MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Saudara


__ADS_3

Tidak Mungkin Bisa Lupa.


Sepertinya itu judul yang dipaksakan mengingat setelah sekian lama baru nongol di sini... Ya, jujur saya ini benar-benar terabaikan... Platform sana nuntut saya buat update tiaphari selama empat bulan berturut-turut, ini setengahnya saja belum dipenuhi, belom lagi platform Ungu, haduh... salah saya, masukin novel lebih dari satu judul, ketika semua lolos bersamaan, saat itu juga saya pusing pala belbi...


Gomen ne... gomenasai...


Saya bahkan melewatkan momen manis buat kasih nama Beby twinnya Yudha - Melody 😁


Sampai Alvin operasi yang nungguinnya juga lama. Bayangkan aja, orang normal operasi brapa hari, proses ini itunya juga lama, mbok? Hari ke 9 buat penamaan udah lewat woy!


Ya sudah... mari ke cerita saja dan yang jelas ini dipersingkat waktunya mengingat mau akhir dan emang dipaksakan untuk tamat.


But honestly, big thankfull for you guys, matur nuwun sudah ikuti kisah ini sampai sejauuuuh ini...


Oh ya, skalian promosi, yang main Innnovel sok atuh mampir baca karyaku yang judulnya Hamil Setelah Putus... greget dan lara ati isinya. 😁 Promosi dong .. iya promosi...


.


.


.


Time Skip...


Sidang perkara kasus yang menjerat Kurenai dan Tuan Han masih terus berlangsung karena polisi menemukan bukti-bukti baru kejahatan mereka berdua di masa lalu, sehingga pengadilan akan kejahatan mereka berdua sedikit ditaguhkan. Bukan berarti tidak dihukum, tetapi kasus didalami lebih dalam lagi agar mereka berdua benar-benar mendapatkan hukuman yang setimpal. Yang jelas hukuman mati dan seumur hidup itu jelas adanya.


Itu adalah sebuah kepastian.


Yudha menghampiri Alvin yang saat ini sedang berada di taman samping rumah sakit. Hampir setiap pagi Alvin akan berada di taman ini. Mia akan mendorong kursi rodanya sampai ke tempat ini.


Mia mengangguk kepada Yudha dan meninggalkan dua orang saudara beda Ibu ini. Mia mengerti dan memahami jika Yuda ingin berbicara berdua saja dengan Alvin. Ia berharap memberi privasi bagi kedua orang ini akan membawa hubungan Yudha dan Alvin semakin membaik.


"Sedang apa?" Tanya Yudha. Ia lantas langsung duduk di kursi taman yang berada di dekat Alvin. Kursi taman yang tadi digunakan oleh Mia untuk duduk.


Alvin menunjukkan sesuatu yang ada di tangannya kepada Yudha.


"Itu..." Yudha melebarkan kedua matanya ketika melihat sesuatu yang ditunjukkan oleh Alvin.

__ADS_1


"Ya... kau masih mengingatnya?"


"Ah, ... ya..."


Tentu saja Yuda ingat akan sesuatu yang ada di tangan Alvin. Itu adalah kartu UNO yang dulu merupakan miliknya. Ia memberikan kartu Uno ini kepada Alvin ketika mereka masih kecil dulu.


Itu adalah kartu UNO seri terbatas yang tidak dimiliki banyak orang. Yudha mendapatkan kartu UNO ini dari ayahnya ketika ayahnya sedang menjalankan bisnis di Italy.


"..."


"..."


Mereka berdua lantas saling berdiam diri.


Matahari pagi ini bersinar sangat terang, cukup menyilaukan mata. Namun tidak mengapa karena mereka berdua berada di bawah pohon yang cukup rindang sehingga matahari tidak mengenai mereka berdua.


Alvin memain-mainkan kartunya dengan cara memilah-milah, lalu menyatukan kembali, kemudian mengocoknya asal.


Sementara Yudha, dirinya yang masih setia di tempat duduknya tidak menatap kearah Alvin lagi. Ia menatap jauh pandangan ke depan, tapi tidak tahu apa yang ia tatap. Ada beberapa suster dengan pasien yang berjemur di bawah sinar matahari di depan sana.


Setelah beberapa lama, Alvin kemudian membagi kartu UNO miliknya yang sudah ia cocok tadi kepada Yudha. Yudha menerima kartu UNO itu, kemudian mereka main kartu UNO bersama.


"Aku menang..." Kata Alvin.


"Ya kau menang..." Kata Yudha.


"Tapi kau sepertinya sedang mengalah kepada diriku. Apa karena kau kasihan kepadaku sehingga kau memilih untuk kalah?"


"Haruskah kau mencurigai diriku sampai sebegitunya? Kau sudah menang dan itu memang berkat dirimu sendiri. Aku tidak mengalah demi dirimu, aku benar-benar membencinya jika harus mengalah." Yudha tersenyum.


Alvin ikutan tersenyum. Akhirnya Setelah sekian lama dirinya bisa menang dari Yudha.


Yudha adalah sosok yang yang mengajarinya bermain UNO untuk pertama kalinya. Dulu sewaktu dirinya kecil sangat takut jika Yuda tidak menerima dirinya mengingat dirinya merupakan anak diluar nikah Kazehaya Yoga. Namun, Yudha menyambutnya dengan baik, mengajaknya bermain kartu UNO, lalu di akhir Yudha juga yang memberikannya kartu UNO berharga milik Yuda ketika mereka masih kecil dulu.


"Selama kita berpisah dulu, aku selalu latihan main kartu UNO sampai sekarang agar suatu saat jika aku bermain dengan dirimu, aku akan bisa mengalahkanmu." Kata Alvin.


"Kau terlalu niat ingin mengalahkanku dalam permainan kartu UNO." Ucap Yudha.

__ADS_1


"Tapi, Aku sungguh melakukannya... meskipun aku ingin mengalahkanmu, tetapi bermain kartu UNO juga sangat menyenangkan. Aku jadi bisa mengenang kenangan masa lalu. Ini seperti pengingat untuk diriku jika aku memiliki seorang saudara yang memberiku kartu UNO, bernama Kazehaya Yudha."


Yudha dalam hati tersentuh. Dirinya bahkan tidak pernah berfikir jika kartu UNO yang ia berikan kepada Alvin akan memberikan efek sedalam ini bagi Alvin. Menurutnya, kartu UNO itu adalah hal yang biasa saja. Ia juga tidak akan sedih karena memberikan kartu UNO edisi terbatas itu kepada Alvin. Ia bisa membelinya lebih banyak lagi setelah itu. Beda dengan Alvin, bagi Alvin kartu UNO pemberiannya dijadikan seperti lucky item penuh dengan kenangan.


"Aku tidak harus menangis ketika mendengar kata-kata ini, kan?" Tanya Yudha.


Alvin tersenyum. "Ya, tentu saja... akan sangat jelek sekali jika kau benar-benar bisa menangis karena diriku."


"Meski aku menangis sambil ingusan sekalipun, ketampananku tidak akan pernah pudar." Kata Yudha bangga.


"Ya, kau memang dianugerahi wajah yang sangat sempurna. Ahli bedah kosmetik temanku pun bilang jika wajahmu mendekati sempurna."


"Kalau begitu aku akan bersyukur!"


"Bersyukurlah!"


Mereka berdua melakukan pembicaraan sederhana dan ringan. Pembicaraan tanpa arah yang dilakukan dua bersaudara ini. Selera humor keduanya benar-benar sangat buruk. Sama sekali tidak lucu, mau ketawa pun terasa sangat aneh. Ya, jujur saja ketuanya masih kaku dan sedikit canggung.


Masalah yang mendera mereka berdua tidaklah sederhana yang akan selesai dalam 1 hari. Mereka berdua butuh waktu. Namun, satu hal yang mereka yakini jika ke depan, hubungan mereka akan membaik seperti yang dulu. Mungkin saja malah akan jauh lebih dekat daripada yang dulu.


Keduanya sudah saling memaafkan diri masing-masing, sudah bisa menerima keadaan, dan mengikhlaskan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka memilih berdamai dengan takdir yang sudah Tuhan berikan kepada mereka berdua. Susah dan senang, sedih dan gembira, mereka menganggapnya sebagai warna dalam hidup. Jika susah dan sedih mereka alami, maka mereka hanya perlu percaya jika setiap manusia memiliki masanya masing-masing. Masa senang dan gembira pasti akan muncul setelah mengalami kesusahan dan kesedihan. Yang penting tidak banyak mengeluh dan selalu berusaha menjadi sosok yang lebih baik lagi hari ini, nanti, esok, dan seterusnya di masa depan.


.


.


.


"Saudara seperti bunga yang berbeda dari taman yang sama. Memiliki karakternya masing-masing dan kisahnya masing-masing. Aku dan dia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi sama, tidak perlu berusaha agar bisa berwarna yang sama... Yang perlu kami lakukan adalah menjadi diri kami sendiri yang apa adanya, tetapi senantiasa memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang jauh lebih baik... Aku ya aku, Yudha ya Yudha... Aku sangat menyayangi saudaraku satu-satunya ini. Dia jauh lebih berharga daripada cinta pertamaku... Rasa sayangku kepada Yudha malah membuatnya dalam bahaya. Ketika aku dalam bahaya, dia datang menyelamatkanku. Dulu dia juga seperti itu... dari dulu, Yudhalah yang memang selalu menyelamatkanku... Terkadang, menjadi seorang saudara lebih baik daripada menjadi pahlawan." - Kazehaya Alvin.


.


.


.


"Saudara itu sedekat tangan dan kaki. Meskipun tidak dibesarkan secara bersamaan, tetapi ada ikatan yang sulit dimengerti. Ikatan yang akan membawa kembali untuk bertemu. Takdir menjadi saudaranya Alvin bagiku adalah takdir yang harus aku syukuri. Setidaknya, aku seperti merasa bisa mengeluh dan mencari sandaran kepada sosok seorang kakak. Meski diriku ini berharga diri tinggi, yang rasanya tidak mungkin melakukan hal itu, tetapi sisi kekanak-kanakan diriku benar-benar ingin melakukannya... Menggelikan! ... Saudara mungkin terlihat cuek dan tidak peduli. Namun sebenarnya, aku selalu ingin tahu segala tentangnya dan selalu berharap ada di sisinya. Membangun bisnis bersama dan tertawa bersama meskipun hanya bermain kartu UNO... Apapun itu, aku bersyukur menjadi adiknya." - Kazehaya Yudha.

__ADS_1


__ADS_2