MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kedatangan Alvin di Kediaman Kazehaya


__ADS_3

"Alvin, nenek benar-benar merindukanmu. Ah, sudah berapa tahun nenek tidak melihatmu? Kau tumbuh dengan baik. Kau juga sangat tampan." Kata Nenek Chiyo dengan sangat bahagia.


"Aku juga merindukan nenek. Aku senang nenek terlihat masih sangat sehat." Kata Alvin.


Ibu Yudha, Mikan menatap Alvin dengan pandangan sulit diartikan. Ia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Alvin. Mengingat akan masa lalu yang pahit itu membuatnya muak. Tapi, ia tidak bisa begitu saja melampiaskannya pada Alvin.


Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia memberikan pelukan hangat seperti ibu mertuanya lakukan?


"Alvin…" Kata Ibu Yudha.


"Ibu Mikan. Apa kabar? Senang bisa berjumpa dengan ibu lagi." Alvin membungkuk dengan hormat.


"Ibu baik, Alvin. Bagaimana dengan ibumu?" Tanya Ibu Yudha.


"Ibu baik-baik saja. Masih seperti dulu."


"Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Ibu dengar kau selalu mendapatkan peringkat pertama di kampus?" Ibu Yudha berbicara dengan nada tulus layaknya seorang ibu. Ia memang tidak berhak egois akan masa lalunya. Apa lagi harus melampiaskannya pada Alvin. Rasanya itu tak adil untuk Alvin.


"Ah, bukan hal yang istimewa mengingat Yudha juga selalu melakukan hal yang sama."


"Wah, ternyata cucu-cucu nenek tumbuh menjadi orang yang cerdas. Jangan sampai dikalahkan ya, Alvin. Hahaha.."


Mereka bertiga sibuk bercengkrama hingga akhirnya Yudha, Melody datang. Shuhei kembali ke kamarnya. Saat di rumah, Shuhei hanya akan mendatangi Yudha saat Yudha menyuruhnya.


Yudha dan Melody datang dengan masih membawa rasa kesal dari mobil akibat permainan batu-kertas-gunting yang mereka mainkan.


Yudha membekap mulut Melody dengan tangan kirinya karena dari tadi Melody selalu mengatainya bermain curang. Melody tidak terima karena menurutnya, mana mungkin ia tidak pernah akan menang dari Yudha meski sekalipun. Saat itu pasti akan terjadi!

__ADS_1


Sementara Yudha yang kesal karena ocehan Melody, ia membekapnya dan menyeret paksa Melody agar masuk ke rumah.


Yudha dan Melody cukup kaget karena menjadi pusat perhatian tiga orang di depan mereka dengan tatapan yang berbeda-beda. Seperti nenek Chiyo yang seolah mengatakan jika kelakuan Yudha dan Melody adalah tren baru romantisme cinta anak remaja jaman sekarang. Ibu Yudha hanya tersenyum tulus karena kedua anaknya pulang dalam keadaan selamat, naluri seorang ibu. Sementara Alvin, ia hanya tersenyum tipis dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Mungkin saja karena ia masih merasa canggung dengan suasana seperti ini. Sepertinya mulai saat ini, Alvin harus segera belajar menyesuaikan diri.


Melody menyingkirkan tangan Yudha yang membekapnya. "Alvin-senpai?" Kata Melody cukup keras.


"Akhirnya kau datang berkunjung." Sapa Yudha yang entah kenapa hatinya merasa lega.


Janji sang kakek kepadanya ditepati.


"Hm.. Hai Melody, Yudha. Kalian baru pulang? Bukankah kuliah sudah berakhir dari tadi siang?" Kata Alvin memamerkan senyum manisnya.


"Tadi kami makan siang dulu. Ne, Yudha bilang Alvin-senpai adalah saudaranya itu berarti kita akan menjadi saudara juga, kan? Wah, dunia memang sempit ya? Kita bersahabat, tapi akhirnya memiliki ikatan saudara."


Kata Melody.


"Tentu saja." Kata Yudha.


Sesungguhnya istilah persaudaraan dalam keluarga Kazehaya adalah hal yang sangat sensitive. Ibu dan nenek Yudha tidak bisa begitu saja menyalahkan Melody akan ketidak tahuan hal tersebut. Hal itu cukup menjadi beban yang tak seharusnya diketahu banyak orang.


Sementara itu, Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah, kalian lanjutkan dahulu acara ngobrol kalian! Ayo Melody, kau harus segera membersihkan dirimu! Kau sadar tidak jika baumu itu sungguh menyengat?" Kata Yudha mencoba memecahkan suasana. Bagaimanapun ia memahami perasaan ibunya.


"Hish, enak saja kau berbicara seperti itu. Kau fikir hanya aku yang mengeluarkan bau menyengat? Kau juga, Tuan!" Sanggah Melody. Mereka berdua meninggalkan ruang tamu sambil saling membalas hinaan masing-masing.


"Apa mereka selalu seperti itu?" Tanya Alvin yang cukup heran karena melihat tingkah Melody dan Yudha. Jujur saja ini pertama kalinya ia melihat kedua orang yang sudah lama ia kenal bisa bertindak konyol dan kekanak-kanakan.

__ADS_1


"Mereka memang selalu seperti itu. Tidak akur dan kekanak-kanakan. Yang satu keras kepala, yang satunya lagi gengsinya setinggi langit dan tidak mau kalah." Jawab Ibu Yudha sambil tersenyum memaklumi keadaan kedua anaknya.


"Mereka itu pasangan yang setiap hari penuh dengan keromantisan. Hahaha.. uhuk..uhuk.." Sahut Nenek Yudha tertawa dengan suara khas nenek-nenek. Bahkan saking kerasnya tertawa, nenek Chiyo sampai terbatuk-batuk.


"Ibu, sudah! Jangan tertawa terus!" Kata Ibu Yudha khawatir.


Mereka saling mengobrol hingga petang menjelang. Kakek Wijayapun juga sudah kembali dari kantornya. Sejujurnya Alvin masih segan untuk bertatap langsung dengan kakek Wijaya mengingat bagaimana panasnya hubungan masa lalunya. Ia ingin segera pulang sebelum kakek Wijaya datang, tapi sang nenek terus saja membuatnya tetap tinggal lebih lama. Ia memang tidak tegaan pada wanita.


Kedatangan Alvin membuat suasana di rumah itu tidak menentu. Ada kebahagiaan, ada nada kecanggungan. Ada ketakutan, ada juga yang merasa tidak mengharapkannya. Alvin mencoba memahami hal itu, meski jujur saja di dalam hatinya ada rasa sakit yang teramat sangat. Terbukti beberapa kali ia harus mencoba menahan diri saat dirinya diabaikan oleh sang kakek Wijaya yang kebetulan saja sore itu kakek Wijaya pulang cepat ke rumah.


Alvin bagai batu yang tidak dianggap sama sekali. Meski sang nenek mencoba mencairkan suasana, begitupula dengan Yudha yang mencoba membantunya tapi tetap saja sangat sulit meluluhan sang kakek. Hanya senyum yang dipaksakan yang dapat ia lakukan.


Karena ada urusan yang sengaja ia buat, Alvin berpamitan pulang. Rasanya tidak tega melihat sang nenek terus saja memintanya tinggal lebih lama. Tapi ia harus segera pulang, lagipula rumah itu bukanlah rumahnya. Ia tidak bisa seenaknya saja berlama-lama di rumah itu.


Setelah membujuk nenek Chiyo dengan rayuan gombalnya, Alvinpun diizinkan pulang dengan janji ia akan datang berkunjung lagi untuk menemui nenek Chiyo. Dengan senang hati ia akan melakukannya. Walau rasanya pahit mengetahui fakta sang kakek tidak mengakuinya sama sekali. Namun ia mencoba menghilangkan perasaan hatinya terhadap sang kakek. Rasanya itu wajar jika ia harus mendapatkan perlakuan seperti itu. Ia menyadari jika masa lalu memang sulit untuk diabaikan begitu saja.


.


.


.


________________________________________


Ok.. mulai fokus ke jalan cerita. Mulai terbongkar sedikit demi sedikit. Bakal seperti apa kelanjutannya?


Jangan lupa like, komen, & share ya.. dukung aku terus.. jgn lupa tipnya wako cuma 10 point skalipun ya.. membantu bgt buat popularitasku..

__ADS_1


meski cuma komen.. nexxt... aja gpp kok.. πŸ€—πŸ€—


Yang deket Merapi.. be strong ya.. moga aja aman terus.. Dan corona.. jauh2 dr Indonesia.. aameeen...


__ADS_2