MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 14: Ketemu


__ADS_3

Melody's side.


Melody kembali melanjutkan perjalanan meski ia harus menahan rasa sakit akibat jatuh dan terkilir. Sungguh, lecet di lututnya itu sangat perih. Ia meringis menahan rasa sakitnya.


Tertatih-tatih, nyeri, dan ketakutan.


"Tadi aku lewat jalan seperti ini kan?" Ia mencoba mengingat-ingat saat di dalam bus tadi.


Suara auman srigala sangat mengganggunya. Benar-benar sangat menakutkan. Melody bahkan berfikir jika ia akan dimakan serigala karena luka di kakinya. Bukankah darah mengundang binatang buas?


Ayolah, Melody tahu itu dari film hiu makan orang. Ya, rasa takutnya menjadi-jadi.


"Apa mereka akan menemukanku lalu memakanku? Ya Tuhan, Yudha. Kau dimana? Hiks.. Kenapa tidak pergi menolongku?"


.


.


.


Alvin mengayuh cepat sepeda ontelnya. Cepat, cepat, dan sangat cepat. Jalan menurun kali ini jauh lebih ringan di bandingkan menanjak tadi. Rasanya tidak peduli jika ia harus jatuh sekalipun. Ia hanya ingin segera menemukan Melody.


"Melody, sebaiknya kau baik-baik saja! Aku menghawatirkanmu." Gumam Alvin di sepanjang perjalanan mencari Melody.


.


.


.


Setelah hampir 15 menitan mengayuh sepeda. Alvin akhirnya melihat seluit bayangan samar-samar dari kejauhan. Ia mempercepat kayuhan pedal sepedanya.


"Melody." Panggil Alvin. Ia terengah-engah karena lelah. Alvin bahkan membiarkan sepedanya ambruk begitu saja.


Melody menoleh mendengar panggilan namanya. Alvin berdiri di depannya. Tanpa pikir panjang ia menghambur dan langsung memeluk Alvin dengan sangat erat, sangat erat! Erat sekali. Ia juga menangis sejadinya. Rasa perih dan nyeri di kakinya tak berasa saking senangnya bertemu Alvin, lebih aman karena merasa diselamatkan?


Alvin hanya mengelus rambut Melody dan mencoba menenangkannya. Membiarkan Melody menangis untuk mengurangi rasa takutnya.


Melody terlihat sangat buruk saat ini. Ini pasti sangat sulit dan begitu menakutkan bagi Melody. Suara tangisannya sampai seperti itu. Sesegukkan dan tanpa suara. Menangis tanpa suara itu membuat dada sesak.


"Sttt, tidak apa-apa, aku di sini."


Kata Alvin.


Melody masih memeluk Alvin dengan sangat erat.


"Ku-kufikir tidak akan a-ada ya-yang men-mencariku. Ku-kufikir, ka-kau adalah srigala ya-yang da-datang tadi. Ke-kena-pa, ka-kau lama se-sekali.. A-a-aku sa-sangat ta-takut."


Kata Melody terbata.


Ketakutan saat sendirian di tempat yang gelap itu sungguh bak mimpi buruk yang tak kunjung usai.

__ADS_1


"Maaf lama, jangan bicara lagi, tenangkan dirimu dulu!"


Melody mengangguk di pelukkan Alvin. Alvin membalas pelukkan Melody yang gemetaran itu. Ia memeluknya juga dengan sangat erat. Rasanya enggan melepaskan.


Seperti dulu, sewaktu bersama.


Masa indah itu, rasanya belum lama terlewati. Tubuh Melody terasa hangat, bau yang selalu ia rindukan. Tanpa sadar ia mengecup pelan pucuk kepala Melody.


Ia melepaskan tubuh Melody, ia menatap Melody dan mengusap air matanya. Mata bening itu memerah dan penuh air mata. Rasa takut tergambar jelas di wajah ayu Melody. Wajah yang sangat ia rindukkan. Senyumannya, tawanya, ocehannya, semuanya. Melody, hanya mengingat nama itu saja membuatnya kesulitan tidur.


Benar saja, ia memang sudah mencoba sekuat yang ia bisa. Seniat yang ia yakini. Nayatanya, ia memang tak bisa. Rasanya sangat sulit.


Seorang wanita bernama Melody.


Tidak bisa disangkal.


Wanita musim semi itu.


Masih bertahta di hatinya.


.


.


.


"Alvin-sen-senpai?"


Alvin terbangun dari lamunannya. Melody sudah berhenti menangis. Itu bagus. Ia lega. Akhirnya ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Melody.


Melody membonceng dengan pegangan kaos baju Alvin.


Alvin menyimpulkan sebuah senyuman. Jika dirinya diizinkan meminta lebih, maka ia tidak ingin waktu cepat berlalu.


Nyatanya. Ia sudah mengirim pesan pada Yudha jika ia sudah menemukan Melody. Dan ia juga sudah tahu pasti jika Yudha akan menyambutnya, bukan menunggu bak raja di kamar hotel.


Ada sisi lain yang menginginkan seperti itu.


Sisi lain itu meyakini jika Yudha pasti menghawatirkan Melody, sebagai suami.


Sebagai suami ya?


.


.


.


Benar saja. Semua seperti yang sudah Alvin duga.


Melody dan Alvin bertemu dengan Yudha setelah mengayuh sepeda tak begitu lama. Mungkin dua per tiga jalan menuju hotel.

__ADS_1


Alvin menghentikkan sepedanya. Ia menatap Yudha yang terlihat sangat khawatir meski laki-laki kaku itu mencoba menyembunyikannya.


Yudha berjalan mendekat, mendekati Melody yang masih duduk di boncengan sepeda.


Melody menundukkan kepalanya. Sungguh, ia yakin jika Yudha akan memarahinya.


"Melody.." Panggilan Yudha terdengar horor di telinga Melody. Ia mengeratkan pegangannya di kaos Alvin.


Suara auman srigala memang menakutkan, tapi suara Yudha berasa lebih menakutkan, seperti berada di dekat harimau.


Melody turun dari boncengan sepeda Alvin dengan sangat hati-hati, menahan rasa nyeri perih di kakinya. "Ahh.. sa-sakit sekali."


Yudha yang memang ingin marah berubah mimik wajahnya. Ia menyaut bahu Melody, membantu Melody berdiri dengan benar. Ia melihat ke arah kaki Melody. Dilihatnya darah yang sebagian mengering di sana. Yudha lalu jongkok untuk memeriksa luka itu.


Menganga.


Itu pasti sangat menyakitkan, apalagi di tempat lipatan seperti lutut.


Yudha menatap Melody dari bawah. Rambut berantakan, wajah kumal, air mata, keringat, menahan perih. Oh ayolah, bukan waktunya ia untuk marah, kan? Ia lalu menghela nafas.


"Naiklah!"


"Eh?"


Yudha berbalik, ia menunjukkan punggungnya.


"Naiklah, aku akan menggendongmu!"


"Ta-tapi aku berat.." Kata Melody hati-hati.


"Berhenti banyak alasan jika kau tidak mau memperparah lukamu!"


"Go-gomen." Ia menurut dan Yudhapun menggendongnya.


Sebelum berjalan agak jauh. Yudha menghentikan langkahnya. Karena terlalu lega melihat Melody kembali, ia hampir melupakan Alvin yang menemukan Melody.


"Alvin, terima kasih sudah membawanya."


Alvin yang sedari tadi seolah tak dianggap hanya mencoba tersenyum.


"Tidak masalah, Yudha. Kau yakin akan menggendongnya sampai hotel? Hampir dua kilo meter lebih sepertinya. Kau mau memakai sepedaku? Aku bisa berjalan sendiri."


Kata Alvin dengan senyuman seadanya.


"Tidak, Alvin. Aku akan menggendongnya saja. Kau pulanglah duluan."


Alvin menatap wajah serius Yudha. Ia pun menyetujuinya. "Aku akan menyuruh Nao atau Shuhei untuk menjemputmu dan Melody dengan mobil."


"Hn, arigatou."


Jujur, Melody ingin mengatakan jika Yudha sangat buruk dalam berkendara sepeda. Ia juga ingin tertawa badai karena mengetahui jika Yudha penah menabrak ayam-ayam di depan rumahnya. Namun niatnya ia urungkan, rasa lelahnya terlalu menguasai. Mood bercandanya sudah lenyap saat ini.

__ADS_1


Beruntungnya Yudha menolak tawaran sepeda Alvin, jika diterima, yang ada mereka berdua akan jatuh bersamaan. Yudha akan terluka dan luka di lututnya akan semakin bertambah parah.


Berjalan sambil digendong Yudha adalah pilihan terbaik. Lagipulan, Nao pasti akan segera menjemput mereka. Untuk saat ini, berdua dengan Yudha adalah pilihan terbaik.


__ADS_2