody lalu membereskan pakaian yang ia bawa.


Tak banyak. Hanya beberapa pakaian ganti.


Ia lalu melepaskan mantel yang ia pakai. Ya, mantel milik Yudha. Usai dari kamar khusus miliknya di rumah sakit, ia menemukan mantel milik Yudha, rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan memaksanya 'memungut' mantel milik Yudha itu.

__ADS_1


Ini memang aneh, hanya dengan mendekap mantel milik Yudha ia menjadi merasa lebih tenang. Perasaannya membaik. Jika ini karena efek kehamilan, bisa jadi. Nyatanya ia memang mengandung anaknya Yudha. Suami yang ia nikahi hampir sepuluh bulan yang lalu.


________________________________________


Melody dan Yudha menikah di bulan pertengahan Maret dimana musim semi sedang berlangsung. Bunga sakura masih mekar dengan indahnya. For your info, Melody first sext bulan Juli, Second sex bulan September awal, langsung hamil. Jadi di bulan Desember, Melody hamil 4 bln. Semoga bisa di terima time linenya. 😅


________________________________________


Melody berjalan menuju balkon apartemen milik Alvin. Ia ingin menikmati mentari sore kota Tokyo yang indah. Nyatanya sore ini langit cukup mendung. Mentari harapannya sirna.


"Alampun enggan mendukungku. Haah, hoe langit, kasihanilah ibu hamil ini!"


Melody menatap mantel yang ia dekap sedari tadi. Mantel itu memberinya banyak rasa. Membuat moodnya bergonta-ganti tak karuan. Membuat tenang dan nyaman, iya. Tetapi juga menyesakkan dada dan membuat banjir air mata jika ia memikirkannya lebih dalam.


Melody mengambil foto hasil USGnya dari dalam kantong mantel milik Yudha. Foto itu sudah beberapa kali ia lihat, ia dekap setelahnya. Itu anak-anaknya! Anaknya dengan Yudha. Masih begitu mungil. Ia bahkan tak bisa mengerti jika foto hitam putih itu adalah foto anak-anaknya.


"Lihatlah Yudh, anakmu, kembar! Tidak hanya satu, tapi dua anak sekaligus! Aku ingin memberitahu kabar ini, tapi apa kau akan bahagia setelah mendengarnya? Aku.. aku juga ingin tahu, apa kau bahagia dengan hadirnya anak di pernikahan kita setelah mengetahui keadaan Yura? Kau dengan mudahnya menghianati janjimu padaku.."


Melody meneteskan air mata ketika mengingat bagaimana Yudha dengan manisnya berjanji akan menjenguk sebentar dan pulang menemuinya setelahnya. Namun, ia menunggunya sampai fajar, Yudha tetap tak kembali. Jika Yudha mengabarinya dengan sms atau telpon, mungkin akan lain cerita. Tentu saja ia akan mencoba memakluminya.


Bukankah selama ini ia sudah cukup bijaksana?

__ADS_1


Tapi apa daya, kabar sms atau telpon yang ia tunggu juga tidak ada. Jika ponsel milik Yudha mati, lowbett, setidaknya pinjam ponsel Sai juga ia harapkan. Dan lagi, jangan bilang otak jenius Yudha melupakan cara itu? Yudha tidak hafal nomor ponselnya? Atau Yudha tidak punya ide untuk menghubungi Shuhei agar menyampaikan posisinya kepada dirinya? Sai pasti memiliki nomor ponsel milik Shuhei!


Kesal!


Moodnya berubah lagi. Dari sedih kini menjadi sangat kesal. Ia ingin memukul Yudha saat ini. Ia ingin memukul wajah tampan yang membayangi tidurnya.


"Apaan ini? Kau bahkan tak mengirim pesan padaku juga saat ini. Jadi bertemu sekilas tadi pagi sudah cukup ya bagimu? Ok, aku maklumi ponselmu yang mati dengan segala alasan yang ingin kau buat, tapi kau melupakan satu hal lagi. Hari ini adalah jadwal priksa kehamilanku! Kau bilang akan mengantarku! Kau bilang ingin melihat anak kita! Kau bilang sudah tak sabar ingin melihatnya!... Kau bohong! Kau bohong lagi, Yudh! Berkali-kali. Kau selalu melupakan semuanya dengan mudah. Segala tutur manismu, segala janjimu, semua seperti kapas. Mudah terhempas angin yang mendera."


Melody membelai perutnya. Ia menarik nafas dan mengeluarkannya. Ia ingin tetap tenang. Ia tak ingin dibuat kalut oleh ketidak jelasan Yudha terhadapnya. Ia ingin tegar dan tetap berdiri. Ia ingin menunjukkan pada dunia jika dirinya baik-baik saja.


"Aku belum genap 21 tahun. Ulang tahunku masih akhir bulan Maret tahun depan. Aku masih muda. Aku sedang berbadan dua, ah tiga maksudku. Tak masalh jika Yudha sibuk dengan Amamiya-san. Aku juga akan menyibukkan diri dengan urusanku sendiri. Aku akan menyimpan ide cerai itu karena aku menghormati janji kakek dengan kakek Wijaya. Aku akan bertaham dengan segala kemampuanku. Jika Yudha bisa 'mempermainkanku', kenapa aku tak bisa melakukan hal yang sama?"


Haruskah ia mengabaikan Yudha?


Satu yang harus Melody ingat, ia mengandung anak Yudha.


Tuhan begitu menyayangi dirinya dan Yudha. Dengan kemurahan-Nya, DIA memberikan keturunan yang indah atas cinta dan kasih-NYA.


Haruskah pertengkaran antara dirinya dengan Yudha berubah menjadi permusuhan di masa depan? Bukankah ia memilih untuk tidak bercerai? Apakah itu baik untuk kehidupan pernikahannya di masa depan?


Melody memejamkan matanya. Meresapi setiap hal yang sudah terjadi pada hidupnya. Mulai dari pertemuannya dengan Yudha, menikah, pertengkaran karena Yura, dan kehamilannya. Semua terjadi dalam waktu yang tak sampai satu tahun.

__ADS_1


Melody membuka kedua matanya, ia memasukkan kembali foto hasil USGnya kedalam mantel milik Yudha. Ia lalu mengangkat mantel itu dan menatapnya.


"Yudh, aku ini masih kecil untuk dunia pernikahan. Aku ini bisa sangat keras kepala. Aku tak bisa terus-terusan mengertimu. Salahkan aku jika kau anggap aku salah. Aku hanya sedang lelah. Aku hanya ingin memperbaiki moodku saja... Kau bersenang-senanglah dengan Yura-mu itu, aku tak masalah meski ada rasa sakit di hatiku!.. Aku, aku bisa meski tanpamu.."


__ADS_2