
Gilaaaaaaaa... aku nulis 1300an kata dan hilang. Lagi dan lagi. Selalu seperti ini. Keteledoranku yang hakiki membuatku emosi apa lagi ditambah keadaan negeri ini dimana buruh terzalimi. Aku say inalillahi semoga Tuhan kasih hikmah di balik ini.
Back to pesta ulang tahun pernikahan mbak Melody dan mas Yudha. Sekali-kali nyebut Mr. & Mrs. Kazehaya deh. Keren kayaknya ya? 😅
Apa yang Yudha bahas dengan Alvin dan keluarganya itu memancing telinga orang yang ada di aula pesta itu untuk mendengarkan lebih lanjut apa yang terjadi di tubuh perusahaan besar sekelas Emperor Group yang perkasa itu. Si raksasa bisnis pengembang yang sudah mengepakkan sayapnya ke penjuru dunia. Menguasai Jepang dan daratan Asia. Yang asetnya bernilai triliunan dollar!!
"Yudha sangat berani. Ia bahkan mengangkat isu soal misteri Emperor Group yang melegenda itu. Pesta ini untuk mencari kolega. Bukan untuk mencari musuh! Bocah itu justru menambah banyak musuh, dasar Yudha!" Kata Nao yang kini sedang mojok dengan Ayumi.
"Aku takut kenapa-kenapa dengan Yudha dan Melody. Mereka berdua selalu diikuti kematian. Rasanya kematian begitu dekat dengan mereka. Ne Nao-kun, tak bisakah kita membantunya? Tak bisakah kita menyelamatkan mereka?" Kata Ayumi yang sangat khawatir.
Ayumi banyak membaca berita dan mendengar cerita dari Mia tentang bagaimana kehidupan Melody dan Yudha akhir-akhir ini. Ancaman kematian itu sangat menakutkan.
"Aku dan yang lain hanya memiliki saham tak sampai satu persen di Emperor Group. Aku tak bisa berbuat banyak untuk terlibat secara langsung dengan nilai saham sekecil itu. Aku juga buka karyawan Emperor Group, aku tak tahu pasti apa yang terjadi di sana. Namun, sama seperti dirimu, aku juga ingin menyelamatkan mereka berdua." Jelas Nao.
"Berasa ingin membawa mereka ke tempat yang jauh agar mereka aman."
"Dan mereka akan kehilangan segalanya setelah itu. Kau tahu pasti kan soal ini?"
"Ya, mereka berjuang karena Emperor Group adalah wujud nyata dari perjuangan kakek Wijaya."
"Meski Yudha suka kesal dengan kakeknya yang licik, tapi kakeknya adalah kakek sekaligus ayah bagi Yudha. Yudha tak akan mungkin meninggalkan kakeknya. Apa lagi dalam kondisi seperti ini. Yudha digempur sana-sini padahal sudah tak terlibat langsung di Emperor Group."
"Bukankah Alvin juga mengalami hal yang sama? Alvin juga pasti diburu sana-sini karena duduk di kursi tahta panas itu, kan? Sama seperti kakek Wijaya dulu. Kutukan Emperor Group dimana CEO utama akan dihalalkan darahnya untuk dibunuh. Seperti kasus ayahnya Yudha, Kazehaya Yoga. Itu bukan kecelakaan, tapi pembunuhan!"
Ya, kematian Kazehaya Yoga adalah pembunuhan! Bukan hanya kecelakaan seperti berita yang beredar!
Kazehaya Yoga sebelum meninggal baru saja diangkat sebagai CEO Emperor Group menggantikan kakek Wijaya. Belum genap sebulan memangku jabatan itu, kejadian naas nenimpanya dan merenggut nyawanya. Kecelakaan hebat itu terjadi di bulak perfektur Miyagi belasan tahun silam.
Karena Kazehaya Yoga meninggal, sang ayah, Kazehaya Wijaya pun kembali naik tahta menduduki kursi yang sudah diserahkan kepada anaknya itu.
"Kasus itu ditutup begitu saja. Hanya segelintir orang yang paham bagaimana kisah aslinya. Pertanyaannya siapa yang membunuh Kazehaya Yoga? Apa orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang mengincar keluarga Kazehaya selama ini? Dan kau tahu kan jika dalam kecelakaan itu ayahnya Yudha tidak sendiri?" Nao menatap Ayumi.
"Di dalam mobil ringsek itu ada bibi Kurenai dan Alvin."
__ADS_1
"Ya ada mereka berdua. Mereka berdua selamat dan hanya ayahnya Yudha yang meninggal. Alvin luka parah di kepala dan bibi Kurenai patah tulang."
"Alvin hilang ingatan parah." Gumam Ayumi.
Nao melebarkan matanya. "Darimana kau tahu akan hal ini? Kenapa kau bisa tahu serinci ini?"
"Ayahku mengambil jalur yang berbeda dari kakek. Kau tahu kan jika ayahku adalah seorang polisi? Waktu itu dia bertugas di Miyagi, dia yang menangani kasus kecelakaan si sulung keluarga Kazehaya. Aku mengorek info darinya akhir-akhir ini karena penasaran soal masalah yang dialami dua sahabat kita itu. Dan betapa kagetnya aku mengetahui fakta ini... Ne Nao-kun, apa menurutmu ingatan Alvin saat ini adalah ingatan Alvin sebelum kecelakaan itu?" Ayumi kini menatap Nao cukup serius.
"Maksudmu, apakah Alvin sudah ingat semuanya atau belum, kan?"
Ayumi mengangguk. "Ya. Apakah Alvin masih hilang ingatan atau tidak."
Nao terdiam untuk beberapa saat. Ia mencoba menyusuri bagaimana Alvin saat ini. Dan buntu. "Aku tidak tahu, Ayumi-chan. Aku yakin hal ini hanya Alvin yang tahu."
"Seumpama... hmm.. jika Alvin mengingat kejadian itu, kira-kira apa Alvin tahu siapa yang membunuh ayahnya?" Tanya Ayumi hati-hati.
"Sulit dibayangkan. Masalahnya apa pembunuh itu terang-terangan melakukan pembunuhan di depan korbannya? Bahkan ada saksi di sana? Jika Alvin tak mengingatnya maka menurutku itu lebih baik untuk Alvin. Bayangkan jika dia ingat? Mentalnya pasti terganggu. Ia akan trauma berat. Menurutku sih ityu kemungkinan yang akan terjadi."
"Atau mungkin selamanya tak akan pernah terpecahkan.." Nao menarik senyuman kosongnya.
"Karena.. kakek Wijaya sendiri yang meminta polisi menutup kasus itu dan membiarkan kasus itu beredar sebagai kasus kecelakaan biasa."
Nao kembali mendelik. Kali ini jauh lebih lebar dari yang tadi untuk mengekspresikan betapa kagetnya saat ini.
Kakek Wijaya yang meminta menutup kasus kecelakaan itu?
Bukankah kakek Wijaya tahu apa yang sebenarnya terjadi?
Anaknya dibunuh!
Tidakkah kakek Wijaya ingin mendapatkan keadilan atas kematian anaknya itu?
Nao berimajinasi liar. "Haha..." Ia tertawa hambar dan konyol. "Tidak mungkin kan kakek Wijaya sendiri yang menghabisi nyawa anaknya?"
__ADS_1
Ayumi langsung memukul kepala Nao. Nao terlihat mengaduh kesakitan. Pukulan dari kekasihnya itu tidak main-main.
"Jika kau memukulku, aku akan semakin bodoh!" Protes Nao.
"Aku memukulmu untuk membuatmu pintar! Berpikirlah yang jelas! Kakek Wijaya tak mungkib melakukan hal seperti itu! Beliau manusia luar biasa yang memiliki pride sangat tinggi. Meski terlihat kaku, seram, dan menakutkan, tapi Beliau sangat menyayangi keluarganya!" Kata Ayumi.
Nao masih mengusap-usap bekas pukulan Ayumi di kepalanya. "Aku kan hanya menduga-duga. Itu kan masuk opsi jika diselidiki oleh seorang detektif!" Nao memanyunkan bibirnya.
Ya, kemungkinan seperti itu memang ada. Namun apa mungkin? Kakek Wijaya membunuh putra sulungnya sendiri? Membunuh Kazehaya Yoga? Ayah dari cucu kesayangannya?
Dunia pasti sedang dekat dengan kiamat.
.
.
.
Posisi Yudha dan Melody, tengah kerumunan tamu undangan.
"Yudha, kau berbicara hal yang tidak perlu. Ini membahayakan dirimu." Kata Orion.
"Aku tahu apa yang aku bicarakan, Paman. Ini adalah fakta. Aku ingin memperingatkan mereka yang berani bermain dengan Emperor Group dan kakek. Aku harus menyeret mereka semua agar menunjukkan diri. Aku bahkan sudah menyiapkan kuburanku dan Melody." Kata Yudha.
Diketahui, Yudha memang susah memesan lahan kuburan untuknya dan Melody. Ia bahkan sudah membuat surat wasiat untuk dimakamkan selubang kubur dengan Melody.
Bukankah itu romantis?
Orion justru bergidik ngeri. Takaran romantis ala keponakannya itu sangat menakutkan.
"Paman tidak akan membiarkanmu mati!" Kata Orion lantang.
Yudha tersenyum. "Terima kasih banyak, Paman."
__ADS_1