
Melody kaget, tak menyangka jika Orion menyukai ibu mertuanya. Menyukai dalam artian romantisme lawan jenis. Yang ia lihat selama ini, ibu mertuanya dan Orion itu tidak begitu banyak bicara. Bahkan saat bertemu sewaktu menjenguk kakek Wijaya pun, mereka berdua nampak biasa saja. Sama sekali tak nampak ada sapaan tegur sapa berarti di antara keduanya.
"Apa karena ibu menolak cintanya, maka paman Orion seolah bersikap asing pada ibu?" Tanya Melody.
"Mungkin saja. Nyatanya ibu sudah menyakiti perasaannya. Jadi hak dia untuk marah dan kecewa pada ibu. Ibu akan menerimanya. Lagi pula, ini adalah kesalahan yang sudah ibu perbuat." Jawab Mikan.
"Aku memiliki sudut pandang lain soal cinta atau perasaan, Ibu." Sepertinya Melody kurang setuju dengan pendapat sang ibu mertua.
"Maksudmu, Mel? Pandangan lain yang bagaimana?" Tanya Mikan.
"Soal kesalahan. Menurutku ibu sama sekali tidak salah karena sudah menolak cinta paman Orion karena setiap orang berhak memilih dengan siapa hatinya akan berlabuh, tapi, kembali lagi, Tuhan yang akan menentukan. Jadi jika paman Orion bersikap seperti kepada ibu, itu bukanlah salah ibu. Jika paman Orion memiliki hak mencintai ibu, maka ibu juga memiliki hak untuk menerima atau menolaknya, dan ibu ternyata memilih menolaknya. Paman Orion memiliki hak untuk tetap mencintai ibu atau melupakan perasaannya. Hidup bukan hanya sekedar pilihan, tapi juga tanggung jawab dan perjuangan." Jelas Melody.
Mikan tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Hoho, menantuku yang sedang hamil ini rupanya sudah sangat dewasa pola pikirnya. Yudha pasti bahagia bisa bersamamu. Melody, terima kasih sudah membuat perasaan ibu menjadi lebih baik!" Kata Mikan.
Melody menggeleng. "Ibulah yang selalu bisa mengendalikan diri dengan baik meski banyak hal di luar kuasa ibu. Jika aku berada di posisi ibu, secinta aku pada Yudha sekali pun, jika dia sampai menghamili wanita lain, maka tanpa pikir dua kali, aku akan meninggalkannya. Aku akan menghilang sampai dia tidak akan pernah bisa melihatku lagi!" Kata Melody.
"Sayang, itu horor." Mikan merasa ngeri. Melody memang bukanlah dirinya. Melody memiliki cara berpikirnya sendiri dan ia menghormatinya.
Siapa sih yang mau bersikap bodoh dan berhati besar seperti dirinya? Dibutakan oleh cinta.
Sebenarnya bukan hanya karena itu. Lebih jauh lagi jika ia merasa tidak bisa bersama laki-laki lain setelah tubuhnya dicicipi oleh Yoga.
"Meski horor, tapi asal Yudha tidak selingkuh, maka semua akan baik-baik saja. Aku hanya perlu mencintainya setiap hari, kan?" Kata Melody.
"Yudha akan senang mendengarnya. Di antara kalian berdua, cinta Yudha sepertinya sangat besar. Dia bisa gila jika tidak bersamamu." Kata Mikan.
"Cintaku lebih besar ibu! Sampai ke luar angkasa!" Tawa Melody.
Pembicaraan soal masa lalu pun kembali dilanjutkan.
.
.
.
FLASHBACK ON
Waktu berganti. Keesokan harinya, Yoga menemui Mikan di balkon kamar.
Semenjak kasus 'pelecehan' yang dilakukan oleh Yoga dan kehamilan Kurenai, Mikan menjadi lebih sering merenung sendirian. Entah di kamar, di taman, atau di balkon sama seperti saat ini.
"Makanlah..." Kata Yoga lembut. Ia membawa senampan makanan dan minuman. Ia lalu meletakkannya di meja dekat Mikan duduk sambil menekuk kedua lututnya.
Mikan menoleh sekilas ke arah makanan yang Yoga bawa. Sup ayam mix jagung, nasi putih, pancake kacang, dan air putih. Jika dalam.keadaan biasa, maka makanan itu akan menjadi sangat menggoda. Namun tidak dengan saat ini, dimana makanan itu enggan bersahabat dengan lidahnya.
Merasa tak ada jawaban, Yoga mengambil sendok, mengambil sup ayam dan nasi putih, lalu berusaha menyuapi Mikan.
"Kau tidak makan malam kemarin, kau bisa sakit jika tidak makan. Makanlah!" Kata Yoga.
Mikan lalu menepis sendok berisi makanan itu. Yoga yang tak sigap akhirnya membuat sendok berisi makanan itu terjatuh ke lantai balkon.
"Maafkan aku! Aku mohon, maafkanlah aku, Mikan!" Kata Yoga. Ia bersimpuh di depan Mikan yang sedang duduk.
Mikan menurunkan kakinya. Ia menatap tajam Yoga. Ia masih marah dengan laki-laki di hadapannya ini.
"Maafkan aku! Aku mohon, maafkanlah aku, Mikan!" Ulang Yoga.
"Kau mengakui kesalahanmu dan meminta maaf kepadaku. Andai kata, kesalahanmu aku maafkan, lalu apa lagi?" Kata Mikan dingin.
Sesungguhnya ia ingin membentak, tapi ia tak mau melakukannya. Jika ia membentak Yoga, maka itu artinya ia sudah kalah dengan emosinya. Ia tak mau dikuasai emosi dalam menghadapi masalah seperti ini.
"..." Lalu apa lagi setelah dimaafkan? Yoga sama sekali tidak tahu harus apa lagi. Pencapaian tertingginya saat ini hanya ingin minta maaf pada Mikan.
:Kau sama sekali tidak pernah belajar. Kau sama sejak dulu. Mempermainkanku seenak jidatmu. Kau sudah tahu aku menyukaimu sejak dulu, kau mengabaikanku. Aku memakluminya karena aku pikir, kau tidak menyukai hal-hal yang berbau tentang perjodohan. Lalu, di saat aku ingin menyerah ketika kita sekolah menengah atas, kau memberiku harapan dengan membalas cintaku. Aku pikir itu adalah angin segar dan siraman pada bibit cintaku padamu yang hampir mati. Namun lagi-lagi. Lagi dan lagi, kau mengacuhkanku tanpa sebab yang jelas. Dua hari atau seminggu, aku memaklumi karena pekerjaanmu yang menunpuk. Masalah kau yang mengabaikanku belum mendapat kejelasan, kau malah meniduriku. Kau mengambil harha diriku sebagai putri keluarga Yamaguchi!" Kata Mikan panjang lebar.
"..." Yoga bukannya tutup mata. Ia juga menyadari sikapnya yang keterlaluan selama ini. Bersimpuh 24 jam pun sepertinya Mikan tetap tidak akan memaafkannya.
"Masalah kau yang meniduriku belum usai, eh kau datang membawa wanita tidak jelas dan bilang dia sedang mengandung anakmu? Apa ini prank? Hahaha... Kau benar-benar ya. Selamat, selamat Yoga-san, selamat karena sudah berhasil menghancurkanku!" Kata Mikan tertawa miris sambil bertepuk tangan.
"..." Yoga hanya menunduk dan masih di posisi yang sama. Dirinya ini memang sudah sangat jahat pada Mikan.
"Lalu dengan muka tebalmu itu, kau bersimpuh untuk meminta maaf kepadaku? Hei Yoga-san, meski sebentar, apa kau pernah berpikir bagaimana rasanya berada di posisiku?"
"..."
"Pasti tidak, kan? Buat apa kau bersusah payah melakukannya. Kau sadar betul, aku ini hanyalah mainanmu. Aku ini hanyalah bonekamu. Yang bisa kau perlakukan seenak dirimu. Yang bisa kau sayang ketika butuh. Yang bisa kau buang ketika sudah usang. Kau sama sekali tidak pernah menganggapku ada. Tak hanya kekecewaan, tapi aku juga sangat membencimu. Aku sangat membencimu, Yoga-san."
"..."
Kata membenci terdengar menyakitkan untuk Yoga. Dadanya teriris perih. Apa yang Mikan tuduhkan kepadanya tak semuanya benar. Ia akui dirinya ini memang bejat karena miniduri dua orang wanita. Namun, soal perasaannya pada Mikan itu tak seperti yang Mikan tuduhkan.
"Kenapa hanya diam saja? Pantas saja. Itu semua memang fakta. Kau sama sekali tidak pernah benar-benar mencintaiku. Rasa benciku kini sampai ke darahku." Lanjut Mikan.
"Kau salah!" Kata Yoga.
Mikan sedikit memincingkan matanya. Yoga mengatai dirinya salah?
Yoga menatap Mikan. Ia menengadah ke atas karena posisi duduk bersimpuhnya lebih rendah daripada Mikan yang duduk di kursi.
__ADS_1
"Kau salah, Mikan!" Kata Yoga lagi.
"Ho? Jadi di sini yang salah aku rupanya. Setelah semua yang terjadi, aku juga yang tetap kau salahkan? Tak hanya main prank saja, tapi aku kau jadikan kambing hitam." Mikan mulai kesal, tapi ia berusaha tak kendalikan emosi. Ia masih ingin membahas hal ini dengan Yoga.
Semua kebuntuan yang membuat frustasi ini haruslah segera diakhiri.
"Bukan seperti itu, Mikan. Bukan itu yang aku salahkan darimu." Kata Yoga.
"Hm, aku salah lagi. Kini aku bahkan dicap salah nilai olehmu. Oke, jelaskan padaku letak kesalahanku itu yang mana!" Kata Mikan. Ia menjadi tidak sabar.
"Aku sangat mencintaimu melebihi apapun di dunia ini!" Kata Yoga tiba-tiba.
Hah?
Haruskah ia tertawa?
"Mencintaiku? Kau sangat mencintaiku melebihi apapun di dunia ini? Hahaha, hei Yoga-san, kau salah minum obat?" Kata Mikan. "Bercandamu lucu sekali. Aku sampai mau muntah mendengarnya." Tambahnya. Seketika ktu snyuman hilang dari wajah ayu Mikan. "Aku tak akan percaya lagi kepadamu." Lanjutnya.
"Aku tahu kau akan mengatakannya. Namun, perasaanku kepadamu itu adalah benar. Aku sangat mencintaimu." Kata Yoga.
"Stop it! Dont say anything useless again!" Kata Mikan.
"Kazehaya Yoga hanya mencintai Yamaguchi Mikan." Yoga tak peduli meski Mikan menyuruhnya untuk diam. Ia hanya ingin mengungkapkan apa yang seharusnya ia ungkapkan sejak dulu.
"Kau tuli ya? Aku tak mau mendengarkan ocehanmu lagi! Itu hanya halusinasi!" Bentak Mikan. Ia kini menutup kedua telinganya.
Mikan merasa tak ingin goyah lagi hatinya hanya karena kata-kata manis dari Yoga. Ia sadar mengenai betapa lemahnya hatinya itu. Ia tak mau terpedaya lagi akan madu yang ditawarkan oleh Yoga. Ia sudah memutuskan untuk membenci Yoga. Ia akan mengikuti apa yang ia percayai saat ini.
"Dari dulu, dari pertama kita bertemu di Villa keluarga sewaktu kita masih kecil. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama." Yoga tak peduli. Ia akan tetap mengatakannya.
"..." Mikan semakin kencang metutup kedua telinganya.
"Aku jatuh cinta pada senyumanmu."
"..." Orang bilang senyumannya adalah yang terindah. Ia memiliki lesung pipi di sebelah kanan dan gigi taring agak ginsul.
"Aku jatuh cinta pada rambut indahmu yang menari indah seiring angin yang membelainya."
"..." Rambutnya lurus lebat dan sangat halus. Ketika terkena angin, rambutnya tidak terlalu berantakkan.
"Aku jatuh cinta padamu ketika kau menangis karena terjatuh saat mengejar kupu-kupu."
"..." Waktu itu rasanya sangat sakit. Lututnya tergores tanah dan rerumputan. Perih dan mengeluarkan sedikit darah. Ia kesulitan jalan setelahnya.
"Aku jatuh cinta padamu ketika kau makan dan sisa nasinya menempel di pipimu."
"..." Dulu sewaktu kecil, ia memang sering sekali seperti ini. Sehabis makan, sisa makanan itu pasti akan ada yang menempel di pipinya, terutama sebutir nasi.
"..." Ia memiliki gaun putih khas pakaian Eropa. Gampangnya ini seperti gaun putih ala boneka semacam gaun yang dipakai Annabelle. Ia mendapatkannya dari ibunya. Ia bercerita pada Yoga soal gaun ini. Rupanya Yoga mengingatnya.
"Aku jatuh cinta padamu yang selalu melihatku dari jauh."
"..."
"Aku jatuh cinta padamu yang mencuri-curi pandang dari jauh."
"..."
"Aku jatuh cinta padamu yang malu-malu dan kaku ketika aku mendekatimu."
"..."
"Aku jatuh cinta padamu yang salah tingkah ketika aku berada di dekatmu."
"..." Ia tak menyangka jika Yoga tahu akan hal ini. Bukankah ia sudaj bersembunyi dengan sangat baik agar tidak ketahuan?
"Kau jatuh cinta padamu yang ketika makan, akan meletekkan nasi di piring sebelah kanan, lauk sebelah atas, dan sayur sebelah kiri."
"..."
"Aku jatuh cinta padamu yang apa bila bosan akan menghela nafas tiga kali."
"..."
"Aku jatuh cinta padamu yang apabila memakai sandal, akan memakai sandal pada kaki sebelah kanan dulu dan akan melangkah memakai kaki yang sama juga."
"..." Ia tak menyangka, Yoga bahkan memperhatikan dirinya sampai sedetail ini. Ini seperti penguntit yang tahu apapun yang dikerjakan oleh incarannya.
"Aku jatuh cinta padamu yang apa bila memakai tas, maka..." Yoga masih melanjutkan kata-katanya karena tak bisa berhenti mengekspresikan betapa ia sangat mencintai Mikan. Perasaannya pada Mikan itu sangat besar dan tidak sederhana.
Entah merasa bodoh atau bagaimana, tak terasa air mata pun keluar dari pipi putihnya. Mikan menangis karena mendengar penuturan dari Yoga meski kedua kupingnya sudah ditutup dengan tangannya sendiri, ia masih bisa mendengarnya.
Ia memang masih marah dengan Yoga. Namun perasaannya mengakui ketulusan dari perkataan Yoga. Ia merasakan kejujuran di sana. Ia merasakan jika Yoga tulus mengatakannya.
"Mikan, jangan menangis!" Pinta Yoga.
Mikan menghapus air matanya dengan cepat lalu berhambur memeluk Yoga. Membuat Yoga kehilangan keseimbangan dan goyah posisi bersimpuhnya akibat menahan beban tubuh dari Mikan.
Yoga membalas memeluk Mikan. Wanita yang sangat dicintainya itu sedang manangi tersedu-sedu seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan oleh orang tuanya.
__ADS_1
Mikan menangis dengan suara yang lumayan keras. Ini seperti Mikan yang menangis sewaktu masih kecil dulu.
.
.
.
Mereka berpelukkan cukup lama. Sampai suara tangisan Mikan berhenti dan tinggal sisa tersedunya saja.
Setelah menyudahi pelukkan mereka, Mikan duduk di lantai sebelah Yoga. Tak peduli lantai yang kotor, tak peduli lantai yang dingin. Perasaannya jauh lebih penting saat ini.
Yoga membantu menghapus air mata Mikan yang mengalir di sela-sela pipi. Kesalahan yang sudah ia perbuat pada Mikan itu sangat besar, tapi ia masih tetap egois karena rasa cintanya yang sangat besar.
"Akubakan memberimu kesempatan untuk menceritakan semuanya. Tentang kenapa kau bersikap dingin padaku, tentang kenapa kau mengacuhkanku, tentang selingkuhanmu, tentang bagaimana wanita asing itu bisa mengandung anakmu." Kata Mikan.
"Kurenai bukan selingkuhanku!" Kata Yoga.
"Tapi kau menyukainya!"
"Itu.."
"..."
"Mikan, dengarkan dulu! Dengarkan aku, aku akan memanfaatkan kesempatan yang sudah kau berikan kepadaku! Aku akan menceritakan semuanya!"
"..."
Yoga mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya. Ia sudah mantap untuk bercerita.
"Kau sudah tahu jika aku mencintaimu sejak dulu. Perasaanku terhadapmu semakin hari semakin bertambah. Seiring berjalannya waktu juga semakin besar. Namun, aku tak bisa egois waktu itu." Yoga mulai menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
"Kenapa?" Tanya Mikan.
"Karena Orion bilang kepadaku jika dia sangat menyukaimu dan ingin menikah denganmu. Sebagai sosok kakak yang menyayangi adiknya, maka aku kepikiran hal ini setiap waktu. Apa lagi saat kita dijodohkan, Orion nampak sangat sedih. Itu kenapa aku bersikap acuh denganmu. Namun, ketika Orion di luar negeri, sepertinya, ia tak lagi membahas dirimu denganku. Aku pikir, dua sudah melupakan perasaannya denganmu. Aku pun mengatakan cinta kepadamu saat kau ingin meninggalkanku." Jelas Yoga.
"..." Masuk akal juga. Mikan tahu jika Orion itu adalah sosok kakak yang baik untuk adiknya. Jangankan Orion, dengan adik lain dari anak angkat ayahnya Yoga, Wijaya, juga sangat baik.
"Aku sangat senang ketika akhirnya kita bisa menunjukkan kasih sayang sebagai pasangan waktu itu. Namun, aku salah. Aku terlalu jumawa yang berpikir jika perasaan Orion terhadapmu itu hanyalah perasaan biasa anak kecil. Jadi, dia bilang jika ia lulus sekolah dari Amerika nanti, dia akan melamarmu. Aku tak tahu harus bagaimana. Dia tahu kalau kita ini sudah dijodohkan sejak kecil, namun dia tetap nekat ingin melamarmu. Selama setengah tahun aku memikirkan cara agar membuatnya tak bertindak gegabah. Ini di fase, dimana kau sebut jika aku mengacuhkanmu lagi." Kata Yoga.
"..." Orion sangat mempengaruhi pola pikir Yoga. Apa ini hanya karena Yoga yang terlalu baik mennyayangi adiknya?
"Lalu untuk kenapa aku menidurimu saat itu, cerita versiku adalah kita diberi obat perangsang. Kau boleh mengataiku bejat atau apa. Tapi coba pikirkan baik-baik, menurutmu, apa aku tipe orang yang tega melakukan hal keji seperti itu kepada wanita yang amat dicintainya?" Kata Orion.
"..." Soal obat itu, Mikan sudah tahu. Ada yang aneh dengan minumannya waktu itu. Ia tertidur setelah tak lama meminumnya.
Masih terlalu bingung saja dengan efek samping obat perangsang itu. Ia kesulitan mengingat kejadiannya, tapi ia sedikit ingat ketika Yoga menciuminya dengan sangat brutal.
"Aku sangat kaget ketika aku bangun, kau telanjang di dekatku. Kata maaf saja pasti tidak akan cukup. Kau adalah wanita terhormat, aku tahu betapa hancurnya dirimu saat itu. Gomen ne, Mikan. Honto ni gomenasai." Yoga meminta maaf dengan cara bersujud di depan Mikan yang sedang duduk di lantai balkon.
Di Jepang, apa bila sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, secara personal sudah menyakiti, maka untuk menunjukkan betapa menyesalnya diri, meminta maaf dengan cara bersujud adalah cara yang paling tepat.
"Bangun, Kak Yoga! Jangan seperti ini!" Kata Mikan.
"Maafkan aku!" Seru Yoga. Ia tetap bersujud di depan Mikan. "Soal Kurenai, aku akan menceritakannya. Sejujur yang aku bisa. Jafi tolong simak baik-baik dan berikan penilaian dari pandanganmu!" Lanjutnya.
"..." Mikan tak langsung menjawabnya. Namun ia memberikan kesempatan kepada Yoga untuk bercerita.
Dengan masih dalam posisi bersujud, Yoga pun mulai menceritakan kisahnya dengan Kurenai.
"Aku bertemu dengannya di sebuah bar." Kata Yoga. Ia mengingat-ingat kisah pertemuannya dengan Mikan waktu itu. "Dia adalah pelayan di sana. Sebenarnya aku datang bukan buat minum, aku hanya ingin menengkan diri karena kepikiran soal rencana Orion yang ingin melamarmu." Tambahnya.
"..."
"Dia mungkin kasihan denganku karena aku datang ke sana tapi tidak tahu apa yang sebaiknya aku pesan. Kau tahu kan jika aku tak pandai soal minuman? Dia pun memberiku minuman. Setiap aku datang ke sana, dia melakukan hal yang sama. Kemudian kami saling berkenalan." Kata Yoga.
"..."
"Ketika aku mendengar jika pernikahan kita harus segera dilakukan, dipercepat, aku bertengkar hebat dengan Orion. Sebenarnya Orion dulu waktu kecil memintaku berjanji untuk tidak menikahimu, tapi aku melanggarnya. Hubunganku dengan Orion sudah memburuk jauh sebelum aku menidurimu. Sangat buruk malahan sehingga kami sangat jarang berbicara. Kedua orang tuaku tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi."
"..."
"Tekanan menikah dipercepat, kemarahan Orion yang bilang sangat membenciku, kebejatanku menidurimu membuat kepalaku seakan ingin meledak. Aku kembali ke bar untuk minum. Aku minum tak banyak, tapi sepertinya aku mabuk dan tak sengaja melecehkan Kurenai. Lalu tak lama setelah itu, dia mengandung anakku. Sebagai laki-laki, tanggung jawab adalah pilihan yang tepat, kan?"
"..." Di sini Mikan maupun Yoga tidak tahu jika Kurenai menjebak Yoga untuk tidur dengannya.
"Maaf, maaf karena menempatkanmu pada posisi yang sulit. Maaf juga karena meski sudah seperti ini, rasaku padamu tidak bisa hilang."
"Aku kasihan dengannya karena mengalami hal ini. Hamil di luar nikah pasti sangat berat." Kata Mikan.
"Dia seorang pelacurr." Kata Yoga.
"Apa?" Kaget Mikan.
.
.
.
__ADS_1
Sumpah ini panjang banget. Aku tak harus memotongnya dan akan dilanjutkan ke part berikutnya. Ah, sepertinya di chapter terpanjang yang pernah aku buat. Mendekati 3K kata. Hahaha. Gambare Minna! Semoga harimu bahagia! Jangan lupa bersyukur atas nafas yang susah Tuhan berikan ya..