MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 19


__ADS_3

Usai makan siang, Alvin dan Mia menjenguk kakek Wijaya.


Hari ini adalah jadwal Melody menjaga sang kakek mertua. Sebenarnya ada rasa kurang nyaman ketika ia harus berhadapan dengan Alvin seperti ini. Namun ia mencoba menahannya karena menghormati Mia. Melody sangat tahu perasaan Mia bagaimana ke Alvin. Meski ia telat menyadari, bahkan tahu semua itu setelah Mia yang memberitahunya, tapi ia akaj menjaga sikapnya. Ia tidak memebenci Alvin atas segala yang Alvin lakukan akhir-akhir ini. Perlu digaris bawahi sekali lagi, ia sama sekali tidak membencil Alvin. Ia hanya merasa kecewa pada sikap Alvin. Terutama Alvin yang menyakiti Yudha yang jelas-jelas berjuang untuk Alvin.


Kali ini, Melody tak sendirian menjaga kakek Wijaya. Ia ditemani oleh Ayane. Sudah cukup lama Ayane tak menampakkan diri. Ayane sibuk memenej rumah karena ditinggal stay di rumah sakit.


Berhubung Yudha sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, Ayanepun diminta untuk ke rumah sakit dan membantu menjaga Melody.


.


.


.


Melody dan Mia duduk di kursi tamu ruang inap kakek Wijaya. Ruangan inap milik kakek Wijaya cukup luas, ada sekat pemisah transparan di antara ruang tamu dan ranjang pasien kakek Wijaya.


Sementara Alvin dan nenek Chiyo sedang duduk di dekat kakek Wijaya yang sedang terbaring lemah.


"Apa ini, Bek?" Tanya Melody yang baru saja menerima bungkusan keresek putih dari Mia.


"Mochi. Kau menyukai yang manis-manis, kan?" Tanya Mia.


"Iya sukai sekali, Mia." Jawab Melody.


"Cobalah! Tadi aku sudah mencobanya, rasanya sangat enak." Suruh Mia.


Melodypun memakan mochi yang Mia bawa. Benar juga. Rasa manis dan lembut dari mochi tersebut menari-nari di lidahnya.


"Terima kasih banyak ya sudah membawakan mochi ini untukku." Kata Melody.


"Itu Alvin-senpai yang membawanya, Mel."


Seketika itu, Melody langsung berhenti mengunyah. Ia meletakkan keresek mochi yang dipegang tangannya.


"Kenapa tiba-tiba seperti itu?" Tanya Mia yang heran dengan tingkah Melody.


Melody menggeleng. Ia melanjutkan kunyahan mochinya lalu menelannya susah payah.


"Masih marah dengannya yang berhasil mengalahkan Yudha dalam perebutan tahta CEO Emperor Group?" Tanya Mia.


"Marah? Aku marah karena Alvin mengalahkan Yudha dalam perebutan CEO Emperor Group?" Tanya Melody. Mia mengangguk. "Kenapa aku harus marah? Saat ini Alvin memang lebih pantas untuk menduduki tahta tertinggi Emperor Group. Yudha kan akhir-akhir ini sering membuat masalah. Wajar saja jika kepercayaan para pemegang saham menjadi meragukannya." Jelas Melody.


Ini jujur dari dalam hatinya. Yudha juga memintanya untuk tidak terlalu memikirkannya. Lagian, Yudha saja tidak kesal atau marah karena tidak jadi CEO pengganti kakek Wijaya, kenapa ia harus marah yang jelas-jelas tidak ikut andil dalam perebutan tahta itu?


Namun di atas itu semua, ia merasa kecewa pada Alvin.


Setelah apa yang Yudha lakukan untuk Alvin, tapi Alvin bersikap lain pada Yudha. Bahkan pada dirinya juga. Ia merasa jika diri Alvin yang saat ini sangatlah asing untuknya. Ia tak mengenali Alvin yang seperti ini.


"Pemikiran rasionalmu sama seperti diriku. Namun Mel, aku merasa jika kita bertiga tak lagi seperti dulu. Aku merasa jika saat ini kita semakin menjauh. Bukankah dulu kita sangat dekat? Sering makan bersama?" Kata Mia.


"Mia, kau tidak tahu masalah besar yang terjadi di keluarga Kazehaya. Aku juga tak bisa bercerita secara detail apa yang terjadi kepadamu. Itu tidak etis karena aku hanyalah seorang menantu di keluarga ini. Mengenai kita bertiga yang tak seperti dulu lagi, itu memang benar adanya. Bukan berarti aku akan menjauhi selamanya, tapi aku saat ini hanya sedang menahan diri." Terang Melody.


"Menahan diri?" Gumam Mia tak paham.


"Setelah beberapa kali Yudha dan kakek mengalami percobaan pembunuhan, kini aku juga ikut menjadi sasarannya. Aku takut sekali untuk menginjakkan kakiku di luar rumah sakit, apa lagi tanpa Yudha seperti saat ini." Kata Melody.


Mia melebarkan kedua matanya. Melody mengalami hal seperti ini? Apakah perasaan sering diawasi dan diikuti saat selama berada di Miyagi itu benar adanya? Kadang saat ia sedang jalan-jalan dengan Melody, ia merasa selalu ada orang aneh dan mencurigakan di sekitar diirnya dan Melody.


"Mel.." Mia mencoba memutar otaknya untuk merangkai alasan kenapa hal ini bisa terjadi.


Perebutan tahta dan pelengseran Yudha dari calon penerus?


Jika bukan karena hal itu, apa lagi? Kenapa mereka ingin menghilangkan nyawa Melody dan Yudha tanpa alasan? Pasti karena kedua hal itu, kan? Tahta Emperor Group memang selalu menggoda.


Jadi, apakah Alvin terlibat dalam hal ini?

__ADS_1


Maksudnya, saat ini Alvinlah yang berkuasa. Yudha yang digadang-gadang menjadi calon penerus bisa kalah dengan Alvin yang jelas-jelas tidak memiliki basik bisnis. Mia paham betul jika Alvin sangat mencintai kedokteran. Sedikit miris dan sedih melihat Alvin mulai jarang memakai jas dokternya.


Alvin rela menanggalkan impiannya di bidang kedokteran. Apakah itu karena tahta Emperor Group?


"Tolong kabulkan doaku Tuhan! Tolong jangan biarkan Alvin-senpai terlibat dalam perebutan tahta dengan cara yang keji ini! Aku masih mempercayai jika Alvin-senpai adalah orang yang baik." Batin Mia.


"Aku menyerahkan segala keputusan terhadapmu. Silahkan kau mau percaya atau tidak jika nyawaku dan Yudha sering terancam setiap harinya. Bahkan kakek mertuaku saja sudah berbaring hampir sebulan seperti itu." Kata Melody.


"Maafkan aku, Mel.. Aku harusnya lebih perhatian lagi kepadamu. Maaf." Kata Mia.


Melody memeluk Mia. Sepertinya sahabatnya ini sedang merasa tak enak padanya. Ia tak mempermasalahkannya juga karena ia menganggap semua orang memiliki ide pemikirannya sendiri, termasuk Mia sekalipun.


"Selain itu, aku ini istrinya Yudha. Yudha adalah adiknya Alvin. Artinya, aku adalah adik ipar Alvin. Aku menahan diri untuk menghormati suamiku, Yudha. Dia keberatan jika aku terlalu dekat pada Alvin. Tak hanya pada Alvin, dia keberatan jika aku dekat dengan laki-laki lain." Kata Melody.


"..." Alasan Melody sangat bisa diterima. Yudha adalah suami Melody, dan sosok suami adalah panutan istri. Melody hanya sedang menjadi istri yang baik.


"Dan lagi.."


"Lagi?" Tanya Mia.


"Aku sudah mengetahui bagaimana perasaanmu terhadap Alvin. Aku juga sedang menjaga perasaanmu, Mia." Jawab Melody. Ia lalu mencoba tersenyum kepada Mia.


Mia mengeratkan pelukkannya pada Melody. Sebagai sahabat, Melody sedang berusaha menjadi sosok yang bisa menghormati perasaan sahabatnya. Bukankah Melody saat ini lebih banyak memikirkan dampak sebelum melakukan sesuatu?


Itu intinya Melody sudah semakin dewasa.


Mia merasa kalah. Dirinya malah bersikap kekanak-kanakan karena perasaannya pada Alvin. Ia merasa iba pada Alvin yang diabaikan oleh Melody. Iapun ingin mereka baikkan seperti dulu. Namun, semua memang tak akan kembali seperti dulu lagi. Faktanya, masalah yang terjadi saat ini memang jauh lebih rumit dari apa yang bisa otaknya tangkap.


"Aku tak akan mengizinkammu mati, Mel!" Kata Mia.


"Kau bukan Tuhan, jangan mendahului-Nya!" Kata Melody.


"Aku tahu, tapi aku mohon kau janganlah menyerah dengan apa yang sedang kau alami saat ini! Aku akan ikut menjagamu dan calon keponakanku saat Yudha tak ada." Kata Mia.


"Arigato gozaimasu, Bebek Chantik!"


________________________________________


Kue khas Jepang bernama Mochi terbuat dari beras ketan yang ditumbuk hingga lembut dan terasa lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat, diolah dengan cara direbus atau dipanggang.


Mochi sering dibuat dan dimakan sewaktu perayaan tahun baru jepang atauĀ mochitsuki, namun bisa juga didapatkan di toko oleh-oleh setiap hari.


Mochi memiliki citarasa yang khas yaitu bertekstur lembut dan agak kenyal saat dimakan kemudian lama-lama terasa lengket di mulut.


Mochi memiliki varian isi yang beragam mulai dari kacang sampai es krim. Harganya mulai dari Rp20.000/kemasan.



________________________________________


Alvin dan nenek Chiyo duduk mengamati kakek Wijaya yang terbujur tak berdaya.


Jarak ruangan tempat tidur ranjang inap kakek Wijaya dengan ruang tamu dimana Melody dan Mia berada tidaklah jauh. Hanya saja suara normal tidak akan terdengar.


"Apa ada perkembangan dengan kondisi kakek, Nek?" Tanya Alvin.


"Kau masih menghawatirkan kakekmu? Basa-basi atau untuk genap-genap?" Tanya balik Nenek Chiyo.


"Nenek itu menyakiti perasaanku." Kata Alvin.


"Nenek memang sedari dulu hanya bisa menyakiti perasaanmu. Bahkan kakekmu sendiri juga melakukannya. Kau pasti sangat dendam dengan kami, ya?"


Alvin terdiam. Tidak diakui sebagai darah Kazehaya apa lagi oleh sang kakek sendiri itu rasanya super menyakitkan.


"Belum lagi, setelah semua yang sudah kami lakukan terhadapmu. Kini kau menjadi tahu masa lalu ibumu bagaimana. Kami berusaha menyembunyikannya agar kau bisa hidup dengan mengangkat wajahmu lurus ke depan. Namun kali ini ibumu begitu keterlaluan. Semua memang ada masanya untuk dibongkar." Lanjut Nenek Chiyo.

__ADS_1


"Seorang anak tidak bisa memilih orang tuanya." Kata Alvin.


"Tapi orang tua berhak mendidik anak-anaknya." Kata Nenek Chiyo.


"Apa nenek sedang berusaha mengatakan jika ibuku tidak mendidikku dengan baik?" Tanya Alvin.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau sangat hebat karena bisa mencapai seperti saat ini." Jawab Nenek Chiyo.


"Itu pujian atau sindiran, Nek?"


"Cucu dan kakek sama-sama bermulut tajam. Kupikir kau akan berbeda dari Wijaya-san, kakekmu." Nenek Chiyo tersenyum lembut pada Alvin.


Alvin merasa seperti ada terpaan angin bahagia nan sejuk menyapu wajah tampannya. Sang nenek sedang berusaha mengatakan jika dirinya itu mirip dengan sang kakek? Itu artinya sang nenek benar-benar mengakui jika dirinya ini adalah cucu dari Kazehaya Wijaya?


Selama ini orang selalu bilang jika hanya Yudhalah cucu yang sangat mirip dengan kakeknya. Semua yang ada pada Yudha adalah copy-paste dari Kazehaya Wijaya. Tidak ada yang mengatainya memiliki kemiripan dengan sang kakek. Saat ia mendengar penuturan seperti ini dari sang nenek, rasanya ia sangat bahagia. Sampai hati jika saat ini adalah hari yang pas untuk menerima pujian.


"Bagaimana rasanya kursi tahta tertinggi Emperor Group, Vin? Kau menyukainya?" Tanya Nenek Chiyo.


Alvin tersenyum tipis. "Sama sekali tak menyukainya. Sangat menjijikkan dan tak nyaman." Jawab Alvin.


"Dayou ne.."


Dayou ne: Benar juga.


"Aku heran kenapa begitu banyak orang yang mengincar posisi CEO ini. Padahal itu artinya harus siap mempertaruhkan nyawanya kapan saja." Kata Alvin.


"Saat kau menduduki kursi panas itu, kau akan memiliki kekuasaan dengan uang yang tak terbatas. Dengan kata lain, kau bisa membeli segalanya dengan uang. Kecuali cinta tentunya." Nenek Chiyo berkata seperti ini tanpa menatap Alvin. Ia tidak tega mengatakan hal ini dengan cara menatap Alvin langsung. Ia lebih memelih berkata seperti ini sambil menatap suaminya, Kazehaya Wijaya.


Alvin terdiam untuk beberapa saat. Kata-kata dari sang nenek memenga menembus hati dan pikirannya. Kini ia tahu jika apa yang sudah ia lakukan hanyalah terlalu naif.


Bisa membeli segalanya dengan uang kecuali cinta.


Tahta tertinggi Emperor Group membuatnya kaya raya dalam waktu yang sangat cepat. Ia bisa membeli rumah mewah, mobil mahal, atau bahkan menambah luas bangunan rumah sakit Kazehaya International. Namun lagi, sesuai kata dari sang nenek, ia tidak bisa membeli cinta.


Meski saat ini ia memiliki segalanya, harta dan tahta, tapi membuat wanita yang dicintainya menjadi miliknya itu sangat sulit dilakukan.


Melody justru menatapnya dengan tatapan yang dingin. Sangat dingin hingga membekukan hatinya.


Semakin hari semakin beku. Jika terus seperti ini, maka lama-lama akan rapuh juga. Apapun yang dibekukan, akan mudah hancur dalam sekali sentuhan.


"Jika cinta tak bisa aku dapatkan dengan harta dan kekuasaan, jika cinta tak biasa aku beli dengan uang, maka aku hanya harus memaksa cinta agar tetap tinggal bersamaku." Kata Alvin.


"Kau hanya akan menyakitinya, Vin." Nenek Chiyo mencoba menasihati Alvin.


"Aku tahu, tapi aku juga sakit karenanya." Alvin mencengkram dadanya.


"Membuat orang yang kau cintai terpaksa tinggal bersamamu itu tidaklah benar. Cinta itu tak seperti itu. Cinta itu lahir dari ketulusan hati yang indah."


"Cintaku tulus terhadapnya, Nek."


"Tulus dan obsesi itu dua hal yang jauh berbeda, Vin. Kau tahu, tidak ada hal paling menjijikkan di dunia ini jika harus membalas cinta dari orang yang tak dicintai."


Alvin kembali terdiam.


Membalas cinta dari orang yang tak dicintai itu adalah hal paling menjijikkan di dunia ini?


Jika Melody membalas perasaannya padahal Melody tak mencintainya itu adalah hal yang menjijikkan?


Alvin tertawa di dalam hati. Ia menertawakan dirinya sendiri. Ia tahu jika Melody sangat mencintai Yudha, tapi ia masih saja ingin mendapatkan cinta Melody.


"Aku hanya sangat mencintainya. Aku hanya ingin mendapatkan balasan cinta darinya. Aku hanya ingin bisa bersamanya sampai akhir hayatku. Aku hanya ingin merajut kasih dengannya. Aku hanya ingin tertawa bersamanya, seperti dulu, seperti saat dimana belum ada Yudha yang hadir di antara kami. Melody memberi kesempatan untuk melihat dunia dengan cara yang lebih baik. Dahulu aku begitu membenci dunia yang begitu tak adil untukku bernafas. Dunia yang mencekik leherku dan menyiksaku untuk mati perlahan... Namun Melody hadir dengan segala kesederhanaanya. Dengan senyuman sekilasnya, jerat tali di leherku terasa melonggar dan lenyap secara perlahan. Dia seperti sumber kehidupan untukku. Aku memiliki alasan bertahan hidup di dunia ini karena dirinya... Saat dia memilih Yudha, jerat tali yang sudah lenyap itu kembali datang, kembali muncul, dan kembali mencekik leherku. Kini bahkan mulai melumpuhkan tangan dan kakiku. Membuatku tak berdaya... Aku membutuhkan dirinya untuk menyelamatkanku. Akupun rela berubah menjadi monster seperti ini untuk mendapatkannya kembali kepadaku... Apa itu sungguh akan menjijikkan seperti kata dari nenek? Apakah aku ini hanya sedang terobsesi saja? Tidak, aku yakin cintaku ini sangat tulus terhadapnya. Aku hanya harus membuktikan betapa tulusnya cintaku padanya, kan?" Batin Alvin.


"Kau sedari tadi hanya terdiam, Vin. Kau memikirkan sesuatu?" Tanya Nenek Chiyo.


"Ie, Obaa-sama. Aku hanya memikirkan cara untuk menunjukkan seberapa besar tulus cintaku." Jawab Alvin.

__ADS_1


Ie, Obaa-sama: Tidak, Nenek.


"ALVIN!"


__ADS_2