
Jalan menuju hotel...
Sepeninggal Alvin, hanya diam yang menyelimuti dua insan suami-istri ini.
Melody tidak tahu ingin berbicara apa. Ia ingin menjelaskan apa yang terjadi saat ia menghilang, tapi aura Yudha masih horor. Ia tidak mau membuat Yudha semakin marah padanya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka seperti itu, Melody?" Akhirnya Yudha buka suara.
Melody hampir mati karena harus berdiam diri.
"Aku terjatuh, kakiku terkilir. Jalanan sepi dan itu sangat menakutkan." Melody mencoba mengingat apa yang terjadi tadi.
"Kenapa tidak menghubungiku?"
"Itu." Melody justru menangis mendengar Yudha bertanya sepeti itu.
"Hoe, hoe, kenapa malah menangis? Aku hanya bertanya, Melody!"
"..."
"Jika kau tidak berhenti menangis, kau membuat bajuku basah!"
"Gomen.." Melody lalu menghapus air matanya. "Aku.. Aku.."
"..." Yudha ingin mendengarkan alasannya.
"Aku kehilangan ponsel yang kau belikan padaku. Maaf, aku sungguh ceroboh. Harusnya aku berhati-hati. Aku mencoba mencarinya kemana-mana, tapi tidak ketemu, tanpa sadar aku sudah menjauh dari festival musim panas itu."
Melody mencoba menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi padanya. Ia berkata sejujurnya.
"Bagaimana bisa hanya karena sebuah ponsel membuatmu sampai tersesat dan kau mendapatkan luka seperti itu? Kau bisa merelakannya. Aku akan membelikanmu lagi!"
"Ponsel itu darimu, karena itu sangat berharga untukku. Aku harus menjaganya." Melody memotong cepat kata-kata Yudha. Ia bahkan menangis saat mengucapkannya.
Sungguh, ia sangat takut saat mengetahui ponsel pemberian Yudha hilang karena kecerobohannya.
Baginya, apapun yang Yudha berikan padanya itu sangatlah berarti. Ia wajib menjaganya dengan sangat baik.
Entahlah, Yudha tertegun. Ponsel darinya begitu berharga di mata Melody. Satu hal yang harus ia tahu, Melody sangat menghargai apa-apa yang sudah diberikan kepadanya.
"Aku tidak akan marah hanya karena sebuah ponsel, Melody. Aku sudah berjanji pada ibumu akan menjagamu, kalau begini bagaimana aku bisa menatap wajah ibumu nanti?"
Kini, gantian Melody yang tertegun. Jika ia bisa mengulang waktu, maka ia akan berhati-hati tadi. Ia tidak akan membiarkan dirinya mendapatkan luka seperti ini lagi.
"Gomen.."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kita harus segera mengobati lukamu."
"Hm." Melody menaruh pipinya di punggung Yudha. "Ne, Yudha, apa kau tidak lelah?"
"Tentu saja aku lelah. Kau pikir sudah berapa lama aku mencarimu? Aku jalan kaki!"
"Gomen, sudah begitu aku juga sangat berat." Melody merasa tidak enak pada Yudha.
Ya tidak juga. Tapi ya lumayan. "Aku tidak akan menyuruhmu diet. Jika kau merasa tidak enak padaku, aku akan menerima balas budimu nanti."
Benar juga. Ia sadar jika berat badannya itu lumayan. Apa besok ia akan menerima ajakan Mia ngegym?
"Baiklah, lain kali aku akan menggendongmu!"
"Hm?" Yudha menaikkan sebelah alisnya.
"Aku akan gantian menggendongmu!"
"Kau tidak akan mampu."
Melody mengangkat pipinya. "Jangan remehkan aku!"
"Aku tidak meremehkanmu. Kau wanita! Sadar diri saja."
"Memangnya kenapa? Aku pasti kuat menggendongmu! Karena kau sudah menggendongku, maka balas budiku adalah gantian menggendongmu!"
"Haha.." Yudha tertawa.
Melody itu. selalu membuatnya terkejut. Aneh.
Melody manyun. "Kenapa tertawa? Masih meremehkanku? Aku akan membutikannya!"
__ADS_1
"Hah, baiklah. Aku akan menunggu!"
Sadar atau tidak, Melody hari ini begitu banyak mengucapkan kata maaf pada Yudha.
.
.
.
Di hotel, kamar Melody...
Sesampainya di dalam kamar, Yudha menurunkan Melody di ranjang. Yudha memang tak menggendongnya sepanjang 2 km, 10 menit tidak ada Nao sudah menjemput mereka. Tapi Melody yakin, Yudha pasti sangat lelah juga. Apa lagi Yudha kembali menggendongnya sampai ke kamar inap hotel.
Setelah Yudha menurunkan Melody di ranjang, ia berniat ke kamar mandi untuk mengambil air hangat. Namun, tangan Melody menghentikan langkahnya.
Melodi menarik kain kemejanya.
"Yu..Yudha.." Panggil Melody pelan.
"Kenapa?" Tanya Yudha.
"Aku.. Hiks.. Yudha.."
Melody menangis.
Ia ketakutan.
Yudha langsung memeluk Melody. Istrinya itu pasti sangat ketakutan. Melody menahannya karena takut ia akan memarahinya. Tapi, rasa takut tersesatnya jauh lebih besar dari rasa takut akan amarahnya.
"Aku tidak marah, jangan takut! Kita sudah di hotel. Kau sudah aman." Kata Yudha.
Melody semakin mengeratkan pelukkannya pada Yudha. Ia menangis sejadinya. Mengeluarkan suaranya seperti anak kecil yang ditinggal pergi kerja ibunya.
Ia sesegukan..
Ia terisak-isak..
Ia terbatuk-batuk..
"Hm. Arigatou."
Dan mereka masih berpelukkan. Cukup lama. Melody menangis cukup lama. Yudha membiarkan luapan tangisan Melody sebagai obat rasa takut akan tersesatnya.
Pelukkan erat itu memangkas segala jarak antara dirinya dengan Melody. Kali ini inner Yudha tak semesum sebelumnya. Inner gelap itu sembunyi di dalam hatinya dan enggan keluar.
Saat ini, ia hanya ingin yang terbaik untuk Melody.
"Yudha..." Panggi Melody.
"Hn?"
"Kau bau kringat."
😡
Perempatan muncul di pelipis Yudha. Bagaimana bisa Melody mengatakannya sambil pelukan erat dan hangat ini?
"Melody, kau merusak suasana." Kata Yudha.
"Tapi bau beneran! Cium deh baunya!"
"..."
"Bau kringat, kan?"
Memang benar sih. "Iya, iya, tahu kok. Kau juga bau kringat. Bau anyir darah lagi."
Melody ingin kesal tapi tidak jadi. "Iya maaf, aku kan banyak jalan, keringatku keluar banyak."
Yudha melepaskan pelukkannya. "Kita sebaiknya mandi!" Ajak Yudha.
"Ki-kita?"
"Kenapa?" Tanya Yudha heran. Apa aneh jika bau badan terus mandi?
"Ka-kau dan a-aku?"
__ADS_1
Yudha mengangguk. Melody menatap Yudha lekat. Kenapa Yudha bisa sesantai itu saat mengucapkannya?
Tunggu, apa hanya dirinya saja yang berpikir aneh-aneh mengenai kata 'kita' sebaiknya mandi?
Yudha lantas melepas jaket Alvin yang Melody pakai, ia lalu melepas baju atasan milik Melody. Meldoy langsung kaget bukan main saat mendapati dirinya hanya memakai sebuah tanktop ketat dan rok pendek.
Ia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Yu..Yudha, ap-apa ya-yang kau lakukan?" Tanya Melody gelagapan.
"Membantumu mandi?" Kata Yudha. Memang itu niatnya, tidak ada yang lain.
Yudha bangkit dari duduknya di ranjang. Ia lalu mengangkat tubuh Melody menuju kamar mandi. Melody memekik kaget ketika Yudha menggendongnya ala bridal style.
"Yuda turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!"
"Kakimu terluka, kakimu terkilir, kita tidak tahu seberapa parah itu! Aku tidak mau lukamu semakin parah!"
"Yudha..." Rengek Melody.
"Berisik deh."
Sesampainya di kamar mandi, Yudha menurunkan Melody di meja kamar mandi, meja depan cermin kamar mandi.
Melody menatap Yudha dengan kesal. Yudha selalu seenaknya saja.
Yudha mengisi bathup dengan air hangat. Tidak sampai penuh. Setelah itu ia mengambil gayung dan mengisinya dengan air hangat. Ia meletakkan gayung berisi air hangat itu di samping Melody yang tengah duduk di meja kamar mandi.
Yudha ke luar kamar mandi dan mengambil anti septik beserta kapas.
Yudha kembali ke kamar mandi, ia menarik pelan kaki Melody. Menyibakkan sedikit rok yang dipakai Melody. Setelah mencampur air hangat dengan cairan anti septik, Yudha dengan hati-hati membersihkan luka di lutut Melody dengan mengelapnya menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam air hangat beranti septik itu.
Melody mengaduh perih. Perih minta ampun meski ia tahu Yudha sudah sangat hati-hati.
Setelah selesai membersihkan luka di lutut Melody, Yudha lalu memijat kaki Melody yang terkilir. Melody kembali mengaduh, kali ini jauh lebih keras karena sakitnya luar biasa.
Ia bahkan kembali harus menangis karena sakitnya.
"Sabar, nanti akan sembuh kok." Kata Yudha.
"Iya. Terima kasih ya."
"Hn. Lalu sekarang." Yudha menoleh ke kanan dan kiri. Melody refleks mengikuti gerakkan Yudha. "Waktunya mandi!"
"Eh?"
Yudha melepaskan tanktop yang dipakai Melody. Melody enggan dibantu Yudha, sempat adu argumen meski akhirnya ia menyerah. Dan lagi, Yudha dengan santainya membuat Melody berdiri dengan satu kaki agar bisa membantu Melody melepaskan rok mininya.
Melody malu setengah mati dengan perlakuan Yudha.
"Kau kenapa sih? Aku kan hanya membantumu!" Tanya Yudha kesal.
Melody merah padam. Yudha itu polos apa tidak paham sih?
"AKU MALU, BODOH!"
"Kau masih memakai pakaian dalam! Itu jauh lebih tertutup dari bikini kurang bahanmu tempo hari!"
Vulgar.
"😖"
Yudha menghela nafas. Iapun langsung mengangkat tubuh Melody yang hanya memakai pakaian dalam itu dan menurunkannya ke dalam bathup.
"Mau aku mandiin apa mandi sendiri?" Tanya Yudha.
"Sendirilah!" Sungut Melody.
Yudha terkekeh melihat Melody kesal. Ia lalu mengambilkan shampoo dan sabun cair beserta puffnya ke dekat Melody.
"Panggil aku jika sudah selesai!"
"Iya. Sudah sana keluar!" Kata Melody. 😖😖
Malu bukan main. Tapi Yudha adalah suaminya. Jika tidak ada Yudha, saat ini ia pasti kesulitan untuk membersihkan diri.
"Hari ini, Yudha banyak memelukku." Melodi menenggelamkan kepalanya sampai mulut. Ia lalu membuat gelembung dengan meniup dari dalam air. "Rasanya... 😖"
__ADS_1