
Masih di tempat yang sama, aula pesta..
"Shuhei, Ayane-san, awasi kami dari jarak jauh! Pastikan tidak ada gelagat mencurigakan dati tamu siapapun itu. Keluarga, sahabat, atau bahkan orang asing yang hanya sebatas kolega kerja." Kata Yudha.
"Baik, Yudha-sama." Kata Shuhei dan Ayune bersamaan.
Mereka berdua lalu menjauh dari Yudha dan Melody untuk memastikan banyak hal.
"Yudha, kalau kau ikutan gelisah, aku semakin menjadi-jadi!" Oceh Melody.
"Maaf, Mel. Maaf.. kau lelah? Perutmu tak nyaman?"
"Yudha khawatirkan dirimu sendiri!"
"Aku menghawatirkan banyak hal, Mel. Dirimu, kandunganmu, orang tua kita, kakek nenek kita, bahkan diriku sendiri."
"Kau terlalu baik jadi orang. Padahal kau sudah tahu jika mungkin saja malam ini adalah kuburan kita. Tidakkah kau berpikir jika malam ini terlalu tenang?"
Yudha sadar akan hal itu. Ia bahkan tak menyangka jika Melodypun menyadarinya.
"Akan ada badai setelah ini.." Gumam Yudha.
"Ingat Yudh, aku akan melindungimu!" Melody lantang mengucapkan hal ini tanpa ada rasa keraguan sedikitpun dari ucapannya.
"Aku jadi merasa bersalah menyeretmu dan anak-anak kita ke tempat seberbahaya ini."
Melody meraih pipi Yudha. "Hei, kita melakukan ini untuk menangkap paus, kan?"
Yudha tersenyum. "Aku akan marah padamu kalau kau sampai terluka!"
Melody mendecih. "Aku tak akan mau melayanimu kalau kau kenapa-kenapa!"
"Sudah aku bilang jangan mengancamku dengan ancaman seperti itu! Kau pikir aku tak bisa memaksamu melayaniku, begitu?"
"Jahat! Yudha jahat! Aku akan hanya bilang, berharap kau baik-baik saja. Huh. Tidak peka."
"Pekalah, tapi berkata tidak mau melayaniku itu keterlauan, Mel. Kau kan istriku, aku bebas minta jatah padamu. Hukum dengan yang lain asal jangan soal ranjang!"
Melody menghela nafas. Yudha memang mesum sejak dulu! Sebegitu menggodanya tubuhnya inu bagi Yudha ya? Gila, ini sangat berbeda dari sosok Yudha yang ia kenal waktu awal-awal bertemu dulu. Bukankah Yudha yang dulu itu sangat kaku dan berwibawa? Ia minta tanggung jawab soal pemecatan part time kerjanya saja, Yudha mua. Lalu, setelah menikah dan sedikit mengenal, Yudha menjadi sangat menyebalkan yang suka menjailinya. Kemudian, ketika sudah berhasil melewati banyak masalah yang menghadang, ia menjadi tahu jati diri asli Yudha, Mr. Mesum yang sedikit-sedikit memesumi dirinya ketika ada kesempatan.
Sialnya, jika Yudha sudah beraksi, ia menjadi sangat sulit mengendalikan diri. Pada akhirnya ia pun ikutan mesum-mesuman dengan Yudha. Pasangan macam apa ini?
"Kenapa malah debat sih? Hei Tuanku suamiku ayah dari anak-anakku, kita ini harus bekerja sama! Bukan malah debat!" Kata Melody. Sepertinya kalau sama Yudha itu tidak akan seru tanpa berdebat. Hah, sudah terlalu biasa. Kuncinya salah satu hanya perlu untuk mengalah agar emosi bisa keredam.
Yudha malah tertawa pelan. "Kita memang paling cocok saat berdebat. Ayo sehabis ini kita lanjutkan berdebat di ranjang!"
Melody mencubit pinggang Yudha. "Mesum!"
__ADS_1
"Kiss me on my lips first, my Lady!" Yudha menyentuh bibir tipisnya itu.
Melody mendelik. Kemudia ia menengok kanan kiri dan mendekatkan dirinya pada Yudha, lalu dengan cepat ia mencium bibir Yudha. Sial, pipinya menjadi memanas setelahnya.
Yudha tersenyum senang. Ia lalu menarik Melody ke dalam pelukkanya. Memegang kedua pipi Melody dan membalas ciuman Melody dengan lebih bergairah. Membuat Melody sulit bernafas.
Setelah beberapa saat, Yudha melepaskan ciumannya. Ia kemudian menyeringai setelahnya.
"Rasanya manis." Kata Yudha.
Melody kesal rasanya seperti keluar asap di kepalanya. Yudha suaminya ini benar-benar membuatnya kesal, malu, dan merah padam. Bagaimana Yudha bisa menciumnya seekstrim ini di hadapan banyak orang? Astaga.
"Yudha, malam ini aku tak mau tidur denganmu!" Kesal Melody.
"Hah?" Kaget Yudha. "Memang aku salah apa?" Tanyanya.
Perempatan muncul di kening Melody. Jika tidak sedang di tempat yang ramai, ia pasti sudah memukul wajah tampan dok tanpa dosa Yusha saat ini.
"Tuan, kau membuatku malu dengan ciuman gilamu yang super panas itu!" Kata Melody.
"Lah, kita kan sudah menikah. Mereka juga memakluminya kok. Santai sajan Mel! Mereka jadi tahu jika kita ini saling mencintai."
"Saling cinta bukan berarti memperlihatkan ciuman kita di hadapan semua orang, Yudha no baka! Baka! Baka! Baaaakaaaa!"
"Jika bukan ciuman, lalu kita harus ngesex di hadapan mereka agar mereka tahu kalau kita saling mencintai? Seperti itu?" Tanya Yudha mesum.
"Kau sudah membuat pinggangku sakit, kau nanti harus tanggung jawab!" Kata Yudha.
"Bodo amat! Salahmu sendiri seperti itu." Rajuk Melody.
Yudha lalu tersenyum. "Aku mencintaimu juga saat seperti ini pun, manis."
Melody menoleh ke arah Yudha, ia lalu juga ikut tersenyum. "Aishiteru, Danna-sama!"
Danna-sama: Tuanku, bisa suami juga.
.
.
.
Yudha dan Melody berdiri bersebelahan. Beberapa kali Yudha menanyakan soal kandungan Melody. Melody mudah lelah, belum lagi kekhawatirannya.
"Yudha keponakanku! Melody keponakan menantuku! Lihat tamu agung yang datang kali ini! Kau mendapatkan hadiah spesial dari mereka!" Kata Orion.
"Selamat atas ulang tahun pernikahannya, Yudha-kun dan Melody-chan." Kata Azumane ramah.
__ADS_1
"Selamat atas ulang tahun pernikahannya juga, Yudha dan Melody." Kata Kurenai. Tak lupa dengan senyuman khasnya yang penuh harga diri tinggi.
"Terima kasih banyak, Azumane-san dan Ibu Kurenai... Selamat datang di pesta kami."
Alvin ikut dalam kumpulan orang-orang itu. Namun ia tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia hanya menatap Melody beberapa kali. Ya, mengagumi dalam diam betapa cantiknya mantan kekasihnya ini.
"Wah, tak butuh waktu yang lama, keturun generasi ke empat keluarga Kazehaya akan terlahir. Jika bayi itu laki-laki, maka kesempatan masuk ke Emperor Group semakin terbuka lebar." Kata Azumane.
"Aku berharap anakku dengan Melody ini cewek, Azumane-san. Agar bisa terbang bebas mengepakkan sayapnya di dunia yang penuh warna ini. Azumane-san pastilah tahu jika Emperor Group itu hanya ada satu warna. Gelap. Aku tak mau keturunanku menderita dalam kemonotonan warna seperti itu." Kata Yudha.
Alvin tahu kata-kata Yudha adalah sindiran untuknya dan untuk Yudha sendiri yang berkubang dalam dunia bisnis Emperor Group.
"Berperang dalam dunia bisnis sekelas Emperor Group memang tak mudah. Harus siap mati dan dibenci banyak orang. Namun, bagi mereka yang haus kekuasaan, tahta itu adalah perwujudan dari impian." Kata Orion.
Yang menginginkan Emperor Group akan tersinggung soal ini.
Yudha tertawa pelan membuat orang-orang yang ada di aula pesta itu menoleh kepadanya.
"Meski tahta nomor satu Emperor Group diduduki oleh siapapun itu akan cacat. Karena apa? Karena mereka hanya pemilik saham. Akta tahta pemilik sah masihlah milik kakekku. Meski beliau sekaratpun, kepemilikkan Emperor Group masih miliknya. Pemegang saham tertinggi sekalipun masih di bawahnya. Ya, walau sekarang saham tertinggi masih milik kakek juga." Terang Yudha.
Ini adalah peringatan.
Ini adalah peringatan kepada mereka semua yang mengincar Emperor Group bawasannya tahta Emperor Group yang sempurna adalah tetap milik Kazehaya Wijaya.
"Siapapun yang duduk di singgasana Emperor Group saat ini adalah bonekanya kakekku. Nah, Alvin? Kau paling paham soal ini, kan? Bagaimana? Sudah merasakan kolotnya para komisaris Emperor Group? Mereka aset kakek yang tak akan bisa dibayar dengan nominal uang berapapun!" Tambah Yudha.
Komisaris Emperor Group jumlahnya tidak ada yang mengetahui, mereka selalu melakukan pertemuan secara virtual. Saat Alvin menggantikan posisi CEO Emperor Group, Alvin sudah beberapa kali melakukan rapat dengan komisaris Emperor Group secara virtual. Mereka memakai jubah, tidak ada yang tahu nama dan wajah mereka. Yang Alvin tahu, mereka memiliki otoritas kuat untuk membuat kebijakan demi keberlangsungan Emperor Group.
Alvin ingat, betapa susahnya ia mengambil alih mega proyek Miyagi setelah pembubaran kerja yang di pimpin oleh Tuan Kang dan Tuan Park saat itu. Mereka semua menginginkan Yudha yang menanganinya. Meski sudah dijelaskan jika Yudha keluar dari Emperor Group, tapi tetap saja, mereka sangat sulit untuk ditaklukan.
"Komisaris Emperor Group itu setara CEO. Mereka memiliki kewenangan yang sama dan bahkan lebih tinggi dari pemegang saham siapapun di Emperor Group. Ketika mereka mengambil hak preogatif mereka, maka apapun yang dilakukan seorang CEO akan mentah di hadapan mereka. Mereka tidak peduli siapa yang menduduki kursi singgasana Emperor Group. Asal itu menguntungkan untuk Emperor Group, maka tak akan ada masalah. Hanya saja aku ingin memberi bocoran pada kalian semua yang ada di sini. Komisaris Emperor Group hanya tunduk pada pemilik sah Emperor Group bukan pemilik saham tertinggi atau pemangku jabatan CEO!"
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam.
Jujur saja, desas-desus seperti ini sudah berkembang lama di lingkungan Emperor Group. Setidaknya ada tiga misteri yang belum terungkap mengenai Emperor Group.
Pertama, Komisaris Emperor Group.
Kedua, Akta Pemilik Sah Emperor Group
Ketiga, saham anonim sebesar 30%.
"Kini wajar saja jika banyak yang mengincar kakekku. Jika beliau mati, maka kepemilikkan Emperor Group akan diperebutkan. Mungkin saja ada yang akan membuat surat wasiat palsu untuk mengangkat diri sebagai ahli waris kakekku? Ah, itu drama konyol yang sering dilihat di televisi. Aku bahkan akan menertawakannya sampai menangis karena saking lucunya. Apa menurut kalian kakekku itu orang yang bodoh? Kalian pasti tahu sendiri bagaimana liciknya kakekku itu, kan? Kalian sudah mengincarnya sejak lama dan selalu berdoa jika oranh tua yang sudah uzur ini segera berpulang menemui Tuhan..."
Tidak pernah ada yang mendengar Yudha berbicara sepanjang ini. Tidak sekalipun itu dalam rapat kerja. Yudha hanya akan bebicara seperlunya saja. Namun kali ini berbeda, apa yang Yudha bicarakan sangat panjang. Anehnya, meski tak ditujukan kepada personal tertentu, tapi banyak dari tamu undangan yang bergejolak hatinya. Ide untuk menyingkirkan kakek Wijaya memang pernah telinta. Dilakukan atau tidak dilakukan.
"Yudha berbicara panjang lebar. Kata penunjuk 'mereka' memiliki makna yang luas. Siapa yang dia maksud itu banyak dan aku juga tak tahu siapa saja mereka. Apakah Yudha sudah tahu siapa saja yang bermain dengan keluarga ini? Misteri Emperor Group ini sampai kapan akan berakhir? Yudha bilang, jika ada yang berusaha mengoreknya, maka nyawa akan jadi taruhan... Oh Tuhan, kenapa suamiku harus hidup di lingkungan seperti ini?" Batin Melody.
__ADS_1