
Yudha benar-benar pergi ke dapur dan mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Ia meneguk habis air dalam botol itu. Lalu ia ke washtafle dan membasuh mukanya. Membasuhnya berkali-kali. Air dingin itu membuatnya 'tersadar'.
Ia hampir saja keblablasan. Untung saja ia masih bisa mengendalikn dirinya yang hampir menggila itu. Ia beruntung bisa mengalahkan hasrat setan itu.
Yudha memegangi dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya. Perlahan tapi pasti deru nafasnya kembali normal.
Jantungnya juga sudah kembali berdetak normal.
Setelah itu, ia beranjak dari dapur dan duduk di ruang makan yang letaknya berdekatan dari dapur. Ia duduk merenung, pikirannya belumlah bisa ia gunakan untuk berfikir jernih.
"Sepertinya Tuan Muda tidak bisa tidur.. Ingin bergadang bersama?" Tawar Shuhei. Ia juga menawari Yudha secangkir kopi. Yudha menyetujuinya.
"Kau bisa memanggil nama kecilku, Shuhei!"
Kata Yudha. Butuh berulang kali untuk mengatakan hal yang sama kepada Shuhei.
Shuhei mengambil dua cangkir kosong dari dalam almari penyimpanan. Menyobek sisi bungkus kopi instant rasa mocca, lalu menuangkannya ke dalam cangkir itu. Shuhei juga mengambil sesendok kopi hitam dan menuangkan di cangkir yang satunya.
"Tuan Yudha adalah Tuan Muda saya yang harus saya lindungi. Tuan Muda adalah Tuan Muda sampai akhir." Shuhei menuangkan air panas ke dalam dua cangkir itu.
"Tapi kau tetap sahabatku. Kita sudah berjanji untuk lebih bersikap layaknya sahabat ketika tidak di depan umum."
Shuhei tersenyum senang. Memang benar, ia tahu jika sebenarnya Yudha ingin lebih bisa berekspresi. Yudha memang teman yang baik meski nyatanya Yudha tak memiliki teman banyak. Ia juga bersyukur jika Yudha, tempatnya mencari uang, mau menerima dirinya menjadi sahabatnya tanpa memandang bagaimana asal usulnya.
Shuhei mengaduk kopi buatannya itu. Ia lalu memberikannya pada Yudha. "Yudha, ini kopimu! Seperti biasanya, special tanpa gula." Kata Shuhei.
"Arigato na." Yudha mengambil kopi hitam itu dan menyesapnya perlahan. Sangat pahit, tapi Yudha menyukainya.
Mereka berdua duduk berhadapan di ruang makan. Yudha menghangatkan tangannya yang dingin dengan memegang cangkir kopinya.
"Sepertinya kau terlihat sedang tak nyaman, Yudha? Apa kau sedang tidak enak badan? Haruskah aku memanggilkan dokter keluarga Kazehaya untukmu?"
Shuhei sangat mengenali Tuan Muda sekaligus sahabatnya ini. Tumbuh bersama layaknya saudara.
Bukankah ikatan di antara mereka sudah cukup dalam hanya untuk sekedar memahami?
"Tidak perlu, Shuhei! Aku hanya sedang gelisah saja dengan semua rencanaku. Kau sudah mengetahuinya, kan? Kita bahkan hampir tidak pernah saling merahasiakan."
__ADS_1
"Mengenai Alvin?" Yudha mengangguk. "Jika memang kau merasa bersalah atas ketidak adilan ini, apa yang kau lakukan ini sudah tidak bisa kau hentikan. Kau pasti juga menyadari jika istrimu semakin jauh ikut terlibat."
"Hn, Melody sudah ikut terlibat.."
"Ada yang cukup mengganggu dengan hadirnya Melody yang tiba-tiba itu. Tuan besar pasti juga sudah menyusun rencana, tapi maafkan aku Yudha, aku belum bisa mengendus rencana Tuan Besar. Kau tahu sendiri, usia yang menggerogotinya sama sekali tak mempengaruhi kinerja otaknya yang jenius itu."
"Hn, kakek memang lawan yang sangat tangguh. Dia bahkan berhasil membuatku mempertaruhkan segala hal yang kumiliki. Hidupku juga menjadi taruhannya. Ia berhasil membuatku menikahi Melody. Melody terlihat tak mengerti apa-apa dengan permainanku dan kakek, tapi ia juga mengambil peran yang penting."
"Jika kau tidak ingin merasa bersalah pada Melody, sebaiknya kau menjaga perasaannya. Jangan buat dirinya merasa terbebani karena menikah denganmu."
"..."
"Intinya, berusahalah untuk membahagiakannya. Jangan kira aku tak tahu jika kau memiliki niat untuk menceraikannya setelah kau mendapatkan semua ambisimu dari Tuan Besar!"
Yudha tak menampik tebakkan dari Shuhei. Memang benar ia pernah memiliki niatan seperti itu, tepatnya setelah ia gagal mengajak Yura menikah dengannya. Menurutnya itu hal yang wajar karena pada saat itu ia sama sekali tak mengetahui siapa calon pengantin yang akan dijodohkan dengannya.
"Kurasa aku memang laki-laki yang jahat ya?"
"Ya."
"Kau…"
"Ya?"
"Kau harus segera meningkatkan citra baikmu di perusahaan, ada beberapa petinggi perusahaan yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Kau paham betul jika dunia bisnis memang sangat kejam. Mereka juga memiliki saham di perusahan dan cukup berpengaruh."
"..."
"Kau harus bisa mempertahankan prestasimu untuk mendapatkan kepercayaan dari pemegang saham yang lain! Bagaimanapun kau adalah calon penerus bisnis keluarga ini."
"Aku mengerti. Shuhei, bisakah aku mempercayaimu sampai akhir?"
"Aku tak akan pernah menghianatimu, Tuan Muda."
Dan mereka saling cheers dengan cangkir kopi mereka. Melakukan sumpah simbolis sebagai tanda kesetiaan antara sahabat dan rekan kerja.
.
__ADS_1
.
.
Malam semakin larut, fajarpun mulai menyapa. Mereka berdua juga membahas rancangan proyek bisnis yang Yudha kerjakan. Yaitu proyek pembangunan hotel mewah di Kyoto. Shuhei banyak membantu Yudha. Otaknya yang setara Yudha itu memang sangat berguna untuk hal seperti ini. Shuhei adalah orang kepercayaan Yudha.
Shuhei tahu banyak dengan apa yang terjadi di perusahaan, termasuk adanya bisnis gelap yang tercium di perusahaan Kazehaya itu. Hanya saja karena belum menunjukkan pergerakkan yang besar, Shuhei hanya perlu mengawasinya dan mengumpulkan bukti untuk senjata pamungkas nanti. Ia memang tak bekerja sendiri, di bawah naungan Yudha, ia juga memiliki mata-mata intel yang siap membantunya seperti Zakki, Yuuichi, dan Kouki.
.
.
.
Setiap keputusan yang saat ini diambil, akan mempengarruhi keputusan selanjutnya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun kita percaya pada keputusan kita sendiri, atau percaya pada keputusan yang orang lain putuskan pada kita. Kita tidak akan pernah tahu apa hasilnya nanti. Ya, seperti itulah kata Erwin Smith dari Attack on Titan.
Yudha tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, lusa, dan di masa depan. Tapi ia mencoba memastikan jika apa yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik dan benar. Keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang menguntungkannya dan memiliki paling sedikit resiko.
Ia sudah mempertimbangkannya sebaik mungkin layaknya otak jeniusnya yang bekerja.
Mana yang baik, mana yang tidak. Mana yang menguntungkan, mana yang merugikan. Semua Yudha pertimbangkan dengan matang.
.
.
.
Yudha, kadang hati juga ingin disejajarkan dengan otak. Hati juga bisa iri dan memberotak jika kau terus menerus mempreriotaskan otakmu untuk mengambil keputusan. Bukankah kau mulai menyadarinya?
.
.
.
________________________________________
__ADS_1
Duuhhh... udah kepalang tanggung begitu malah berakhir dengan acara ngopi bareng mas Shuhei. Astaga, benar kata mbak Mia, iman mas Yudha itu sangat kuat ya... 😎😎
Jangan lupa like,share, dan komennya ya.. sangat aku harapkan untuk kelangsungan novel ini ke depannya. Tentu saja agar bisa kontrak.. he he he he.. ditunggu ya.. salaam hangaat.