MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sebuah Kabar


__ADS_3

Setelah selesai membereskan segala urusannya, mereka kembali ke Tokyo. Melody dan Yudha duduk di belakang, sementara Shuhei dan Mia duduk bersama di depan. Selama perjalanan menuju Tokyo, mereka memilih untuk diam. Yudha menyuruh Melody untuk tidur.


Sebenarnya Melody enggan memejamkan mata, pada dasarnya ia merasa sedang tidak mengantuk. Namun karena Yudha marah-marah tidak jelas, iapun mencoba memejamkan kedua matanya. Ia tertidur sambil bersandar pada bahu Yudha. Yudha memegang erat tangan Melody.


Dua jam perjalanan, Mia ikutan tertidur menyusul Melody yang sudah bermimpi indah. Rasa lelah memang tak bisa membohongi badan. Rasa lelah memang selalu bisa menang. Sekuat apapun menahannya, pada akhirnya akan tumbang juga. Semoga mendapatkan mimpi yang indah.


Apakah mungkin bisa bermimpi di dalam mobil? Mimpi yang indah lagi.


Rasanya tidak mungkin, tapi meski begitu nyatanya Melody saat ini sedang bermimpi ketemu dengan dua pangeran kecil yang memberinya dua buah apel khas Jepang yang terkenal mahal, apel Sekai Ichi yang dibandrol harga sekitar dua ratus tujuh puluh rupiah per biji.


Sekai ichi sendiri memiliki arti nomor satu di dunia. Memang wajar, nyatanya selain menyandang sebagai buah termahal di dunia, buah apel ini juga memiliki rasa yang sangat enak meski buah ini alami, asli bukan hasil teknologi pertanian.


________________________________________


Sekai Ichi pertama kali dibiakkan di Morioka, Jepang. Diperkenalkan ke pasar pada tahun 1974. Secara khusus, sekai ichi ditanam di prefektur Aomori utara, yang telah menjadi wilayah penghasil apel utama sejak 1875. Di antara apel Jepang, apel Sekai Ichi varietas yang paling menonjol. Rasanya manis ringan dan harum. Teksturnya agak keras, renyah, dan berair.



Lagi pengen apel, jadi bahan novel deh. 😅


________________________________________


“Apel.. Sekai.. Ichi..” Igau Melody.


"Apel? Sekai? Ichi? Hm?" Yudha mengernyitkan jidatnya. Melody tertidur sambil mengatakan hal seperti itu? "Kau sangat menginginkan apel terbaik Jepang itu ya? Sampai terbawa mimpi segala. Astaga." Gumam Yudha.


Yudha mendengar igauan dari istrinya itu. Melody menyebut nama apel Sekai Ichi beberapa kali. Akhirnya, Yudha meminta Shuhei untuk memesankan apel Sekai Ichi.


"Shuhei, apa kau bisa memasankan apel Sekai Ichi untuk Melody?" Tanya Yudha.


Shuhei menengok Tuan Mudanya dari kaca dalam mobil. "Apel Sekai Ichi?" Tanya Shuhei.


"Ya, apel Sekai Ichi. Kau bisa memesankannya?" Tanya Yudha lagi.


"Ya, tentu saja. Berapa banyak yang Tuan Muda inginkan?" Tanya Shuhei.


"Kalau satu ton, bagaimana?" Tanya Yudha dengan polosnya.


Jujur saja, saat ini Shuhei sedang kesulitan mengendalikan dirinya untuk menahan ekspresi kaget dan cengonya. Ini memang bukan yang pertama melihat Yudha yang selalu bertindak lebih akan keinginan Melody. Namu, apa harus berlebihan seperti ini? Satu ton buah apel?


Ahh, sehabis itu bisa langsung buka toko buah. Itu yang Shuhei pikirkan.


"Apa Anda berniat membuka toko buah apel, Yudha-sama? Apakah Anda tidak takut jika anak-anak Anda akan mirip apel nantinya karena Nona Melody terlalu banyak makan apel? Apakah Anda tidak takut akan hal itu?" Tanya Shuhei yang memilih untuk sedikit menggoda Yudha.


Tuan Muda sekaligus sahabat kecilnya ini memang sesuatu. Harus diperlakukan dengan sesuatu juga.


Dan rupanya Yudha terpancing. Yudha itu jenius, tapi kadang kepolosannya itu bisa membuat, anu, itu, emm, bo-bodoh.


"Ya sudah, sepuluh kilo saja. Lakukan pemesanan ulang setiap sebulan sekali!" Kata Yudha akhirnya.


"Ya, saya akan melaksanakan perintah Anda, Yudha-sama." Shuhei tersenyum senang bisa 'menenangkan' sikap overreactive Yudha tanpa harus berdebat dahulu.


Shuhei memang beda dengan Melody. Jika itu Melody, maka sudah pasti akan timbul pertengkaran yang luar bisa lebaynya.


"Hn. Thanks."


"Sama-sama."


Yudha selalu menuruti keinginan Melody yang bersifat karena kehamilan. Seperti sudah terbiasa.


Semenjak Melody hamil, Melody sering menginginkan makanan yang tak biasa. Yudha sudah membaca banyak referensi di Google, ibu hamil memang akan mengalami hal-hal seperti ini. Ia sudah siap dan tak kaget lagi.


Ia jadi ingat dimana awal-awal kehamilan Melody yang ngindam makanan tak kenal waktu. Waktunya orang tidur pulas, Melody ingin udon, kadang ramen, alhasil ia harus bangun malam-malam dan keliling kota Tokyo untuk mencarikan makanan keinginan Melody.


Jujur saja itu merepotkan dan membuat kesal, tapi anehnya, rasanya sangat seru memiliki pengalaman seperti ini. Untuk itu, ia tidak menyesalinya.


Yudha mengusap pipi Melody yang sedang tertidur bersandar di bahunya. Wajah ayu istrinya yang tak pernah membuatnya merasa bosan. Wajah ayu yang selalu membuat hati merindu. Wajah ayu yang menenangkan hatinya.


“Tidurlah yang nyenyak, calon mama! Kau terliht sangat lelah. Kegiatan harianmu di tambah PKL saja sudah sangat membebanimu, ditambah kehamilan kembarmu, kau menjadi harus bekerja ekstra. Kau sudah bekerja keras. Terima kasih sudah menjaga anak-anak kita dengan baik, dan maaf sudah membuatmu mengalamai masa-masa berat seperti ini.” Btin Yudha.


Yudha ingin mendaratkan kecupan di kening Melody sebagai tanda terima kasih atas semua hal pada Melody. Namun, tanpa ia duga, ketika ia sudah hampir mencapai kening Melody, Melody terbangun. Benturan tak disangka akhirnya terjadi dan tak bisa terhindarkan. Yudha mengaduh, melody meringis kesakitan. Tapi Yudha nampak lebih parah.


“Yudha kau baik-baik saja?” Tanya Melody. Ia menyentuh bibir Yudha yang berbenturan dengan jidatnya.


“Kepalamu memang sekeras batu ya?” Ejek Yudha.


“Sekeras batu seperti ini, tapi kau suka menciumnya, kan? Cih, dasar Tuan Munafik!” Melody mengambil tisu dari dalam tasnya. Ia lalu membantu membersihkan darah yang keluar di sudut bibir Yudha.

__ADS_1


Benturan baru saja memang cukup keras. Wajar saja jika saat ini bibir Yudha menjadi terluka. Darah keluar tak banyak, tapi namanya tetap saja darah, itu membuat khawatir juga. Apa lagi luka itu karena dirinya. Melody merasa bersalah.


“Lagian kau ini sedang apa sih? Kenapa dekat-dekat aku yang sedang tertidur, benturan jadi tak bisa dihindari, kan?” Tanya Melody.


“Aku mau mengelap salivamu yang keluar seperti jejak siput!” Jawab Yudha.


Melody langsung mengelap bibirnya dengan tisu. Apaan coba? Kenapa Yudha tak menyaring dulu kata-katanya sebelum diucapkan? Itu terlalu kasar.


Bagaimanapun dirinya adalah seorang wanita yang ingin dihargai. Ya bukan beartinya Yudha tak menghargainya, hanya saja mengatainya seperti itu membuat sakit hati juga.


“Hatiku sakit, Yudh..” Kata Melody.


“Maafkan aku, aku ini memang suka berbicara kasar terhadapmu.” Kata Yudha. Yudha memegang dada Melody dan mengusapnya.


Melody semakin kesal, ia melihat wajah tengil Yudha yang sedang menyeringai puas terhadapnya. Yudh pandai memanfaatkan semua kesempatan yang ada! Melody meraih tangan Yudha yang ada di dadanya, ia memelintirnya. Yudha kesakitan karena plintiran tangan darinya tadi memang cukup menyakitkan.


“Kau mau mematahkan tanganku? Bagaimana jika aku jadi tak bisa bisa melindungimu lagi dengan tangan ini?” Protes Yudha. Ia memegangi pergelangan tangannya yang Melody pelintir.


“Habisnya kau pegang-pegang dadaku. Maksudnya apa coba? Aku memang sakit hati sama kata-kata kasarmu tadi, tapi bukan berarti kau bisa memanfaatkannya dan malah berusaha mesum terhadapku!”


Kesal Melody.


“Kenapa sih kesal seperti itu? Yang aku pegang kan dadamu, bukan dada miliki wanita lain. Oh, jadi kau tak masalah jika aku menyentuh dada wanita lain ya?”


😡


Yudha menambah daftar kata-kata yang tak disaring sebelum diucapkan. Untuk ke dua kalinya ia merasa sakit di hatinya. Sekali-kali Yudha memang perlu diberi pelajaran agar tak seenaknya saja dalam bertutur kata.


“Berani melakukannya, aku tak segan-segan memilih Alvin-senpai!”


Ancam Melody.


Tuut.


Kalimat sakral yang tak seharusnya keluar dari dalam mulutnya.


Melody menutup mulutnya. Ia tak sadar sudah mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya ia ucapkan. Meski niatnya hanya untuk bercanda, tapi di posisinya saat ini, harusnya ia lebih bisa mengendalikan diri.


Ini berlebihan dan keterlaluan.


Melody melirik Yudha. Suaminya itu memilih untuk berdiam. Kesalahan yang baru saja ia lakukan pasti sudah melukai perasaan Yudha. Yudha menjauhkan diri darinya dan memilih duduk bersndar pada jendela mobil.


Nama Alvin memang begitu mempengaruhi mood Yudha. Apalagi akhir-akhir ini, ketika membahas Alvin, Yudha akan berubah menjadi sangat sensitif.


Ia harus segera minta maaf sebelum menimbulkan kecanggungan yang nyata. Ia tidak mau mengalami masa berat lagi dimana ia harus bertengkar hebat dengan Yudha.


Belum tentu ia akan kuat jika bertengkar setelah ini. Ia sangat membutuhkan Yudha. Ia tidak boleh bertengkar lagi dengan Yudha.


Melodypun menggeser pantatnya dan mendekat ke Yudha. Ia menyebut nama Yudha pelan, tapi Yudha mengabaikannya. Melody tahu kesalahannya, ia tak boleh menyerah untuk minta maaf. Kali ini kesalahannya cukup fatal.


Melody meraih tangan kiri Yudha. Ia lalu meletakkan tangan Yudha di atas kepalanya. Ia menunduk dan ingin menangis. Yudha tak ingin tangannya ditaruh di atas kepala Melody.


Yudha berusaha menarik tangannya, tapi Melody menahannya. Tangan Melody bahkan sampai gemetaran.


"Maafkan aku! Maafkan aku!" Kata Melody.


"Lepaskan tanganku!" Pinta Yudha.


"Maafkan aku, Yudh.." Melody enggan melepaskannya. Ia berusaha tetap mempertahankan tangan Yudha agar tetap berada di atas kepalanya.


Yudha tahu, Melody sangat ketakutan akan dirinya. Tangan Melody yang gemetaran dan Melody yang mulai terisak menangis.


"Kau mengerti kan bagaimana suasananya? Aku sudah memintamu untuk tak menyebut namanya dalam hal-hal yang berhubungan mendalam denganmu. Tapi aku seringan kapas menyebut namanya dan ingin bersama dengannya. Menurutmu aku marah wajar tidak?" Kata Yudha. Ada nyeri di dalam dadanya.


"Iya, kau memang berhak marah kepadaku. Yudha wajar marah karena ucapanku yang seringan kapas. Marahi saja aku, Yudh! Namun jangan abaikan aku! Aku lebih memilih kau bentak-bentak daripada kau diamkan. Aku tak bisa, Yudh. Maafkan aku! Tolong maafkan aku!" Kata Melody.


Suara Melody juga ikut terdengar bergetar. Ketakutan Melody akan dirinya yang seperti ini rupanya tulus. Tidak ada kata dusta di sana. Melody sungguh tak ingin bertengkar dengannya. Jika ia berlanjut marah pada Melody, maka Melody tidak akan baik-baik saja. Itu juga pasti akan menganggu kehamilan Melody.


Namun jika ingat apa yang dikatakan Melody mengenai keinginan untuk memilih Alvin itu keterlaluan. Sangat kerlaluan. Rasanya teriris-iris.


Yudha memegang bahu Melody dengan tangan kanannya. Ia merasakan ketakutan Melody lewat telapak dan jemari tangannya. Sungguh ia tak menyangka jika hanya dengan sedikit mengabaikan Melody, istrinya itu bisa setakut ini. Ia jadi merasa bersalah.


"Maaf, aku membuatmu takut ya?" Tanya Yudha. Suaranya melembut.


Melody sesegukkan. "Hm, aku taku sekali. Aku sangat takut kau akan mengabaikanku."


Yudha memeluk Melody. "Aku terima maafmu soal Alvin. Lain kali kuharap kau tak bercanda berlebihan seperti itu lagi. Mengetahui kau adalah mantan kekasihnya saja sudah seperyi mimpi buruk dalam hidupku. Jangan menambahi ketakutanku untuk kehilangan dirmu!"

__ADS_1


"Maaf, tapi kan aku tidak akan menghilang dari hidupmu. Walau kau uris aku, aku akan tetap nempel seperti hantu kepadamu."


Yudha tersenyum tipis. "Masih saja bisa bercanda."


"Tapi aku serius mengucapkannya, Yudh. Saat aku jatuh cinta terhadapmu, aku memutuskan akan terus mengejarmu."


Yudha melelaskan pelukkannya. "Kau wanitaku, Mel. Biarkan aku yang laki-laki mengejar dan mempertahankanmu. Kau cukuplah diam dan hanya menatapku!"


"Aku hanya akan menatapmu, Yudh. Jadi, bisakah kau jujur padaku?" Tanya Melody. Ia ingin meminta sesuatu pada Yudha. Sesuatu ini benar-benar memenuhi segala rasa penasarannya.


"Apa itu?" Tanya Yudha.


"Apakah artinya Alvin-senpai yang mulai menghianatimu?" Tanya Melody. Ini sangat serius. Ia memberanikan diri menatap mata suaminya.


"..."


"Yudha, tak bisakah kau menceritakannya padaku? Aku istrimu, Yudh. Aku merasa aku harus mengetahuinya."


"Ada pergerakan tak wajar di perusahaan dan Alvin terlibat." Jawab Yudha akhirnya.


Melody mencolos. "Alvin-senpai me-melakukan sesuatu hal seperti itu?" Tanya Melody tak percaya. Itu tidak mungkin, kan?


Alvin adalah laki-laki super baik hati yang pernah ia kenal.


Yudha mengelus kepala Melody. "Aku yakin dia tidak akan melakukannya." Kata Yudha.


"Yudh, suaramu terdengar ragu. Sejauh manakah Alvin-senpai melakukan aksinya?" Tanya Melody. Aksi Alvin pasti tidak sesederhana yang ia pikirkan. Yudha yang sangat mempercayai Alvin saja bisa seperti ini.


"Alvin menyetujui menjadi calon CEO Emperor Group di bawah dukungan fraksi yang selalu menentang kakek." Jawab Yudha.


"Apa menurutmu mereka orang-orang yang jahat?"


"Mega Proyek Miyagi adalah salah satu buktinya."


Melody melebarkan kedua matanya tak percaya. Mega proyek Miyagi itu menghadirkan banyak sengketa. Ada penggusuran tak manusiawai di sana. Ia saja sangat menentang aksi ini. Jika Alvin berada di fraksi yang mengerjakan proyek itu, maka itu artinya Alvin yang ia kenal sebagai senior yang baik itu terlibat di dalamnya?


"Aku harus berbicara dengannya!" Kata Melody.


"Jangan dulu, aku harus memastikan keterlibatannya di mega proyek Miyagi!" Kata Yudha.


"Baiklah, aku akan menurutimu. Tapi Yudh, tolong ceritakan apapun itu kepadaku! Kita sudah berjanji untuk saling terbuka, kan?"


"Iya, tapi kau tak perlu banyak mikir. Kau hanya perlu memikirkan kesahatanmu dan kandunganmu. Itu yang paling penting."


"Iya aku mengerti, anak-anak kita adalah yang utama. Kau tak perlu menghawatirkannya berlebihan. Aku tahu apa yang terbaik untukku dan kandunganku."


"Arigato sudah mengertiku, Mel.."


“Iya sama-sama, Yudh. Terima kasih juga kau sudah jujur padaku. Ngomong-ngomong, kau pucat sekali, Yudha? Kau tidak tidur ya tadi? Padahal aku tidak masalah dijemput esok hari.” Kata Melody.


“Hn, tidak apa-apa. Hanya tadi melihatmu tidur aku merasa senang. Jadi aku terjaga. Ya, ada urusan kantor juga yang cukup menumpuk.” Kata Yudha.


“Jangan terlalu memaksakan diri, Yudha! Aku tidak akan menuntut ini itu darimu, tetaplah sehat agar kau bisa selalu bersamaku dan anak-anak kita!”


“Hn, aku mengerti.”


Yudha mengelus rambut Melody. Tibatiba ponselnya berbunyi. Rupanya sang ibu mengabari. Ia melebarkan kedua matanya.


“Shuhei, kita harus cepat sampai ke Tokyo!” Kata Yudha serius.


Suaranya terdengar cukup keras. Membuat Mia ikutan terbangun karenanya.


“Yudha, ada apa?” Tanya Melody. Begitu juga Mia yang ikutan penasaran.


.


"Apa sesuatu tengah terjadi?" Tanya Mia.


“Kakek mengalami kecelakaan dan koma, sementara Aron-san belum ditemukan.” Kata Yudha.


Mereka semua mencolos kaget mendengar jawaban dari Yudha. Kenapa ada kabar yang tiba-tiba runyam seperti ini?


Yudha gemetaran. Melody menyadarinya, ia lalu memegang tangan Yudha untuk menenangkannya.


Perasaan menjadi tak menentu. Semua tidak tenang dan ingin segera sampai ke Tokyo.


“Shuhei, cepatlah!”

__ADS_1


Pinta Yudha.


“Baik, Yudha-sama." Kata Shuhei.


__ADS_2