MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Proyek Kazehaya International Hospital


__ADS_3

Di luar kelas Yudha dan Shuhei..


Dengan tampang sewot dan jutek seperti biasanya, Yudha memasang wajah kesal pada Melody karena menganggu acaranya. "Ada apa?" Tanyanya.


"Cih, jutek sekali. Hmm, ne Yudha, kakek baru saja menyuruh kita datang ke proyek pembangunan Kazehaya Internation Hospital. Beliau sudah mencoba menghubungimu, tapi katanya nomormu tidak aktif, kakek memintaku menyampaikan pesan ini." Jawab Melody.


"Ponselku mati, aku lupa mengecasnya tadi." Kata Yudha.


"Hm, begitu ya? Ya yang jelas, sebaiknya kita segera menemui kakek. Kau tahu sendiri kan kalau kakek sepertinya tidak suka kalau kita telat."


"Baiklah, Ayo ke sana! Aku tidak mau kena kuliah dari kakek."


"Haha, hei Shuhei-san, kau dengar itu? Yudha akan diomeli kakek jika kita telat. Bagaimana kalau kita membeli buah-buahan dulu untuk kakek? Bagaimana kalau kita mampir dulu di kedai kopi arabica? Nani kita bilang sama kakek, kalau Yudha yang ajak kita ngelayap dulu. Kau setuju?" Kata Melody. Ia ingin menggoda Yudha. Seru juga kalau bisa menang melawan Yudha, dari dulu dirinya terus yang kena bully.


"Hm, sepertinya itu ide yang bagus, Nona Melody. Saya penasaran bagaimana jika Yudha-sama diomeli Tuan Besar Wijaya." Kata Shuhei.


"Kau itu, kenapa pro dengan Nona jelek ini?" Yudha terpancing kesal.


"Nona jelek itu istri Anda, bukan?" Kata Shuhei mulai tertarik bercanda dengan kedua tuannya dan tentunya sahabatnya juga.


"Aku jelek?" Tanya Melody kesal. Bagaimana bisa dua orang ini begitu enteng berbicara mengatai dirinya itu jelek?


Ayolah, hati wanita mana yang tak tersakiti?


"Ya, jelek. Sangat jelek!" Jawab Yudha.


"Benarkah?" Melody memincingkan mata. Sementara Shuhei hanya diam saja.


"Hn, tentu saja." Kata Yudha.


"Yakin, Tuan Muda Yudha yang terhormat, kau tak mengakuinya? Aku punya bukti akurat untuk menyanggah hal itu, su-a-mi-ku."


"Apa?"


"Waktu malam resepsi pernikahan, ibu bilang jika kau mengakui kecantikanku. Hayo mengaku saja!"


"A-apa kau bilang? Jangan mengarang cerita bohongan!" Yudha ingin menyanggah karena itu memang benar adanya. Ia melupakan sesuatu hal yang penting. Ibunya itu kepo dan suka ceplas-ceplos!


"Aku tidak mengarang."


"Iya!"


"Tidak!"


"…"

__ADS_1


Shuhei hanya tersenyum penuh arti menanggapi celotehan Yudha dan Melody. Shuhei senang karena semenjak Melody menjadi istri Yudha, Yudha menjadi lebih hidup. Bukan berarti selama ini Yudha tidak hidup, hanya saja hidup yang Shuhei maksud di sini adalah bagaimana Tuan Mudanya lebih bisa mengekspresikan perasaanya.


Saat kesal, Yudha akan kesal. Saat gembira karena Yudha berhasil menang adu batu-kertas-gunting dengan Melody, Yudha akan tertawa lepas, padahal hanya menang game anak kecil.


Banyak ekspresi baru yang ia temukan dari diri Yudha semenjak kehadiran Melody di hidup Yudha. Ia merasa jika Yudha sudah bisa lepas dari sikap dinginnya yang lama bersemayam. Meski belum semuanya, setidaknya kali ini tidak senada, sudah berwarna.


.


.


.


Restaurant..


"Ada apa?" Tanya Yudha saat mendapati aura Melody yang cukup aneh.


Melody mendekatkan bibirnya ke telinga Yudha dan berbisik pelan. "Aku sudah tidak tahan. Aku ingin ke belakang!"


Yudha reflek menjauhkan telinganya dari bibir Melody karena geli dan ada perasaan aneh. Terbukti bulu kuduknya berdiri saat mendengar Melody berbisik kepadanya.


"Hah, Shuhei, antarkan Melody ke toilet!" Perintah Yudha.


Shuhei hanya mengangguk dan segera menjalankan perintah Yudha. Melody berlari kecil karena sudah tidak tahan sedari tadi menahan diri untuk buang air kecil.


"Istrimu lucu ya, Yudha?" Gumam Kakek Wijaya saat melihat tingkah lucu cucu menantunya. Yudha hanya diam saja tanpa menanggapi ocehan kakeknya. "Dari restoran ini, kita bisa melihat jelas bagaimana megahnya rumah sakit yang kau rancang sendiri design bangunanya. Apa kau yakin akan keputusanmu itu, Yudha?"


Yudha mengambil tempat berhadapan dengan sang kakek.


"Bocah nakal."


Yudha lantas memesan secangkir kopi, makanan, dan jus jambu biji untuk Melody. Ia tak mungkin kan tak memesankan untuk Melody? Perhatian? Tidak juga, ini biasa, ia tahu betul jika Melody terlihat sangat haus karena berjalan menuju kelasnya.


.


.


.


Yudha dan kakek Wijaya saling mengobrol mengenai pembangunan rumah sakit yang belum jadi itu. Kazehaya International Hospital, rumah sakit yang diimpikan Yudha. Bahkan ia sampai membuat desaignnya sendiri. Merancang anggarannya, mengurus segala keperluan pembanggunannya, semua hasil jerih payah Yudha.


"Kau tahu, Yudha? Dana untuk pembangunan ruma sakit itu tidaklah sedikit."


Yudha meminum kopi yang ia pesan. "Aku tahu, kek. Tapi itu tak sebanding dengan apa yang aku dapatkan dari kakek selama ini."


"Kakek akui, itu memang tidak sebanding."

__ADS_1


Yudha meletakkan cangkir kopinya. "Ne Kek, ada satu permintaan lagi yang belum kakek kabulkan."


"Haha, kau memang cucu yang egois."


"Aku hanya mencoba menjadi orang bijak, seperti dirimu, Kek." Yudha tersenyum.


"Tentu saja, kau memang cucuk kakek. Tapi ingat, kau tidak akan melampau kakek karena kakek masih memegang alur game yang kau buat."


"Aku akan mengalahkan kakek!"


"Kau terlalu percaya diri!"


"Sepertinya kakek yang terlalu percaya diri."


"Kakek suka tatapan licikmu saat bermain game, Yudha."


"Haah? Game? Kakek sudah tua masih bermain game? Kakek suka game apa?" Tanya Melody polos yang hanya mendengar sekilas tentang pembicaraan Yudha dan kakek mertuanya.


Maklum saja ia baru saja dari toilet.


Yudha menahan tawanya. Bisa-bisanya Melody berbicara seperti itu? Mengatai kakeknya sudah tua? Ya memang ia akui kakeknya itu memang sudah tua, tapi tidak dengan nada seperti itu.


Nyali keberanian Melody patut diacungi jempol.


"Hm, game yang sering kita mainkan, Melody." Jawab Yudha.


"Batu-kertas-gunting?" Tanya Melody.


Kakek Wijaya terkekeh pelan mendengar kata-kata Melody. Ia hanya tidak menyangka, jika cucunya yang dingin, jutek, ternyata sering main game anak kecil seperti itu dengan Melody.


"Iya Melody. Kakek hampir menang jika kau tidak mengagetkan kakek."


"Ah? Benarkah? Kakek hampir menang dari Yudha? Aku saja tidak pernah menang saat melawan Yudha." Kata Melody.


"Kau saja yang terlalu bodoh."


"Cih, ya-ya aku memang bodoh."


"Baguslah kalau kau mengakuinya."


"Yudha!"


Kembali, seperti biasanya, mereka akan bertengkar hal-hal yang tidak penting. Tapi bagi Kakek Wijaya dan Shuhei ini adalah kemajuan untuk Yudha.


Sepertinya memilih Melody menjadi pendamping hidup Yudha adalah suatu keputusan yang benar. Melody bisa mengubah Yudha dengan waktu yang cukup cepat. Yudha bahkan bisa berbicara lebih banyak dari biasanya.

__ADS_1


Sejujurnya Kakek Wijaya tidak tahu isi hati masing-masing cucunya, tapi sebagai orang tua sepertinya semua akan berjalan baik-baik saja. Berjalan sesuai keinginannya. Bukan hanya keinginannya, ini terkesan egois, tapi mana ada orang tua yang tega menjerumuskan ke hal-hal yang tidak baik. Ini semua Kakek Wijaya lakukan untuk kebaikan Yudha. Sejauh ini rupanya cukup berhasil.


__ADS_2