
Mansion Kazehaya..
“Kondisi Melody tidak stabil, perlakukanlah dia dengan baik!” Kata Alvin, ia meletakkan kresek berisi obat milik Melody yang tertinggal di apartemennya.
Alvin langsung meninggalkan Yudha, ia tidak ingin berdebat lebih rumit lagi dengan Yudha. Ini demi kebaikan Melody.
Ia tahu pasti jika apapun yang ia lakukan dengan Melody akan selalu salah di mata Yudha.
Cara menjemput Melody tadi di apartemennya sudah cukup mewakilinya.
“Aku tidak butuh saran untuk mendidik istriku!” Gerutu Yudha.
Yudha lalu menyambar kresek obat yang Alvin letakkan di meja tamu. Ia melihat beberapa jenis obat itu.
Banyak!
Begitu banyak obat yang entah apa itu. Ia tak sempat membacanya.
“Cih, seminggu tak kuawasi, kondisimu memburuk. Maunya apa sih? Hanya menambah rumit masalah saja!”
Yudha masuk ke kamar sambil membawa senampan makanan dan minuman untuk Melody. Ia melihat Melody sedang berbaring membelakanginya. Melody tidak tidur, ia bisa mendengar suara isak tangis lirih.
Yudha meletakan nampan berisi makanan dan minuman itu di meja samping tempat tidur.
Melody hanya meliriknya sebentar lalu mengalihkan pandangannya. Yudha menghela nafas, ia lalu duduk di ranjang samping Melody.
Merasa terganggu dengan kehadiran Yudha, Melody membalikan badan membelakangi Yudha lagi.
Perlakuan gentlenya bahkan Melody abaikan.
Yudha menggulung kemeja putihnya ke atas, dan melonggarkan dasinya. Kesabarannya sedang diuji. Ia lalu menarik pelan lengan atas Melody agar Melody berbalik menatapnya.
Mereka saling tatap.
“Maumu apa?” Tanya Yudha.
"..." Melody mengalihkan pandangannya.
“Mau mogok makan? Silahkan! Itu hakmu, tapi aku tidak suka kau menyakiti janin yang kau kandung!”
Siang ini Melody menolak makanan yang maid keluarga Kazehaya siapkan. Hal ini membuatnya sangat kesal.
Ibu hamil itu membutuhkan makanan sehat agar asupan gizi janin tercukupi. Ini juga demi kesehatan ibunya.
“Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!” Kata Melody pelan.
“Aku akan pergi setelah memastikan kau menghabiskan makananmu!”
“Aku tidak mau berdebat denganmu, jadi pergilah! Wanita itu lebih membutuhkanmu!”
Perempatan muncul di kening Yudha. Kata manisnya bahkan tidak Melody indahkan. “Aku akan menemuinya setelah kau makan!”
Jadi Yudha memang akan menemui Yura setelah ini? Bukan ini jawaban yang Melody inginkan. Rasanya sakit. Tak bisakah Yudha sedikit memahami perasaannya?
Melody mengepalkan tangannya. Ia lalu mencoba bangun dari tidurannya. Ia sedikit kesulitan karena kehamilannya, Yudha mencoba membantu. Tapi ia menampik kasar tangan Yudha.
__ADS_1
“Jangan menyentuhku! Aku bisa sendiri! Aku tak butuh bantuanmu!” Kata Melody ketus.
Yudha hanya membiarkannya. Apapun asal Melosy bersedia menikmati makanannya.
Melody duduk di samping Yudha. Ia mengambil makanannya dan memakan makanannya. Tidak selera. Ia memakan ala kadarnya. Tidak peduli bagaimana dengan rasa makanan itu. Meski mungkin terasa begitu enak, tapi rasanya sungguh hambar di lidahnya.
Memakan makanan dengan seorang yang saat ini enggan dilihat sama seperti sedang memakan duri mawar.
Ini adalah hari terburuknya.
Ia tidak ingin melihat Yudha, tapi kesalnya, ia merindukan ayah dari anak-anaknya.
“Habiskan! Kau butuh banyak sayur hijau untuk memenuhi kebutuhan zat besimu!”
Kata Yudha.
Melody menyisakan begitu banyak makanan di piringnya. Makan sedikit itu mana bisa mencukupi kebutuhan asupan gizinya.
“Kau bukan dokter seperti Alvin-senpai, kau tidak perlu repot-repot menasihatiku!”
Pranngggggggg..
Sebuat fas bunga pecah karena hempasan Yudha. Melody kaget bukan main karena ia tak menduga jika Yudha akan menghempaskan fas bunga yang indah itu.
“Aku tidak mengizinkanmu menyebut namanya saat kita sedang berdua!”
Bentak Yudha.
Ini perintah, bukan permintaan. Dan ini mutlak, tidak diizinkan untuk membantah.
Melody meletakkan kasar sendok dan garpu di piringnya. Suaranya juga tak kalah dengan suara fas yang Yudha hempaskan tadi.
"..." Yudha memincingkan matanya.
“Apakah alasan irasionalmu itu berlaku untukku?" Tanya Melody.
"..."
"TIDAK! Mulut, mulutku sendiri, hakku untuk bersuara seperti yang aku inginkan! Aku tidak butuh izin darimu!”
Yudha mengepalkan tangannya. Melody masih menatap tajam dirinya. Ia tak mengerti, kenapa setiap kata yang ia ucapkan justru semakin membuat emosi Melody meledak-ledak terhadapnya.
“Melody, berhentilah melawan argumenku! Kita sudah menikah, sebaiknya kita bekerja sama.” Yudha mencoba melembut.
Suara Yudha melembut di telinga Melody, itu bagus. Tapi ia tak menyukai isi perkataan itu.
“Kerja sama seperti apa, Kazehaya-san? Jika sejak awal ini adalah sebuah kerja sama, harusnya kita sama-sama untung. Tapi aku merasa, aku di pihak yang dirugikan.”
Kata Melody.
Sia-sia.
Melody sekarang bahkan memanggil nama marganya.
“Kazehaya-san? Yang benar saja, Melody! Kau anggap aku ini apa, hah?” Yudha kembali meninggi.
__ADS_1
Bisa-bisanya Melody memanggilnya dengan sebutan seperti itu lagi. Belum lama ini, Melody memanggilnya dengan sebutan Yudha-san, kini nama marga, apa Melody berniat menjadi orang asing terhadapnya?
Melody minum seteguk air putih lalu meletakkannya dengan kasar. “Aku sudah selesai makan. Kumohon pergilah, tinggalin aku sendiri!”
Mata Melody.
“Minum obatnya!”
“Nanti gampang.”
“Sekarang!”
“Kenapa kau jadi pemaksa sekali, sih? Tak perlu kau suruhpun aku nanti juga akan meminum obatku!”
“Minum!”
“Kau tidak mendengarku ya? Aku bilang nanti, ya NANTI!”
Batas kesabaran Yudha sudah habis. Ia lalu mengambil obat yang ada di dalam kresek. Ada 4 jenis obat yang harus Melody minum.
Yudha mencoba memberikannya pada Melody, tapi Melody menampisnya. Butiran obat itu terjatuh sembarang di lantai. Yudha lantas menatap tajam Melody, jauh lebih tajam dari biasanya. Ia benar-benar sangat marah. Melody bahkan sampai menelan ludahnya sendiri.
Seolah terisolasi aura dingin yang Yudha pancarkan.
Yudha kembali mengambil obat yang ada di kresek. Menghitungnya ulang. Melody hanya melihat apa yang Yudha lakukan. Ia tidak ingin berkomentar, perlakuannya barusan pasti sudah melukai mood Yudha.
Yudha kemudian memasukkan 4 butir obat itu ke dalam mulutnya sendiri, ia mengambil air minum dan meminumnya sedikit, tak sampai ia telan, hanya ia pertahankan di mulutnya bersama dengan butiran obat milik Melody.
Yudha memegang pipi Melody, lalu dengan cepat memasukkan obat itu ke dalam mulut Melody. Ya dengan cara berciuman.
Melody mencoba berontak, tapi Yudha manahan pipi dan dagu Melody dengan erat. Melody mengeratkan pegangannya pada kemeja Yudha. Merasakan pahitnya obat-obat itu menyerang lidah dan kerongkongannya.
1
2
3
4
Akhirnya ke empat obat itu berhasil Melody telan. Ia lalu menjauhkan diri dari Yudha. Ia terbatuk-batuk. Yudha mengambilkan air minum, Melody menerimanya dan langsung meminumnya dengan cepat.
Yudha menyodorkan buah jeruk yang sudah terkupas pada Melody, Melody memakannya untuk mengurangi rasa pahit obat itu.
“Aku akan melakukan hal yang sama seperti ini jika malam nanti kau melewatkan obatmu.” Ancam Yudha.
"..."
Yudha mendekatkan diri pada Melody. Melody bergidik saat Yudha menghemuskan nafas di area telinga kanannya.
“Dan satu lagi, tanamkan dalam otakmu baik-baik! Aku... tidak... suka... dibantah!”
Yudha bangkit lalu meninggalkan Melody sendiri di kamar.
Seketika itu Melody langsung menangis lagi. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak bisa mengalahkan ego Yudha. Ia selalu kalah debat dengan Yudha.
__ADS_1
“Cinta ini tak hanya sakit, tapi pahit juga.”