
Aku merasa down tak terkira. Sumpah demi apa aku sudah nulis satu chapter malah ilang karena aku ketiduran. Berasa kesal mau nangis juga. Mood langsung ilang. Jadi kesulitan mau tulis ulang. Mood nulis kan naik turun. 😣😣
Parahnya, bulan ini aku sudah beberapa kali kehilangan cerita yang aku tulis karena keteledoranku sendiri. Dan tadi malam adalah yang paling banyak. Haaah.
Oh iya, cerita ini akan masih terus berlanjut karena alur sinetron masih on. Tidak bisa dipastikan sampai kapan soalnya aku lihat bagan-bagan konsep yang aku buat itu ternyata masih panjang. Sumpah panjang banget.
Cinta Melody ma Yudha sudah lolos ujian kesetian mengenai Yura. Kini fokus ke ujian kehidupan atas kisah masa lalu yang menghasilkan karma di masa depan. Ujian kehidupan memang lebih membosankan daripada ujian cinta atau kesetiaan. Namun, ini adalah bagian dari cerita dan aku ingin menyelesaikannya.
Gara-gara simbah ditusuk di chapter pertama, aku jadi harus bikin cerita untuk membongkar misteri itu. Hohoho, ternyata lebih panjang dari yang aku kira.
Thanks banget untuk semus suportnya ya semua. Aku harap kalian bisa menikmati hari dengan bahagia. Aamiin. 😉
________________________________________
Mobil yang dikendarai Yudha dan Shuhei sudah jauh keluar dari kota Tokyo. Mereka berdua saat ini masuk ke kawasan Saitama. Saitama sendiri adalah tetangga dari kota Tokyo.
Apa yang mereka lakukan?
Melakukan perjalanan bisnis?
Bukan. Bukan itu.
Mereka berdua saat ini sedang mengikuti petunjuk arah yang ada pada Google Map. Arah yang mereka tuju saat ini adalah arah dimana sosok misterius penelpon Melody malam-malam yang larut.
Menurut Yudha, ia sangat penasaran dengan pemilik suara yang sesungguhnya tak begitu asing di telinganya. Meski suara itu terdengar agak berbeda, tapi ia pastikan jika pemilik suara itu mengenal baik dirinya. Lagu Bintang Kecil adalah buktinya.
Orang-orang selain dari kenalan 'kubu' Melody, yang mengetahui mengenai lagu Bintang Kecil itu hanyalah dirinya, kakek Wijaya, dan Aron. Aron tahu karena dulu Aronlah yang mencari tahu latar belakang Melody secara rincin untuk dilaporkan ke kakek Wijaya. Tambah diperkuat lagi jika suara yang ia dengar memiliki ciri khas suara Aron.
Kenapa ia bisa seyakin itu? Padahal semalam ia mendengar ada dua versi suara. Jika versi suara kedua adalah suara Aron, maka versi suara pertama adalah orang lain. Milik orang lain yang memiliki banyak kemungkinan.
Bisa teman Aron.
Bisa musuh Aron.
Mengingat Aron yang menghilang dalam waktu yang cukup lama, dua minggu, Yudha kembali membuat asumsi. Pemiliki versi suara pertama adalah musuh Aron. Dengan kata lain, penculik, penyekap Aron.
Bisa saja itu penyelamat Aron, kan?
Orang lain yang berusaha menyelamatkan Aron.
Ok versi ini masuk akal juga. Namun kembali lagi pada rasa penasarannya. Siapapun pemilik versi suara pertama, intinya ia tetap harus memastikannya.
Jika itu bukan Aron, maka ia hanya harus membuat perhitungan karena sudah berani menggoda Melody. Jika itu adalah Aron, maka itu jauh lebih baik. Banyak hal yang harus ia tanyakan pada Aron, terutama mengenai kasus kecelakaan yang sudah menimpa sang kakek.
________________________________________
Prefektur Saitama adalah daerah yang berada tepat di sebelah utara Tokyo. Bagian selatan Prefektur Saitama yang berdekatan dengan Tokyo merupakan daerah yang padat penduduk, sebaliknya bagian utara Prefektur Saitama masih banyak terlihat ladang dan alam yang hijau. Selain itu, di tempat yang masih banyak menyisakan suasana sejarah, pastilah di situ terdapat banyak suasana alami dan juga tempat wisata yang masih belum banyak diketahui masyarakat luas.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, Pohon Shibazakura yang ada di Taman Hitsujiyama Kota Chichibu sedang menjadi tren di seluruh dunia. Ditambah lagi, tempat-tempat wisata di Prefektur Saitama juga mulai naik daun karena Kota Chichibu dan sekitarnya dijadikan latar dalam anime terkenal "Ano Hi Mita Hana No Namae Wo Bokutachi Ha Mada Shiranai" dan "Kororo Ga Sakebitagatterunda". Selain itu, di Prefektur Saitama ada sebuah desa bernama Desa Bonsai yang dikenal sebagai tempat sakral bagi bonsai. Di desa ini juga terdapat Museum Bonsai Omiya Kota Saitama yang banyak dikunjungi wisatawan karena memamerkan berbagai jenis tanaman bonsai.
________________________________________
Setelah mengikuti pentunjuk arah yang tertera di Google Map. Lurus, belok kanan, lalu belok kiri, bahkan memutar, akhirnya Yudha dan Shuhei sampai di kawasan titik terakhir dari petunjuk arah yang tertera pada Google Map.
Berbicara soal google maps, sebenarnya tidaklah seakurat itu. Apalagi jika arah yang dituju itu adalah daerah perdesaan atau dengan banyak gang. Siap-siap nyasar. Tolong jika kalian berada di posisi ini, jangan malu bertanya suapa tidak tersesat di jalan. Tapi ironi juga sebenarnya. Kenapa? Karena banyak tanyapun mewakili diri jika sebenarnya begitu bodoh karena banyak hal yang tidak diketahui. 😎
"Kau yakin ini tempatnya, Shuhei?" Tanya Yudha. Ia mengintip sebuah bangunan megah dari dalam jendela mobil.
"Titik koordinat tempat yang kita tuju memang ada di sini, Yudha-sama. Anda bisa mempercayai para ahli IT yang sudah bekerja sama dengan kita sejak lama." Jawab Shuhei.
Jadi, setelah Yudha menyuruh Shuhei untuk melacak siapa penelpon Melody tadi malam, Shuheipun hanya bisa memberikan informasi lokasinya. Tim IT yang sudah ia sewa tak bisa mendapatkan informasi dari pemilik kartu SIM ponsel yang digunakan untuk menelpon Melody.
Dalam kasus ini, Shuhei yakin, jika orang yang menelpon Nona Mudanya itu bukanlah orang sembarangan. Paling tidak terlibat dalam satu organisasi besar yang cukup berpengaruh.
__ADS_1
"Ini adalah rumah dengan gara Eropa. Rumah yang tidak seperti bangunan rumah Jepang pada umumnya. Rumah ini juga sangat besar dan mewah. Selain itu, sepertinya rumah ini juga cukup terawat." Kata Yudha.
"Kita harus hati-hati, Yudha-sama! Kita tidak boleh sembarangan masuk ke dalam. Bagaimana jika telpon semalam hanyalah sebuah pancingan agar Anda keluar dari sarangnya?" Kata Shuhei menduga-duga.
"Aku selalu keluar sarang, Shuhei. Mereka saja yang terlalu pengecut. Sembunyi-sembunyi di balik bayang-bayang dan melakukan tindakan keji yang menjijikkan." Kata Yudha.
Selama ini memang Yudha tetap menjalani harinya seperti biasa meski ia sering kali mengalami percobaan pembunuhan. Ia merasa jika ia tetap menampakkan diri, maka suatu hari ia akan bisa menangkap langsung orang-orang yang berniat jahat kepada dirinya maupun keluarganya.
Shuhei mengambil sebuah mini drone dari dalam tas kecilnya.
"Apa itu?" Tanya Yudha penasaran dengan alat seperti mainan hellicopter tapi lebih kecil.
"MD-1 versi prototype keluaran perusahaan IT yang sudah Anda bangun di luar naungan Kazehaya Group." Jawab Shuhei tersenyum.
Yudha juga ikutan tersenyum. "Kau memang yang terbaik, Shuhei. Arigato."
Dulu Yudha pernah menggambar sebuah design drone yang cukup kecil hanya karena dulu Yudha ingin melihat sarang burung yang ada di pohon belakang kediaman Kazehaya. Dulu waktu kecil, Yudha tidak bisa memanjat pohon, bahkan sampai sekarangpun masih tetap tidak bisa. Itulah dasar ide pembuatan mini drone itu.
Shuhei sudah sejak kecil hidup dan tinggal di kediaman Kazehaya. Shuhei adalah pengamat yang baik. Meski Yudha tak menyuruh Shuhei untuk membuatkan versi asli dari design mini drone yang dibuatnya, tapi Shuhei mewujudkannya. Ia tahu segala komponen yang ada di dalamnya adalah hasil olah dari para programmer dan orang-orang IT yang dipekerjakan olehnya, tapi tetap saja, ada kebanggan tersendiri di dalam hatinya.
Drone: Kamera pengintai yang bisa terbang.
"Anda dikarunai pola pikir untuk selalu berkembang, Yudha-sama. Anda bisa melakukan banyak hal. Saya percaya jika Anda akan bisa melalui semua masalah yang menimpa Kazehaya Group." Kata Shuhei optimis.
"Kau terlalu memudahkan semua hal, Shuhei. Yang kita hadapi saat ini bukan hanya fraksi oposisi kakek, tapi Alvin juga. Jujur saja, Alvin terlalu berat untukku."
"Anda sudah menang hanya dengan membuat Melody mencintai Anda. Jika Alvin-sama bertindak sampai sejauh ini, pasti dia memiliki motif lain. Saya yakin itu."
"Dia ingin merebut Melody dariku!" Suara Yudha terdengar kesal.
"Itu bisa jadi. Namun, semua tetap kembali pada Nona Melody. Keputusan ada di Nona Muda."
"Sampai detik ini dia masih memilihku, dan aku, aku ingin mempercayainya sampai akhir. Aku harap dia tidak akan pernah menghianatiku suatu hari nanti."
"Saya percaya pada, Nona Melody. Nona Melody sangat mencintai Anda. Nona Melody juga penikmat harta. Nona Melody akan tetap bahagia meski diajak hidup sederhana."
"Dia bilang mau buka kedai udon bersamaku jika aku jatuh miskin." Yudha terkekeh jika mengingat percakapan sebelum tidur dengan Melody.
"Saya akan menjadi pelayan kedai udonnya, Yudha-sama." Shuhei ikut mendukung Tuan Mudanya.
"Sudah-sudah! Ada hal penting yang harus kita lakukan." Kata Yudha.
Shuhei mengangguk. Iapun menyeting mini drone yang ia bawa. Setelah itu, ia keluar dari dalam mobil yang diikuti oleh Shuhei.
Menggunakan alat pengontrol mini drone, iapun menerbangkan mini drone itu menuju rumah yang diduga tempat penyekapan Aron.
Perlahan tapi pasti, mini drone itu berhasil masuk ke kawasan rumah elit nan besar itu. Berkeliling, memastikan suasana rumah.
"Bagaimana?" Tanya Yudha.
"Kosong. Saya yakin, rumah itu kosong tanpa penjaga." Kata Shuhei.
"Ayo kita cek ke dalam. Adakah pintu samping yang bisa kita lalui?" Tanya Yudha.
"Ada, arah jam tiga." Jawab Shuhei.
"Yosh, ikuso!"
Ikuso: Ayo.
Berjalan mengendam-endap ala pencuri, Yudha dan Shuhei akhirnya bisa masuk ke dalam rumah itu. Pelan-pelan dan sangat hati-hati agar tidak ketahuan. Bohong jika jantung tak bedegup kencang, nyatanya ini adalah olah jantung yang cukup mencengkam. Resiko nyawa selalu dipertaruhkan.
"Yudha-sama!" Panggil Shuhei.
__ADS_1
Yudha menoleh lalu tanpa aba-aba ia menangkap sesuatu yang dilempar oleh Shuhei.
"Pi-pistol?" Kaget Yudha.
"Ya. Pistol." Jawab Shuhei santai.
"Bagaimana kau mendapatkan senjata api ini? Di Jepang memiliki senjata api itu ilegal!"
"Saya mendapatkannya dari pasar gelap. Tuan Muda, untuk saat ini, jika Anda tetap bermain bersih, maka Anda akan game over duluan."
Yudha menggelengkan kepala tidak mengerti. Shuhei yang ia kenal sebenarnya sudah sejauh mana jangkauan 'mainnya'?
"Jika kau sudah bermain sampai ke pasar gelap, maka banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu saat pulang nanti." Kata Yudha.
"Ya, saya siap menjawab semua keingin tahuan Anda, Tuan Muda." Kata Shuhei.
"Jika hari ini kita selamat tentunya."
"Saya yang akan memastikan Anda selamat sampai rumah, Yudha-sama!"
"Arigato."
"Doitashimaste."
Doitashimaste: Sama-sama. Ada yang pakai kata Doumo juga. Artinya sama.
Bermodalkan senjata api untuk melindungi diri, Yudha dan Shuhei menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah itu. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk berkelilingi ruangan. Sampai ruangan terakhir, mereka berdua tidak menemukan apa-apa.
Yudha ingin membanting vas bunga yang ada di atas meja tamu, tapi Shuhei hentikan sebelum hal itu terjadi. Ia tahu jika saat ini Yudha sedang sangat kesal karena pencariannya berakhir sia-sia.
Sang pengganggu Melody tidak ada atau Aron juga tidak ada.
"Tuan Muda, saya menemukan ini." Shuhei memberikan jam tangan pada Yudha.
"Ini?" Gumam Yudha. Ia mengingat sesuatu tentang jam yang ada di genggamannya saat ini. "Ini adalah jam tangan miliki paman Aron yang paman terima dari kakek. Itu adalah hadiah ulang tahunnya lima tahun yang lalu."
"Anda benar, Aron-san memang sering memakai jam tangan ini." Kata Shuhei. "Jadi benar, Aron-san memang diculik dan disekap di tempat ini. Mereka pasti menyadari pergerakkan kita dan buru-buru kabur."
"Sial! Paman kemana lagi harus aku cari?" Tanya Yudha cukup frustasi.
"Saya akan mengerahkan detektif dan mata-mata kita, Yudha-sama. Anda tak perlu khawatir. Jika Aron-san masih hidup meski sudah dua minggu disekap, saya yakin jika Aron-san memiliki sesuatu yang sangat penting sehingga mereka tidak bisa membunuhnya begitu saja. Sesuatu itu pasti lebih penting dari nyawa Tuan Besar Wijaya."
"Bisa dipastikan jika paman Aron tidak akan dibunuh sebelum mereka mendapatkan sesuatu itu?" Simpul Yudha.
"Ya, seperti itu."
Tiba-tiba ponsel milik Shuhei berbunyi. Shuhei mengangkatnya. Rupanya itu panggilan dari Zakki, departmen di bawah naungan Yudha, orang yang Yudha percayai.
Zakki memberi kabar yang sangat mengejutkan untuk Shuhei. Ia bahkan sampai melebarkan matanya saking kagetnya. Hal yang tak biasa ia perlihatkan. Yudha bahkan terheran-heran dibuatnya.
"Ad sesuatu sedang terjadi?" Tanya Yudha penasaran.
"Komite pemegang saham, petinggi-petinggi Emperor Group, dan fraksi oposisi Tuan Besar Wijaya memaksa untuk segera dilakukan pemilihan CEO baru pengganti Tuan Besar Wijaya." Jawab Shuhei.
"Apa? Itu tidak bisa dilakukan! Masih ada waktu dua minggu lagi!"
"Ini seperti kesepakatan final, Tuan Muda. Jika semua setuju, maka bisa dimajukan."
"Kita harus segera kembali ke Tokyo!"
________________________________________
Oh iya, chpater ini diambil dengan waktu yang sama dengan Melody dan Mia mengobrol di RS atau 2 chapter sebelumnya ya.
__ADS_1
Hoho. Dukung terus ya. Gambare, atashi!