MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chapter Spesial What If


__ADS_3

Ini adalah chapter spesial, tidak masuk canon cerita. Ini hanya untuk mengisi jeda agar tidak terlalu tegang karena Yudha dan Melody sedang pisah. Ke depan, aku akan menyelipkan kisah-kisah seperti ini di beberapa chapter.


Tipenya One Shoot ya. Jadi ini akan sekali tamat.


Ini adalah kisah What If yang artinya Jika.. Jika di sini, jika Melody dan Yudha tidak dijodohkan, tapi berteman sejak kecil.


Selamat membaca!


.


.


.


"Yudha, kau jadi menjemput Melody-chan?" Mikan yang sedang sibuk menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga di dapur melontarkan pertanyaan. Wanita itu nampak sedang menumis sayur-sayuran dan membuat seisi ruangan dipenuhi wangi bawang putih.


Yang ditanya, Kazehaya Yudha sedang duduk di depan rak sepatu. Laki-laki itu mengencangkan tali sneakers warna biru tua pada sepatu dengan campuran warna biru tua, biru muda, dan hitam miliknya. "Hn," sahutnya singkat.


Jam dinding berukuran sedang menunjukkan jarum-jarumnya ke angka tujuh dan dua belas. Kalau kata Tsuchiya-basan—ibu Melody—pesawat yang membawa Melody dari Negeri Paman Sam sana seharusnya tiba di Jepang pukul setengah sembilan. Ya, jika tidak delay atau karena hambatan lain.


Yudha bangkit dari duduknya, ia menyambar kunci mobil di gantungan dekat pintu rumahnya.


"Bu, aku berangkat," pamitnya kemudian.


Wanita yang masih mempersiapkan makan malam di dapur itu membalas ucapan Yudha lalu berseru, "Iya! Hati-hati. Sampaikan salamku pada Melody-chan."


"Hn." Lagi, Kazehaya Yudha melontarkan sahutan pamungkasnya.


Yudha menutup pintu rumahnya. Setelah menyalakan mesin kendaraan roda empat miliknya, ia menghentikan aktivitasnya sejenak. Pikirannya membawa dirinya tamasya ke masa lalu sejenak. Lumayan, sembari memanaskan mesin mobil juga, kan?


Melody Hwang. Perempuan itu adalah anak tunggal keluarga Hwang yang sudah sejak sebelum Yudha lahir tinggal di sebelah rumahnya. Singkatnya mereka adalah teman dari kecil.


Teman, ya?


Mungkin iya dalam sudut pandang Melody. Tapi tidak dengan Yudha. Apa laki-laki itu salah jika mengharapkan sesuatu yang lebih?


Mungkin memang baru saat SMA Yudha menyadari perasaannya. Saat berpisah dengan perempuan itu. Saat di mana Melody memilih untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Saat di mana ia merasa kehilangan lalu sadar bahwa afeksi yang selama ini ia berikan pada perempuan itu sudah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih.


Klimaksnya adalah ... beberapa bulan yang lalu. Kalau dihitung secara tepat, delapan bulan yang lalu?


Waktu itu, karena mereka terpaut jarak yang begitu jauh, jadilah komunikasi mereka via chat maupun telepon bertambah intensitasnya. Lalu kemudian, perasaan itu terungkap begitu saja. Tanpa bisa dibendung lagi.


Aku menyayangimu.


Yudha ingat sekali bagaimana paniknya dia saat menyadari obrolan yang baru ia kirim. Ya, silakan catat, Kazehaya Yudha panik.


Sebenarnya ia ingin menutupi obrolan itu dengan berkata bahwa chat yang barusan hanya keusilan temannya belaka. Hanya saja, ia sadar. Ia harus melangkah ke depan. Ia harus menghadapi Melody secara gentle.


Namun, realita selalu kejam. Kenyataan menamparnya sehingga membuatnya melangkah mundur.


Aku juga. Kita teman yang tak terpisahkan. Selamanya, kan? X)


Begitulah balasan Melody yang Yudha dapat. Tapi justru setelah accidental confession itu, semuanya malah berubah menjadi awkward. Intensitas dari komunikasinya dengan Melody jauh berkurang dibandingkan dengan sebelumnya. Malah sekarang sudah hampir setengah tahun mereka tidak berkomunikasi satu sama lain.


Sepertinya Kazehaya Yudha harus diberi penghargaan sebagai pemenang lomba tahan perasaan. Iya, dirinya mengakui bahwa ia nol besar dalam hal percintaan. Yudha merupakan idiot menyedihkan jika sudah menyangkut perasaannya. Ia bahkan tidak tahu lagi bagaimana cara memberikan respons yang benar jika harus berhadapan dengan Melody.


.


.


.


Oke, perjalanan kembali ke masa lalu selesai. Kini saatnya kembali pada Kazehaya Yudha yang sedang memanaskan mobilnya. Laki-laki itu mengurut pelipisnya pelan. Baik, mari hadapi kenyataan. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Determinasinya kali ini kuat.

__ADS_1


Ia menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Oniksnya mengedar ke sekitar jalan.


Setelah ini belok kiri dan kita akan menemukan sebuah taman bermain. Tidak jauh dari sana akan disambut oleh pintu keluar kompleks.


Yudha melewati taman bermain dan secara refleks menghentikan mobil hitamnya. Keningnya berkerut samar. Di tengah taman, disorot lampu, duduk sendirian bersama dengan sekoper besar dan beberapa tas tenteng.


Apa yang sedang Melody lakukan di sana? Itu benar Melody, 'kan? Apa Yudha baru saja menciptakan ilusi? Semenyedihkan inikah dirinya?


Yudha pun mengambil ponselnya. Ia men-dial nomor keramat milik Melody. Segera saja ia tempelkan ponsel ke telinga sambil memerhatikan gerak-gerik perempuan yang duduk di taman sana.


Bingo. Perempuan itu mengangkat teleponnya.


"H-halo...?"


Apa perempuan itu sakit? Kenapa suara Melody bergetar saat menjawab teleponnya?


Yudha pun mematikan mesin mobilnya.


Sepertinya benar, perempuan yang duduk di sana adalah Melody. Ia terlihat memesonakan dalam balutan mother jeansdan kaus putih gading lengan pendek yang kasual.


"Di mana?" Yudha malah membalas dengan kata tanya. Di luar ekspektasinya ternyata ... ia bisa menghadapi perempuan ini. Ia bisa mengendalikan sikapnya. Ia bisa mengontrol perasaannya agar tidak terlalu kentara.


"A-ah i ... tu, aku masih di bandara dan menunggu pesawat, Yudha-kun. Ngomong-ngomong jika kau sibuk, kau tidak perlu menjemputku, hehe," balas Melody dengan tawa canggung menutup kalimatnya.


Aneh. Ini sangat aneh. Kenapa suara Melody bergetar seperti itu? Kenapa juga perempuan itu terlihat menundukan kepala sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan? Dan yang terpenting ... kenapa ia berbohong?


Pelan tapi pasti, Kazehaya Yudha melangkahkan kakinya mendekati Melody. Posisi perempuan itu saat ini sedang membelakanginya sehingga mungkin saja ia tak menyadari eksistensi Yudha.


"Hn," balas Yudha singkat. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi yang berarti. Ia tetap melangkahkan kakinya sampai jaraknya dengan punggung Melody yang masih duduk membelakanginya tinggal sejengkal.


Yudha merendahkan kepalanya, menyejajarkan dengan telinga perempuan itu. "Aku baru tahu kalau bandara di Amerika pindah ke sini."


Dan untaian kata yang dibisikkan oleh Yudha berhasil membuat gadis itu memekik tertahan serta membuat ponsel Melody terbang akibat terlempar dari genggamannya. Melody benar-benar terkejut.


Yudha berjalan ke depan tempat duduk perempuan itu. Ia mengambil ponsel tak berdosa yang terkapar lemah di atas tanah. Dijulurkanlah ponsel itu kepada sang empunya.


Melody nampak mengambil napas dalam, "Terima kasih," ujarnya kemudian mengulaskan senyum.


Keganjilan yang tak berujung ini harus diakhiri. Yudha pun mendekatkan wajahnya pada Melody,


"Kau sakit?" Ia bertanya seperti ini karena wajah Melody nampak memerah.


Perempuan itu melirik oniks di hadapannya sekilas kemudian mengalihkannya ke bawah.


"Tidak. Aku hanya ... kedinginan, mungkin?"


Jaket hitam beraksen putih dilepas dari tubuh Yudha. Ia segera menyampirkannya ke bahu perempuan itu. "Sejak kapan kau berada di sini?" Ia bertanya lalu mengambil posisi di sebelah Melody.


Perempuan pemilik rambut merah muda itu memberanikan diri untuk melirik lawan bicaranya. Ia memandangi figur wajah Kazehaya Yudha dari samping. "Baru setengah jam, kok, Yudha-kun."


"Kenapa berbohong?" Yudha mengalihkan pandangannya dari depan ke samping. Membuat tatapannya bersirobok dengan netra hijau yang tak sempat melarikan diri dari jerat oniksnya.


Pertanyaan barusan bagai bom yang tepat menghujam jantungnya. Melody merasa bahwa ia kehilangan abilitas untuk berbicara. Ia berdeham, suaranya terdengar pelan, "A-aku hanya ... tidak ingin merepotkanmu."


Alasan macam apa ini? Sial, ia mengalami takikardi.


Laki-laki itu menarik sedikit sudut bibir kirinya ke atas. Ia menyentuh kening perempuan yang terakhir ia liat rupanya tahun lalu dengan telunjuk dan jari tengahnya. "Kau selalu merepotkanku, Melody."


Dan pada momen ini, Melody merasa bahwa waktu baru saja berhenti. Jantungnya berdebar kelewat kuat. Napas perempuan itu mendadak tidak beraturan. Mahasiswi kedokteran tingkat tiga itu memundurkan tubuhnya sedikit. Melody menggigit bibirnya, menyalurkan perasaan tak menentu yang ia rasa.


Tidak tahu kenapa, rasanya sakit sekaligus manis. Tidak tahu kenapa jantungnya berdebar tidak nyaman tapi ia tak mau bangkit dan meninggalkan sumber kegelisahannya ini. Tidak tahu kenapa hatinya gundah, ia ingin menangis, dadanya terasa sesak. Namun di atas semua itu … ia, Melody tetap ingin tinggal.


Salahkah ia jika harus menyebrangi batasan nyata yang sudah ada?

__ADS_1


Mereka bilang bahwa teman akan selamanya menjadi teman. Jika salah satu di antara dua orang teman berlawanan jenis melangkahi garis terlarang itu. Jika salah satu di antara teman mengucapkan kalimat tabu itu. Akankah mereka bisa terus bersama? Akankah pondasi dari hubungannya hancur begitu saja?


Mengabaikan segala kegundahan hati, Melody menutupinya dengan memamerkan deretan giginya, "Hm? Kau juga selalu merepotkanku, lho, Yudha-kun."


Ya. Untuk saat ini, yang terbaik adalah mengikuti alurnya. Menata hatinya supaya yang tabu kembali pada tempatnya semula. Supaya semuanya kembali seperti awal. Lagipula, Melody sendiri belum lama kok menyadari perasaannya. Jadi, belum terlambat untuk mengubur dalam-dalam semuanya sampai menghilang.


Kazehaya Yudha memiringkan kepalanya, "Contohnya?"


Senyuman yang terukir dari wajah Melody semakin lebar. Ia meluruskan tangannya sembari menunjuk sebuah objek di belakang mereka. "Coba kau naik itu. Aku akan menunggu di bawah," perintahnya dengan raut wajah menahan tawa.


Yudha berdecak nampak kesal. Meski begitu, laki-laki itu tetap menuruti ucapan Melody. Yudha menaiki anak tangga mainan yang cukup besar itu. Well, ini adalah sebuah perosotan.


"Dulu saat masih TK kau 'kan takut meluncur dari sana. Maka dari itu kau diolok-olok oleh teman-teman kita." Melody mengalunkan suara tawa indahnya, matanya sampai menyipit juga nyaris berair karena mengingat kejadian dulu.


"Dan waktu itu aku menyuruhmu untuk berlatih meluncur dari sana. Kau sempat takut tapi karena aku bilang akan menunggu dan menangkapmu di sini, kau akhirnya meluncur."


Perempuan usia dua puluh dua itu merentangkan tangannya, "Ayo meluncur. Aku akan menangkapmu lagi." Melody memamerkan senyumannya lagi.


Dari atas sana, Kazehaya Yudha memerhatikan sosok Melody lekat-lekat. Jaket Yudha nampak longgar di tubuh mungil perempuan itu.


Helaian rambut merah muda milik Melody yang diikat ponytail berayun ringan ditiup angin malam yang cukup menusuk. Dengan ekspresi bak papan, Yudha meluncur melawan gravitasi.


Alangkah terkejutnya Melody saat ia hendak menangkap Kazehaya Yudha, tangannya malah dicengkeram oleh laki-laki itu. Yudha menarik tangan yang berada dalam cengkeramannya mendekat, membuat wajah mereka hanya terpaut setengah jengkal. Tanpa sadar Melody menahan napas.


"Kau tak perlu lagi menangkapku," ucap Yudha lalu menggantungkan kalimatnya sejenak, "Karena kali ini aku yang akan menangkapmu."


Melody yang wajahnya sudah memerah membalas, "M-maksudmu?"


"Naik," perintah Yudha sembari menunjuk puncak dari perosotan ini.


Kini giliran Melody yang menaiki perosotan itu. Ia memandangi Yudha, dengan kaus abu-abu dan celana hitam di bawah sana. Dan perasaannya belum berubah, sekeras apapun ia menutupinya dengan sikap biasa. Debaran jantung yang menggila itu tetap menggodanya.


Melody menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum akhirnya melarikan diri dengan cara memejamkan mata dan meluncur. Angin malam menerpa tubuhnya yang melawan gravitasi. Untuk sesaat ia merasa kedinginan sampai akhirnya ia merasakan kehangatan membungkus tubuh petite-nya.


Aroma mint menguar masuk ke dalam indera penciuman Melody. Ia merasakan sepasang lengan kokoh merengkuhnya dengan kuat. Pelan-pelan Melody membuka matanya dan ia sudah berada dalam pelukan Kazehaya Yudha.


Keheningan menaungi mereka selama beberapa saat, cukup lama. Hanya dedaunan kering yang diterpa angin dan debaran jantung menggila yang berusaha memecahkan keheningan. Kedua makhluk fana berlainan gender ini sibuk berlayar dalam pikiran mereka masing-masing. Sibuk mempertanyakan tingkat rasional dari kejadian ini.


Cukup lama Yudha memeluk Melody sampai akhirnya suara bariton itu berbisik dengan rendah, "Aku berhasil menangkapmu, 'kan?"


Dan Melody mengabaikan segala logikanya. Ia mengabaikan segala kegundahan hati yang menghantui selama berbulan-bulan. Ia biarkan perasaan yang membuncah ini meledak. Tanpa sadar air mata jatuh dari pelupuk. Ia membiarkan hatinya mengendalikan tubuhnya.


Melody membalas pelukan laki-laki itu dengan kuat, seolah tak mau melepasnya.


"Kau sudah berhasil sejak lama. Aku menyukaimu, Yudha-kun."


.


.


.


Inspiration dan cc Ricchi 'Catch'. Love selalu ya.


.


.


.


Gomen ne, promosi dulu sebelum lanjut ke chapter berikutnya. 😅


MY EX

__ADS_1


Berkisah tentang Alyn yang putus dengan tunangannya, Tristan. 2 bulan putus, ia malah hamil. Tapi Tristan sudah punya kekasih baru. Yuk kepoin.


__ADS_2