
Sudah seminggu berlalu semenjak berita isu kedekatan Yura dan Yudha beredar, sudah 8 hari Yudha berada di Kanada, sudah 8 hari juga Melody tak berhubungan dengan Yudha.
Melody yang tidak tahu harus bagaimana hanya memilih menghabiskan waktunya di rumah sakit Kazehaya International Hospital.
Melody bermain dengan anak-anak yang ada di rumah sakit itu. Dari pagi sampai malam. Ia bernyanyi—meski suaranya cempreng, ia menari, ia membagikan banyak balon, dan banyak hal menarik yang ia bisa lakukan dengan teman barunya di rumah sakit.
Melody bahkan dapat mengingat baik nama-nama teman-teman barunya, seperti Naru Barakamon, Ciel Kuroshitsuji, Belbo Beezelbub, Ebisu Noragami, dan lain sebagainya.
Hari-hari yang ia lalui di rumah sakit sangat menyenangkan, namun saat teman-teman barunya tertidur atau kembali ke rumahnya, saat itu merasa ingin menangis.
"Mereka sudah pada tidur, tadi Haru bahkan sudah keluar dari rumah sakit. Meski teman kecilku berkurang, tapi syukurlah dia sudah sehat. Anak kecil kena tifus itu sangat kasihan."
Melody mengambil ponselnya, ia menscrol ke bawah mencari nama suaminya.
K. Yudha.
Melody menekan lambang call pada layar ponselnya, namun ia batalkan sebelum tersambung. Ia lalu menutup kembali ponselnya. Memasukkannya ke dalam tas. Ia mengambil mantel berwarna coklat miliknya. Ia lalu memakainya.
Sudah memasuki September, musim gugur menyapa. Rasa dingin mulai memeluk tubuhnya.
Melody menatap ke luar jendela kaca besar di dalam ruang pribadinya di rumah sakit, pandangannya sangat jauh dan entah tertuju pada apa.
Tokyo Tower nampak dari tempatnya berdiri, tapi bukan itu yang ingin ia lihat. Gemerlapnya lampu indah di kota Tokyo malam hari, sangat romantis. Gedung-gedung tinggi menjulang, jalan raya berteman malam.
Dingin.
Melody meniup-niup telapak tangannya dengan nafas dari mulutnya. Ia mengosokannya berulang-ulang. Tangannya terasa sangat dingin.
"Dingin sekali, tapi aku tak menyangka jika kota Tokyo di malam hari dari ketinggian di atas gedung seperti ini terlihat sangat indah. Dari dulu sebenarnya apa yang aku lakukan sih? Kenapa aku tak melihat apa yang ada di sekitarku? Apa memang aku terlalu sibuk dengan ekonomi keluargaku? Apa ini untungnya aku menikah dengan orang kaya? Aku bisa menikmati hidupku lebih hidup."
Melody memakai sarung tangannya. Ia juga membenarkan kaos kaki panjangnya. Mantel ok, sarung tangan ok, kaos kaki juga ok. Melody teringat, ia membutuhkan syal. Syal rajutnya ada di cantelan pakaian ruangan pribadinya. Iapun segera memakainya. Melilitkan dua kali ke lehernya.
"Yosh, sudah tidak dingin lagi!"
Setelah semuanya ok, ia lalu mengambil ponselnya kembali. Ia mengirim pesan kepada Alvin jika ia berniat pulang duluan. Alvin menyetujuinya dan berharap ia berhati-hati di jalan.
__ADS_1
Melody lalu menelpon Ayane dan mengatakan jika Ayane harus menjemputnya 2 jam lagi. Ayane menyetujuinya.
Melody tak menyangka jika ia akan membohongi Ayane dengan menyuruhnya menjemput agak telat. Sebenarnya ia tak berbohong, ia hanya tidak mengatakan kenapa ia akan pulag telat.
"Waktunya menikmati kesendirian malam ini! Hal menarik apa yang akan segera aku temui? Tokyo City, aku datang!"
Setelah semua persiapan siap, Melody berjalan keluar dari rumah sakit. Berjalan sendirian di trotoar jalanan Tokyo. Malam hari memang sangat indah. Ia bisa menikmatnya dengan baik. Gedung perkantoran, pertokoan, lalu lalang kendaraan, gerlap-gerlip lampu kota, dan orang-orang yang beraktivitas.
"Indah sekali.."
Awalnya Melody berjalan sangat pelan, keindahan kota Tokyo memukau hatinya. Ia tidak ingin melewati setiap inchi keindahannya. Ia bahkan memutar tubuhnya untuk mengekspresikan betapa kagumnya ia malam ini.
"Tokyo memang yang terbaik! Saiko!"
Saiko: Keren.
.
.
.
"Hujan di musim gugur."
Ia lalu mempercepat langkah kakinya ketika hujan menyapa. Lagi, lagi, dan lagi. Lebih cepat, lebih cepat, dan lebih cepat. Ia lalu tersenyum, kenapa rasanya sangat menyenangkan? Ia lantas berlari di jalanan trotoar. Berlari sambil tertawa.
Membelah orang-orang yang sibuk melarikan diri dari hujan.
Ada yang memakai jas hujan, ada juga yang membuka payungnya. Berbeda dengan Melody yang lebih suka dirinya tersapu air hujan. Sudah lama ia tak merasakan hujan-hujanan seperti ini.
Sungguh, ia menjadi teringat mendiang ayahnya. Saat itu ia sedang berboncengan sepeda dengan sang ayah, menembus hujan deras. Ayahnya mengajak makan udon bersama setelah hujan-hujanan, ketika pulang, ia dan sang ayah terkena flu bersama. Sang ibu mengoceh tiada habisnya. Minuman jahe hangat menjadi penawar jitu dari cinta seorang ibu.
Moment sederhana yang sangat berarti untuknya. Ia ingat betul, saat ia dan sang ayah kena semprot sang ibu, dirinya dan sang ayah dibuat berjanji untuk tidak main hujan-hujanan lagi.
"Jadi, saat ini aku menghianati janjiku pada ibu ya? Ibu maafkan aku! Kali ini saja, biarkan aku mengingat masa indah dengan ayah. Masaku dan ayah itu sangat singkat. Tak banyak yang tercipta di masa yang singkat itu."
__ADS_1
.
.
.
Setelah berlari cukup jauh, Melody lalu mampir ke kedai udon. Kedai itu tak begitu besar, jauh dari kata mewah seperti yang biasa ia datangi saat bersama Yudha dan keluarga Kazehaya.
Namun bau dari kuah Udon menggoda hidungnya. Ia harus mencicipinya!
Melody memesan semangkok udon dan menikmatinya dengan sangat lahap sambil menunggu hujan reda.
"Jika merasa sesak seperti ini, memang mengingat ayah adalah obat yang tepat. Meski aku tak melihat bintang kecil di langit malam ini, tapi aku percaya ayah selalu melihatku, Terima kasih ayah!"
Berkali-kali ia menyunggingkan senyuman di bibirnya yang memucat karena hawa dingin.
.
.
.
Saat sedang berjalan pulang, Melody mendapatkan telepon dari Ayane jika Yudha akan pulang lusa. Melody tidak tahu bagaimana ia harus menyikapi berita itu.
Senang juga akhirnya teman sekamarnya akan pulang, rasanya seperti kamar yang begitu luas itu tak lagi menyepi.
Tapi ada juga perasaan bingung, agak sedih yang tidak bisa dijelaskan pastinya.
Apakah dia akan bertanya pada Yudha soal isu skandal dengan Yura atau bersikap seolah tidak tahu apa-apa soal itu?
Jika ia memilih untuk bertanya, apa memang ia berhak untuk bertanya? Masalahnya kan memang ia sendiri tahu bagaimana perasaan Yudha itu.
Atau dia memilih untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa? Bukankah statusnya adalah istri dari Yudha? Apa memang itu adalah keputusan yang baik?
Kenapa rasanya sangat membingungkan?
__ADS_1
Kenapa hal seperti ini bisa mengganggu pikirannya selama berhari-hari?
"Sudahlah, rasa bingung ini sungguh menyesatkan perasaanku. Lebih baik aku pulang dan tidur." Gumamnya akhirnya.