MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Flash Back


__ADS_3

FLASH BACK ON.


Sinar matahari pagi masuk melewati celah jendela. Terasa silau meski mata masih terpejam. Memaksa untuk segera membuka mata.


Melody mengucek matanya karena merasa terganggu dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Mau tidak mau ia harus segara bangun. Sudah pagi. Bau embun basah terasa di hidungnya.


Perlahan-lahan ia mulai membuka matanya.


Hal pertama yang ada di depan matanya adalah sosok wajah dengan ketampanan yang mempesona.


Jidat itu, mata terpejam itu, hidung mancung itu, bibir tipis itu, rambut hitam berantakkan itu. Kulit putih pucat itu terlihat sedikit memerah.


Hal ke dua, merasa tidak pernah melihat wajah orang dengan jarak yang sedekat ini. Sangat dekat, hanya beberapa centi meter saja di depan wajahnya. Ia bahkan bisa mendengar dengan jelas suara hembusan nafas yang halus dan teratur.


Wajah laki-laki di depannya itu sungguh tampan.


Loh, tunggu, ah itu hanya wajah seorang laki-laki.


Di depannya adalah wajah seorang laki-laki?


"Yu-Yudha?"


Melody yang kaget dan panik membuat gerakkan refleks yang membuat Yudha ikut membuka matanya. Mereka berdua langsung membulatkan matanya. Ekspresi terkejut tergambar jelas di depan mata masing-masing.


Melody bahkan sampai berteriak cukup keras.


"YU-YUDHA, AP-APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, HAH?" Melody semakin kaget karena mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun. Ia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Yudha yang topless, tanpa atasan itu hanya bisa menutupi ke dua telinganya. Suara Melody sungguh membuat telinganya rusak!


"MELODY, JANGAN BERISIK!"


Kesal Yudha karena paginya sangat ramai.


Melody memerah karena melihat tubuh bagian atas milik Yudha. Ada guratan-guratan merah di sana.


"Ke-kenapa kau tidak memakai baju?"


Tanya Melody kelabakkan.


Untuk pertama kalinya selama ia menikah dengan Yudha, baru kali ini ia bangun lebih awal dari Yudha. Dan pengalaman pertama ini sungguh... Erotis.


Yudha melihat keadaan seperti yang Melody pertanyakan. Benar, dirinya tidak memakai baju. Ia hanya memakai celana boxer saja. Ia lalu menoleh ke arah Melody, istrinya itu duduk ala kepompong dengan selimut menutupi sampai leher.


Melody telanjang?


Ah, kenapa kepalanya bisa sepusing ini? Ia harus memulai berpikir jernih. Apa yang sudah terjadi? Ia memutar memori otaknya kembali. Memutar mencari apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Kenapa ia bisa topless, kenapa Melody telanjang, kenapa mereka ada di penginapan tradisional bukan di hotel?


Apa yang sudah terjadi semalam?


Semalam.


Semalam.


Yudha ingat ia awalnya pergi ke festival musim panas, karena mendapat undangan menginap gratis dari keluarga Tachibana. Ia dan teman-temannya, termasuk Melody menginap di penginapan milik keluarga Tachibana.


Setelah itu, mereka mandi di onsen privat. Lalu, Melody terjatuh kolam air panas karena pusing, ia membantu Melody ke kamar. Setelah itu, ia makan malam bersama Melody. Lalu kemudian mereka minum bersama.


Minum? Minum minuman aneh. Ah, minuman itu..


Minumannya disabotase Nao dkk.


Ia dan Melody sudah terlanjur meminumnya.


Minuman itu sudah dicampur obat perangsang.


Ia dan Melody melakukan banyak hal agar efek rangsangan obat itu hilang.


Namun akhirnya.


Semua terjadi begitu saja.


.


.


.


Yudha ingat dengan sangat jelas apa yang sudah ia lakukan semalam. Ia meminum obat perangsang itu sedikit lebih banyak dari Melody. Saat ia sudah tak bisa menahannya, ia hanya bisa menuntaskan haratnya yang menggila pada Melody. Ia tetap memaksa meski Melody berusha keras menolaknya. Walau pada akhirnya, Melody juga menyerah akan pertahanannya juga.


"Melody.."


"Yudha, KENAPA KAU MELAKUKAN HAL ITU PADAKU? KENAPA KAU MELAKUKANNYA PADAHAL AKU BERUSAHA MENOLAK? BUKANKAH KAU BILANG TAK AKAN MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU PADAKU? KENAPA KAU YANG JENIUS ITU BISA KEHILANGAN AKAL SEHATMU HANYA KARENA OBAT BODOH ITU? KENAPA YUDHA. KENAPA?" TERIAK Melody dengan nafas yang terengah-engah.


Kenapa rasanya kata-kata dari Melody membuatnya menjadi kesal?


"KAU PIKIR AKU INGIN MELAKUKANNYA? AKU SUDAH BERUSAHA KERAS MELAWAN EFEK OBAT ITU, MELODY! Kau juga tahu sendiri bagaimana efek obat itu, kan? Pada akhirnya kau menerima sentuhanku."


Mereka saling memerah saat mendengar kata 'sentuhan'.


Benar juga, Melody ingat, ia memang mencoba menolak Yudha, tapi itu hanya sebentar karena setelah itu rasa panas dan penuh gairah sensual itu juga ikut menguasainya. Memaksanya untuk lanjut, lagi, dan lagi.


"Kau harus tanggung jawab!" Kata Melody.

__ADS_1


Ia ingin Yudha bertanggung jawab karena sudah melakukan hal itu padanya.


"Tanggung jawab apa? Aku sudah menikahimu!"


Kata Yudha tegas.


Melody terdiam.


*Benar lagi, Yudha memang sudah menikahinya. Sial, apa yang harus ia katakan? Ia tidak tahu harus membalas Yudha seperti apa. Ia kehilangan kata-kata. Habisnya, ia tak pernah menyangka jika ia akan melakukan hal seperti ini dengan Yudha. Sejauh yang ia ketahui, ia dan Yudha sepakat untuk tidak melakukan hubungan ranjang layaknya pasangan suami-istri pada umumnya.


Tapi obat perangsang itu mengacaukan segalanya*.


"..."


"..."


Setelah itu tercipta suasana diam. Melody membelakangi Yudha. Ia mengambil pakaiannya yang tak jauh dari tempat ia duduk. Dengan masih sambil duduk untuk mempertahankan selimut di tubuhnya, iapun memakai kimononya.


Setelah ia memakai kimononya, ia menyibakkan selimut yang tadi ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Di bawa selimut itu, ia melihat bercak darah. Ia kembali memerah karena malu. Malu yang tak terkira.


Mungkin lebih tepannya campur aduk antara malu dan ingin marah juga. Perasaannya menjadi sulit dijelaskan.


"Haahh, aku mau mandi!" Kata Melody akhirnya.


Melody lalu langsung bangun begitu saja. Tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa ngilu yang membuatnya limbung karena kakinya tak bisa menopang berat badannya.


Saat ia hampir terjatuh, Yudha yang duduk tak jauh darinya menyadari, Yudha lalu menangkap Melody agar tidak terjatuh ke lantai kamar.


Pose menangkap Melody sangat romantis. Seperti pelukkan semalam. Membuat wajah mereka kembali memanas saja. Tidak! Tidak! Hush.. sekarang bukan waktunya seperti itu!


"Sa-sakit sekali." Pekik Melody pelan.


"Seharusnya kau ingat akan luka di kakimu itu!" Kata Yudha.


"Go-gomen dan terima kasih."


"Hn.."


Kata 'hn' milik Yudha itu membuat Melody kembali tak memiliki kosa kata lagi untuk ia lontarkan ke Yudha. Kata 'hn' itu seolah seperti topik yang sudah berakhir. Tak ada topik selanjutnya.


Dan lagi-lagi setelah itu sampai perjalanan ke rumah yang ada hanyalah diam seribu bahasa.


Ia hanya bisa mengamati Yudha yang ke luar kamar mereka. Rupanya pintu sudah tidak di kunci. Ia tak tahu kapan kunci terbuka. Seseorang pasti menyelinap ke penginapan mereka untuk membuka pintu. Nao? Mungkin dia.


Saat ia akan pulang, Shuhei datang membawa kursi roda yang Melody ketahui itu adalah perintah dari Yudha. Yudha memang membantu mendorong kursi rodanya, tapi selama itu sama sekali tidak ada pembicaraan anatara dirinya dengan Yudha. Bahkan Shuhei saja yang biasanya membuka suara, pagi tadi hanya ikutan diam. Membuat suana canggung semakin panjang.


.

__ADS_1


.


END OF FLASH BACK.


__ADS_2