MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kangen


__ADS_3

Ringaksan chapter sebelumnya:


Hadinata adalah paman kandungnya Azumane. Hal ini bisa menarik kesimpulan bahwa, Azumane dan Tsuchiya adalah saudara sepupu karena ayah mereka yaitu Hadinata dan Takeo bersaudara kakak-adik.


Dengan begitu, Azumane adalah adik sepupu dari Tsuchiya yang membuat status Melody menjadi keponakan dari Azumane.


Dilihat dari versi keluarga Azumane, Melody dan Alvin itu menjadi sepupu. Namun jika dilihatdari keluarga Yudha, Melody dan Alvin itu adik dan kakak ipar.


Hubungan yang membuat pusing bukan?


Pertanyaannya, apakah Azumane tahu akan fakta ini?


Azumane adalah orang yang tak bodoh, ia memiliki otak untuk berpikir. Hanya saja, ia belum mengetahui jika Melody adalah cucunya pamannya, Hadinata begitu pula dengan Orion.


Yang tahu Melody adalah cucunya Hadinata hanya Yudha, kakek Wijaya, nenek Chiyo, Tsuchiya, dan Mikan.


Kurenai bisa balik ke Jepang karena bantuan dari seorang laki-laki yang disebutnya sebagai 'Master'. Orang ini sangat berpengaruh dalam hidup Kurenai. Membuatnya takut dan tak berani membantah perintahnya.


.


.


.


Sudah makan tak berselera, tidurpun juga tak nyaman. Yudha bahkan beberapa kali tidak bisa tidur sama sekali.


"Mel, kau dimana? Kau baik-baik saja, kan? Maaf, aku tak mencarimu dengan benar. Banyak kejutan di tengah jalan... Kau tahu Mel, aku ingin melihatmu. Aku ingin memelukmu. Aku ingin menghabiskan hariku untuk melepas rinduku padamu... Saat ini, aku tak bisa tidur, aku harap kau sama sekali tak mengalami hal yang sama sepertiku. Kau sedang hamil, kau harus banyak istirhat demi dirimu dan anak-anak kita juga..."


Yudha memandang kosong plapon kamarnya. Agak gelap, remang-remang dengan cahaya redup dari lampu tidurnya.


"Kau sudah makan belum? Bagaimana dengan susu kehamilanmu? Apa para penculik itu memperlakukanmu dengan baik? Bagaimana dengan mandimu? Ke toiletmu? ... Aku tahu ini pertanyaan konyol, tapi aku sungguh menghawatirkanmu. Semua tentangmu. Apa lagi kau tak memiliki baju ganti. Apa kau kedinginan? Sejak aku menghilang, aku sama sekali tak memaki selimutku. Aku ingin merasakan rasa yang sama denganmu... Aku tahu itu tidak ada gunanya. Aku tahu aku hanya akan menyakiti diriku sendiri, tapi aku hanya tak hisa membiarkanmu merasa menderita sendirian di sana. Aku tak bisa hidup enak sementara aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaanmu..."

__ADS_1


Yudha memeringkan tubuhnya. Ia lalu membelai ranjang di sebelahnya. Ranjang yang biasa ditiduri oleh Melody.


"Mel..." Gumam Yudha parau.


Yudha mencengkram erat seprai ranjang itu. Ia meneteskan air matanya.


Yudha menangis.


Mantan wakil CEO kok cengeng? Pemangku jabatan koordinat Komisaris perusahaan besar kok menangisi seorang wanita?


Yudha tidak akan menolak hal itu. Hatinya itu menjadi Hello Kitty jika menyangkut soal Melody. Apa lagi Melody sedang mengandung anak-anaknya.


"Aku selalu merindukanmu meski kita berpisah hanya sebentar. Apa lagi dengan saat ini? Kau entah dimana tanpa sepengetahuanku. Mel, aku menangis saat ini karena mengingatmu. Tolong jangan menangis, karena menangis rasanya sangat sakit! Aku saja tak kuasa..."


Yudha lalu memeluk bantal yang biasa Melody gunakan untuk tidur. Memeluknya dengan sangat erat. Ia menyesap bau Melody yang masih tertinggal di sana.


"Jujur saja Mel, pernikahan bisnis yang kita jalani akan menjadi sedalam ini, itu tak pernah aku bayangkan. Saat itu yang aku pikirkan adalah menikahimu untuk meraih tujuanku, jika kau minta bercerai maka aku akan menurutimu. Aku tak memikirkan soal cinta di antara kita berdua. Aku memang menyepelekannya. Namun aku menganggap pernikahan kita sakral. Aku hanya tak bisa memikirkan cinta saat itu... Haha, lucu ya? Kini bahkan aku bisa sangat gila dalam mencintaimu. Aku bisa sangat gila dalam merindukanmu..."


Yudha lalu menghapus air matanya. Ia mencoba tersenyum meski tahu jika hatinya sedang tidak dalam keadaan yang baik.


.


.


.


Tempat Melody...


Melody duduk sambil menatap ventilasi kamarnya. Langit luar sangat gelap, tidak ada bulan yang menerangi. Belum lagi mendung yang numpang lewat, menambah kelabu malamnya yang terasa sangat panjang.


Detik demi detik, suara jam dinding mendominasi kamar. Gerakkan jarum jam yang tak bosan meski berjalan dan melewati di tempat yang sama, tanpa ujung. Berkeliling memutar searah, tidak kembali tapi akan balik dengan berjalan maju.

__ADS_1


Melody memegangi dadanya.


"Dadaku sakit. Aku menangis tiba-tiba lagi... Yudha ya? ... Sayang, aku ingin bilang jika aku sedang tidak baik-baik saja. Kepalaku pusing, perutku juga tidak nyaman. Anak-anak bergerak melulu, nendang-nendang beberapa kali hari ini... Kau pasti merindukan diriku ya? Kau juga pasti merindukan anak-anak kita ya? ... Bukan hanya kau saja, aku pun merasakan hal yang sama. Jauh darimu membuatku mengerti betapa besarnya arti dari kata merindu... Yudha, cepatlah datang kemari! Temukan aku dan segera obati rasa rinduku! Dekap aku, peluk aku, dan ciumlah diriku!"


Melody mengusap-usap perutnya. Ia mengaduh beberapa kali.


"Anak-anakku sayang, kasihani mama! Jangan buat mama seperti ini! Saat ini sedang tidak ada papa kalian, mama sulit bertahan sendirian. Selama ini, mama kuat itu karena ada papa kalian. Jadi, selagi menunggu papa menjemput kita, ayo kita bekerja sama! Ayo kita tidur ya..."


Melody membaringkan dirinya di ranjang. Ia miring ke arah ventilasi kamarnya.


"Biasanya kau akan memelukku dari belakang sambil ikut mengusap-usap perutku. Kau akan menyuruh anak-anak kita tidak mengganggu tidurku. Kau juga akan mencium tengkuk belakang leherku... Jika aku masih tak nyaman seperti saat ini, kau akan membuatku tidur menghadapmu. Kau akan mendekap tubuhku. Kau akan mengecup keningku. Kau akan mengusap punggungku."


Melody menutup kedua wajahanya dengan tangannya. Tak lupa juga menghapus air matanya yang menggenang.


"Aku tak bisa membendung rasa rindu ini. Aku tak bisa menolak 3 nyawa yang merindukanmu, Yudh... Maaf.. Maafkan aku! Kau pasti sedang kesusahan saat ini. Aku tak bisa melakukan banyak hal untuk membantumu... Tolong tahan meski berat! Tolong jangan menangis juga seperti yang aku rasakan... Hati-hatilah, Yudha! Ada beberapa kubu yang menginginkan nyawa kita. Saat ini, tempat teraman adalah di sisi Alvin. Namun, aku tetap lebih tenang jika berada di sampingmu... Yudha, kami semua menunggumu!"


.


.


.


Sebenarnya mau nulis lanjutan, tapi tiba-tiba hujan. Perasaan jadi terbawa suasana tak terelakkan. Dua orang ini hanyalah sedang merindukan dekapan cinta dan kasih sayang yang bukan kiasan. Ingin segera terwujudkan. Ingin segera terealisasikan.


Semua berjalan dengan sangat lambat. Meski kisah ini luar biasa hebat. Tergantung bagaimana mata melihat. Tak butuh akal yang sehat, asal kuat, maka cinta akan datang dan bersahabat. Mendekap tanpa sekat, maju melangkah tanpa syarat.


Jauh itu identik dengan rindu. Memaksa harus segera bertemu. Jika ditahan terasa ngilu. Jika dibiarkan akan membeku. Rindu ini menyiksa kalbu. Orang yang dirindu mungkin saja tidak tahu. Namun bagaimana harus menyatu? Raga dan fisik pun terpisah jarak yang semu.


Mencoba pasrah dengan keadaan. Menggantungkan asa pada Tuhan. Berdoa dalam hati demi kebaikan. Perasaan ini dan perasaannya sang cinta yang jauh dari dekapan.


Selamat tidur sayang... Mimpilah yang indah dan tidur dengan tenang. Seperti menari di atas awan, melayang, dan terbang.

__ADS_1


Jangan lupakan rasa sakit ini! Jangan lupakan bagaimana dalamnya rindu ini! Sakit menembus jantung dan hati. Tak kuasa seperti orang yang mati. Tanamkan dalam diri dan diri yang selalu mempercayai, bahwa cinta sejati akan membawa kembali.


- Melodi Cinta 24 Oktober 2020


__ADS_2