
Yudha memarkirkan mobilnya di sebuah mall. Melody tak menyangka jika Yudha serius akan mengajaknya jalan-jalan. Ia sempat berpikir jika Yudha sedang mengerjai dirinya.
Ada rasa tak nyaman ketika Melody menginjakkan kakinya di mall. Banyak orang yang memangdangnya. Cukup risih karena pada dasarnya ia tak suka menjadi pusat perhatian.
Apa karena Melody sedang berjalan bersama seorang Pangeran Kampus? Kazehaya Yudha yang terkenal meski bukan selebriti itu? Tidakkah ini berlebihan? Maksudnya, okelah Yudha itu memiliki follower banyak di IG-nya, tapi apa mungkin samapi seperti ini?
"Yudh.." Panggil Melody pelan. Ia sedikit menarik baju Yudha.
"Hn?"
"Aku tidak nyaman dengan tatapan mereka."
Yudha mengedarkan pandangannya. Ia lalu melepas jaket hitam yang ia pakai. Kemudian memakaikannya pada Melody.
"Mereka tetap memandangi kita, Yudh!" Jaket tak begitu ngefek untuk mengatasi tatapan tidak nyaman itu.
Yudha menghela nafas. Ia lalu meraih pinggang Melody agar lebih dekat dengannya.
"Yu-Yudha, apa-apaan sih kau ini?" Kaget Melody. Ia berusaha melepaskan tangan Yudha dari pinggangnya. "Lepas, geli tahu!"
Yudha malah semakin mengeratkannya. "Mereka hanya merasa aneh dengan kita."
"Aneh kenapa?"
"Cowoknya sangat tampan, tapi ceweknya ingusan. Pasangan langit dan bumi." Senyum tengil Yudha.
😡
"Iya aku ingusan, jelek, culun, dan kampungan!" Kesal Melody menjadi-jadi.
Yudha ingin tertawa, tapi ia tahan. "Meski seperti itu, tapi kau calon istriku."
Apa yang baru saja Melody dengar itu adalah salah satu contoh kalimat romantis yang Yudha lontarkan kepadanya? Harus bagaimana ia menanggapinya? Haruskah ia senang? Haruskah ia tersenyum bahagia? Kenapa akhir-akhir ini pipinya mudah sekali memanas?
"Cih, apaan sih?"
Yudha berjalan sambil menautkan tangannya pada pinggang Melody. Melody juga melakukan hal yang sama. Hanya saja Melody tidak memegang pinggang Yudha, ia memegang baju kemeja Yudha.
Mereka melakukan ini hanya untuk 'mengusir' atau membungkam mulut pedas orang-orang yang iri dengan kebersamaan mereka.
Mungkin Melody tak mendengarnya, tadi ada orang yang berbisik mengatai Melody cukup kasar dan Yudha mendengarnya. Intinya, orang itu bilang jika Melody adalah gadis murahan yang siap jual diri pada dirinya. Yudha tak terima akan hal itu, bukan berarti ia peduli pada Melody, ia hanya merasa jika itu tidaklah benar.
Bahkan seperti saat di toko perhiasan sekalipun, pegawai toko menatap sinis Melody dan menduga hal yang sama. Mau tidak mau, Yudha juga harus melindungi Melody.
"Sayang.." Panggil Yudha.
Semua orang yang ada di toko perhiasan itu langsung kaget.
"Apaan sih sayang-sayang segala? Tidak lucu!" Kata Melody. Ia tahu jika Yudha tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar memanggilnya dengan sebutan sayang kepadanya.
"Kita akan segera menikah, pilihlah cincin yang kau suka!" Kata Yudha.
__ADS_1
Mendengar kata menikah, semua orang di toko itu langsung berubah ekspresinya. Mereka tak lagi menatap rendah Melody. Ternyata Melody adalah calon istri Kazahaya Yudha, bukan cewek murahan pengincar harta.
Melody menggeleng. Ia menunjukkan cincin yang ada di jemarinya pada Yudha. "Aku menyukai cincin ini. Aku tak mau menggantinya. Bolehkan aku mempertahankannya?"
"Aku masih bisa membelikanmu yang baru."
"Tapi ini sudah cukup, Yudh! Kumohon, jangan membuatku merasa berat dengan pernikahan ini! Aku.."
Yudha memilih menyerah. Menikah dijodohkan memang berat. Apa lagi tanpa cinta. Apa lagi karena memiliki tujuannya masing-masing.
"Terserah kau sajalah.." Kata Yudha.
Melody tersenyum. Ia lalu meminta maaf pada pelayan toko perhiasan karena tidak jadi membeli cincin.
Yudha tersenyum tipis. "Cewek yang aku nikahi lolos dari tes harta. Melody bukanlah orang kakek."
Mereka keluar toko dan melakukan acara jalan-jalan di mall. Yudha tak menyangka jika Melody benar-benar tidak 'tertarik' dengan hartanya. Melody tidak minta apa-apa darinya padahal ia sudah menawari untuk memebeli apapun yang Melody suka.
Melody bilang tidak ada barang yang ingin dibeli. Alhasil mereka hanya makan bersama di food court mall itu.
"Jika kakek memasukkan Melody dalam game ini tanpa mengetahui jati dirinya itu keterlaluan! Aku harus memutar otak lebih dalam lagi." Batin Yudha.
.
.
.
.
.
.
Yudha merebahkan tubuh lelahnya di ranjang. Dengan tangan kanannya ia meraih smartphone kesayangannya yang berada di meja dekat ranjangnya.
Ia mengotak-atik smartphonenya itu. Membuka music, memainkan beberapa lagu, mempercepat lagu itu, lalu menstop lagu itu sebelum lagu itu selesai dimainkan.
Ia meletakkan kembali smartphonenya di samping bantalnya. Memandangnya sebentar. Lalu mengambilnya kembali dan membuka aplikasi permainan.
Tidak ada yang seru.
Ia menutup aplikasi permainan itu.
Yudha bekutik dengan firannya sendiri.
Lalu tangannya bergerak dan menekan menu gallery di smartphonenya. Tak ada banyak foto di gallerynya. Bahkan hanya ada satu foto.
Foto Amamiya Yura saat masih duduk di sekolah menengah pertama, terlihat jelas dari seragam yang Yura kenakan dalam foto itu.
Foto dimana Yudha pertama kali merasa tertarik pada seorang gadis.
__ADS_1
Yudha mengusap pelan foto itu. Mencoba memandangi sosok Yura yang masih terlihat sangat polos khas anak sekolah menegah pertama yang asih lugu.
Cantik.
Siapa yang tak mengakui kecantikkan Yura?
Yudha masih ingat jika Yura adalah primadona di sekolahnya dulu. Tidak hanya dulu, sekarangpun masih sama. Yura masih dipuja-puja banyak lelaki.
Fikirannya Yudha membawanya ke masa-masa indah saat ia dan Yura selalu bersama, bercanda ria, membagi banyak hal, sampai saatnya Yudha menyadari jika Yura memang tumbuh menjadi gadis yang tak hanya cantik, tapi juga mempesona, ditambah lagi dengan karir yang Yura pilih.
Menjadi seorang model adalah impian Yura sedari kecil, Yudha ingat jika Yura pernah mengatakan jika ia sangat menyukai acara fashion show dan ingin menjadi modelnya.
Impian dari kecil?
Model?
Ah, kata-kata itu mulai saat ini benar-benar sangat mengganggu Yudha. Dahulu ia sangat mendukung jika Yura ingin menjadi seorang model terkenal, tapi sekarang?
Entahlah, model atau impian dari kecil seolah menjadi virus yang harus Yudha tangkis agar ia tak terkena imbasnya. Ia merasa benar-benar alergi dengan kata-kata itu.
Yura lebih memilih impian masa kecilnya.
Karir Yura jauh lebih penting dari apapun.
Impian menjadi model akan sia-sia jika Yura harus menikah muda.
Hati Yudha mulai melayangkan pertanyaan pada otaknya.
'Jadi Yura anggap apa kehadirannya selama ini?'
Jujur saja, otak Yudha enggan memberi jawabannya. Tapi otak tahu bagaimana harus berfikir.
Ingat, otaknya itu jenius dengan IQ 170!!
Mustahil baginya untuk tetap terjebak dalam hal yang menurutnya merepotkan itu.
Tidak tahu bagaimana, tiba-tiba jari telunjuk Yudha menekan sub menu delete dan menekan pilihan yes.
Yudha menghapus satu-satunya foto yang sekian lama ia simpan di smartphonenya!!
Foto Yura, gadis yang membuatnya terpesona untuk pertama kalinya.
Yudha menghapus foto Yura!
Yudha bukan tipe mellow Yellow yang terpaku pada perasaan, ia lebih menyukai otak yang bekerja. Logika baginya jauh lebih penting. Ia akan melakukan apa yang otaknya fikirkan, apa yang otaknya yakini akan kebenarannya.
Termasuk saat ini, pilihannya adalah rencana yang sudah ia rancang, kehadiran Melody yang awalnya akan merepotkan, nyatannya sampai saat ini ia masih bisa memanfaatkan Melody demi kepentingannya.
Melody mempermudah rencananya!
Itu yang ia fikirnya.
__ADS_1
"Gadis itu sepertinya menyenangkan untuk berpartisipasi dalam game ini. Toh sudah telat baginya untuk mengundurkan diri. Jadi, kira-kira siapa yang akan menjadi pemenangnya?" Batin Yudha tersenyum menyeringai.