
Kantin Rumah Sakit Kazehaya Internasional..
Sesuai dengan janji temu yang sudah mereka buat, Melody dan Orion pun kini bertemu di kanti rumah sakit. Ada yang ingin ia bicarakan dengan Orion. Orion sendiri pun juga memiliki sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Melody. Membicarakan sesuatu yang seharusnya sejak kemarin-kemarin ia katakan, tapi karena kesibukannya, baru bisa hari ini ia bertemu dengan istri dari keponakan tersayangnya itu.
Orion menatap Melody dengan penuh senyuman di bibirnya. Istri dari Yudha ini nampak sangat senang ketika ia membawakannya apel sekaiichi, apael yang terkenal paling mahal di dunia itu.
Orion ingat jika Yudha itu pernah memberitahu dirinya jika Melody sangat menyukai apel sekaiichi semenjak hamil. Jujur saja, ia sendiri juga sangat menyukai buah yang amat sangat mahal ini. Ia hampir memakannya setiap hari. Buah ini pasti ada di keranjang buah meja makannya.
Kasihan juga, melihat wanita hamil besar tapi ditinggal suami. Menurut Orion, mental Melody itu sangat kuat. Berkali-kali mengalami kejadian yang tak menyenangkan sekaligus membahayakan diri pastu sangat berat untuk dilalui. Namun perlahan tapi pasti, Melody bangkit dari keterpurukkan. Meski tubuh Melody nampak lebih kurus dari ibu hamil kebanyakan.
Apakah Melody sangat menderita karena jauh dari Yudha?
Orion belajar banyak soal kehidupan dan juga cinta. Pengalaman kisah cintanya tak berjalan dengan baik, bahkan ia sendiri juga tak bisa mendapatkan cinta yang ia harapkan. Namun Melody dan Yudha, mereka berdua sama-sama saling mencintai, tapi karena takdir yang belum memihak kepada mereka, mereka harus berpisah berkali-kali. Menahan rindu tiap hari pastilah berat. Apa lagi tanpa kepastian seperti ini. Ini lebih dari sekedar menyakitkan, mungkin ingin berontak jika semua terasa begitu kejam.
Namun bisa apa? Tuhan menghadirkan semua ini untuk menguji. Ya, ini adalah ujian dari Tuhan yang harus dilewati. Pelik, lama, membuat lelah, banyak sakitnya, banyak menderitanya, manusia tidak akan bisa protes karena memang inilah yang sedang terjadi.
Lagi, bisa apa memangnya?
"Paman Orion, terima kasih sudah membawakanku apel sekaiichi ini. Aku pastikan akan memakannya!" Kata Melody.
"Suamimu bilang kau sangat menyukai buah apel jenis ini. Jika sudah habis, katakan saja pada paman, paman akan memtikkan untukmu langsung dari kebunnya." Kata Orion.
"Jadi benar jika Paman memiliki kebun apel sekaiichi? Yudha pernah bilang kepadaku seperti itu."
"Ya benar, paman memilikinya lebih dadi 10 hektar lahan apel."
Orion memikiki kebun apel sekaiichi di daerah Akita. Ini adalah obsesi impian kecilnya. Meski dirinya itu seorang yakuza, tapi ia tetap pernah kecil, pernah merasakan jadi anak-anak dengan segala impiannya. Dan memiliki kebun apel adalah impiannya sejak dulu. Jika kini ia dewasa dan memiliki kebun apel, berarti impiannya tercapai kan? Terwujud kan? Tidak ada yang salah dengan mewujudkan suatu impian masa kecil, meski itu hanya impian yang katakanlah mungkin menurut orang lain itu sangat konyol.
Selama manusia hidup, manusia akan selalu memiliki impian baru setelah satu impiannya terwujud. Jangan termakan omongannya Levi Ackerman dari Attack on Titan, tidak usah bermimpi dan matilah, apa-apaan itu? Itu hanya untuk orang yang putus asa akan masa depannya. Itu hanya untuk orang-orang yang meragukan hikmah dari musibah. Itu hanya untuk orang-orang yang menaguhkan balasan dari Tuhan.
"Waah, aku ingin melihatnya!" Kata Melody. Ia menyukai dunia berkebun. Ia memiliki impian yang belum tercapai, yaitu pergi ke kebun bersama dengan Yudha. Nanti di tengah kebun ia minta gendong sama Yudha dan main tanah.
Aneh?
Intinya asala sama Yudha makan ia akan baik-baik saja. Maksa?
"Kau bisa kesana dengan Yudha nanti." Kata Orion. "Paman sendiri yang akan memandu kalian. Paman memiliki villa nyaman di sana dengan halaman tanaman buah apel dan bunga sakura. Jika kau dan Yudha datang pada musim semi seperti ini, maka keindahan hanya akan menjadi milik kalian berdua." Tambahnya.
Hanya dengan membayangkannya saja ia sudah sangat senang. Kebahagiaan bagi Melody itu simpel. Bersama Yudha dan orang-orang yang disayangi atau melihat sesuatu yang indah, maka sudah dipastikan jika hatinya akan berbunga-bunga.
Namun, Yudya sedang tidak ada. Ingin tapi jadi terasa tak ingin.
"Hm, ya. Nanti kalau Yudha sudah kembali..." Melody tersenyum kecut. Fakta belum ada kabar dari Yudha membuatnya kalang kabut.
"Yudha pasti akan ditemukan!" Orion menyemangati Melody.
Orion menyodorkan jus buah untuk Melody. Ia menyasari bibir Melody yang mengering. Apa Melody menahan diri? Atau, apa Melody sedang berusaha sok kuat?
Melody meminum jus buah itu sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Ya. Aku juga yakin akan hal itu, Paman. Yudha pasti akan ditemukan! ... Jadi, apa yang hendak paman bicarakan denganku?" Tanya Melody.
Kali ini ia ingin berbicara lebih ke inti. Tak mungkin kan pamannya itu memanggilnya tanpa maksud dan tujuan tertentu?
"Shuhei berada di tempatku, dia terluka cukup parah." Jawab Orion.
"Eh? Shu-Shuhei-san?" Kaget Melody. Berita yang tak terduga. Sungguh, kali ini ia sendiri tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaannya saat ini.
Dari semua usaha yang sudah ia lakukan dibantu oleh teman-temannya, ternyata Shubei berada di tangan Orion? Paman suaminya itu? Kenapa dunia menjadi seperti ini? Ah, itu pasti karena Orion memiliki banuak koneksi dunia bawah sehingga orang-orang dalam label missing people seperti Shuhei akan langsung diketahui mereka.
Lagi..
__ADS_1
Maksa?
"Paman tidak bohong, kan?" Tanya Melody memastikan. Harapannya tentu tidak ada kebohobgan dalam setiap tutur kata yang pamannya ini utarakan.
Ayolah, jika bohong atau prank, maka hatinya pasti akan kecewa. Ia terlalu frustasi untuk mendengar kabar baik dari Shuhei dan juga tentunya dari Yudha juga.
"Tentu saja aku tidak bohong. Dia sedang dalam perawatan." Jawab Orion. Kenapa ia harus membohongi wanita hamil yang sudah menderita ini? Ia memang yakuza, tapi hati kecilnya tak setega itu. Ia masih memiliki hati. Ia masih manusiawi.
"Sungguh?"
"Ya. Sungguh. Shuhei sedang mendapatkan perawatan. Ia sudah sadar sejak kemarin malam. Aku belum banyak tanya padanya. Ia nampak masih syok denhan kejadian yang menimpanya."
Melody bernafas lega. "Syukurlah, setidaknya ada kabar darinya. Kini tinggal Yudha yang entah bagaimana dia saat ini."
"Yudha memilikimu dan teman-teman yang bisa dia andalkan. Dia pasti akan ditemukan! Paman juga sedang berusaha mencarinya. Sebisa yang paman mampu." Orion akan melakukan apapun untuk membuat Yudha kembali. Ini demi keponakannya dan ini demi ibunya Yudha.
Cintanya memang tak bisa kalah begitu saja. Cintanya pada Mikan membuatnya bertindak untuk selalu membuat apa pun yang bisa membuat Mikan bahagia, maka ia akan melakukannya.
Melody kedudian menatap Orion serius. Ini adalah keinginan yang ingin ia sampaikan sejak dulu. Tapi ia merasa ragu karena belum begitu mengenal baik sosok seorang Kazehaya Orion itu seperti apa. Sosok seorang paman kandung dari Yudha-suaminya itu seperti apa.
"Apa paman mampu menembus Kyoto?" Tanya Melody serius.
"Kyoto?" Gumam Orion. Dalam kamus otaknya, kata Kyoto memiliki makna tersendiri. Kyoto memiliki tempat khusus di dalam benaknya.
"Ya, Kyoto. Perfektur yang tak bisa yakuza Fajar Keemasan dan yakuza Macan Selatan kuasai... Emperor Group di bawah Alvin berhasil bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar di sana. Ini juga memungkinkan untuk kelompok yakuza, kan?" Melody sangat berharap akan hal ini. Ia tahu, tak seharusnya ia mengandalkan seorang yakuza, apa lagi meminta bantuan seperti ini, tapi ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia benar-benar sangat khawatir pada Yudha.
"Harusnya bisa, kalau serius. Tapi akan menjadi sangat buruk di awal-awal invasi. Persatuan Kyoto Guardian sangat kuat. Sulit ditembus walau tetap masih bisa ditembus juga." Orion tahu bagaimana kuatnya Kyoto Guardian. Anak buahnya banyak yang tumbang ketika harus berlawanan dengan anggota Kyoto Guardian.
"Intinya walau sulit, tetap bisa ditembus, kan? Paman, Yudha ada di sana! Disandra di suatu daerah di sana... Aku dan yang lain sedang berusaha menjemput Yudha, tapi rasanya akan sangat sulit jika kami tidak memiliki bala bantuan. Untuk itu..." Melody bangun dari duduknya. Ia kemudian menundukkan badannya di deoan Orion. "... untuk itu, aku mohon bantulah aku dalam menjemput Yudha! Bantulah aku dengan orang-orang kuat paman untuk menyelamatkan Yudha! Nao dan Neil-san pasti akan mati jika mereka bertindak sendirian." Mohon Melody. Ia menangis tapi tak bersuara.
"Kau tak perlu mememohon sampai seperti itu, Melody! Aku ini pamanmu! Kau istri dari keponakanku. Tentu saja aku akan dengan ikhlas membantumu. Angkat wajahmu, jangan seperti ini!" Kata Orion. Baginya, kasihan juga melihat wanita hamil menginjak 7 bulan ini sedang bersedih. Apa lagi Melody itu istri dari keponakan tersayangnya.
Melody mengangkat wajahnya. Ia berdiri tegap. Ia menghapus air matanya. "Arigato gozaimasu, Paman. Terima kasih banyak.. terima kasih banyak."
Menghapus air mata dengan hanya memakai tangan kosong itu tak bisa membuat air mata itu hilang seketika.
Tak lama setelah itu, pesanan makanan mereka pun datang. Ini bukan makan pagi, bukan pula makan siang. Waktu makan yang tanggung. Apa pun penyebutannya, ini hanyalah basa-basi dan teman mengobrol. Pembicaraan mereka jauh lebih penting daripada acara makan.
Orion memberikan potongan ayam goreng atau karage kepada Melody dengan menggunakan supit miliknya. "Makanlah yang banyak, kau wanita hamil tapi nampak lebih kurus dibandingkan wanita hamil pada umumnya. Yudha bisa khawatir kalau kau seperti ini."
"Ah, iya, terima kasih banyak, Paman. Ini hanya karena terlalu banyak pikiran." Ucap Melody. Ia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Dari semua yang ada, Yudhalah yang paling membebani pikiranmu. Paman bisa melihatnya."
"Mungkin ini lucu, tapi ini karena aku terlalu mencintainya."
"Kenapa harus lucu? Paman ini sangat percaya pada cinta sejati."
Orion sangat mencintai Mikan dan Melody tahu akan hal ini. Sulit dan berat ketika harus mencintai tapi tidak dicintai balik.
"Maafkan aku Paman, cinta memang membuatku tak berdaya." Melody memakan ayam goreng pemberian sang paman. Rasanya di tenggorokkannya begitu mencekik. Ia pun langsung mengabil air minum dan meminumnya dengan cepat.
"Begitu sulit menelan makanan karena jauh darinya ya? ... Apa kalimat roman milik Paman terlihat sangat keren?"
Melody tersenyum. Selera humor Orion itu sangat buruk. Ia memang tak bisa berharap banyak pada seorang yakuza semacam paman mertuanya ini.
"Paman lebih keren memegang senjata dan menyelamatkan Yudha!" Seru Melody.
Orion tertawa. "Serahkan urusan Yudha sama Paman! Ini janji Paman kepadamu! Paman akan menyelamatkan Yudha, tak hanya karena kau yang memintanya, tapi karena Paman sendiri juga ingin menyelamatkan keponakan Paman. Ada seorang ibu yang menangis setiap saat ketika jauh dari anak semata wayangnya."
Ah, itu adalah ibu mertuanya. Melody mengerti betul soal ini. Ia memang tahu jika Mikan-ibunya Yudha, begitu sangat khawatir pada Yudha. Ibu mertuanya itu menangis diam-diam. Ketika terperegok olehnya, sang ibu mertua hanya menghapus air matanya dengan cepat lalu berkata jika ia baik-baik saja.
__ADS_1
Baik-baik saja bagaimana? Senyuman palsu dan mata yang memerah itu sama sekali tak bisa dibohongi.
"Melody-sama, Anda di sini rupanya. Saya sampai kebingungan mencari Anda." Kata Ayane.
"Ah, maafkan aku ayane-san. Aku yang meminta Melody menemaniku makan." Kata Orion.
"Tidak, Orion-sama. Tidak apa-apa. Syukurlah jika Nona Melody mau makan, dia memang belum makan juga sejak tadi pagi." Kata Ayane.
Orion menoleh ke arah Melody. Melody lalu nyengir tak berdosa. "Yudha bisa marah kalau kau seperti itu, Mel. Ibu hamil perlu memperhatikan asupan gizinya!"
"Habisnya, Paman ingin bertemu denganku itu sangat membuatku senang. Aku hanya tidak sabar karena banyak hal yang harus diutarakan dengan Paman." Kata Melody. "Oh iya, Ayane, ada kabar tentang Shuhei?" Melody ingin tahu sampai sejauh mana penyelidikan yang dilakukan oleh Ayane dan Ayumi serta bantuan dari Tuan Nakamura.
"Mobil Shuhei-san sudah ditemukan, tapi Shuhei-san belum." Jawab Ayane.
"Fokuslah pada mobil milik Shuhei-san, cari apapun yang Shuhei-san bawa saat itu. Shuhei-san sudah berada di tempat yang aman. Dia berada di bawah perlindungan Paman Orion." Jelas Melody.
"Benarkah?" Ayane ini sangat menghawatirkan Shuhei karena Shuhei itu sudah seperti adiknya sendiri.
"Ya, apa yang Melody katakan itu benar. Shuhei ada di tanganku saat ini." Timpal Orion.
Ayane tersenyum. "Syukurlah.. Aku ikut senang. Ini adalah kabar yang baik."
Melody juga ikutan tersenyum. Sedikit demi sedikit, Tuhan membukankan jalan. Tak apa lambat, hanya perlu perjuangan ekstra.
"Melody-sama, Mia-san memberitahu lokasi dimana Yudha-sama disekap saat ini." Kata Ayane.
"A-Apa? Mia?" Kaget Melody. "Bagaimana dia bis tahu kalau Yudha disekap? Maksudku, waktu pertemuan di atap gedung, aku kan sama sekali tidak mengundangnya karena takut dia jadi kenapa-kenapa jika sampai ia terlibat. Kenapa dia malah melibatkan dirinya sih?" Tambah Melody khawatir. Mia itu suka bertindak di luar nalarnya. Mia juga suka nekat kalau berbuat sesuatu.
"Saya dan Ayumi-san tidak menemuinya langsung kemarin. Tapi Mia-san mengirimi saya pesan singkat dan memberitahu lokasi penyekapan Yudha-sama di Kyoto. Intinya, Mia-san mengikuti Alvin-sama dan sampailah pada tempat dimana Yudha-sama disekap." Jelas Ayane.
Melody mengepalkan kedua tangannya. "Alvin.." Geramnya. Sejujurnya ia masih berharap jika Alvin tidak bertindak keterlaluan. Namun nyatanya, Alvin memang terlibat. Alvin otak dari penculikkan Yudha, suaminya.
"Anak itu ikut terlibat? Sungguh tak bisa dimaafkan! Katakan pada paman, dimana lokasinya! Biar paman menyusun strategi untuk membawa kembali Yudha!" Kata Orion. Ia sendiri juga geram dengan kelakuan Alvin. Ia memang tak bisa santai jika harus berhadapan dengan Alvin.
Alvin berhasil membawa Emperor Group masuk ke wilayah Kyoto dengan bekerja sama denga Kyoto Contruction yang terkenal itu. Lalu, fakta berbicara jika Alvin mengotaki penculikan Yudha dan menyekap Yudha di Kyoto. Ini sudah jelas jika Alvin memiliki hubungan dengan yakuza yang ada di Kyoto, bisa dikatakan itu adalah Kyoto Guardian. Alvin pasti mengenal Oyabun kota Kyoto.
Orion menyeringai. Ia memiliki rencananya sendiri. "Pantas saja Azumane ngotot sekali ingin menembus Kyoto. Jadi ini rupanya.." Gumam Orion.
"Paman? Ada apa?" Tanya Melody.
"Tidak, bukan apa-apa. Jadi, tolong share lokasinya dimana Yudha saat ini!" Pinta Orion.
Ayane menunjukkan ponselnya kepada Orion yang berisi lokasi dimana Yudha disekap saat ini.
"Ini tempat yang mudah dijangkau, hanya saja akan sangat sulit ketika seorang yakuza sepertiku yang ingin menjangkaunya." Kata Orion. "Baiklah, Paman akan pulang dulu untuk mempelajari lokasi Yudha disekap. Jika kalian ingin bertemu dengan Shuhei, hubungi saja Paman! Paman akan sangat senang jika kau berkunjung ke kediaman Paman." Senyum Orion ramah.
"Iya paman, aku pasti akan ke kediaman paman dalam waktu yang cepat. Ada yang harus aku bahas dulu dengan Mia setelah ini." Kata Melody.
"Baiklah. Sampai nanti, istri keponakanku!"
"Ya sampai nanti, paman Orion!"
Mereka berpamitan dan Orion kini sudah tak lagi nampak di area kantin rumah sakit.
"Ayane-nee, kita ke tempat Mia!" Ajak Melody.
Ia ingin bertanya soal kebenaran informasi dari Mia. Banyak juga yang ingin ia pastikan soal itu. Terutama, bagaimana ceritanya Mia bisa tahu soal informasi penting yang juga berbahaya ini.
Mia mengikuti Alvin?
Bukankah itu sama sekali tidak sederhana?
__ADS_1
Kemungkinan besar adalah Mia sudah mencurigai Alvin sejak lama. Namun lagi, ia tetap harus memastikannya.
"Baik Melody-sama. Saya akan mengantar Anda ke tempat Mia-san." Kata Ayane.