
“KENAPA HARI INI AKU SIAL MELULU SIH? HAH” Melody memukul keras stir mobilnya.
Ia lalu menangis. Ia tak ingin mengucapkan sumpah serapah atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini, tapi apa daya, hanya manusia biasa yang bisanya hanya bisa mengeluh.
Pergi dari rumah karena bertengkar dengan Yudha, di jalan terjebak badai. Parahnya lagi, kini ia sedang berada di jalan yang membelah pegunungan. Kanan kiri hanya ada hutan.
Mobilnya tak bisa lewat karena di depan ada pohon tumbang, mau mundur, ia tak bisa melakukannya. Ada pohon tumbang 10 m di belakangnya, ia selamat dari pohon yang hampir merobohi mobilnya tadi. Dan mirisnya, salju makin menumpuk, meski tak ada pohon tumbangpun, mustahil baginya untuk lanjut mengendarai.
"Sial. Kenapa aku harus mengalami semua ini? Terjebak sendirian di dalam mobil. Ini sama seperti aku yang tersesat di Okinawa. Hanya saja, takutku saat ini berlipat ganda. Ada nyawa lain di dalam rahimku yang harus aku lindungi."
Ini sudah hampir sejam Melody terjebak di dalam mobilnya. Ia bahkan berpikir jika mungkin saat ini ia akan mati karena azab dari Tuhan akibat kurang ajar pada suaminya. Pergi tanpa izin dan seenaknya saja.
“Apa yang harus aku lakukan? Jika aku nekat keluar dan berjalan, apakahkah ada pemukiman di dekat sini? Jika aku tetap bertahan, apa aku akan tetap selamat? Salju semakin banyak dan pepohan tua di kanan dan kiriku begitu menyeramkan.” Gumam Melody.
Ia lalu mengelus perutnya. Ia menjadi sangat khawatir.
“Yudha..”
😢
Dulu tak masalah ia terkena hal macam ini, tapi sekarang beda, ia tak lagi sendiri. Ia tengah mengandung, ada sosok yang harus ia jaga, ia selamatkan. Ketakutannya menjadi berlipat.
Keselamatan anak-anaknya tetap yang utama.
Ponselnya masih menyala, bahkan batrainya juga belum habis. Hanya saja, sinyal menghalangi keinginannya untuk meminta pertolongan. Sejenak ia berpikir, sepertinya tak ada juga yang akan menolongnya, siapa juga yang mau mempertaruhkan nyawanya di cuaca extrem seperti ini?
"Adakah seseorang yang akan menolongku? Tuhan, jika itu ada, tolong tunjukkan keajaiban-Mu padaku. Untuk anak-anakku yang belum terlahir ini.."
Suhu semakin dingin.
Salju menumpuk di kaca depan mobilnya. Semakin bertambah seiring waktu yang bergulir.
“Yudha, aku takut sekali. Ayah.. ibu..”
Melody yang ketakutan setengah mati hanya bisa menangis dan menangis. Ia tak ingin mati di tempat seperti ini.
Dari semua orang yang ia kenal, Yudha ada di urutan paling atas yang ia harapkan akan datang menolongnya.
.
.
.
Thok.. thok.. thok..
Suara ketukan kaca mobil terdengar. Seorang laki-laki bermantel tebal, memakai pakaian khas musim dingin tengah berdiri di samping mobil.
Melody yang kedingan langsung membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
“Akhirnya ketemu juga..” Kata lelaki itu.
Betapa kagetnya Melody ketika mendengar suara dan melihat seorang laki-laki itu. Ia langsung memeluk sosok itu. Ia menangis sekerasnya dan memukul-mukul pelan tubuh lelaki itu.
“Huwa, 😭, kenapa lama sekali? Kau tak tahu betapa takutnya aku saat ini? Hiks... kau jahat! Kau keterlaluan!” Kata Melody.
Ya. Kazehaya Yudha sang Pangeran Kampus yang sangat terkenal itu. Pangeran tampan yang menikahinya di musim semi, sepuluh bulan yang lalu.
Pangeran tampan yang menjadi ayah dari anak-anaknya.
“Maaf, maaf. Kau baik-baik saja?”
Ucap Yudha.
Melody mengangguk. “Bagaimana kau menemukanku?”
“Aku memasang GPS di ponselmu dan menguncinya sesaat sebelum kehilangan sinyal. Ada yang terluka?"
Suara khawatir Yudha terdengar begitu tulus di telinga Melody. Ada rasa hangat memeluk dadanya. Ia ingin menangis lagi karenanya.
"Tidak ada. Tidak ada yang terluka. Aku sama sekali tidak cedera."
"Syukurlah.." Wajah Yudha terlihat sangat lega.
"Hn."
"Ayo kita keluar dari tempat ini, di sini akan semakin berbahaya! Puncak badai akan segera menerjang wilayah ini. Kita harus segera pergi!”
”Tapi ini kan hutan, Yudha?”
Melody cukup ragu dengan ide dari Yudha.
“Harusnya dalam 3 Km lagi ada sebuah kedai ramen, kita bisa beristirahat di sana sembari menunggu badai mereda.”
Jelas Yudha.
"Kau yakin soal itu?" Tanya Melody memastikan.
"Hn, aku tak asing di wilayah ini. Dulu ayah juga kecelakaan di daerah ini."
Melody mencolos. Bagaimana Yudha bisa mengatakannya dengan sangat tenang seperti itu? Kecelakaan sang ayah itu berujung maut meski itu sudah lama berlalu, tapi bekas luka itu masih ada.
Melody mencengkram keras lengan Yudha. Ia hanya tidak tahu bagaimana harus menanggapi fakta yang baru saja ia dengar itu. Tidak mungkin Yudha baik-baik saja ketika mengatakannya. Hatinya berkecamuk. Meski Yudha sering kali membuatnya sangat kesal, tapi Yudha juga memiliki sisi yang tak bisa ia abaikan. Inikah yang dinamakan berbagi rasa?
"Jangan memandangiku seperti itu! Aku tak selemah yang kau kira." Kata Yudha.
Melody mengangguk. Ia harus percaya pada Yudha. Ada hal yang lebih utama dari itu. Keselamatan dirinya, Yudha, dan anak-anaknya.
"Ayo kita pergi ke sana!" Ajak Yudha sekali lagi.
__ADS_1
"Iya."
Yudha lalu melepaskan seatbelt milik Melody. Ia lalu melepaskan sarung tangannya dan memakaikannya pada Melody. Beruntung Melody memakai mantel yang cukup tebal sehingga mampu untuk menghalau hawa dingin yang menerjang tubuh.
Namun, Yudha tetap saja berusaha melepas mantel yang ia pakai meski sesaat Melody menghentikannya.
"Apa yang hendak kau lakukan?" Tanya Melody.
"Memakaikanmu mantelku. Kenapa?" Jawab Yudha.
"Aku sudah memakai mantel! Tidak usah banyak gaya untuk mencoba menyelamatkanku dengan mantelmu. Pakai saja, aku tak mau kau mati membeku!"
Yudha malah tersenyum tipis, meski kata-kata Melody cukup ketus terdengar di telinga. "Jadi kau tak mau aku mati? Takut jadi janda?"
Melody memanas meski udara di sekitarnya sangat dingin. Semburat itu tak nampak karena wajahnya memucat.
Yudha mengacak-acak rambut Melody dan kemudian memakaian sebuah topi tebal berbulu pada Melody.
Yudha meraih tangan Melody. Melody perlahan keluar dari dalam mobil. Sangat berhati-hati. Yudha membantunya.
Mereka berduapun berjalan menembus badai menuju kedai ramen.
.
.
.
Beberapa saat kemudian..
“Kau lelah?” Tanya Yudha. “Ingin istirahat?”
Melody menggeleng. Ia hanya semakin mengeratkan pegangannya pada jemari Yudha.
“Lebih baik kita segera sampai ke kedai itu. Kau tak memakai sarung tangan, Yudha. Kau pasti sangat kedinginan.” Jawab Melody.
“Kau ingin kugendong?”
Cih, Yudha sok kuat. “Itu tidak mungkin, aku hamil, baka!”
“Gendong depan..”
“Kita akan mati bersama sebelum sampai di kedai ramen karena kelelahan dan kedinginan.”
Hahahaha.
Dan merekapun tertawa.
Melody tahu jika saat inipun Yudha sedang khawatir, mungkin juga takut. Ia tahu tubuh Yudha gemetaran. Ia melihat rahut cemas itu nampak di wajah Yudha yang tertutup masker.
__ADS_1
Walau Yudha sok bersikap kuat dan baik-baik saja, sebenarnya itu hanya untuk menenangkan dirinya, hanya untuk tidak memperkeruh suasana. Jika Yudha bersikap seperti itu, ia juga akan mengikutinya, ia tak ingin semakin membebani Yudha yang jauh-jauh datang untuk menyelamatkannya.
Lebih jauh dari itu, Melody tak mengerti tentang perasaan ini. Ia tak melupakan bagaimana hubungannya dengan Yudha yang merenggang akhir-akhir ini. Apalagi beberapa jam yang lalu, ia bahkan bertengkar hebat dengan Yudha. Namun saat ini, saat Yudha menggenggam tangannnya, ia merasa tenang.