MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chiba 3


__ADS_3

Suasana ruang tamu memanas, tapi Alvin tidak mau semua menjadi di luar kendali. Sebenarnya ia ingin membawa pergi Melody sejauh mungkin, sejauh yang ia bisa. Namun, melihat Melody yang menangis terisak-isak sebebelum ini memuat hatinya tidak nyaman. Ia merasa sangag sesak di dalam dadanya. Air mata Melody membuatnya tak menentu dan kehilangan arah yang sudah susah payah ia tuju dari semenjak ia membuat rencana.


Pada akhirnya, ia memang harus luluh ya? Perasaannya pada Melody mengalahkan segalanya. Ia memang selalu tak berdaya jika harus dihadapkan dengan apapun mengenai Melody. Cinta yang membuatnya seperti ini.


Yudha yang saat ini sedang berada di hadapannya pun terlihat sangat marah dan tak sabaran ingin segera bertemu dengan Melody. Ia sudah menahan diri mati-matian untuk tidak segera melayangkan bogem mentah pada Alvin yang sudah berani membawa kabur istrinya itu. Memang Alvin pikir, Alvin itu siapa? Meski mantan ataupun kakak ipar pun, Alvin tetap tidak punya hak unyuk menculik Melody yang jelas-jelas adalah istrinya.


"Bawa Melody kemari!" Perintah Alvin.


"Tapi Alvin-sama, kesepakatannya..." Mereka mencoba menolak.


"Bawa Melody kemari!" Ulang Alvin dengan nada yang lebih keras.


"Ba-baik, Alvin-sama..."


Dua dari sepuluh bodyguard milik Alvin pergi ke suatu ruangan untuk membawa Melody ke ruang tamu itu agar bisa bertemu dengan Yudha.


"Kau masih memiliki hati juga rupanya. Haruskah aku mengucapkan terima kasih padamu?" Kata Yudha.


"Simpan saja rasa terima kasihmu itu! Karena aku tahu, tidak ada rasa ketulusan dari rasa terima kasihmu terhadapku."


"Haha, sensitif juga kau akan perasaan mendetail seperti kata sederhana ini." Sindir Yudha. Ia dan Alvin mulai sering berbicara dengan nada-nada santai tapi penuh sindiran. Mereka berdua tahu bagaimana cara bertahan hanya dengan mengandalkan kata-kata.


"Kau yang tidak memahaminya, Yudh! Meski kata terima kasih itu sangat sederhana, tapi memiliki makna yang sangat besar, bahkan mungkin saja akan bisa mengubah seseorang ketika mendapatkan ucapan seperti itu. Kau selalu menganggap hal-hal kecil ini sebagai sesuatu hal yang kau anggap enteng, ini kenapa kau sangat lemah untuk mendapatkan perhatian orang lain." Alvin berbicara panjang lebar.


"Apa yang hendak kau sampaikan padaku? Jangan berputar-putar tidak jelas seperti itu!" Kesal Yudha.


"Dalam dunia bisnis, kau perlu mendapatkan perhatian kolega agar kau bisa mendapatkan banyak dukungan dan ucapan terima kasih adalah hal paling mudah untuk dilakukan." Jelas Alvin.


"Apa menurutmu aku harus menarik kesimpulan jika saat ini kau sedang mengajakku untuk bekerja sama? Seperti itu?" Tanya Yudha mencoba menyimpulkan.


Apa Alvin selalu seperti ini? Berbicara panjang lebar yang membingungkannya.


"Itu jika kau mau.." Kata Alvin.


Dari arah samping, arah dimana dua bodyguard pergi untuk membawa Melody, nampaklah Melody yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Yudha menatap rindu istrinya itu.


"Kau sudah tahu apa yang dapat aku katakan padamu tanpa harus mendengar langsung jawabannya dari mulutku, kan?" Kata Yudha.


Alvin tersenyum. "Kau benar, kau tidak akan sudi bekerja sama denganku, orang yang sudah menculik istrimu."


"Ho, kau mengakui juga jika Melody adalah istriku. Ah, untuk hal ini, aku mengucapkan terima kasih." Seringai Yudha.


Yudha lalu menghampiri Melody dan langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Melody..." Gumam Yudha.


"Yudha?" Kata Melody yang tak menyangka jika suara samar-samar yang ia dengar tadi adalah suara dari suaminya.


Yudha lalu membuka kain yang menutupi mata Melody. Ia juga melepaskan ikatan tangan yang mengikat kedua pergelangan tangan Melody.


Melihat suaminya yang begitu dekat di hadapannya, Melody menangis dan kembali memeluk Yudha. Pelukkan itu sangat erat, Yudha bahkan sampai merasa sangat sesak.


Anak-anaknya ikutan terhimpit.


Sebentar saja, sebentar saja biarkan seperti ini! Seminggu lebih tidak berjumpa rasanya sangat hampa. Pelukkan seperti ini tak akan cukup untuk mengobati semua rasa yang dirasakan saat berpisah. Semua rasa rindu itu, semua rasa pilu itu, semua air mata itu, semua kekhawatiran panjang tak berujung itu, haruslah terobati.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran!" Kata Alvin.


"Ayo Mel, kita harus kembali! Tuan Rumah sedang mengusir kita. Aku juga tak mau berlama-lama di sini." Kata Yudha.


Melody hanya mengangguk

__ADS_1


"Tidak bisakah kau berkata manis sedikit saja meski itu hanyalah sebuah kebohongan untukku? Aku sudah berbaik hati padamu!" Kata Alvin yang tersinggung dengan kata-kata dari Yudha.


Mengusir?


Yudha tidak tahu apa yang ia lakukan untuknya. Keputusan ini membuatnya harus membayar sangat banyak. Yudha tak pantas berkata seperti itu!


"Maaf saja, aku ini bukan manusia baik hati yang pandai berkata manis. Semoga harimu menyenangkan!" Kata Yudha. "Ayo Mel..." Lanjutnya.


"Iya..." Kata Melody. Ia tak ingin menoleh meski sebentar kepada Alvin. Ia menghormati suaminya, Yudha. Meski ia memiliki hubungan yang baik dengan Alvin, tapi Yudha adalah imamnya. Ia hanya perlu mengikuti langkah Yudha. Ia hanya perlu mengikuti kemana Yudha akan melangkah.


Bukankah ia hanya sedang berusaha menjadi istri yang baik?


.


.


.


Tak mau berlama-lama, Yudha dan Melody pun pergi meninggalkan rumah itu dan Alvin.


"Apa sungguh tak apa aku pergi begitu saja? Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih pada Alvin karena sudah memberikan semua kenyamanan untukktu." Batin Melody yang seolah ingin menatap balik Alvin, tapi Yudha tak membiarkannya. "Kan, sesuai yang aku duga. Yudha tidak akan menyukai ini. Harusnya aku trguh pada pendirianku yang tadi. Yudha, maafkan aku." Lanjut batin Melody.


"Jangan melihat balik!" Kata Yudha.


"Yudha, tapi Alvin memperlakukanku dengan baik." Kata Melody ia ingin bijak. Ia ingin melihat bagaimana Yudha menanggapinya. Ngetes? Hm, bisa jadi, meski beresiko juga karena Yudha jika sudah menyangkut dirinya dan Alvin akan menjadi sangat sensitif.


"Setelah seminggu lebih bersamanya, kau jatuh cinta lagi dengannya?" Tanya Yudha kesal.


Kok kesal ya? Kata-kata dari Yudha ini apakah pantas dilontarkan saat suasana sedang seperti ini?


"Aku tak pernah jatuh cinta padanya, kenapa aku harus jatuh cinta lagi dengannya? Jika kau tak niat menjemputku, sana pulang saja! Aku bisa pulang sendiri tanpamu!" Melody ikutan kesal.


"Melody!"


"..."


"..."


Mereka saling tatap.


"Maaf.." Kata Yudha. Pandangan Yudha melembut.


Melody kembali menangis. Ia memukul dada Yudha pelan. "Kau keterlaluan jika sedang cemburu. Aku senang kau protektif padaku, tapi kadang kata-katamu itu menyakiti hati." Kata Melody.


Yudha memegang tangan Melody yang digunakan untuk memukul dadanya. Ia mencium tangan itu. Menatap Melody lembut, lalu ia mendaratkan kecupan hangat di kening Melody. Kecupan tulus penuh kasih sayang yang hanya ia berikan untuk istri tercintanya, Melody.


"Maaf, aku memang selalu seperti ini jika menyangkut soal dia. Maafkan aku!" Kata Yudha.


Melody menyentuh kedua pipi Yudha. Ia harus mendongak ke atas agar bisa menatap wajah suaminya di malam ini. Ia ingin membuat perasaan Yudha agar menjadi lebih baik. Yudha memberanikan diri untuk meminta maaf karena kecemburuan yang membuat dirinya tak nyaman, maka ia juga harus memberanikan diri agar Yudha tak menyalahkan dirinya sendiri.


Pada dasarnya, dalam suatu hubungan, cemburu itu sangat diperlukan. Itu seperti bumbu cinta yang manis dimana jika diaplikasikan dalam jumlah yang tepat, maka akan menjadikan pondasi hubungan semakin kuat. Tentunya jika semua itu baik dirinya maupun Yudha memiliki tingkat kepercayaan yang besar akan satu dengan yang lainnya.


"Aku akan selalu memaafkanmu asal bukan soal wanita lain." Kata Melody.


"Lah, kau sama saja denganku." Kata Yudha.


Mereka lalu tertawa bersama. Rasa cemburu akan hadirnya lawan jenis lain memang membuat mereka bertindak di luar kendali. Terlalu overprotective dan berlebihan dalam menanggapinya. Namun inilah gaya bercinta Melody dan Yudha. Bukan kisah cinta monyet dengan segala bentuk cemburu yang membabi buta dan kelabilannya, tapo kisah cinta yang suci dimana cemburu membuat hubungan mereka semakin manis, semakin kuat, dan semakin dewasa.


"Suamiku sangat manis! Aku akan mencintainya seumur hidupku. Bahkan jika aku matipun, aku akan tetap mencintainya sampai akhir, sampai di kehidupan yang selanjutnya... Tuhan, aku tahu aku ini terlalu lancang sebagai manusia biasa, tapi aku percaya akan perasaan ini, aku percaya akan cintaku pada Yudha." Batin Melody.


Yudha berjalan beberapa langkah di depan Melody. Ia lalu berbalik dan merentangkan kedua tangannya. Ia menatap Melody sambil terus tersenyum. "Melody..." Panggil Yudha.

__ADS_1


Melody menatap Yudha dengan segala apa yang tengah Yudha lakukan saat ini. "Ya?" Katanya.


"Selamat datang kembali!" Kata Yudha.


Melody tersenyum manis. Yudha bisa juga menggoda hatinya. Nyatanya memang apapun yang Yudha lakukan, itu bisa menjadi sangat manis meski hanya sebuah polah tingkah atau perbuatan yang menurut orang lain itu sangat biasa. Namun, bagi Melody, apa yang Yudha lakukan saat ini itu adalah hal yang istimewa. Apa lagi ditambah karena sudah lama tak jumpa. Ini lebih dari sekedar membahagiakan, kan?


Melody pun berjalan cepat menuju ke arah Yudha. Memeluk Yudha untuk mencari kehangatan di sana. Menyesap bau badan Yudha yang teramat sangat ia rindukan. Sosok Yudha, figur suami yang selalu ia mimpikan di sepanjang malam yang menyapa.


"Tadaima, Yudha-kun." Kata Melody. Hal yang sangat ingin ia ucapkan saat ia bertemu dengab Yudha akhirnya mampu keluar dari bibir tipisnya. Rindu ingin bertemu akhirnya terwujud.


Tuhan memang baik dan pengertian, kan? Tuhan menjawab doa-doa darinya di setiap harinya. Ia tak akan melupakan untuk bersyukur. Ini adalah hari yang membahagiakan.


Tadaima: Aku kembali.


Mereka kembali berpelukkan dengan sangat eratnya. Membuat dua bodyguard di depan rumah itu salah tingkah. Dalam hati berpikir jika memiliki istri mungkin bisa bermanja-manja seperti ini? Apakah orang yang sedang jatuh cinta bisa membuat suasana menjadi pink meski malam ini seharusnya gelap yang menyapa? Apakah ini yang dinamakan iri?


"Tiada gal yang lebih membahagiakan dari hal ini. Aku dan Yudha bisa kembali bersama adalah anugerah yang luar biasa. Ini seperti sangat sulit aku percaya bisa seperti ini. Yang aku tahu jika akan banyak masalah saat aku bersama dengan Yudha. Aku mencoba mempercayai Alvin dan bersabar untuk menunda pertemuanku dengan Yudha. Namun aku kalah, aku tak mampu melakukannya. Jauh dari orang yang sangat aku cintai, membuatku lemah tak berdaya. Aku haus akan rindu yang menggebu ingin segera berjumpa dengan Yudha... Saat ini sudah terwujud. Harusnya tak akan ada apa-apa, kan? Segala hal yang buruk seperti kata Alvin harusnya tidak akan terjadi, kan? Alvin bilang jika penyerangan-penyerangan terhadap Yudha akan terus berlanjut, namun dalam seminggu lebih ini, Yudha masih baik-baik saja. Berarti memang tidak terjadi apa-apa, kan? Semya akan aman, kan? Aku yakin itu." Batin Melody.


.


.


.


Dalam rumah, ruang tamu...


Alvin hanya menatap diam bagaimana dua orang yang memiliki takdir yang terikat dengannya itu meninggalkannya sambil saling memeluk satu sama lain. Hatinya berkecamuk dan pikirannya kacau. Semua begitu membelenggu dan sulit untuk ia kendalikan. Menyadari jika saat ini dirinya adalah hanya manusia biasa membuatnya kesal, tapi ia cukup legawa untuk menerima takdirnya. Manusia memang tak akan bisa melawan takdir Tuhan.


"Teruslah saling melengkapi dan saling menguatkan seperti itu, jika kalian bisa. Kalian tak mengerti apa yang terjadi. Kalian selalu saja berjalan menuju arah yang berbahaya. Aku berusaha menawarkan surga, tapi bagi kalian tawaran dariku adalah neraka. Baiklah, jika memang kalian memilih untuk seperti ini, kita lihat apa yang akan menghampiri kalian setelah ini. Neraka yang tak pernah kalian bayangkan!" Batin Alvin.


Ada banyak hal semu dan putih di masa depan. Banyak hal yang sulit diprediksi akan terjadi. Meski otak sangat cerdas dengan segala sistematika perhitungan dan akurasi menjanjikan, numun yang namanya masa depan tetap saja Tuhan yang menentukan. Manusia memang hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk mencapai segala bentuk keinginan agar terwujud. Keputusan akhir tetap ada di tangan Tuhan. Sukses tidaknya, berhasil tidaknya, terwujud tidaknya, semua adalah rahasia Tuhan.


Begitu pun dengan Alvin, ia hanya perlu berusaha agar semua masih dalam kendalinya. Sebisa yang ia bisa, semampu yang dapat ia lakukan. Ia memiliki akal, ia memiliki keinginan, ia memiliki banyak hal yang belum ia capai. Saat ini, ia hanya sedang berusaha sangat keras agar semua hal sejalan dengan apa yang ia harapkan.


Lebih egois lagi, ia ingin semua berjalan sesuai dengan rencananya.


Dalam dalam yang kian melarut, Alvin menyeringai.


"Masa depan seperti halaman putih yang kosong. Tuhan memberikan hak bagi manusia untuk memilih jalannya masing-masing. Dan aku, aku pun memiliki jalan yang ingin aku tempuh. Aku akan berusaha sangat kerasa agar takdir yang aku inginkan disetujui oleh Tuhan. Aku percaya jika Tuhan akan memberikan balasan kepada hamba-Nya yang berusaha sangat keras. Dengan tanpa malunya, aku berharap aku akan mendapatkannya. Semua harus sesuai rencanaku. Meski ada gangguan sedikit, maka aku hanya harus menyentilnya agar kembali ke jalan yang seharusnya. Tak hanya menyanyi, dalam kehidupan pun improvisasi juga dibutuhkan.... Saat ini aku sedang berimprovisasi karena rencanaku sedang tak sejalan. Namun, semua akan kembali ke semula setelah matahari terbit. Ya, setelah matahari muncul nanti, semua akan baik-baik saja. Semua akan sesuai dengan rencanaku seperti semula. Aku hanya harus sedikit bersabar." Lanjut batin Alvin.


Ia menyeringai pasti. Semua harus sesuai dengan kendalinya. Semua harus sesuai dengan segalan rencana yang sudah dibuatnya. Jika ia sempat berimprovisasi karena tangisan Melody, maka ia hanya harus segera menjalankan planning B yang sudah ia siapkan juga.


Harusnya hitungannya tak akan meleset. Ia hanya perlu sabar menunggu.


"Kau, bawakan aku segelas kopi!" Pinta Alvin pada bodyguardnya.


"Baik, Alvin-sama."


Tak lama setelah itu, secangkir kopi hangat datang di hadapanya. Aroma harum kopi menyeruak hidungnya. Ia menyukai kopi akhir-akhir ini. Temannya kala malam dingin menghianatinya.


Ia menyesap kopi itu perlahan.


"Rencana B yang akan jauh lebih mengasikkan. Nah Yudha, apa kau sudah siap dengan segala konsekuensi terburuknya? Aku siap mengorbankan semuanya, apa kau juga siap melakukannya? Melody atau bahkan nyawamu sendiri, siapakah kau mempertaruhkannya? Ini adalah akibat yang harus kau terima karena menolak ajakanku untuk bekerja sama. Aku penasaran, sampai mana kau akan bertahan." Seringai Alvin.


.


.


.


Pokoknya makasih banget buat semuanya yang sudah mengikuti sinetron ini. Tahu kok, alurnya memang sangat lambat dan bertele-tele. 😅 Gayaku banget. Soalnya memang tidak pandai bikin alur cepat. Udah belajar, tapi kalau dipraktekin tetep aja susah. Hah.

__ADS_1


Selamat tanggal 1 di bulan yang baru, bulan november. Bulan kahiranku juga loh! Ah, nambah tua dehhh.. hehe.. Thanks udah mampir ya..


__ADS_2