MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 15: Kado


__ADS_3

"Yudh.." Melody menggenggam jemari Yudha. Yudha menoleh kepadanya. Melody lalu menggeleng. "Cukup, Yudh! Jangan seperti ini lagi!" Pintanya. Ia tak mau Yudha terbawa emosi atau kehilangan kendali di depan Alvin dan keluarganya Alvin.


"Kau takut, Mel?" Tanya Yudha. Ia tahu Melody hanya sedang khawatir terhadapnya. Ia mempercayai Melody melebihi siapa pun.


Melody menggeleng. "Kan ada kau di sini, aku jadi tidak takut. Lebih baik mati bersama daripada mati sendiri-sendiri."


Alvin mentap adik dan adik iparnya itu. Mereka berbicara soal makam dan kematian. Apa Yudha sungguh akan mengorbankan diri bersama Melody? Demi apa mereka melakukannya? Bukankah seharusnya tak perlu ada yang mati.


Tidak..


Harusnya memang tak akan ada yang mati!


Kenapa harus mati jika pilihan hidup bisa diraih? Bisa dimiliki? Bisa dijalani?


Alvin tak akan membiarkan mereka mati begitu saja. Masih banyak hal yang ingin ia tunjukkan pada mereka. Masih banyak hal yang belum tuntas dari semua lingkaran karma menahun dari sejak jaman dahulu hingga saat ini. Ia masih ingin memutus lingkar karma itu yang mengikat banyak orang termasuk Yudha dan Melody.


"Jika kalian memohon kepadaku untuk meminta perlindungan, maka aku akan senang hati melindungi kalian." Tawar Alvin.


Yudha tertawa. Hm, hari ini Yudha memang lebih banyak tertawa.


"Mana mungkin, kan?" Kata Yudha dengan menyeringai.


Yudha lantas meraih pinggang Melody sebagai tanda jika dirinya sudah cukup untuk melindungi Melody dan tidak membutuhkan bantuan dari siapapun, terutama Alvin.


"Ya. Jelas itu tidak akan mungkin. Aku sangat mengenalmu, mengenal dirimu yang baru." Kata Alvin.


Semenjak Alvin mengatakan pada Yudha jika dirinya masih mencintai Melody dan ingin merebut Melody, hubungan kedua kakak-adik ini memburuk. Ditambah ketika Alvin memutuskan untuk masuk dalam persaingan perebutan Emperor Group, ikatan darah dari ayah mereka semakin melonggar.


Perang dingin.


Saling sindir.


Saling menunjukkan dominasi.


Sebagai sosok yang mengenal baik dua laki-laki ini, Melody merasa sedih. Ia ingin percaya jika Alvin itu tetaplah Alvin yang ia kenal, tapi ia tak bisa menyakiti perasaan Yudha. Jika ia baik pada Alvin, Yudha akan bersedih. Bagaimanapun Yudha adalah suaminya, dan sebagai istri, ia memilih untuk mengikuti Yudha. Cinta yang membuatnya seperti itu.


"Pasti sangat berat menyandang marga Kazehaya di belakang nama kalian. Kalian mengalami ujian hidup yang luar biasa." Kata Azumane.


"Azumane-san, apa itu pujian?" Tanya Yudha.

__ADS_1


"Kau tak mengharapkan pujian dari seorang bos yakuza seperti diriku, kan? Kau bisa menganggapnya sebagai ungkapan iba dari orang yang pernah menjalin hubungan persahabatan dengan ayahmu." Azumane tersenyum.


Yudha membalas senyuman dari Azumane. "Seorang sahabat yang menikahi ibu dari anaknya ayahku ya? Menarik. Aku suka gayamu, Azumane-san."


"Kau bermulut manis juga rupanya. Sama seklai tidak mirip ayahmu. Kau lebih mirip kakekmu yang menyebalkan itu."


"Karakter anak akan mengikuti lingkungannya dan siapa yang mengasuhnya. Ayahku tidak merawatku, tentulah aku mendapat didikan yang sangat baik dari kakekku. Bayangkan jika aku didik oleh orang rendahan dan tak memiliki harga diri, mau jadi apa diriku ini? Mungkin aku tidak punya malu untuk merebut sesuatu yang bukan haknya. Itu mengerikan, ne Alvin-nii-sama." Yudha menyindir Alvin dengan sangat sengaja.


Alvin-nii-sama: Kak Alvin dengan penghormatan yang sangat tinggi.


Alvin langsung mendekati Yudha dan menarik paksa kerah kemeja Yudha. Ia sangat marah. "Bicara yang jelas, Yudh! Jangan asal bicara!"


Melody mencoba melepaskan tangan Alvin dari kerah kemeja Yudha. Namun Alvin tak menghiraukannya.


"Kak Ipar! Lepaskan tanganmu dari Yudha! Kau membuatnya sulit bernafas!" Pinta Melody.


Yudha justru terlihat sangat senang dengan perlakukan dari Alvin.


"Tarik kata-katamu!" Kata Alvin.


"Kenapa? Tersinggung? Bukankah itu fakta? Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya." Yudha menajadi-jadi.


Kurenai melerai mereka berdua. Alvin pun melepaskan Yudha.


Yudha sedikit terhempas, Melody menahannya. Yudha lalu membenarkan pakaiannya.


"Yudha, jangan berlebihan! Itu keterlaluan!" Kata Melody.


"Yudha, apa yang dikatajan istrimu itu benar. Ini masalah keluarga, tak sepantasnya dibawa ke ranah umum seperti ini." Kata Orion.


"Loh? Bukankah seluruh Jepang sudah pada tahu? Ayahku memiliki wanita simpanan dan seorang anak yang lahir di luar nikah? Mereka yang hidup di jaman itu tidak akan menolak lupa!" Kata Yudha.


Semua undangan yang ada di aula pesta itu mulai bergunjing. Kisah petualangan cinta Kazehaya Yoga waktu itu menghiasi media.


Kurenai menatap Yudha penuh kebencian. Anaknya Mikan tak menaruh hormat sedikitpun kepadanya.


"Asal kau tahu, ayahmu lebih dahulu mengenalku daripada ibumu. Ibumulah yang orang ketiga di antara kami. Ibumu merusak kebahagiaan kami!" Kata Kurenai.


"Aku menyukai tatapanmu, Ibu Kurenai. Tatapan yang sama dari sejak pertama kita bertemu. Tatapan kebencian yang tak terkira kepadaku. Karena kau membenciku, maka aku tak perlu lagi enak hati terhadapmu... Asal Ibu Kurenai tahu, ayahku dan ibuku sudah sejak kecil bersama. Sekarang gunakan otakmu untuk berpikir, siapa di sini yang menjadi orang ketiganya?" Kata Yudha.

__ADS_1


"Ibu, sudah!" Pinta Alvin. Ia sadar jika Yudha sudah siap untuk buka aib keluarga. Yudha itu pembicara yang baik. Ibunya bisa terpojokkan.


"Yudha keterlaluan, Vin!"


Melody mengelus perutnya. Ia tak mau membenci siapun di dalam hidupnya, apa lagi dalam kondisi hamil seperti ini.


"Kurenai!" Panggil Azumane tegas.


"Ya-ya, Azumane-san?" Jawab Kurenai takut-takut.


"Diam atau aku mengirimu pulang!"


"..." Kurenai diam seribu bahasa.


Azumane mencoba mencairkan suasana. "Maafkan istriku ini, Yudha! Dia sedang kurang sehat, makanya suka berbicara asal."


"Azumane-san sepertinya perlu membawanya ke psikiater untuk memeriksakan kejiawaannya." Kata Yudha.


"YUDHA!"


"Yudha!"


Alvin ingin membunuh Yudha saat ini juga. Bagaimana bisa Yudha berkata sekasar ini? Mengatai ibunya gila?


"Tidak apa-apa! Alvin tenang!" Pinta Azumane. "Yudha aku dan Kurenai memberikan kado berupa villa mewah dengan private beach sebagai kado ulang tahun pernikahanmu."


"Azumane-san yakin? Pasaran villa mewah dengan pantai pribadi itu melebihi 10 milyar. Itu lebih dari cukup untuk memberi makan anak buahmu selama setahun." Tanya Yudha.


"Tentulah aku yakin. Uang segitu tidak ada apa-apanya dengan saham 5 persenku di Emperor Group." Kata Azumane.


"Meski sudah turun harga akibat kasus bribe paper Tuan Kang dan Tuan Park, tapi harga saham Emperor Group masih tembus 1,5 juta per saham. Itu artinya, uang 10 milyar bisa kembali dalam waktu tak sampai dua bulan mengingat harga saham itu akan terus naik... Kau menghina keponakanku, Azumane! Bagaimana bisa kau mengado anaknya sahabatmu ini dengan villa murahan seperti itu?" Kata Orion.


"Aku tak sekaya dirimu, Orion. Aku tak bisa mengado Yudha dan istrinya dengan pulau pribadi dengan resort mewah di dalamnya seperti yang kau berikan kepada Yudha. Meski kau tak memiliki saham sepersen pun di Emperor Group, kau bisa sesukses ini rupanya. Fajar Keemasan pastilah sangat berjaya di Jepang Utara." Kata Azumane.


Orang kaya mengerikan!


Itu yang saat ini tengah melody pikirkan. Mengeluarkan uang sebesar itu secara cuma-cuma. Meski ia bekerja setahun lemburpun, ia tak akan bisa mendapatkan uang sebesar itu.


"Kenapa kalian justru berdebat? Segera berikan sertifikat tanah dan bangunannya kepadaku! Kalian tidak pencitraan saja, kan? Kata Yudha.

__ADS_1


__ADS_2