MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Tahu Hal Tak Terduga


__ADS_3

Uchiyama Mansion...


"Bagaimana kalian bisa gagal menculik Melody, hah? Menangani satu wanita hamil saja tidak becus!" Teriak kesal seorang wanita nan ayu. Mantan wanita penghibur yang kini munggah bale, Uchiyama Kurenai.


Munggah bale (Jawa): Jadi kaya atau naik tahta.


"Maafkan kami, Kurenai-sama. Namun saat itu banyak kubu yang tak bisa kami tangani. Mereka jumlahnya sangat banyak dan berpakaian sama. Sulit bagi kami membedakan mana kawan mana lawan." Jelas orang-orang sewaan Kurenai.


"Kalian tahu kan konsekuensinya jika kalian gagal dalam menjalankan misi? Dia akan menguliti kalian hidup-hidup!" Kata Kurenai.


"Ampuni kami, Kurenai-sama!"


"Pergi kalian semua!" Teriak Kirenai.


Dan orang-orang itu lekas pergi dari hadapan Kurenai. Ia sangat kesal setengah mati. Hari-harinya memburuk setiap detik berganti.


Kurenai mengangkat ponselnya karena suaminya menelponnya.


"Moshi-moshi..."


"Kurenai, jika kau terlibat dalam hilangnya Melody, aku akan membunuhmu! Aku akan memastikan jika kali ini kau akan mati sungguhan di tanganku sendiri!"


Dan klik. Tut.. tut..tut


Sambungan di matikan sepihak.


Merasa kesal mendaptkan ancaman, Kurenai langsung membanting ponselnya.


Ia lalu duduk menjatuhkan pantatnya di sofa. Gagalnya menculik Melody mengawali rentetan hari yang sial untuknya.


"Kenapa bisa gagal sih? Semua sudah direncanakan dengan sangat mulus! Tidak ada yang tahu rencana yang aku buat. Kenapa bisa berakhir seperti ini? Sial, sial, sial. Aku tak pernah merasa sefrustasi ini. Orang itu apa akan menghabisisku?"


Kurenai kini dirundung rasa khawatir yang berlebihan. Setidaknya ada dua orang yang sangat mempengaruhi hidupnya saat ini.


Satu, orang yang memintanya untuk menculik Meldoy.


Dua, orang yang dulu sangat menginginkan kematiannya.


.


.


.


Yudha membuka diskusi onlinenya bersama empat hacker andalannya. Mereka memakai jubah dan topeng, mereka menyembunyikan jati diri mereka.


Empat hacker handal ini berada di pihak Yudha dan di bawah naungan Next In Co miliknya. Yudha memberi kode nama untuk para hackernya. Number 1, Number 2, Number 3, dan Number 4. Mereka semua memiliki tugasnya masing-masing.


"Number 1, Number 4, kalian sudah pelajari CCTV yang aku serahkan kepada kalian? Kejadian lima belas tahun yang lalu. Tragedi Bulan Purnama Berdarah yang menewaskan si sulung keturunan generasi kedua keluarga Kazehaya." Tanya Yudha.


"Ada dua mobil yang lewat selang beberapa saat saat kecelakaan mobil ayah Anda terjadi. Dalam kurun waktu satu jam, hanya ada dua mobil yang lewat." Jawab Number 1.


"Kau mendapatkan informasi dari mobil itu? Nomor plat? Atau potongan wajah?" Tanya Yudha.


"Nomor plat, saya mendapatkannya." Number 4 menunjukkan nomor plat agak buram ke layar monitor raksasa milik Yudha.


Yudha langung melebarkan kedua matanya. "Nomor itu..."


"Ya, milik kakek Anda, Kazehaya Wijaya." Kata Number 1.


Yudha memijat kepalanya. Teka-tekin ini sungguh membuatnya gila. Semakin gila ketika ia mencoba mengoreknya. Pantas saja sang nenek selalu memintanya untuk melupakan masa lalu karena masa lalu itu tidak menyenangkan.


"Kakek, Nenek, apa yang kalian sembunyikan dariku?" Batin Yudha frustasi.


"Untuk mobil yang satunya, saya mendapatkan seluet potongan wajahya. Saya akan mengirimkannya kepada Anda." Kata Number 4.

__ADS_1


Yudha kembali mencoba mengenali siapa yang ada di dalam foto itu. Seorang laki-laki di dalam mobil nampak menyetir sendirian.


"Pa-paman Orion?" Yudha kembali harus dikagetkan akan hal ini.


Yudha kemudian membuka map yang diberikan oleh Nakamura padanya kemarin. Ia membaca satu per satu informasi yang diberikan oleh Nakamura itu.


Yudha menjatuhkan kertas berisi informasi penting itu.


Hasilnya sama dengan apa yang ia selidiki dengan para hackernya.


Yudha mengepalkan kedua tangannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi 15 tahun yang lalu sih? Kakek, paman Orion? Haha, jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu! Jika aku menandai mereka sebagai orang yang mencurigakan, apa aku akan menajadi orang yang ceroboh? Sial, ban9sat, siapa yang bisa aku percaya saat ini, hah?" Batin Yudha.


Yudha menunduk beberapa saat. Ia lalu menatap satu per satu hacker miliknya.


"Hack semua akun bank milik Uchiyama Azumane, Uchiyama Kurenai, Kazehaya Alvin, Kazehaya Orion, dan Kazehaya... Wijaya!" Yudha sedikit berat mengatakan nama kakeknya karena dalam hati ia masih berat. "Laporkan padaku trasaksi besar yang mereka lakukan selama lima belas tahun ini!" Lanjutnya.


"Baik, Yudha-sama.."


"Ah, Number 2 dan Number 3, ada kabar soal mobil mewah kelas alphard yang membawa Melody?" Tanya Yudha.


"Mobil itu mengarah ke Chiba pada jam 2 malam, menuju Shizioka pada jam 11 siang, singgah beberapa kota sekitar, lalu kembali ke Chiba lagi. Tidak terlacak mobil itu keluar dari kota Chiba." Jawab Number 2.


"Kami yakin, kami mengawasi mereka selama dua hari ini tanpa tidur." Sambung Number 3.


Yudha semakin kesal. Berani juga main-main kucing-kucingkan dengannya.


Yudha lalu membukan ponselnya dan menunjukkan kepada para hackernya.


"Cek apa yang dilakukan orang ini dalam dua hari ini!" Pinta Yudha.


"Baik, siap laksanakan."


Yudha mengakhiri sesi temu virtual itu. Ia lalu duduk di kursi panasnya. Meski membuat frustasi, tapi ia menyukai hal ini karena semakin lama semakin menarik saja.


.


.


.


Posisi Melody...


Sosok tangan kekar mengangkat tubuh Melody. Lalu meletakkan tubuh Melody ke atas ranjang. Selain kursi yang empuk, ranjang yang ia pakai juga rasanya sangat empuk. Sangat nyaman.


"Kau membiarkan tanganku diikat di depan kali ini. Bolehkah aku membuka ikatan yang menutup mataku?" Tanya Melody.


"..." Sosok itu hanya diam saja.


"Tidak boleh ya? Percayalah, aku tak akan kabur meski aku melihat wajahmu."


"..."


"Selama dua hari ini aku sangat nurut padamu loh. Aku tetap seperti ini."


"..." Sosok itu memilih untuk menyelimuti tubuh Melody.


"Selama dua hari juga sama sekali tidak melihat indahnya dunia. Semua gelap. Hei, kau tidak kasihan padaku ya? Aku ini seorang ibu hamil loh."


"..." Sosok itu menuang teh matcha.


"Bau aroma teh. Apa ini matcha? Hmm, ada bau lotusnya. Dicampur ya? Bagaimana dengan rasanya? Apa itu enak?"


"..."

__ADS_1


Melody mendengar suara adukkan dari cangkir dan sendok.


"Suara yang indah. Aku menyukainya. Ne, bolehkah aku mencobanya? Aku juga ingin mengaduknya loh."


"..."


"Coba ku tebak, sebenarnya kau ingin mengizinkan, tapi karena aku tawanan saat ini, maka kau mencoba acuh, kan?"


"..."


"Jangan kejam-kejam padaku kenapa sih? Hatiku itu tak sekuat itu."


"..."


Meski diabaikan, tapi Melody tetap ingin berbicara. Rasanya sangat sepi ketika harus terjebak dalam kegelapan yang sangat panjang. Hampa dan kosong. Apa lagi tanpa Yudha.


"Kau tahu, aku sangat merindukan Yudha. Kira-kira dia sudah sampai mana ya saat mencariku? Uh, aku tak sabar ingin segera bertemu dengannya!"


"..."


"Saat kami bertemu nanti, pasti akan sangat romantis. Oh Tuhan, suamiku itu pandai melakukan hal romantis padaku. Apa dia akan mencintaiku?"


Melody membayangkan pertemuan kembalinya dengan Yudha. Pasti akan sangat romantis. Jika yang dibicarakan Yudha, maka ciuman saja pasti tidak akan cukup.


Jika sedang tidak hamil, ia yakin, Yudha pasti akan melemparnya ke ranjang dan bermain mantap-mantapan bersamanya selama seharian.


Uh, ia yakin, ia tak akan bisa bangun setelahnya.


"..." Masih diam.


"Tuan Penculik, kau kesal ya? Aku mendengarmu mendecih loh." Tebak Melody.


"..." Sosok itu menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar Melody tertawa.


Memang ada yang lucu?


"Ku kira kau akan bungkam selamanya. Ku kira kau akan diam saja. Ruapanya tidak betah ya terus-terusan menahan diri untuk tidak menanggapi ocehanku? Hahah, aku sadar diri kok, aku ini memang seperti kenalpot bocor kalau sedang berbicara."


"..."


"Yudha bilang aku ini suka cerewet. Hehe. Benar sih walau ngeselin juga dibilang seperti itu sama orang yang dicintai."


"..."


"Ahh, kau mendecih lagi! Hei, buka suaramu! Aku sungguh ingin mendengarkan suaramu! Kau tahu, semenjak mereka memasukkanku ke kamar ini, mereka jadi jarang masuk ke sini. Kau orang yang berbeda dari mereka, kan?"


"..."


"Baumu.."


"?"


"Baumu aku mengenalinya..."


"?"


"Anata wa Alvin desu ne?"


Anata wa Alvin desu ne: Kau Alvin kan?


.


.


.

__ADS_1


Awas jangan pelit LIKE! 😉😉 Aku capek loh mikirnya ngetiknya juga. Kepalaku ampe panas. Hahaha. Aku mengembangkan cerita ini dengan nalar yang embuh kenapa bisa seperti ini 😅😅😅😅😅 Horaay... udah hampir 300 chpt sinetron ini berlanjut! Gambare atashi wa!


__ADS_2