
FLASHBACK ON
Sebelumnya:
"Karena jika kau membenciku, maka kau akan cepat melupakanku. Kau tidak akan merasakan lukanya dalam waktu yang lama." Jelas Kak Yoga.
Oh..
Oke, aku sepertinya sudah paham arah pembicaraannya.
"Kau sungguh akan meninggalkanku rupanya ya?" Tebakku.
"Ya." Jawabnya singkat.
Tatapanku mendingin seketika kepadanya. Ternyata seperti ini akhir dari kisahku dengan kak Yoga ya?
.
.
.
"Kak Yoga, jadi ini saatnya aku dan dirimu berpisah?" Tanya Mikan.
"Mikan?" Bagi Yoga, Mikan yang bertingkah biasa saja saat mendengar ide perpisahan darinya adalah sesuatu yang tak biasa.
"Ada apa?"
"..."
"Ada apa?" Mikan kembali mengulangi kata-katanya.
"Kenapa kau biasa saja saat aku membahas soal perpisahan denganmu?" Tanya Yoga.
"Memang aku harus bagaimana?" Tanya Mikan balik.
"Ya setidaknya menolak atau menunjukkan reaksi tertentu." Jawab Yoga.
"Reaksi tertentuku ya seperti ini. Apa kau pikir, aku akan menolak ide untuk berpisah denganmu?"
Yoga mengangguk. "Ya."
Mikan tertawa. "Aku tidak tahu kau mendapatkan kepercayaan diri dari mana. Kak Yoga, itu tinggi sekali!"
Yoga menatap sendu. "Jadi hanya aku saja yang mencintaimu ya?"
Mikan lagi-lagi hanya tertawa. Ia sampai memegang kepalanya. Sakit juga lama-lama jika tertawa terus.
"Kak Yoga ini lucu ya? Orang penuh kontradisi seperti dirimu itu sebenarnya otaknya ditaruh dimana? Masih ada di dalam tempurung kepala atau tidak? Hei, dengar! Jika kak Yoga berada di sisiku, apa yang akan kak Yoga lakukan? Kak Yoga bilang sangat mencintaiku, tapi kak Yoga menawarkan ide untuk berpisah. Jika itu terjadi pada kakak, maka apa yang akan kak Yoga lakukan?"
"Bilang jangan pergi!" Jawab Yoga.
Mikan ingin menjambak rambutnya sendiri. Kasarnya ia ingin bilang sebenarnya Yoga ini waras tidak sih? Otaknya masih utuh atau tidak sih?
"Mana ada! Tentu aku akan menjadi wanita bodoh yang hakiki kalau aku sampai memintamu jangan pergi! Berhenti mencintaimu adalah pilihan yang paling tepat, Kak Yoga." Kata Mikan.
"Jangan berhenti mencintaiku, Mikan!".
"Hah?"
"Mintalah aku jagan pergi!"
"Hah?"
"Mintalah aku tetap di sini bersamu!"
"..."
"Mintalah aku tidak mencintaimu!"
"..."
"Aku... aku sangat ingin kau mengatakan hal seperti itu di akhir kisah kita. Aku sangat ingin mendengar kata-kata seperti itu keluar dari bibirmu."
"Kenapa aku harus melakukannya? Kau yang melukaiku, egois sekali kau meminta hal-hal yang tidak jelas seperti itu!"
"Aku tahu, dari dulu akulah yang egois. Akulah yang selalu membuat masalah dalam kisah asmara kita. Bahkan sudah sejak lama kita bersama pun, sampai akhir, aku terus saja menyakitimu. Aku dingin padamu, aku mengabaikanmu, aku menyatakan perasaanku padamu, aku sangat mencintaimu, aku memintamu menikah denganku, aku kini malah membuat keputusan untuk berpisah denganmu, lalu dengan tanpa malu, aku memintamu untuk mencegahku pergi. Mikan... aku tak akan lelah untuk meminta maaf padamu. Aku sadar akan dosaku yang menggunung ini. Padamu dan pada Yudha juga. Aku memiliki alasan untuk melakukan hal ini dan alasan ini sangat sulit untuk ditolak. Ampuni aku, Mikan!" Jelas Yoga.
"Aku tak sebaik yang kau kira, Kak Yoga. Aku bisa nekat dan aku juga bisa tanpa hati."
"Sodesu ka?"
"Hai, sodesu."
"Kau sungguh tak mau mengatakan hal itu?"
"Aku tak akan mengatakannya."
Mikan bangun dari ranjang miliknya dan Yoga. Ia lalu memakai kembali pakaiannya yang tadi sempat dilepas saat melayani Yoga.
Yoga juga melakukan hal yang sama seperti apa yang Mikan lakukan.
Selama mereka sibuk mengenakan pakaian, hanya suasana diam yang tercipta di antara mereka berdua. Mereka tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Aku tak menyangka jika kak Yoga bisa mengatakan hal seperti ini kepadaku. Aku yakin, aku ini tidaklah salah menilai tentangnya. Namun kenapa harus seperti ini? Aku tahu sorot mata teduhnya itu sama sekali tidak mengatakan hal yang bohong. Dia masih masih sangat mencintaiku. Jika dituduh siapa pembohongnya, maka akulah sang pembohongnya. Aku jelas sangat mencintainya, namun aku mengatakan tidak agar aku bisa menguatkan diri untuk tetap bisa bertahan dari luka saar dia bilang ingin mencintaiku. Karena aku tak ingin, aku tak ingin menangis di hadapannya. Dia bisa sangat sedih. Aku tak mau melihatnya bersedih.... Aku menoleh sekilas ke arahnya. Dia sepertinya sedang mengancingkan baju. Dia duduk di ranjang sambil membelakangiku.... Ah, punggungnya merapuh. Punggunya itu bukan lagi tempat yang kokoh untuk dijadikan sandaran. Jika tak lagi kuat seperti dulu, kenapa dia justru ingin meninggalkanku? Tak bisakah dia sedikit saja mengandalkanku? Tak bisakah dia memintaku untuk membantunya? Jika dia selama ini selalu memberikanku bahu untukku bersandar, maka saat ini aku pasti akan dengan ikhlas mengulurkan tanganku untuknya... Sungguh, sungguh aku tak mengerti... Tuhan, adakah jalan lebih baik lagi selain berpisah dengannya? Rasanya sangatlah berat. Membuatku tak kuasa. Bagaimana ini? Apa yang sebaiknya aku lakukan? Mampukah aku melewatinya?" Batin Mikan.
Mikan menjulurkan tangannya. Ia ingin menyentuh punggung Yoga. Tak sampai, ia pun mengurungkannya. Ia justru memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Ia ingin menangis.
Bukan hanya ingin, tapi air matanya sudah terjatuh.
__ADS_1
Mikan menangis juga.
Mendengar isakan lirih tangisan Mikan, Yoga yang sudah selesai berpakaianpun berbalik badan untuk memeriksa keadaan wanita cantik yang masih sah sebagai istrinya itu.
Yoga melihat beberapa kali Mikan menyeka air matanya. Ia juga melihat Mikan menutup wajah menangisnya dengan kedua tangannya yang ditakupkan.
Yoga yang takut Mikan kenapa-kenapa, ia lalu mendekati Mikan. Ia tidak berjalan memutari ranjang, ia berjalan dengan menggunakan kedua lututnya yang diteguh.
Yoga memeluk Mikan dengan sangat eratnya. Ia berharap jika rasa sedih Mikan bisa ia sembuhkan. Bisa ia obati dengan kemampuannya.
"Mikan, please dont cry! Kau kenapa? Apa sesuatu sedang terjadi dan sesuatu itu melukaimu? Kau menangis karena apa?" Tanya Toga.
Mikan mencengkram erat kemeja yang Yoga pakai.
"Jangan pergi, Kak! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku dan Yudha!" Kata Mikan.
Bersama dengan tangisannya, suara Mikan terdengar sangat pilu.
Yoga melebarkan kedua matanya. Setelah tadi Mikan bersikap dingin terhadapnya, kini Mikan nampak seperti Mikan yang biasa ia kenal. Mikan yang dulu sudah kembali. Ia tersenyum bahagia dan mengeratkan pelukkannya pada Mikan.
Ahh... rasanya enggan melepaskannya.
Rasanya ia ingin selamanya memeluk Mikan seperti ini.
"Aku..." Yoga terbata ketika ingin mengeluarkan suaranya.
Sesungguhnya malam ini ia ingin bercerita banyak hal. Namun semua kata-kata itu sangat sulit keluar dari tenggorokkannya.
Seperti tertahan dan enggan keluar.
Namun...
Meski sangat sulit pun, ia harus tetap mengeluarkan semua kata-kata itu. Ia tak ingin melukai Mikan, tapi nyatanya, apapun yang ia lakukan hanya selalu melukai Mikan.
"Kak Yoga, tak bisakah kau terbuka padaku akan masalah yang sedang kau hadapi? Jika kau sangat mencintaiku, kenapa kau ingin meninggalkanku dan Yudha? Kau malah ingin bersama wanita itu. Apa menurutmu itu masuk akal? Rasanya sangat sakit, Kak Yoga! Rasanya sangat sakit sekali ketika aku mendengar perkataaan seperti itu keluar dari mulutmu yang jelas-jelas kau itu juga orang yang sangat aku cintai. Nande? Kenapa? Kenapa harus seperti ini, Kak Yoga? Kau adalah orang yang sangat hebat dalam dunia bisnis. Harusnya dalam hal seperti ini pun kau juga harus hebat. Kau harus bisa menjelaskannya kepadaku! Aku mohon, jangan berputar-putar tidak jelas seperti ini. Ini... jauh lebih membuatku terluka." Kata Mikan.
Yoga mendengar baik-baik setiap kata yang keluar dari mulut Mikan. Ia memasukkannya ke dalam hati dan pikirannya agar bisa menjadi pekuatnya. Setelah dosa yang banyak itu ia ia perbuat, Tuhan sepertinya masih sayang terhadapnya dengan memberinya anugerah bahwa Mikan, orang yang sangat ia cintai masih peduli kepadanya. Mikan masih perhatian padanya. Sebagai manusia biasa, ia merasa sangat bersyukur akan hal ini. Ini sangat indah dan membuatnya merasa beruntung sudah hidup sampai detik ini.
"Aku harus meninggalkanmu dan Yudha demi kebaikanmu juga." Kata Yoga akhirnya.
Mikan menjauhkan diri dari Yoga. Mereka saling melepas pelukkannya. Mereka membenarkan cara duduknya dan duduk nyaman di pinggir sisi kanan ranjang tidur mereka.
"Yang ada hanya kau justru akan membuatku dan Yudha malah menderita karena keputusanmu untuk meninggalkan kami, Kak. Aku sangat mencintaimu, aku membutuhkanmu untuk bernafas dengan bahagia di dunia ini yang semakin hari semakin membuat jiwaku terasa sesak. Sedangkan Yudha, anak kita itu masih terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan dunia yang begitu liar dan tak mudah untuk berjuang di tengah-tengahnya. Dia masih butuh figur seorang ayah dan ibu yang lengkap untuk mendampinginya." Kata Mikan.
"Apa yang kau katakan itu sangat benar. Aku sendiri juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan. Aku juga sangat membutuhkan kalian berdua. Namun, jiwa dan raga seorang Kazehaya Yoga itu terbagi menjadi dua bagian. Setengah milikmu dan Yudha, setengahnya milik Kurenai dan Alvin. Rentetan masalah yang terjadi akhir-akhir ini memaksaku untuk membuat keputusan yang mana pilihan yang harus aku buat ini akan menyakiti salah satu pihak. Dan di sini, aku memutuskan kau adalah pihak yang akan tersakiti dari imbas keputusan yang aku buat. Maafkan aku, Mikan. Gomen kudasai! Tolong maafkanku meski itu sangat sulit." Jelas Yoga.
"Apa kakak sudah tahu dengan apa yang terjadi? Apa kak Yoga menyelidikinya sendiri soal orang-orang yang ada di sekitar Kurenai?" Tebak Mikan.
Yoga mengangguk. "Aku pikir, waktu itu aku marah kepadamu tanpa mengonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu itu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Harusnya aku mempercayaimu. Aku ini sudah lama mengenalmu, tapi aku malah meragukanmu dan membiarkanmu pergi dari rumah ini bersama dengan Yudha... Aku memutuskan untuk mencari tahu kebenaran dari tuduhanmu terhadap Kurenai dan aku menemukan fakta mengejutkan." Kata Yoga.
"Benarkan, wanita itu tidaklah sederhana?" Kata Mikan.
"Ya. Kurenai memang bukanlah wanita sederhana seperti yang aku kira selama ini. Aku pikir dia itu wanita pekerja malam yang akhirnya bertobat setelah bertemu dan memiliki anak denganku. Namun ternyata tidak, dia terlibat dengan organisasi besar yang mana masih abu untuk aku kenali. Aku tak mau ada rahasia di antara dia dan aku. Aku pun memaksanya untuk bercerita." Yoga akan membahas semua hal ini dengan Mikan.
Bertanya langsung pada Kurenai?
Seketika itu Mikan sadar betapa suaminya itu sangat lurus jadi orang. Kebaikan dan kejujuran Yoga kadang malah bisa boomerang. Apakah Yoga itu tak pernah berpikir jika Kurenai itu bisa saja membohonginya?
Bukan mau berprasangka buruk. Tanpa sepengetahuan Yoga, ia sempat bertemu dengan Kurenai beberapa kali. Ia menyadari perubahan sosok seorang Kurenai dimana Kurenai yang dulu ia tahu sebagai sosok yang menerima keadaan, kini bisa berubah menjadi sosok yang ingin merubah keadaan. Sosok yang berambisi ingin menguasai banyak hal. Matanya menyiratkan tatapan ke arah sana dan semua perkataan darinya mendukung untuk mencapainya.
Menurut Mikan, ada sesuatu yang lebih besar dari keinginan Kurenai. Sesuatu yang lebih besar itu melebihi keinginan untuk memiliki Yoga seutuhnya.
Yang Mikan tangkap ini seperti keinginan untuk menjadi seorang ratu.
Entah bagaimana ia memilih untuk menyimpulkan dengan kata yang tepat. Yang jelas, kata ratu adalah kata yang keluar dari otaknya.
Ratu itu identik dengan kerajaan, kan?
Lalu, kerajaan itu identik dengan kekuasaan, kan?
Ratu yang memiliki kekuasaan maka akan bisa melakukan banyak hal sesuai yang diinginkan?
Mikan menutup mulutnya. Apakah kesimpulan yang ia buat saat ini tidak berlebihan? Apakah Kurenai sungguh ingin menjadi ratu agar memiliki kekuasaan sehingga bis melakukan banyak hal dan tak ada lagi yang bisa menindasnya?
Mikan berandai-andai sangat jauh. Harusnya ia mendengar kisahnya dulu dari penyelidikan yang sudah Yoga lakukan.
Sebaiknya ia melihat dahulu bagaimana kisah Kurenai dari sudut pandang Yoga, suaminya.
"Mikan?" Panggil Yoga karena merasa jika Mikan justru sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Maaf, aku malah melamun. Jadi tolong ceritakan apa yang kau dapatkan setelah memaksa wanita itu untuk bercerita dengan dirimu!" Kata Mikan.
"Dia melengkapi cerita kisah masa lalunya yang tak diceritakan kepadaku. Semua yang ia pendam dan ia rahasiakan, ia ungkapkan padaku. Terutama soal penyebab kenapa dia bisa menjadi seorang pelacurr."
"Memang masa lalu seperti apa itu sehingga bisa menyeretnya ke dalam dunia yang amat kelam? Apakah ia dijual oleh orang tuanya?" Tanya Mikan yang sekaligus mencoba untuk menebak-nebak.
"Bukan seperti itu, Mikan. Ibunya memang seorang pelacurr juga dimana ia bahkan tidak tahu siapa ayah biologisnya. Namun ia bersumpah kepadaku jika ia tak ingin berakhir menjadi seperti ibunya dan mati mengenaskan. Setelah ibunya wafat ketika ia bahkan masih belum legal untuk berdiri sendiri. Ia berjuang sangat keras untuk bisa bertahan di tengah himpitan kerasnya hutan beton yang ganas untuk orang-orang berekonomi rendah."
"Apa karena sulit bertahan makanya dia pun memilih untuk jual diri?"
Yoga menggelengkan kepala. "Dia dijebak dan berakhir menjadi pemuas nafsu bejat dan dikurung selama hampir setahun."
Yoga sebenarnya tidak tahan untuk menceritakan hal ini pada Mikan. Namun Mikan harus tahu kebenarannya. Ia harus runtut menceritakan urutan kisah yang mendasari keputusannya untuk meninggalkan Mikan.
Yoga bisa melihat ekspresi terkejut Mikan. Ini adalah kisah yang mengerikan.
"Bercinta denganmu saja rasanya sakit sekali, lalu dia menjadi budak sex? Selama setahun? Konsep budak sex pastilah termasuk sex yang tidak wajar, kan?" Tanya Mikan antara penasaran dan takut juga.
"Bagaimana tidak sakit? Kau bercinta denganku dengan kaku. Kau terlalu menghawatirkan banyak hal dan tidak fokus bercinta denganku. Makanya sakit saat aku masuki!" Kata Yoga.
"Kau terlalu vulgar, Kak Yoga!" Seru Mikan.
__ADS_1
"Aku hanya bercerita yang sesungguhnya saat kita berhubungan intim. Jika kau seperti itu, yang ada apa aku lakukan kepadamu seperti aku yang memaksamu untuk bercinta denganku. Aku seperti memperkosamu setiap kali aku meminta hakku sebagai suami." Kata Yoga.
Mikan akui itu benar. Ia kaku dan memikirkan hal lain saat bercinta dengan Yoga. Tentulah ia masih kepikiran jika Yoga pernah bercinta dengan Kurenai. Ada sisi lain dari hatinya yang belum bisa menerima diri Yoga secara utuh.
"Kak, bukan waktunya untuk membahas hal tidak penting sepeti ini! Lanjutkan saja kisah Kurenai seperti yang kau ketahui!"
"Tapi itu penting buatku, Mikan!" Kata Yoga.
Suaranya sangat serius. Membuat Mikan ingin mendengar sedikit saja penjelasannya.
"Saat aku memasukimu, kau menangis kesakitan. Aku tahu kau ingin memintaku berhenti melakukannya meski mati-matian coba kau tahan karena kau ingat tugasmu sebagai seorang istri. Kau yang menderita karena sentuhanku membuatku menderita juga. Aku merasa kau sama sekali belum bisa menerimaku seutuhnya. Aku sedih jika kau seperti ini. Sex yang aku lakukan padamu sebagai salah satu wujud cinta dariku padamu, justru malah menyakitimu. Di situ sering mendoktrin diriku jika aku ini tak pantas untukmu. Ya memang aku tak pantas juga untukmu sih..." Jelas Yoga panjang lebar.
Delapan tahun menikah baru bisa mengungkapkannya.
"Maafkan aku, Kak Yoga! Maaf membuatmu merasa seperti ini. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan pahit akan kisah cinta kita." Kata Mikan.
Yoga memengang pucuk kepa Mikan. "Aku bisa mengerti, Mikan. Kau masih mau meniksh denganku saja aku sudah sangat bersyukur. Terima kasih sudah bertahan demi diriku."
Mikan menyingkirkan tangan Yoga dari kepalanya. Ia memeluk tangan Yoga yang ia pindahkan ke dadanya.
"Detak jantungku masih tak karuan seperti dulu ketika kau dekat denganku. Masih bisa salah tingkah karenamu." Kata Mikan
Yoga menarik lengan dan belakang kepala Mikan lalu mencium bibir Mikan.
Mereka berdua berciuman dengan sangat lama.
"Aku mencintaimu, Mikan." Kata Yoga sesaat setelah melepaskan ciumannya dengan Mikan.
Ia dan Mikan kembang kempis karena pasokan oksigen yang menipis.
"Aku juga mencintaimu, Kak Yoga." Kata Mikan dengan diwarnai senyumannya.
Dan mereka kembali berpelukkan.
.
.
.
"Aahh, aku ingin memelukmu seperti ini sampai mati." Kata Yoga.
Mikan mencoba melepaskan diri dari eratnya pelukkan dari Yoga. Gagal karena Yoga justru semakin memeluknya dengan kencang. Dadanya terhimpit dengan dada bidang milik Yoga.
"Kak, sudah pelukakkannya! Kita harus membahas kisah wanita simpananmu itu!" Pinta Mikan.
"Sebentar lagi! Sebentar saja!"
"Apa dia merindukanku karena seminggu ini aku tinggalkan?" Batin Mikan. "Ya sudah, sebentar lagi, sebentar saja." Katanya. Ia membalas pelukkan hangat dari Yoga.
.
.
.
Mereka saling melepaskan pelukkan masing-masing. Yoga kembali mengecup bibir Mikan. Sial, rasanya panas dan ingin lanjut ke tahap yang lebih intim karena gesekkan tubuhnya dengan Mikan. Namun ia tahan karena ada hal penting yang harus dibahas.
"Kau sedang ingin itu ya, Kak Yoga?" Tanya Mikan.
"Jangan bahas ke sana, Mikan! Aku jadi sulit untuk mengendalikannya!" Kata Yoga. Ia mati-matian untuk mengendalikan diri tapi Mikan malah bertanya-tanya soal itu. Hal ini membuat semakin panas.
"Padahal tak mengapa jika kau ingin." Kata Mikan seduktif di telinga Yoga.
"Sayang, ada hal yang harus kita bahas terlebih dahulu. Ini sangat penting. Kau paham, kan?" Kata Yoga.
Mikan mengangguk. "Aku hanya ingin menggodamu saja. Ternyata kau masih memiliki nafsu juga padaku."
"Apa yang kau bicarakan sih? Tentulah aku masih memiliki nafsu padamu. Aku kan sangat mencintaimu. Aku pun menatapmu dengan tatapan menginginkan. Aku normal, Mikan. Aku laki-laki yang normal. Dan hal seperti ini adalah wajar, kita juga sudah menikah." Kata Yoga.
"Iya-iya, aku percaya padamu. Ya sudah, lanjutkan lagi soal kisahnya selingkuhanmu itu!"
"Dia bukan selingkuhanku, Mikan!" Kok kesel ya? Bagaimana bisa Mikan mengatakan hal seperti itu sementara perasaannya ke Kurenai itu bukan pada tingkatan suka dalam pemikiran otak Mikan.
"Lanjutkan! Lanjutkan!" Potong Mikan.
Yoga menghela nafas. Ia pun kembali melanjutkan cerita tentang Kurenai.
"Setelah lepas dari budak sex, Kurenai mencoba bertahan hidup. Banyak hal yang tak sesuai harapannya. Ia butuh uang untuk hidup, ia pun akhirnya jual diri. Lalu saat bertemu denganku, dia tak lagi melakukannya." Kata Yoga.
Yoga menceritakan semua kisah yang ia ketahui. Ia tahu jika Kurenai sama sekali tidak berbohong akan hal ini. Ia bisa melihat kejujuran di mata Kurenai sewaktu menceritakannya. Ini juga yang menjadi alasan baginya bisa nyaman berbicara dengan Kurenai meski tahu bagaimana masa lalu Kurenai.
Faktanya, banyak orang yang memandang sebelah mata akan profesi sebagai seorang pelacurr. Banyak yang merasa risih dan jijik. Sebagian besar juga akan menjauhi. Namun ia bukanlah sosok yang seperti itu. Hatinya cukup manusiawi karena menganggap jika semua yang ada di bumi ini berkedudukan sama di mata Tuhan.
"Kisah yang menyedihkan. Aku tulus besimpati akan hal ini meski pun kau sudah tahu jika aku sama sekali tidak menyukainya. Lalu apa hubungannya dengan keputusanmu untuk meninggalkanku?" Tanya Mikan.
Yoga tahu bagaimana perasaan Mikan terhadap Kurenai. Pastilah semua tak akan mudah bagi Mikan untuk dilalui. Sebagian besar rasa benci Mikan terhadap Kurenai adalah akibat dari ulahnya. Untuk itu, ia tak bisa berbuat banyak agar Mikan mengurangi rasa bencinya. Ini bukan berarti ia membela Kurenai, bukan seperti itu. Ia hanya tidak ingin Mikan di dalam hidupnya dipenuhi oleh kebencian yang mendalam. Itu akan sangat mengerikan.
"Orang yang menjadikannya budak sex itu kembali. Orang itu sangat kejam dimana nyawa sama sekali tak berharga baginya. Dia mengancam akan membunuh Alvin jika dia berani melawannya." Jawab Yoga.
Miakan mencolos. "Alvin itu masih sangat kecil!"
Bagaimana bisa ada orang yang tega mengancam nyawa seorang anak kecil? Alvin itu seusia dengan Yudha yang masih 7 tahun. Hanya orang gila dan pengecut yang berani menjadikan seorang anak kecil menajadi targetnya.
"Kau benar. Tapi dia tidak pandang bulu. Dia bisa menyingkirkan semua apapun hal yang mengganggunya. Kini pun, dia memiliki agenda untuk menghabisi nyawamu, nyawa Yudha juga. Jika sudah seperti ini, aku tak bisa tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu." Kata Yoga.
Seketika itu, badan Mikan menjadi sangat lemas.
.
.
__ADS_1
.
Maaf kudu baca ulang soalnya ada tambahan chapter. Semalam ngantuk banget jadi postnya belum usai semua untuk chapter ini. 😅