
Japan International Airport, jam 8:13
Amamiya Yura, seorang model yang sangat terkenal di seantero penjuru Jepang tengah duduk di ruang tunggu Bandara, Japan International Airport. Suasana pagi ini di Bandara International cukup ramai. Banyak para turis yang lalu lalang kesana kemari. Pesawatpun datang dan pergi.
Yura memiliki ide tersendiri mengenai bandara. Baginya yang fokus akan segala impiannya, bandara adalah tempat dimana ia siap untuk bertarung dan berjuang demi menggapai cita-citanya. Dan saat ia kembali nanti, bandara adalah pijakan pertama dari keberhasilannya. Saat itu pula ia sudah berhasil. Ia ingin menunjukkan semua itu pada dunia dan bandara adalah first red carpet baginya.
.
.
.
Tubuh ramping dan sexy milik Yura terbungkus busana anggun dan berkelas, sangat cocok untuk seorang fashionable seperti dirinya.
Wajah ayu dan rupawanya semakin terlihat dengan riasan make up tipis dengan model rambut sederhananya, tie up, ekor kuda.
Yura memang selalu terlihat cantik, tanpa atau dengan make up sekalipun. Anggun, menawan, tinggi semampai, ya itulah memang dirinya.
Terkenal, pintar, dan dihormati, ya, itu memang layaknya sudah menjadi kodratnya sejak lahir.
Kaya? Jangan dipertanyakan status sosialnya karena itu juga sudah pasti! Putri tunggal keluarga Amamiya ini memang dianugerahi hidup penuh kesempurnaan.
Lupakan dengan segala kesempurnaan seorang model terkenal yang sebentar lagi akan menjelajah dunia internasional ini. Pada dasarnya ia juga hanyalah manusia, insan murni ciptaan Tuhan. Manusia dengan banyak perasaan dan banyak ekspresi, sama dengan insan manusia lainya.
Kadang bibirnya tersenyum, tapi hatinya merasa lain. Kadang pula itu menjadi beban pikirannya. Yura tahu, ia memang tak begitu mengerti apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Namun setiap kali ia mencoba mengalihkannya, semakin sesak saja rasa di dadanya.
Bukankah itu tidak nyaman?
Merasa kesal, sesak, terasa terbebani, mungkin juga sakit, tapi tidak tahu apa penyebabnya…
Sungguh, jika ada obat pengilang rasa tidak nyamannya itu, meski harganya 10 Milyar pun, Yura tak akan menyesal untuk membelinya.
Terlalu berlebihan kah? Yakinlah, Yura adalah tipe wanita yang kekeuh dengan pendiriannya. Ia bahkan berani mengorbankan banyak hal untuk menjadi seorang model profesionalnya. Disadari atau belum, ia juga sudah mengorbankan perasaannya.
"Amamiya-san, ayo, kita harus segera masuk pesawat!" Kata Konan, manager Yura.
"Iya, Manager-san." Kata Yura.
Yura bangkit dari singgasananya. Ia memakai kaca mata hitam yang sedari tadi hanya sebagai penghias kepalanya. Ia berjalan anggung khas model, lalu menyeret ringan koper mini berwarna hitam miliknya.
Berjalan dengan penuh irama, percaya diri, meski dalam hati ada yang berat. Itulah Yura, wanita anggung yang selalu pandai menyembunyikan emosinya di depan public.
Model?
Ya, model, bukan aktris, modelpun harus bisa mengendalikan emosinya loh.. apalagi mimic wajah, dan Yura sangat ahli dalam hal itu.
"Selamat tinggal Jepang, selamat tinggal Tokyo, selamat tinggal juga Yudh. Ah, buat apa aku mengatakannya, toh aku akan kembali lagi sebulan kemudian. Aku pasti akan menjadi model terkenal di Prancis. Tapi, ada rasa yang mengganjal di hati. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menyikapinya. Jika ini hanya rasa gugupku saja karena akan go international, seharusnya setelah sampai di Paris, itu semua akan hilang, kan? Ini keputusanku, aku harus bertanggung jawab sepenuhnya." Batin Yura sesaat sebelum pesawat lepas landas meninggalkan Jepang.
Sosok yang cukup ambisius akan segala mimpinya. Amamiya Yura, sosok yang selalu bekerja keras demi mewujudkan segala impiannya.
.
__ADS_1
.
.
Di dalam pesawat Japan Air..
YURA'S POV.
Pesawat baru saja lepas landas dari bandara. Aku sangat menyukai pemandangan dari atas sini. Aku tak boleh melewatkannya.
Akupun membuka jendela pesawat yang ada di sampingku.
Ah, kumpulan awan putih bersih berpadu dengan indahnya langit yang membiru. Tuhan sangat tahu bagaimana harus berkarya indah.
Pemandangan ini sangat luar biasa.
Meski akhir-akhir ini aku cukup seting melihatnya karena pekerjaanku, nyatanya aku tak pernah bosan untuk melihatnya.
Tak pernah bosan untuk menyunggingkan rasa syukurku pada Tuhan atas segala kesempatan yang kumiliki.
Impianku sedikit-demi sedikit mulai terwujud.
Aku saat ini adalah Amamiya Yura, seorang model yang sedang naik daun.
Begitulah kata orang-orang dan para fans-ku.
Aku memiliki fans juga?
Bukan berarti aku besar kepala, aku berterima kasih karena sudah mencintai dan mendukungku, aku pasti akan lebih bisa bekerja lebih keras lagi.
.
.
.
Terlahir dari keluarga kaya raya tak harus membuatku bersantai ria. Aku memiliki mimpi untuk diriku sendiri, dan aku akan berjuang keras untuk menggapainya.
Sudah banyak hal yang aku korbankan.
Aku sudah setengah jalan, terlalu sayang untuk kembali dan menyerah.
Jika masih ada kesempatan untuk aku meraihnya, kenapa tidak?
Kenapa harus menyerah?
Aku tak ingin menyisakan sebuah penyesalah di akhir nanti.
Namun..
Meski begitu..
__ADS_1
Entah apa yang aku rasakan saat ini.
Perasaanku cukup kacau. Aku menjadi sulit mengendalikannya. Aku sulit mengartikannya.
Kenapa diriku yang sangat percaya diri ini mulai terusik dengan satu kata ini.
Penyesalan..
Kenapa akhir-akhir ini kata penyesalan itu begitu menyeruak di permukaan otakku? Memaksaku untuk memikirkannya. Memaksaku untuk tidak mengabaikannya.
Apa yang aku sesali?
Apa yang sudah aku sesali?
Bukankah semua berjalan baik sesuai dengan harapanku? Bukankah semua lancar sesuai dengan keputusanku?
Lalu, dari manakah sumber rasa penyesalan ini?
Aku tak mengerti..
Aku tak paham atau memang aku terlalu bodoh untuk mencari akar masalahnya?
Aku membenci rasa ini! Aku sangat membencinya!
Sungguh rasa ini benar-benar menganggu pikiranku. Tak hanya itu saja, bahkan aktivitasku juga ikut terganggu.
Kenapa aku harus ditegur sutradara atas rasa ini?
Biasanya aku sangat baik, aku tak pernah goyah meski aku sering bedebat dengan ayah. Aku bisa profesional.
Tidak!
Rasa ini haruslah lenyap dari otakku!
Seorang Amamiya Yura tidak boleh lemah atas penyesalan yang tidak jelas asal usulnya!
Sebelum rasa itu semakin besar dan menguasai diriku, aku harus segera menyingkirkannya!
Aku harus membunuhnya lebih dahulu, sebelum rasa itu membunuhku duluan. Aku harus segera melenyapkannya!
Dalam hidup seorang Amamiya Yura, penyesalan itu tidak ada!
Tidak boleh ada!
Semua dijalankan sesuai dengan keputusan atas dasar pemikiran yang matang.
Penyesalan hanyalah milik para pengambil keputusan yang begitu pengecut untuk menghadapi hasil dari keputusan yang diambil.
Dan apa bila suatu saat nanti aku memahami rasa penyesalan ini sumbernya dari mana, aku tidak akan larut. Aku tidak akan menjadi pengecut!
Aku hanya harus membuat penyesalan itu tidak ada! Akan memikirkan banyak cara untuk memperbaikinya! Aku akan menjadi seorang monster sekalipun jika itu diperlukan!
__ADS_1
END OF YURA'S POV.