MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Flashback Versi Kurenai 2


__ADS_3

Uchiyama Takeo memiliki dua anak dari wanita yang berbeda. Anak pertamanya adalah Uchiyama Hanry dari budak wanita dan Uchiyama Azumane dari istri sah. Sebelum menikahi ibunya Azumane, Takeo sudah lebih dulu memiliki anak dengan ibunya Hanry.


Hanry inilah yang pada akhirnya berganti nama menjadi Matsuoka Han setelah berhasil selamat dari balas dendam yang dilakukan oleh Hadinata, kakeknya Melody. Ia melarikan diri ke Kyoto dan menjadi Oyabun di sana setelah menghianati sahabatnya sendiri, Dean Hwang. Selama mengusai Kyoto, Hanry membangun tatanan baru di sana. Membangun raksasa bisnis dengan sistem versi mereka. Membangun klan yang solid.


Orang melihat Henry itu seperti penjaga kota Kyoto, Kyoto Guardian, tapi sesungguhnya mereka masih perkempulan yakuza hanya saja bermain dengan cara yang lebih lembut. Seperti terlihat sebagai malaikat tapi sesungguhnya merekalah iblis yang terang-terangan menunjukkan eksistensinya akibat berkamuflase dengan tatanan pelindung yang dibangun oleh Dean Hwang.


Di masa depan inilah Matsuoka Han lebih dikenal dengan Tuan Han.


"Jika bukan karena laki-laki bejat itu, aku tak akan mungkin terjerumus dengan dunia kelam menjijikkan itu. Namun juga karena laki-laki itu, aku menjadi bisa bertemu dengan Yoga-san. Takdir yang menyedihkan, tapi indah." Gumam Kurenai.


Ia kembali membuat teh usucha dengan kembali mengulangi dari awal cara membuatnya.


FALSHBACK ON


Malam ibu bar milik Hito, Heaven Bar, nampak ramai seperti biasanya. Kurenai membantu melayani para pengunjung yang datang.


"Huwaaa... pegal sekali tanganku! Rasanya seperti mau putus!" Keluh Kurenai.


"Kau harus beristirahat, Kurenai! Kau terlalu bekerja keras!" Kata Hito.


Kurenai tertawa. "Tak masalah, Hito-san. Aku sangat menyukai pekerjaan ini."


Kurenai lalu melanjutkan pekerjaannya. Dari kejauhan ada sesosok laki-laki yang sedang duduk sendirian. Ia pun menghampirinya.


"Tuan ingin memesan sesuatu?" Tanya Kurenai ramah.


Mata mereka bertemu. Ada getaran tak biasa di dada Kurenai. Laki-laki di hadapannya sangat tampan. Laki-laki paling tampan yang tak pernah ia temui sebelum ini.


"Aku ingin memesan usucha." Jawab laki-laki itu


Seketika itu Kurenai langsung bengong. Usucha itu teh, sedangkan Heaven Bar itu menjual minuman keras.


"Ano, Usucha di sini kami tidak menyediakannya. Apa Tua menginginkan minuman lain?" Tawar Kurenai.


"Kenapa tidak ada?" Tanya laki-laki itu dengan polosnya.


Kenapa tidak ada? Apa laki-laki ini bodoh? Mana ada bar yang menjual teh khusus seperti itu!


"Karena memang kami tidak menjualnya." Kata Kurenai.


"Ah, sodesu ka?" Gumam laki-laki itu.


Kurenai pikir jika laki-laki itu paham denhan penjelasannya. Laki-laki itu tidak tanya lagi. Namun, bukannya memesan minuman lain, laki-laki itu malah kembali diam dan hanya duduk sambil memandang kosong meja yang ada di depannya.


Rada kesal juga, namun Kurenai mencoba memahami. Mungkin saja jika laki-laki di hadapannya saat ini sedang memiliki banyak masalah.


Laki-laki yang aneh.


Karena merasa kasihan, akhirnya Kurenai memberikan segelas Tequila.


Tequila adalah minuman distilasi yang terbuat dari tanaman agave yang dibuat di sekitar kota Tequila, 65 kilometer (60 mil) barat laut Guadalajara, di daerah pegunungan (Los Altos) di negara bagian Jalisco di barat Meksiko.


"Aku kan tidak pesan?"


Ok, wajah polosnya kembali membuat Kurenai kesulitan memahami. Hei, ayolah, ia hanya sedang berbaik hati saja pada laki-laki ini.


"Anda adalah pengunjung yang beruntung di bar kami, Tequila ini gratis untuk Anda." Kata Kurenai memaksa untuk tersenyum.


"Oh. Terima kasih."


"Sama-sama."


Itu adalah awal pertemuan mereka. Kurenai bertemu dengan laki-laki 'aneh' dan polos. Lama-kelamaan mereka saling kenalan karena laki-laki itu malam berikutnya kembali berkunjung ke Heaven Bar.


"Namaku Kazehaya Yoga."


Itu adalah kata-kata yang tak pernah bisa Kurenai lupakan sampai saat ini. Nama yang akan selalu terngiang di dalam benaknya. Nama yang mengikat takdirnya menjadi begitu panjang dan melelahkan.


Semakin lama, Kurenai dan Yoga mengenal, membuat bibit-bibit cinta tumbuh di hati Kurenai. Ia mulai menyukai Yoga. Dan perasaan itu semakin besar setiap harinya. Ia berpikir untuk meyakinkan dirinya bahwa dirinya itu tidaklah pantas bersanding dengan Yoga, laki-laki baik-baik.


Bandingan dengan dirinya, dirinya ini adalah seorang pelacurr.


KURENAI'S POV


Aku memakai kembalai pakaianku. Teman kencanku hari ini juga melakukan hal yang sama. Dia kemudian memberikanku uang sebagai bayaran atas layanan ranjang yang sudah aku berikan. Dia kemudian mencium bibirku dan mengucapkan terima kasih setelahnya.


Aku melayani klienku, di memberikanku uang, transaksi selesai. Tidak ada lagi hubungan di antara kita berdua di masa depan lebih dari sekedar partner sex.


Tidak ada main perasaan, yang ada hanya kepuasan biologis.


Kini, aku keluar dari motel. Aku berjalan sempoyongan. Hari ini terasa sangat melelahkan.

__ADS_1


Aku melangkah dengan high heels ku. Memakai pakaian ketat dan di atas lutut, V Line dada ke bawah, sudah biasa bagiku. Laki-laki yang melihatku akan terpesona dengan kemolekkanku.


Kota Tokyo malam ini mulai mendingin.


Aku memandangi langit malam. Pemandangan yang sama. Hitam dan hitam setiap harinya. Lampu kota pun juga tak jauh berbeda.


Apa yang sebenarnya aku lakukan sih?


Kenapa aku selalu jatuh ke tempat menjijikkan yang sama?


Orang-orang benar, kuturan wanita penghibur, maka akan menjadi wanita penghibur juga.


Miris.


Aku memegangi dadaku. Ada yang tidak benar. Ada yang salah dengan diriku. Aku, aku tak lagi bisa merasakan nikmatnya menggeluti pekerjaanku.


Aku merasakan ada hal yang hilang dari dalam diriku...


Aku merasa... kosong.


Setiap aku melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain, bayangan Yoga-san selalu hadir di dalam anganku. Cara menatapnya yang sendu membuat hatiku terasa teriris. Rasanya sangat tidak nyaman. Aku sampai mendapat teguran dari klien ku karena aku tak bisa melayani dengan baik dan memuaskan.


Tuhan, seseorang yang sangat menjijikkan ini apa pantas jatuh cinta padanya?


Tentu saja tidak, kan?


Aku mencoba tahu diri dan mencoba membunuh perasaanku setiap harinya. Namun semua itu gagal aku lakukan. Semua itu sia-sia. Perasaan ini justru malah semakin besar dan semakin besar saja. Membuatku tak kuasa.


Aku masih ingat ekspresi kagetnya ketika aku menceritakan soal profesiku sebagai wanita penghibur. Meski dia sebisa mungkin mencoba untuk bijak, tapi aku sadar diri, ada tatapan yang tak biasa dia berikan padaku.


Malam berikutnya, dia tidak berkunjung lagi ke bar. Begitu pula dengab malam berikutnya, malam berikut-berikutnya, terus, sampai satu bulan ini.


Jika dia tak menyukaiku, merasa jijik akan diriku, setidaknya katakan sesuatu sebelum pergi, jangan menghilang seperti ini! Aku menjadi merasa tak menentu, aku menjadi merasa tak nyaman.


Loh...


Ada apa ini?


Ahh, ini air mata ya? Sudah lama aku tak menangis.


Sakit..


Sakit sekali rasanya. Dadaku sangat sesak. Aku terbatuk-batuk tak karuan. Aku berusaha mengusap air mataku, tapi gagal. Tergenang lagi dan lagi.


Yoga-san, aku sangat merindukanmu. Tanpamu rasanya sangat kosong, rasanya ada yang hilang, ada yang kurang. Aku tak bisa mengendalikan diriku dan perasaanku padamu. Maaf, maaf karena tidak sopan memiliki rasa romantis terhadapmu.


END OF KURENAI'S POV


Hari berganti, Kurenai melihat Yoga sedang bersama seorang wanita cantik di sebuah boutique mewah. Ia mengintip dari arah luar boutique yang memang terbuat dari full kaca.


Yoga sedang tersenyum ketika sang wanita cantik itu memamerkan gaun putih cantik terhadapnya. Kurenai langsung tahu jika gaun putih cantik itu adalah sebuah gaun pernikahan.


Merasa memiliki perasaan mendalam pada Yoga, tentulah membuat Kurena merasakan sakit yang luar biasa dari dalam hatinya.


"Apa memang kisah kita itu tidak mungkin, ne Yoga-san? Aku ingat ketika awal-awal kisah kita dimulai, kita sangat akrab seolah tak ada sekat di antara kita. Kau bilang menyukaiku, sebagai wanita tentulah aku berimajinasi dengan artian yang lebih. Namun kau menghilang setelah mendengar kisah asli diriku... Yoga-san, suka dalam takaranmu sewaktu itu suka yang bagaimana? Aku tak memahami kedudukannya. Lalu apa ini? Kau mau menikah? Kau mau tunanganan atau apa? Kenapa kau menghilang tanpa kata? Kenapa kau tidak menceritakan apapun soal ini kepadaku? ... Haha, memang aku ini siapa? Hanya orang yang singgah di malam ketika kau kesepian." Batin Kurenai.


Kurenai berbalik meninggalkan boutique itu. Namun, sebuah tangan kekar menghentikannya.


"Kurenai..." Panggilnya.


Kurenai berbalik dan betapa terkejutnya ia melihat sosok yang kini memegang tangannya bahkan memeluknya.


"Yo-Yoga-san?"


"Maafkan aku... maafkan aku!"


Yoga mengajak Kurenai pergi bersama. Ketika Kurenai bertanya soal wanita yang bersama Yoga, Yoga bilang wanita itu sudah ada supir yang menjemputnya.


Mereka kini berakhir di sebuah restoran sederhana. Mereka makan siang bersama.


"Maaf tiba-tiba membawamu ke mari." Kata Yoga.


"Hmm? Tak mengapa... ano, sudah lama ya?" Kata Kurenai.


"Hm, sudah lama. A-apa kabar?"


"Baik... Kau?"


Yoga terdiam. "..."


"Sesuatu tengah terjadi?" Tanya Kurenai karena ekspresi Yoga tiba-tiba berubah.

__ADS_1


"Aku dijodohkan dan harus segera menikah. Namun, adik yang amat aku sayangi menyukai wanita yang akan dijodohkan denganku. Adikku sangat terluka karena hal ini. Apa, aku pantas berbahagia dengannya sementara adikku menderita?" Yoga mulai curhat.


Yoga selama mengenal Kurenai, ia menjadi sering curhat banyak hal. Mengenai masalah-masalah pekerjaan biasanya. Namun kini, ia memberanikan diri untuk curhat ke masalah yang lebih pribadi.


Bagi Yoga, ia akan merasa baikan setelah berbicara dengan Kurenai.


"Apa ini alasanmu kenapa kau tak ke bar lagi?" Tanya Kurenai.


Yoga mengangguk. "Iya. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku harus mengerjakan banyak hal."


Kurenai menghembuskan nafas lega... "Haaaah..."


"Kenapa?" Heran Yoga.


"Tidak. Aku kira kau jijik padaku saat aku bilang aku ini wanita penghibur." Kata Kurenai.


"Hah?"


"Jangan hah saja!"


"Tidak, maksudku kenapa aku harus jijik? Manusia memiliki jalannya masing-masing. Jalan apa yang diambil, itu adalah keputusannya." Kata Yoga.


Kurenai tertegun. "Kau memang orang baik. Wanita itu pasti beruntung karena akan menikah denganmu." Dalam hati ia ingin menangis.


"Tidak juga..."


Kurenai menatap Yoga. Tidak juga? "Apa kau mencintainya?


"Aku berteman dengannya sejak kecil, aku masih bingung dengan perasaan ini dan semakin bingung ketika aku tahu bagaimana perasaan adikku dengan Mikan. Dia namanya Mikan, jeruk artinya dalam bahasa Jepang." Kata Yoga.


"Mungkin aku menyayanginya." Kurenai mencoba tersenyum.


"Tapi aku juga menyayangimu..."


Kurenai melebarkan kedua matanya. "Me-menyayangiku? Ke-kenapa?"


"Entahlah, aku hanya sering memikirkanmu sama seperti aku memikirkannya."


"Kau bisa brengsek juga ya? Hei, laki-laki sebaiknya hanya melihat satu wanita saja!"


"Kau sendiri bagaimana? Kau saja melihat banyak laki-laki!" Kesal Yoga.


"Kenapa kesal? Cemburu?"


Yoga memalingkan wajahnya. Kurenai tersenyum. Jadi perasaan Yoga itu asli rupanya walau sulit diartikan lebih dalam. Yang ia tahu, Yoga itu kaku dan polos, jadi sulit ditebak isi hatinya itu bagaimaba.


"Setelah kau menghilang dan tak datang menemuiku di bar, aku mengurangi job menjijikkanku, bahkan kini aku sudah tak lagi melakukannya. Aku tahu aku ini tak pantas memiliki rasa padamu, namun, hanya memikirkanmu saat aku disentuh laki-laki lain, aku merasa bersalah." Kata Kurenai.


"Kurenai... apa ini adalah kisah yang benar? Namun, aku tak mungkin bisa meninggalkan Mikan. Aku sangat menyayanginya juga."


"Aku tak tahu. Aku dan kau memiliki sisi egois yang sulit dimengerti. Kita jalani saja dulu."


Mereka pun memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Bukan pacaran atau ikatan yang nyata. Mereka hanya berteman dekat yang berbagi banyak kisah.


Hubungan mereka membaik. Yoga sering mampir ke bar lagi untuk mengobrol dengan Kurenai. Hampir setiap hari Yoga lakukan. Kurenai sangat memahami dirinya dan membantu solusi dengan saran-saran positifnya.


"Sampai jumpa lagi!" Kata Kurenai, ia melambaikan tangannya pada Yoga.


Mobil Yoga melaju meninggalkannya. Kurenai tersenyum dan kembali ingin masuk ke dalam bar. Namun, ada sosok yang memanggil namanya.


"Kurenai.. wanitaku.." Katanya.


Kurenai mematung, ia sangat mengenali suara ini. Suara yang melemahkan segala persendian dan otot-ototnya.


"Ma-Master...?


Betapa kagetnya ketika Tuan Han menampakkan diri di hadapannya malam ini. Ini sudah setahun lebih, ia menghilang, tapi rupanya Tuan Han bisa menemukannya lagi.


"Aku berubah pikiran. Aku kira aku akan membunuhmu saat ini juga, namun, melihat kau dekat dengan keturunan Kazehaya yang menjijikkan itu, maka aku akan bermain lagi denganmu." Seringai Tuan Han.


Ia melangkah mendekati Kurenai. Kurenai yang mematung sama sekali tidak bisa begerak kemana-mana.


Tuan Han lalu menyentuh pipi mulus Kurenai, menyibakkan rambut yang terurai ke belakang telinganya Kurenai.


"Tentu saja kau akan bersedia melakukannya, kan?" Bisik Tuan Han.


END OF FLASHBACK


"Tuan Han, kau adalah sumber mala petaka dalam hidupku. Aku bahkan tidak tahu salah apa diriku padamu. Kenapa? Kenapa bisa menjadi seperti ini?


Maaf ya, keknya terlalu kasar untuk Kurenai dalam kisah masa lalunya. Pelacurr, wanita penghibur, alkohol, miras-miras, sex, bar, aduh, aku benar-benar tak menyukai hal ini. jadi tolong, please, jangan ditiru apapun yang hal-hal yang menjijikkan dalam kisah masa lalu Kirenai ini. Jalanilah hidup yang normal dan dekat dengan Tuhan. See You Next Chapt..

__ADS_1


__ADS_2