
SEBELUMNYA...
"Oyabun-san, Yudha-sama dan asisten pribadinya tidak dalam satu mobil. Mereka mengambil jalur yang berbeda beberapa hari ini." Kata Informan Tuan Han.
Tuan Han langsung tertawa. "Bocah laknat, memang kalian pikir bisa mengelabuhiku? Kalian berusaha membiasakan diri untuk tidak bersama agar aku tak terlalu fokus pada Yudha atau salah satu di antara kalian? ... Kalian tangkap Yudha dan ikuti Shuhei!" Perintahnya.
"Baik, Oyabun-san!"
Setelah itu para bawahan Tuan Han pergi meninggalkan ruangannya dan ia kembali tersenyum beberapa kali.
"Tujuan utamaku adalah menghabisis nyawa Kazehaya Wijaya. Namun tua bangka itu saat ini sedang lumpuh total. Hidup tidak, mati pun tidak. Sedikit mengecewakan karena aku tak lagi harus bermain dengan lawan yang sangat sulit untuk di robohkan. Kazehaya Wijaya adalah lawan main yang jauh lebih menyenangkan daripada cucunya. Kazehaya Yudha lebih bodoh karena memiliki banyak sekali kelemahan. Cinta saja bisa membuatnya lemah seperti itu. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya Yudha sama dengan Yoga yang lemah akan cinta. Jika aku membuat cintanya Yudha mati, maka bocah itu tak akan bisa apa-apa lagi. Namun, aku memiliki ide yang menarik... Yudha, ayo kita bermain sedikit lebih lama!"
Tuan Han menuang minuman berakohol merk Macallan 64 Year Old in Lalique ke dalam gelas mini miliknya.
Ia kemudian mencium bau dari minuman itu dan dengan perlahan ia meminumnya.
Kenikmatan tersendiri karena mampu merasakan salah satu minuman keras termahal di dunia.
Minuman alkohol yang diproduksi oleh Macallan memang sengaja dibuat untuk memecahkan rekor. Semua minuman asal merk satu ini memang terkenal dengan harganya yang mahal. Dari sekian banyak jenisnya, satu minuman alkohol dari Macallan bisa dijual mencapai US$625 ribu atau sekitar Rp. 8,9 milyar!
Bagi seorang Oyanun sekelas Tuan Han, harga tersebut seperti ia mengeluarkan uang untuk membeli permen.
Man taste! No, this is how people called him Holang Kaya.
.
.
.
SAAT INI...
Shuhei's side..
Ia tahu saat ini dirinya sedang diikuti. Ada kendaraan yang membuntutinya semenjak ia keluar dari parkiran rumah sakit.
Beberapa kali ia harus melirik ke arah spion mobilnya. Mobil yang sama selalu ada di belakangnya.
"Tak hanya satu, tapi beberapa rupanya. Yudha-sama benar, mereka mengincar kotak ini. Kotak ini memang berisi senjata dewa yang diincar banyak musuh. Aku harus melindungi benda ini!"
Shuhei tancap gas, maka mobil yang mengikutinya semakin cepat pula. Ia pun harus mengendarahi melebihi batas aman berkendara.
"Ini waktunya aku menunjukkan kempuanku dalam berkendara!"
Shuhei dan Yudha dulunya mantan pembaldp liar. Maklumlah, ini hanya wujud kenakalan remaja saja. Paham ilmu racing, draging, dan drifting.
__ADS_1
"Jangan remehkan aku!"
Fi depan sana, Shuhei melihat belokan 180 derajat. Ia mulailah mengemudi dengan kecepatan 55-65 KM/jam. Kecepatan ini adalah batas aman untuk berbelok.
"Aku akan main aman dulu, ingin melihat apa kalian bisa menemaniku melepas rinduku pada jalanan atau tidak."
Shuhei mengemudikan mobil manual, ia memindahkan ke gigi pertama, merasa kurang nyaman, ia pun pindah ke gigi kedua.
"Belokan 180 derajat juga dikenal sebagai belokan rem tangan karena kurvanya sangat ekstrem sehingga harus menggunakan rem tangan. Ingat, hanya boleh berbelok seperti ini saat membalap atau berada dalam situasi-situasi ekstrem! Bahaya!"
Shuhei meletakkan tangan pada kemudi mobilnya dengan cara yang memampukan tangannya untuk memutarnya secara penuh. Jadi, ketika ia berusaha berbelok 180 derajat dan ke arah kanan, ia harus meletakkan tangan kanan pada sisi kiri setir agar ia bisa memutarnya secara cepat ke arah kanan.
"Sebelum menarik rem tangan, mulailah berbelok."
Shuhei membelokkan mobilnya perlahan.
"Injak kopling karena aku menggunakan mobil manual. Kemudian, putar kemudi dalam arah yang diinginkan hingga roda mobil terkunci."
Shuhei melakukannya dengan baik.
"Tarik rem tangan sepersekian detik sebelum berbelok. Dengan begini, roda belakang mobil akan terkunci sehingga mencegahnya kehilangan kendali... Luruskan kemudi dan roda depan mobil. Ini akan membuat posisi mobil berada pada arah yang berlawanan dari arah kemudiku... Lepaskan rem tangan saat meluruskan mobil, agar roda-roda serta arah geraknya kembali terkontrol..."
Shuhei menggunakan rem untuk mengembalikan mobil ke jalur yang benar karena mobilnya sedikit oleng. Ia menekan rem secara ringan agar membantu meluruskan mobil dan menjaganya agar tidak berputar dengan tidak terkontrol saat berkendara ke arah yang berlawanan.
"Ini sangat menarik ketika dulu aku dan Yudha-sama belajar hampir setiap akhir pekan untuk menguasai teknik ini. Kami membiasakan diri dengan cara berbelok seperti ini sebelum menambah kecepatan sedikit demi sedikit."
Shuhei kembali memeriksa spion mobil yang ia kendarai, orang-orang yang membuntutinya gagal mengimbanginya. Ia pun sedikit lega. Meski ia saat ini sedang main-main karena bernostalgia dengan masa muda dulu yang suka balapan liar dengan Yudha, namun ia sadar jika apa yang ia lakukan sekarang itu sangat membahayakan dirinya. Bahkan juga bisa menghilangkan nyawanya.
Benar saja, kelegaan yang ia rasakan hanya sebentar. Di depan sana ada 4 mobil yang menghadangnya di tengah jalan. Ia tak bisa lewat atau pun putar balik karena dari arah belakang, mobil-mobil lain dan mobil yang mengikutinya sejak awal menutup akses jalan untuk putar balik.
Shuhei pun berhenti di tengah-tengah mobil-mobil yang menghadangnya.
"Ini sudah malam, jalanan Jepang itu tidak seramai negara lain. Balapan di jalanan sini meski siang pun bisa dilakukan. Apa lagi dengan saat ini? Malam hari, jalanan sepi, kiranya ramaipun, mereka pasti sudah memblokade pengguna jalan lain."
Shuhei melihat beberapa orang keluar dari dalam mobil dan kemudian berjalan mendekati mobilnya.
Ia memang berhenti, tapi ia tidak mematikan mesin mobilnya. Ia mengamati satu per satu orang-orang yang ada di depannya. Kedua tangannya masih setia di atas kemudinya.
"Mereka membawa senjata tajam dan pistol. Ho, mereka yang diutus untuk membuntutiku rupanya orang pilihan. Profesional... Orang biasa tak akan mungkin bisa memiliki senjata api seperti itu. Mengurus surat izin kepemilikan senjata api itu sangatlah sulit. Namun, akan sangat dengan mudah mereka memilikiny ketila mereka memiliki koneksi dengan dunia bawah tanah Jepang. Obat, minuman keras, dan senjata api adalah ladang bisnis besar di sana."
Langkah orang-orang berpakaian hitam-hitam dan memakai masker untuk menutupi wajahnya pun semakin mendekati mobil Shuhei.
Shuhei mencengkram kemudi mobilnya dengan kencang. Tak takut mati? Ia hanyalah manusia biasa yang belum siap pergi menghadap menemui Tuhan-nya, karena merasa memiliki janji yang amat besar pada Tuan Muda sekalihus sahabat rasa saudara untuk tetap hidup apapun yang terjadi.
"Yudha-sama, Anda adalah manusia paling egois yang pernah saya temui di dunia ini! Anda sudah tahu pasti jika hal ini akan membuat nyawa meregang kapan saja. Namun Anda meminta saya untuk tetap selamat, tetap hidup untuk menjaga kotak ini. Hah, ini sangat merepotkan karena saya tidak bisa menghianati janji yang sudah saya buat dengan Anda."
__ADS_1
Salah seorang dari mereka mengetuk kaca mobil milik Shuhei, sementara sisanya menodongkan senjata ke arahnya.
Dua orang di arah samping kiri, dua orang di arah samping kanan, dan tiga orang ada di depan mobilnya.
Shuhei mendecih karena banyak sekali orang yang membawa senjata api. Ia membawanya juga, namun ia hanya memiliki dua tangan yang mana dalam posisi seperti ini, ia akan kalah cepat dengan empat helas tangan mereka.
"Anak Muda, keluarlah!" Pinta mereka.
"..." Shuhei hanya diam saja. Ia masih berpikir untuk mendapatkan cara terbaik dalam menghindari hal seperti ini di jalanan ketika nyawanya terancam.
Merasa diabaikan, laki-laki yang berusia di atas Shuhei pun kesal. "Anak Ingusan, bukan spionnya! Tunjukkan mukamu!"
"Jika aku lanjut dan menerobos cepat mereka yang menghadang, maka aku akan membunuh setidaknya tiga orang di depan mobilku, 2 orang sopir yang ada di dalam mobil yang tepat di hadapan mobilku juga, lalu empat orang yang berdiri di depan dua mobil itu, meski empat orang ini kemungkinan besar bisa menghindari mobilku ketika aku menerobos cepat, dan tentu saja aku juga bisa membunuh diriku sendiri. Ketika mobil ini aku tabrakkan ke dua mobil di depan sana, kemampuan mobil ini terbatas. Mobil tanpa bumper ini pasti akan penyok dan melukai diriku. Resiko kematianku mendekati 60%. Mari cari cara dengan resiko kematian lebih sedikit lagi! Ayolah, berpikir! Berpikir!"
"Serahkan kotak itu dengan baik, maka kami akan membebaskanmu dengan baik juga! Kau akan selamat setelah menyerahkan kotak itu kepada kami! Wahai Anak Muda, ini transaksi yang mudah bukan? Bermain dengan kami itu identik dengan pertaruhan nyawa, jika kami membiatkanmu hidup, maka itu adalah kebaikan hakiki yang bisa kami lakukan terhadapmu saja!" Kata orang itu.
"Begitu, kah? Hei Paman, nyawaku lebih berharga dari kotak ini! Bahkan mungkin nyawa kalian juga. Apa jadinya jika kalian tidak dapat mendapatka kotak ini bahkan kehilanganku juga? Indah bukan pulang tinggal nama? Ah, manusia seperti kalian bahkan rela meinggalkan keluarga demi kekuasaan." Kata Shuhei.
Kuping terasa panas ketika mendengar ocehan dari Shuhei.
"Apa maksudmu itu, hah?" Tanyanya keras.
"Tentu saja mencari kesempatan dengan keuntungan yang lebih besar." Jawab Shuhei, tak lupania juga tersenyum menyeringai.
Shuhei menginjak gas cepat dan memposisikan mobilnya ke arah depan, menyerong ke samping, dan kemudian mobil yang ia kendarai keluar jalur, terbang bebas, lalu masuk ke dalam sungai.
"Yudha-sama, aku bertaruh pada cara selamat dengan kemungkinan kematian paling kecil. Skenario terburuk ini terjadi padaku. Aku mempercayakan pada 50:50 antara selamat tetap hidup atau mati tenggelam karena pilihan konyolku sendiri." Batin Shuhei.
Mobil yang Shuhei kendarai tak nampak body-nya dari atas jalan. Hanya bekas ceburan air yang melingkar luas ke penjuru luar air sungai.
"Brengsekk! Bocah sialan itu memilih bunuh diri! Kalian cepat cari, dia membawa benda yang kita inginkan!"
.
.
.
Tempat lain, Yudha's side...
Tiba-tiba saja dadanya terasa tidak nyaman. Yudha memeganginya. Sesak dan sedikit ngilu di dalam sana.
"Ah, aku tak menyukai perasaan seperti ini. Ini seperti rasa ketika ayah berpamitan padaku waktu itu itu, saat itu, ayah kembali hanya tinggal jasad tanpa nyawa... Tuhan, aku menitipkan orang-orang yang aku kasihi terhadap-Mu, lindungi mereka sebagaimana Kau melindungiku selama ini! Permintaanku tak banyak, hanya itu. Walau aku tahu ini sangat egois, tapi ini hanyalah asaku sebagai manusia biasa."
Ia memantapkan diri untuk melaju ke depan. Apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan Melody. Malam ini, banyak hal yang siap ia pertaruhkan, ia tak boleh gagal semuanya.
__ADS_1