
"Terima kasih kalian semua. Terima kasih sudah menghiburku. Meski malu juga karena membahas hal-hal seperti itu kepada kalian. Namun aku tahu, kalian memberiku kekuatan untuk tidak stress karena Yudha tak ada di sini. Aku sayang kalian." Kata Melody.
Mikan dan Tsuchiya saling pandang dan menatap Melody dengan senyuman. Tugas orang tua itu banyak. Apa lagi mereka juga akan segera memiliki cucu. Banyak PR yang harus mereka benahi karena Tuhan menuntut untuk semakin dewasa dan semakin dewasa dalam menghadapi setiap masalah yang datang menghadang.
"Kau lebih kuat dari yang kau duga, Mel. Ibu juga menyayangimu." Kata Mikan.
"Ibu pun juga menyayangimu karena adalah harta berharga di dalam hidup ibu." Sambung Tsuchiya.
Pembicaraan tentang masa lalu pun dilanjutkan. Masih berkutit soal Yoga yang memutuskan untuk meinggalkan Mikan dan Yudha demi keselamatan mereka berdua. Sangat rumit untuk diceritakan. Sudah seperti satu judul novel saja panjangnya. Namun Mikan hanya ingin kisahnya diketahui oleh menantunya. Hal ini karena dia merupakan saksi hidup perjalanan kisah Kazehaya Yoga dan kunci sebagian misteri besar Emperor Group.
.
.
.
FLASHBACK ON
Yoga kembali memeluk Mikan. Berkali-kali ia sudah melakukannya. Namun rasa bosan itu tidak akan pernah ada.
Sebagai seorang laki-laki yang tak pandai mengungkapkan rasa, ia cukup menyesal karena tak bisa berbagi kisah dengan Mikan lebih awal. Harusnya ia tahu jika Mikan itu adalah sosok yang dapat menguatkan hati dan pikirannya. Harusnya ia tahu jika Mikan bisa menghiburnya meski banyak hal yang tak bisa diselesaikan dengan sesuai keinginan.
Setidaknya, jika ada Mikan seperti ini maka ia bisa bersandar, memeluk erat, dan mendapatkan kehangatan yang ada ketika rasa dingin menyapa jiwa.
"Izinkan aku memeluk, menciumu, dan merengkuh jiwamu dalam terakhir waktu!" Pinta Yoga.
"Kau akan kembali! Kau akan selamat dan keluarga kecil kita akan berkumpul seperti sedia kala!" Kata Mikan.
Yoga mengangguk meski Mikan tahu, tidak ada kepercayaan diri di sana. Mikan memilih untuk tidak mengungkapkan kecurigaannya ini. Ia merasa jika ini memang saat terakhir untuk bisa bersama dengan Yoga. Sungguh, pemikiran tentang ide berpisah karena kematian itu sangat mengerikan.
Mikan tahu, dirinya bukanlah Tuhan yang serba tahu banyak hal yang ada di dunia ini. Namun, ia mempercayai firasatnya. Hati dan otaknya memohon untuk keselamatan Yoga dimanapun Yoga berada nantinya. Namun lagi dan lagi, ketakutan soal firasatnya itu terlalu nyata dan memenjarakan segala rasa keberaniannya.
"Mikan, maaf, maaf karena kisah kita tak sebaik yang kau inginkan. Banyak luka yang kau dapatkan ketika kau bersamaku. Maafkan aku yang tak mampu memberikan kebahagiaan untukmu. Maafkan aku atas semua salahku." Kata Yoga.
Yoga meraih kedua tangan Mikan. Ia mencium tangan Mikan itu.
"Aku tak akan menyesali pertemuanku denganmu. Aku tak akan menyesali takdir kisah yang Tuhan berikan kepada kita. Siapa bilang banyak luka? Bahagianya lebih banyak ketika aku melihat dari sudut pandang yang lebih baik. Senyumanmu kepadaku adalah hal sederhana yang membuatku bahagia. Jika sehari kau bisa 10 kali senyum kepadaku, maka selama 8 tahun kita menikah dan 22 tahun kita mengenal, maka itu lebih dari cukup untuk mengalahkan semua luka dan derita yang hadir di dalam kisah kita. Kau paling mengenal diriku. Aku ini jaim, sok tidak tapi sebenarnya iya. Aku bahagia saat bersamamu. Harusnya kau bilang berterima kasih, bukan minta maaf. Karena apa?" Mikan tersenyum menatap Yoga. "Karena apapun yang Tuhan takdirkan kepada kita adalah yang terbaik untuk kita." Lanjutnya.
Seperti ada angin sejuk yang menerpa jiwa. Yoga beruntung memiliki Mikan di dalam hidupnya. Yang tak ia harapkan dari Mikan justru paling nampak dari diri Mikan. Mikan jauh lebih dewasa dari yang ia harapkan. Dengan begini, saat Tuhan memanggilnua nanti, ia tak terlalu khawatir banyak akan kehidupan Mikan setelah kematiannya. Yudha anaknya juga akan bisa mendapatkan lebih dari cukup kasih sayang dari ibunya.
Dalam hati Yoga berdoa jika Yudha kelak akan menjadi laki-laki yang jauh melampaui dirinya. Yang bisa lebih tegas dalam memahami perasaannya. Tentunya ia berdoa agar Yudha tidak terjebak dengan kisah cinta yang rumit seperti yang ia alami dengan Mikan dan Kurenai.
Cukuplah satu cinta dalam hidup. Itu yang terbaik. Karena adil itu sulit.
"Terima kasih, Mikan. Terima kasih.. terima kasih.. terima kasih.. terima kasih..."
Kata uang sama Yoga igaukan dari bibir tipis kemerahannya.
Mereka berdua saling berpelukkan dan berciuman. Ciuman bernafsu tapi penuh dengan perasaan.
Apakah ini sungguh yang terakhir kalinya bisa menikmati hal membahagiakan seperti ini?
Berulang kali otak dan hati adu argumentasi dan ingin sekali semua sejalan seperti yang dimau. Namu kembali lagi, sepertinya Tuhan memang memberi takdir yang tak bisa ditawar.
"Mikan.."
"Yoga-kun.."
Mendengar sufix -kun di belakang namanya, Yoga semakin bahagia. Kegelapan yang akan segera menyapanya nanti tidak ia ketahui sampai mana ujungnya. Untuk itu, ia memutuskan untuk bersama Mikan di saat terakhirnya. Menunjukkan intesitasnya sebagai seorang laki-laki dan suami bagi Mikan.
Ia sudah memberikan semua hartanya untuk Mikan. Karena ia tak bisa memberikan tubuhnya untuk Mikan selama yang Mikan mau, maka hari ini, hari yang sangat pas untuk menghabiskan waktu terakhirnya dengan Mikan. Ia bersedia bersenang-senang dengan Mikan. Walau mungkin lucu karena yang bisa ia ucapkan hanyalahnya berkali-kali menyebut nama Mikan.
Hanya bisa menyebut nama Mikan. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh bibirnya. Sebenarnya jutaan kata-kata manis itu mengantri dari dalam otaknya, tapi mereka semua sulit keluar dari bibirnya. Melihat Mikan yang tersenyum karena sentuhannya saat ini membuyarkan segalanya.
"Aku tak ingin menangis. Tapi air mataku keluar juga, kak Yoga sudah bertindak seperti bukan kak Yoga. Apa ini sebuah tanda dari orang yang akan segera pergi ke tempat yang sangat jauh yang bahkan tak akan bisa aku mengikutinya? Dia memanggilku berkali-kali dan tak tahu kenapa aku menghitungnya. Ini sudah panggilan ke 357 dia menyebut namaku selama kami bercinta... Kisahku dan kak Yoga diakhiri dengan sex. Hah. Apakah ini pantas untuk dilakukan padahal dalam situasi yang tak medukung seperti ini? ... Tidak! Justru ini adalah yang terbaik! Aku harus menyerahkan jiwa dan ragaku seutuhnya untuk kak Yoga hari ini. Dia harus memiliki kenangan yang indah saat bersamaku! Aku adalah istri yang amat sangat dicintainya. Aku bukan bulan yang selalu mengharapkan cahaya bantuan dari sinar matahari seperti kebanyakan orang yang menilai hubunganku dengan kak Yoga. Aku adalah aku. Aku tak perlu menyanksikan keberadaanku. Aku tak perlu mengandalkan sosok lain untuk mengharapkan cinta kak Yoga... Aku bisa berdiri sendiri di atas kakiku untuk mencintainya. Biarkan mereka berbicara apa soal kisah kami, aku tahu kak Yoga membalas perasaanku itu sudah cukup bagiku... Saat ini, biarkan aku dan dia berpisah dengan cara yang bahagia!" Batin Mikan.
.
.
.
Mikan sibuk menata pakaian untuk Yoga ke dalam koper. Yoga berusaha menghentikan Mikan karena ia bisa menata pakaiannya sendiri. Kasihan juga dengan Mikan yang sedang lelah fisik dan jiwanya.
"Tubuhmu sedang tak baik-baik saja, Mikan. Istirahatlah! Biar aku sendiri yang melakukannya." Kata Yoga.
__ADS_1
"Sudah tak apa, aku hanya pegal saja." Kata Mikan.
"Maaf, semalam berlebihan mainnya."
Jika sedang tidak dalam keadaan seperti ini, maka Mikan pasti akan membuka pagi ini dengan penuh canda dan kehangatan. Namun ia harus mengurungkannya. Jika ia melakukannya, maka akan sangat berat untuknya dan Yoga di masa depan saat sudah berpisah nanti.
"Tidak kok, ini tak jauh lebih sakit dari saat pertama melakukannya. Aku ini sangat kuat, Kak Yoga! Jangan khawatir! Yang perlu kau khawatirkan itu dirimu sendiri nantinya bagaimana saat tidak ada aku di sampingmu! Ingat ya, jika sudah malam mintalah Kurenai untuk menyiapkan air hangat untuk kau mandi. Kau mudah demam, jadi jangan gaya-gayaan mandi air dingin di malam hari!"
"Iya aku tahu."
"Kau punya sakit maag akut, jadi kurangi pedas dan makanan berminyak. Biasakan sarapan dengan karbo yang cukup. Sediakan camilan ringan dan permen manis di sakumu. Mintalah Kurenai untuk menginngatkanmu membawa tablet kunyah saat berpergian!"
"Hn.."
"Aku meletakkan pakaian dalam di sebelah kiri koper, obat maag-mu aku jadikan satu di dalam kotak kecil ini bersama dengan beberapa vitamin. Ini mudah diambil, jadi saat maag-mu kambuh, kau bisa cepat mencarinya. Ingat, jangan menyakiti dirimu sendiri hanya karena malas minum obat!"
"Hn."
Mikan berbalik dan menatap Yoga kesal. Sebenarnya Yoga itu paham tidak sih dengan apa yang ia katakan? Atau jangan-jangan justru kata-kata super panjangnya itu tidak Yoga dengarkan? Oh, ayolah, saat ini ia hanya sedang berusaha sebaik yang ia mampu.
Mikan berkacak pinggang. "Kau dengar tidak sih?" Tanyanya.
"Dengar kok.." Kata Yoga.
"Kok?"
"Iya dengar, sayang. Ya ampun.. jangan sewot kenapa sih? Aku ingin melihatmu bahagia!"
"Aku sangat bahagia! Kau yang malah mewek saat kembali dari kamar Yudha tadi."
"Ya kan aku menangis karena mau berpisah dengannya. Dia bilang tidak akan membenciku dengan keputusan yang sudah aku buat."
"Kau tidak membohonginya dengan kisah palsu lain, kan?"
"Tidak. Aku jujur mengatakan tentang kebenaran alasan aku pergi. Akan merepotkan di masa depan ketika ia tahu kisah yang sebenarnya. Jadi mending diceritakan di awal saja."
"Ya sudah kalau begitu. Ini akan berat untuknya tapi jangan khawatir karena aku tak akan lelah untuk menguatkannya!" Senyum Mikan.
"Dia bilang akan menjagamu dan dia juga bilang kepadaku untuk apapun yang terjadi, aku harus bisa melindungi Alvin." Yoga tertegun ketika mendengar hal ini dari Yudha.
"Yudha itu perkembangannya tidak sama dengan anak seusianya. Dia sangat jenius, kau tahu sendiri kan, usia tiga tahun dia sudah bisa membaca dan menulis. Aku khawatir masa kecilnya terlewat begitu saja, maka dari itu, aku ingin dia memiliki kehidupan normal dengan tetap menjalani sekolah pada umumnya tanpa skip-skip. Menurutmu bagaimana?" Tanya Mikan.
"Aku itu tak sebaik dirimu dalam mendidik anak, Mikan. Aku lebih dekat dengan Yudha dibandingkan dengan diriku. Jika kau ingin seperti itu, maka aku juga akan menyetujuinya. Yang penting, jangan lupa kau juga harus bertanya dan mendengarkan pendapay Yudha akan semua hal yang kau inginkan dari Yudha. Kau bisa melakukannya, kan?"
Mikan mengangguk. "Hn. Aku bisa melakukannya. Aku akan memperbanyak komunikasiku dengan Yudha. Aku harus menjadi sosok yang bisa dia andalkan saat kau tak ada."
Yoga mengacak-acak rambut Mikan. "Arigato gozaimasu, istriku!"
"Doitashimashite, suamiku."
.
.
.
Siang harinya, Yoga harus bertengkar dengan ayah dan ibunya, Kazehaya Wijaya dan Kazehaya Chiyo. Orang tuanya tentulah menentang dengan keputusan yang dibuat oleh Yoga. Mikan sudah menduganya. Orion yang saat itu datang berkunjungpun sempat bertengkar berkali-kali dengan Yoga. Orion itu jauh lebih tempramen dari Yoga, ia sempat memukul Yoga. Mikan tak terlalu paham apa yang mereka berdua debatkan, yang jelas, ia tahu jika Orion itu sangat marah karena keputusan Yoga untuk meninggalkannya.
Yoga bilang ke semua orang jika ia memilih Kurenai dan Alvin. Ia tak menjelaskan alasan pastinya mengapa ia memilih hal itu. Tentu hal ini karena ia memiliki alasannya tersendiri.
Yoga tak mau keluarganya terlibat dengan orang misterius yang mengincar Mikan dan Yudha. Ia berharap jika ia bisa mengubur kisah menyedihkan ini bersama dengannya tanpa melibatkan keluarganya.
Sayangnya Yoga tidak tahu jika di masa depan, kehidupan damai sesuai impian dan harapannya itu tidaklah ada. Kisah masa lalunya tak terbayar lunas. Kisah masa depan justru semakin mengerikan.
.
.
.
Sore harinya, meski sudah ditentang sana sini, Yoga tetap pada pendiriannya. Ia memilih untuk pergi meninggalkan kediaman Kazehaya yang mewah dan menanggalkan statusnya sebagai anggota keluarga Kazehaya.
Sudah diprediksi di awal. Yoga tak kaget ataupun mengeluh. Saat ia memutuskan untuk melangkahkan kaki keluar dari kediaman Kazehaya lalu memilih Kurenai dan Alvin, saat itu pula ia sudah siap untuk kehilangan segalanya. Statusnya di keluarga Kazehaya dan Emperor Group, bahkan semua harta dan kenyaman yang dimilikinya. Ayahnya yang tegas itu pasti tak akan tinggal diam dengan keputusan yang gila ini.
"Ini konsekuensi yang kau dapatkan, kak Yoga. Kuatlah! Bertahanlah dan jangan mati! Berhati-hatilah di jalan. Langit di atas nampak cerah mengiringi kepergianmu. Namun, dari arah selatan ku melihat mendung yang sangat gelap. Menakutkan ketika ada kilatan cahaya nan jauh di sana. Apakah mereka akan sampai ke sini dan mengejarmu sampai ke kota tujuanmu nanti? Kau menyetir ke utara, aku tak tahu kota mana yang kau tuju... Kak Yoga, kemana pun kau pergi, berhati-hatilah! Jaga dirimu baik-baik! Meski keyakinan kau kembali semakin menipis setiap detiknya dan semakin besar ketika kau tak nampak dari pandangan mataku, tapi tolong jangan mati! Jangan tinggalkan aku dan Yudha namamu dan kenanganmu saja! ... Ingat, saat semua keadaan sudah membaik, jika kau bisa selamat nanti, aku dan Yudha siap menyambutmu untuk pulang dengan senyuman yang merekah di bibir kami... Tuhan-ku, aku siap menukarkan segala penderitaanku agar aku mendapatkan kebahagiaan dari segala penjuru. Lindungi kak Yoga, Alvin, dan Kurenai. Mereka hanya hamba-Mu yang pernah berdosa tapi tetap mencintai-Mu." Batin Mikan.
__ADS_1
Ia menarik tangannya dari melambaikan tangan untuk mengiringi kepergian Yoga.
Pegal terasa tapi tak mau dirasa.
Bodoh, meski sedih menguasai, tapi rasa pegal itu juga masih terasa. Tubuhnya lebih jujur daripada dirinya rupanya.
Dan ya..
Ini adalah sebuah kenyataan, bukanlah ilusi.
.
.
.
"Cahaya bulan purnama malam ini akan segera menghilang karena mendung dan hujan yang munguasai. Tadi sangat indah, tapi kini mulai menjadi kelabu. Aku harap badai ini tidak mengikuti kepergian kak Yoga. Akan sangat bahaya jika dia menyetir malam-malam dalam kondisi seperti ini." Gumam Mikan.
Malam semakin menjelang. Gerimis mulai turun dan petir menyapa langit Tokyo. Mikan memeluk Yudha yang sedang tidur. Tidur juga tidak tidur, Yudha hanya menjadi lebih pendiam dibandingkan hari-hari biasanya yang sudah biasa diam.
Semoga saja ini tak berlangsung lama.
Mikan mencium kening Yudha. Ia lalu berjalan ke arah jendela kamar milik Yudha. Ia ingin menutup korden jendela agar mengurangi efek kilat petir yang masuk ke dalam kamar.
Apa yang baru saja lewat? Sebuah mobil?
Mikan melihat sebuah mobil di depan sana menuju arah gerbang.
Oh tidak...
Itu mobil milik Orion!
Apa yang akan di lakukan Orion? Mau kemana Orion itu?
Pulang? Atau...
Ah, itu tidak mungkin, kan?
Tidak, tadi bukan itu yang ia maksudkan saat adu argumen dengan Orion sore tadi. Astaga. Itu tidak akan terjadi, kan?
Rasa takut itu menyelimuti jiwanya. Mikan gemetar dan jantungnya berdetak sangat kencang. Pikirannya kemana-mana dan menduga-duga tidak jelas.
Tak lama setelah itu, ada mobil yang menyusul keluar melewati pagar raksasa gerbang rumah kediaman Kazehaya. Yang Mikan tahu, itu adalah mobil yang biasa ayah mertuanya gunakan.
Apa yang dilakukan mereka berdua malam-malam badai seperti ini? Tidak mungkin kan mereka pergi ke supermarket untuk membeli mie instant?
Jelas tidak mungkin.
Lalu puncaknya...
Mikan mendengar sebuah kabar jika Kazahaya Yoga meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal di bulak jalan Miyagi.
FLASHBACK OFF
.
.
.
Normal time...
"Orang menyebutnya Tragedi Bualan Purnama Berdarah. Di saat itulah ayahnya Yudha meninggal." Kata Mikan.
Melody dan Tsuchiya tak bisa berkata-kata. Mereka juga tak bisa menghibur Mikan yang kini matanya mulai memerah.
Membuka kisan masa lalu seperti ini pastilah sangat berat.
"Ini salahku, andai saja waktu itu aku tak asal bicara dengan Orion, Orion pasti tidak akan mengejar Yoga dengan penuh amarah." Kata Mikan.
"Memang apa yang ibu bicatakan dengan paman Orion?" Tanya Melody.
"Ibu seperti menjadi alasan yang kuat untuknya dalam keinginan membunuh ayahnya Yudha." Jawab Mikan.
Siapkan diri untuk mendengar kisah selanjutnya. Bagi Melody kisah ini membuatnya semakin penasaran karena ia tahu jika ibu mertuanya yang sangat baik ini tidaklah mungkin membunuh ayah mertuanya. Meski saat ini ibu mertuanya berbicara seperti itu, ia meyakini jika di masalalu pasti ada kesalahpahaman atau mis komunikasi antara pamannya dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
Ia ingat jika pamannya, Orion, itu sangat mencintai ibu mertuanya, ini pasti menjadi ada hubungannya.