MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Yudha Mencari Fakta 1


__ADS_3

Yudha saat ini sedang berada di rumah sakit. Ia menemui sang kakek. Kebetulan di situ juga ada nenek. Ibunya sedang di kamar, di lantai 16.


"Ada kabar soal Melody?" Tanya Nenek Chiyo.


Nenek Chiyo tidak menatap Yudha. I fokus menatap suaminya yang terbaring di ranjang.


Yudha menggeleng. "..."


"Begitu ya?"


"Nenek.."


"Hm?"


"Sudah sejauh ini, sudah banyak korban, apa nenek tak ingin berbicara apapun padaku?" Pertanyaan Yudha sangat serius soal ini.


"..." Nenek Chiyo diam saja.


"Nenek berada di pihak Alvin, kan?"


"..."


"Nenek!"


"..."


Sang nenek sangat betah berdiam diri. Yudha tidak menyukainya. Ia mengepalkan tangannya kencang. Ia menahan mati-matian emosinya.


"Aku tidak peduli nenek ada di pihak Alvin atau tidak, namun, jika nenek berbohong soal Melody atau berusaha menyembunyikan Melody dariku aku tidak akan segan-segan menghancurkan Emperor Group! ... Jika Emperor Group musnah, maka tidak akan ada korban lagi!" Ancam Yudha.


"Kau tidak akan bisa menghancurkan Emperor Group! Kau tak memiliki kekuatan itu. Kau itu lemah." Kata Nenek Chiyo yang lagi-lagi berbicara tidak sambil menatap Yudha.


Oke, saat ini Yudha dikatai lemah oleh neneknya sendiri! Kata-kata itu sudah sering ia dengar terutama dari kakeknya, ia biasa saja. Namun, jika kata lemah ini berasal dari sang nenek, rasa kesalnya naik sampai ubun-ubun.


Ah, ini ya rasanya dikatai oleh seorang wanita?


"Meski aku lemahpun, aku masih bisa bertarung dengan otakku! Satu lagi, sepertinya nenek sangat terburu-buru memindah kepemilikkan sagam nenek kepada Alvin. Hmm, apa nenek sedang berusaha menghianati kakek?"


"Alvin benar, kau ini masih terlalu kecil untuk mengatasi masalah orang dewasa rupanya. Alvin bahkan jauh lebih dewasa darimu."


Jika bukan neneknya, Yudha sudah membanting apapun yang ada di ruangan itu. Hal yang paling Yudha benci di dunia ini adalah dibanding-bandingkan. Apalagi dibanding-bandingkan dengan saudaranya, Alvin.


"Kenapa aku harus sok dewasa jika bertindak seperti anak kecil itu jauh lebih menyenangkan?" Kata Yudha. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap kakek Wijaya.


Sepeninggal Yudha, nenek Chiyo membenarkan letak selimut kakek Wijaya.


"Jadi orang tua itu serba salah. Yudha itu sangat berbeda dengan Alvin. Kau dulu sering membanding-bandingkan mereka. Yudha bisa berontak seperti ini jika merasa tak nyaman. Namun Alvin? Dia memilih diam dalam senyuman palsunya. Jika sejak awal kejujuran itu diceritakan, maka semua mungkin tak akan seperti ini. Walau tak menjamin juga akan baik, bisa saja malah jauh lebih buruk... Wijaya-san, setelah Hadinata meninggal, kau menjadi harus mempertanggung jawabkan dosa-dosanya."


.


.

__ADS_1


.


Di luar ruang inap kakek Wijaya..


Yudha memukul keras tembok rumah sakit. Membuat dua bodyguard yang sedang berjaga kaget melihat apa yang Yudha lakukan.


Tangan Yudha bahkan sampai terluka. Mengelurakan darah dari jemarinya. Ini yang dimaksud Melody dimana Yudha jika marah menjadi tak bisa mengendalikan diri. Jika tidak ada pelampiasan, maka Yudha akan menyakiti dirinya sendiri.


YUDHA'S POV


Menurut olah rekaman sadapan ponsel yang diberikan oleh Daisuke padaku tempo hari, orang-orang yang menculik Melody adalah orang-orang suruhan nenek. Aku sangat mengenali suara nenek. Aku tak mungkin salah.


Namun, hasil pemantauan CCTV jalan yang dilakukan oleh para hackerku, itu adalah ulah Alvin.


Alvin melakukan kunjungan ke Chiba sehari setelah Melody diculik. Daisuke bahkan tidak tahu kemana perginya Alvin.


Sepertinya Alvin sama sekali tidak mempercayai Daisuke. Wajar saja, Daisuke memang orang kakek.


Aku sudah sangat yakin jika Alvinlah yang pergi ke Chiba. Terlalu sanksi jika dikatakan kebetulan.


Dia sendiri juga sangat santai atas diculiknya Melody. Untuk orang yang sangat mencintai Melody, itu mencurigakan.


Itu sungguh mencurigakan.


Lalu, orang-orang itu juga bagian dari yakuza Fajar Keemasan.


Pertanyaannya...


Ini masalah besar!


Ada satu pertanyaan di benakku.


Di pihak manakah pamanku saat ini?


Jika paman tidak berpihak padaku, aku tak akan mempermasalahkannya asal tidak menjadi musuhku.


Aku mencoba rasional untuk tidak memaksakan kehendakku. Semua orang memiliki pola pikirnya masing-masing. Termasuk paman. Jadi, hal paman untuk memilihku ataupun Alvin.


END OF YUDHA'S POV


"Yudha-sama?" Panggil Aron yang hendak mencari udara segar, tapi melihat Yudha di depan kamar kakek Wijaya.


Kamar inap Aron dan kakek Wijaya bersebelahan.


"Paman Aron?" Gumam Yudha.


Merasa tak puas, kini Yudha memiliki ide untuk mengobrol dengan Aron. Aron itu orang kepercayaan kakeknya. Aron seperti sambung bibir sang kakek. Mungkin saja Aron mengetahui sesuatu, kan?


"Apa yang sedang Anda lakukan? Tangan Anda berdarah!" Aron menoleh ke kanan dan ke kiri. "Yudha-sama, biarkan saya mengobati luka Anda!" Lanjutnya.


Paham dengan tingkah Aron, Yudha pun masuk ke dalam ruang inap milik Aron.

__ADS_1


Di dalam ruang inap milik Aron, Aron mengobati luka pada tangan Yudha. Beruntung ada anticeptic dan kain perban yang ditinggalkan di ruangannya ketika para suster mengobati lukanya yang belum sembuh.


"Tangan Anda itu sangat berharga, Yudha-sama. Dari tangan Anda ini masa depan Emperor Group digantungkan." Kata Aron. Ia membersihkan luka Yudha dengan kapas yang diberi anticeptic.


"Paman sudah tahu kan jika Emperor Group itu di bawah kekuasaan Alvin saat ini? Jadi tangan ini tak penting lagi." Kata Yudha.


Usai memberi anticeptic, Aron lalu menutup luka pada tangan Yudha dengan kain perban. Perlahan-lahan dan sangat hati-hati.


Yudha memang tidak mengaduh, tapi luka seperti ini tentulah juga sangat menyakitkan.


"Anda bisa melakukan banyak hal dengan tangan Anda. Anda pebisnis, tapi anda mengerti ilmu arsitek. Lihatlah rumah sakit megah yang Anda bangun ini! Ini mahakarya!"


"..." Dari dulu Yudha memang menyukai dunia arsitektur. Ia selalu memiliki obsesi untuk menciptakan bangunan yang indah. Bahkan kantor Next In Co juga ia rancang sendiri.


"Anda pebisnis, tapi Anda mengerti dunia software dan robotica. Anda bahkan pernah menjuarai olimpiade sains se-Asia Pasific. Dari tangan Anda, tercipta banyak inovasi baru."


Bukan itu yang ingin Yudha dengar. Bukan pujian yang ia harapkan. Saat ini, ia hanya butuh solusi agar semua rentetan masalah segera berakhir.


"Paman Aron..." Panggil Yudha.


"Ya?"


"Jika aku bertanya soal masa lalu, apa kau akan menjawabnya?"


"..." Aron terdiam.


Yudha mendecih. Kenapa jika bertanya mengenai masa lalu hal yang pertama ia temui adalah diam?


"Terlalu berat ya untuk berbagi denganku? Aku sudah sangat lelah dilempar kesana-kemari dengan argumen-argumen dan asumsi tidak jelasku. Aku sulit mempercayai siapa-siapa. Jika paman tak memberikan ruang padaku, maka aku sungguh akan berjuang sendirian."


"Bukan seperti itu, Yudha-sama. Jika semua orang di dunia ini menghianati Anda, maka saya akan menjadi orang yang berpihak pada Anda!" Aron mencoba meyakinkan Yudha.


"..."


"Tentu saja Anda berhak tidak mempercayai saya." Tambah Aron.


"Apa..." Yudha terdiam sejenak. "... apa kakek mengetahui dalang pembunuhan ayahku" Lanjutnya.


"..." Saat ini tiba juga. Itu yang Aron pikirkan. Setelah lima belas tahun, akhirnya ada yang bertanya seperti ini.


"Apa kakek yang meminta polisi untuk menghentikan investigasi pembunuhan ayahku?"


"Itu benar, Yudha-sama."


Kini Yudha mulai gemetar. "Lalu, apa kakek terlibat dalam upaya pembunuhan itu?"


"..."


"..."


"Wijaya-sama, beliau..."

__ADS_1


__ADS_2