
Melody bisa melihat wajah Yudha dari samping. Model rambut yang sangat cocok dengan wajah Yudha, hidung mancung, rahang tegas, bibir tipis, masih sama sepeti biasa ia lihat dari sosok seorang Yudha.
Tubuh sixpacts Yudha terbungkus kaos putih simple. Yudha juga mengenakan celana pendek selutut. Meski berpakaian biasa, tapi Yudha masih terlihat tampan.
Tampan?
Melody, sejak kapan kau mengakui ketampanan Yudha?
Sejak lamalah!
Melody hanyalah manusia normal. Melihat wajah Yudha yang tak biasa dan limited edition itu tentulah ia mengakuinya. Ia cewek normal yang mengakui ketampanan Yudha.
Ingat, hanya mengakui, bukan berarti akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu hanyalah sebatas kekagumannya saja.
"Cih, seperti ini ya yang dilakukan holang kaya jika tidak memiliki kegiatan di luar rumah? Berdiam diri menikmati pagi. Tidak perlu memikirkan siapa yang masak, siapa yang menyapu, siapa yang ngepel, atau siapa yang akan mencuci pakaian. Bahkan untuk kelasan keluaga ini, tidak perlu memikirkan siapa yang akan mengelap guci-guci yang jumlahnya ratusan itu. Haah, dasar banyak uang!"
.
.
.
Yudha duduk di kursi dekat kolam renang yang lumayan luas. Tangannya menopang dagunya di meja, tangan satunya sesekali, secara periodik ia gunakan untuk menikmati secangkir kopi.
Sangat berkelas dan secara perlahan-lahan Yudha menyesap kopi tercintanya itu. Mata Yudha masih menatap lurus ke depan.
Melody tidak tahu apa yang Yudha lihat. Air di kolam renang? Bunga di taman? Atau sekumpulan kupu-kupu yang menggoda bunga mawar?
Melody tidak tahu apa itu.
Melody mencoba melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat pada Yudha.
Tapi, langkahnya terasa berat. Ia melihat Yudha tengah melamun.
Melamunkan apa?
Melamun itu sama kan dengan berpikir?
Berpikir kosong?
Pasti ada sesuatu hal yang mengganggu Yudha. Tak mungkin itu hanyalah sebuah lamunan kosong tanpa tujuan. Melody tahu kejeniusan Yudha, otak super pintar itu akan selalu berpikir, berpikir, dan terus berpikir.
Cukup penasaran, bolehkah ia ingin tahu? Apakah posisinya sudah diizinkan untuk menjajaji langkahnya ke ruang yang semakin dalam?
Melody merasa ingin tahu apa itu, tapi hati kecilnya menghentikannya. Ia tahu, ini bukanlah saatnya. Buka saat baginya untuk memaksa masuk ke dalam hidup Yudha ke tingkatan yang lebih dalam lagi.
__ADS_1
.
.
.
MELODY'S POV
Aku tidak tahu laki-laki yang menikahiku kemarin itu seperti apa. Dia menyebalkan, itu pasti. Dia kadang juga kasar, tapi bisa baik juga. Kadang dia dingin, kadang juga bisa hangat dan membuat nyaman. Dia kejam, tapi juga melindungi. Dia acuh, tapi sebenarnya dia perhatian dan khawatir. Dia bisa tertawa meski dia tahan, dia juga bisa tersenyum.
Namun, apa ini? Apa yang kulihat saat ini sangat berbeda dari yang pernah aku lihat darinya selama ini. Tidak seperti yang pernah aku lihat, dia berbeda. Dia, seperti memikirkan sesuatu yang berat. Beban apa yang membuatnya seperti itu? Membuat dirinya seolah berperang dalam kekalutan. Matanya bersinar berbeda.
Kadang tersenyum lepas, kadang juga terlihat bersedih, dan menderita.
Rasa bersalah?
Apa yang kau pikirkan Yudha? Apa yang mengganggu pikiranmu? Apa yang membuatmu seperti itu?
Apa kau baik-baik saja?
Kau begitu dalam untuk kuselami, Yudha. Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Kau menganggap serius pernikahan kita, itu hanya bercanda, kan? Waktu kau mengatakannya, di sana ada Mia. Itu hanya utuk melindungi harga dirimu, kan?
Orang seperti dirimu pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku yakin luar sana banyak wanita cantik dan kaya yang mengejarmu. Kau bisa memilih satu di antara mereka. Pengecualian untuk Amamiya-san yang menolakmu.
Kau menerima perjodohan denganku hanya untuk melegakan hati kakek, kan?
Jika tidak serius, ini semua akan mudah untukmu, kau bisa menceraikanku setelah menguasai harta kakek.
Kita bisa berpisah setelah semua warisan jatuh ke tanganmu. Kau hanya perlu menunggu waktu, kan? Yudha? Itu bukan beban berat, kan?
Lalu..
Jika memang kau serius, beban yang kulihat dari matamu itu apa karena kau juga berkorban banyak sama seperti aku?
Amamiya Yura?
Apa karena gadis itu, Yudha?
Benarkah itu, Yudha?
Hal ini sangat menggangguku.
Maafkan aku Yudha, aku orang baru yang merusak kehidupanmu.
.
__ADS_1
.
.
Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!
Aku menggeleng-glengkan kepalaku. Aku tak seharusnya memiliki pemikiran seperti ini.
Terlalu cepat bagiku untuk menduga-duga.
Kenapa aku malah berpikir terlalu jauh begini?
Memangnya aku ini siapa?
Ingat posisi, Melody!
Sadarlah!
Aku ini orang baru yang karena keajaiban bisa masuk ke dalam kehidupan Yudha. Aku hanya perlu berusaha mengimbangi peran Yudha.
Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan.
Mungkin juga dengan Yudha. Tapi kami sudah bersama, bukankah sebaiknya menjalaninya?
Ya, kurasa seperti itu.
Aku ingin mengawali lembar kisah baru ini dengannya. Meski awalnya kurang baik, tapi aku ingin menulis indah di lembaran yang selanjutnya. Aku ingin bisa mengenal dirinya lebih dalam lagi. Bagiku itu yan paling penting saat ini.
Yudha asing buatku, maka aku hanya perlu membuatnya menjadi tak asing lagi. Karena aku tahu, untuk ke depan, kami akan menjalani kehidupan bersama, aku ingin mengenal Yudha sebagai Yudha yang tak hanya menjadi suamiku.
Yudha yang belum lama muncul di hidupku juga menawarkan banyak laci misteri yang masih banyak belum kuketahui apa isinya itu. Dia menguncinya. Sulit dibuka, tapi aku yakin, suatu saat kuncian itu akan melemah, akan bisa aku lihat apa isinya.
Bukan berarti aku kepo. Aku hanya ingin bisa menempatkan diri untuk memahami bagaimana dia itu. Lalu, jika suatu hari nanti pernikahan ini nerakhir dan dia menceraikanku, maka kami akan berpisah dengan cara baik-baik, tanpa afa permusuhan, tanpa ada benci setelahnya.
Akan sangat indah jika meski sudah menjadi mantan, tapi silahturahmi masih terjaga. Masih bisa berteman baik.
END OF MELODY'S POV
Melody menepis segala pemikiran yang memenuhi kempampuan otaknya untuk menampung. Padahal ia tahu, baru semalam dirinya menikah dengan Yudha, tapi ia malah memikirkan perceraian. Terlalu cepat untuk bercerai, ia bahkan belum memulai apa-apa dengan Yudha.
Harusnya ia tahu kan bagaimana menempatkan diri?
Bukankah ia ingin menulis kisah masa depan bersama Yudha ?
Kemana semangat itu ketika mengatakannya? Itu bukan omong kosong atau sebuah candaan, kan?
__ADS_1
"Meski semangatku untuk memulai kisah baru dengannya itu nyata, tapi ketika dia sendiri yang ingin lepas dariku, maka aku akan melepaskannya. Aku hanya tak mau membuatnya terkekang jika harus hidup denganku." Batin Melody.