
Chapter sebelumnya itu fokus ke hubungan tanpa rahasia. Melody ingin Yudha cerita masalahnya pada dirinya. Ehhh, malah yang ngena kipas anginnya. Haduuhh 😣
_________________________________________
FLASH BACK ON
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, akhirnya Yudha dan Shuhei sampai di kediaman Kazehaya.
Miyagi-Tokyo memang cukup jauh.
Yudha memilih di jemput oleh Shuhei karena mobilnya dan mobil yang dibawa Melody rusak akibat badai salju. Tidak perlu ditanya bagaimana nasib dua mobil mahal milik Yudha itu. Holang kaya tidak perlu ambil pusing. Tinggal suruh orang, semua ada yang urus!
Kembali ke Yudha dan Shuhei yang kini sudah berada di ruang tamu keluarga Kazehaya. Yudha merebahkan tubuh lelahnya di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Ia meluruskan kakinya dan menekuk tangannya sendiri untuk dijadikan bantal kepala.
Yudha mengingat kejadian super manis di Miyagi.
Kisah di bawah salju yang syahdu. Dimana dua hati mulai bersatu. Mencoba bersama meski tak menentu. Berani mencoba meski terkesan baru. Saling menggoda dan bercumbu. Memadu kasih atas cinta yang tak semu. Semua mengalun dan membiru. Bercampur lebur dan mengharu. Tercipta kisah dalam alunan lagu. Bukan lagi lagu sendu, tapi lagu bahagia layaknya mendapatkan bunga yang tak layu.
"Baru lima jam berpisah, aku sudah merindukannya. Aku masih ingin memeluknya. Aku masih ingin mencumbunya. Aku masih ingin mendekapnya, merengkuhnya, dan tak mengizinkan dia pergi kemana-mana. Aku ingin memenjarakannya dalam belenggu cinta. Aku ingin mengikatnya dalam kasih dan rasa. Aku ingin mengontrak mati jiwa dan raganya. Aku ingin memiliki seutuhnya." Batin Yudha.
Yudha tak akan menyangkal sisi egoismenya mengenai Melody. Setelah mengetahui fakta dirinya dan Melody saling mencintai, maka semua menjadi tujuannya saat ini. Keinginan absolut yang tak bisa diganggu gugat. Melody adalah miliknya dan akan menjadi miliknya selama-lamanya!
"Aku tak akan membiarkan siapapun merebut Melody dari sisiku. Melody itu milikku! Melody hanya akan berdiri di sampingku. Melody adalah sosok yang paling pantas bertahta di singgasana cintaku. Melody adalah ratuku! Aku akan berjuang untuk mempertahankan cintaku!" Lanjut batin Yudha.
.
.
.
Shuhei menawari Yudha minuman, Yudha menginginkan kopi pahit. Shuheipun pergi ke dapur untuk membuatkannya. Kenapa tidak menyuruh pelayan rumah saja? Ketahuilah, dalam bekerja ada yang namanya libur hari besar keagamaan dan tahun baru. Apa artinya semua libur? Tidak juga, ada beberapa, dan kebetulan tidak ada yang berkeliaran di sekitar ruang tamu kediaman Kazehaya.
Sembari menunggu kopi pahitnya, Yudha masih asik dengan lamunannya. Pikirannya masih dipenuhi oleh sosok Melody. Melody yang tersenyum, Melody yang tertawa, Melody yang menangis, Melody yang kesal, Melody yang marah. Semua serba Melody!
Hingga akhirnya suara derap langkah sepatu menganggunya. Yudha menoleh ke pemilik suara sepatu itu. Rupanya itu adalah Kazehaya Alvin, kakak satu ayahnya dan juga mantan kekasih istrinya di masa lalu.
Mereka berdua saling beradu tatapan. Entah mengapa lama-lama tatapan itu menajam dan enggan padam. Seperti perang yang menuntut kemenangan. Tidak ada yang mau mengalah ataupun memalingkan. Sorot mata begitu menusuk bak sebuah ancaman. Ancaman agar segera enyah dan tak perlu mencampuri urusan.
__ADS_1
"Jika kau sudah tak mampu melindungi senyuman Melody, jangan mengikatnya dalam ikatan yang selalu kau permainkan!" Kata Alvin yang akhirnya membuka mulut.
Ikatan yang selalu dipermainkan? Apa yang dimaksud Alvin itu ikatan pernikahan?
"Aku tidak pernah mempermainkan ikatan pernikahanku dengan Melody!" Sanggah Yudha.
"Jika kau tak mempermainkan ikatan pernikahanmu dengannya, lantas kenapa dia selalu menderita saat bersamamu? Pernahkah kau berpikir jika apa yang kalau lakukan dengan putri keluarga Amamiya itu melukainya?"
Yudha bangkit dari duduknya. "Aku memikirkannya!"
"Memikirkannya tanpa aksi itu tidak guna! Jika kau sangat mencintai Amamiya-san, kenapa kau harus memenjarakan Melody? Tak bisakah kau melepaskannya?" Alvin sangat serius mengenai hal ini.
"Kenapa aku harus melepaskan Melody hanya karena kedekatanku dengan Yura? Dan lagi, aku sama sekali tidak mencintai Yura!" Kata Yudha.
"Cih, mulut dan otakmu sering bertolak belakang. Sudah lupa kau dengan segala kelakuanmu yang menyakitinya? Setelah begitu banyak kau menyakitinya, kau tanpa malu tak ingin melepaskan ikatan dengannya? Konyol. Kau konyol dan egois, Yudh!" Ejek Alvin.
Benar, sebagai suami Melody, Yudha merasa sudah terlalu banyak melukai hati Melody meski sebebarnya ia juga tak sengaja melakukannya. Hawa egoisme selalu berkuasa.
"Dengar, kau hanyalah masa lalu di kehidupan Melody, dan saat ini, aku adalah suami sahnya!" Kata Yudha. Ia menekankab pada kata 'suami sahnya.'
Alvin menggeratkan kepalan tangannya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Memerah dan membekas di sana.
"Kau hanyalah suami sahnya Melody. Ikatan dalam buku itu masih bisa diputus." Kata Alvin.
Yudha mendelik. "Apa yang sedang kau bicarakan? Kau ingin merebut Melody dariku?" Tanya Yudha.
"Kenapa tidak? Aku akan menjadi monster sekalipun demi kebahagiaan Melody!" Jawab Alvin.
"Alvin!" Bentak Yudha.
"Tanamkan dalam otak jeniusmu itu, Yudh! Aku akan mengembalikan segala senyuman Melody di bibirnya!" Ancam Alvin.
"Seorang kakak ipar seperti dirimu tidak berhak bersikap sok keren! Bersikaplah layaknya seorang kakak ipar yang baik!" Sindir Yudha.
Alvin terpancing. Kakak ipar? Ya, itulah posisinya saat ini. Dirinya adalah sosok kakak ipar untuk Melody. Memang salah jika seorang kakak ipar mencintai adik iparnya?
"Mengocehlah sesukamu! Aku akan merebut kembali Melody!" Kata Alvin.
__ADS_1
Kini Yudha yang marah. Ia tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Ia ikutan terpancing emosinya. Keinginan Alvin itu gila menurutnya. Bagaimana bisa Alvin menginginkan istrinya?
"Kau tak perlu mencampuri urusan rumah tanggaku dengan istri tercintaku! Kami sudah sangat bahagia tanpa dirimu. Masa lalu tetaplah masa lalu, kini kami sudah berjalan di jalan yang semestinya dan sedang menunggu buah cinta kami. Orang luar seperti dirimu sudah tak dibutuhkan lagi!" Kata Yudha pedas.
Sakit.
Ini jauh lebih sakit dari kata-kata pedas Yudha sebelumnya. Yudha sangat berani mengatakan hal yang menyakitkan seperti ini kepada Alvin. Padahal, Alvin itu sangat mencintai Melody.
Alvin menata Yudha tajam. Sangat tajam. Terasa sangat asing di mata Yudha. "Cintaku padanya jauh lebih besar dari cintamu!"
Yudha berjalan mendekati Alvin. "Lupakan tentang Melody!" Pinta Yudha.
"Aku akan tetap mencintainya!"
"ALVIN!!"
"Aku akan tetap menginginkannya!"
Dan buaghhh, sebuah bogem mentah mendarat di pipi kanan bawah Alvin. Alvin memegang bekas pukulan dari Yudha. Ia lalu meludah karena ada darah di sudut bibirnya. Sakit rasanya. Sakit yang nyata.
Yudha sendiri kaget karena tiba-tiba hilang kendali dan memukul Alvin. "Alvin aku.."
Alvin menatap Yudha dengan tatapan yang sama tajamnya dengan yang tadi, hanya saja kali ini jauh lebih dingin.
"Kau bisa egois, akupun juga bisa. Dia awalnya milikku, aku tak akan membiarkan orang baru mengamilnya dariku!" Kata Alvin yang langsung meninggalkan Yudha.
Yudha mematung di tempat. Setelah itu, ia beteriak dan menjambak rambutnya sendiri.
"BRENGSEEK!!" Kesal Yudha.
Yudha lalu menatap tangan yang baru saja ia gunakan untuk memukul Alvin, kakaknya.
"Alvin, maaf, aku terlalu emosional. Aku tak bisa jika itu Melody. Aku harus minta maaf langsung padanya! Dia pasti bisa mengerti! Alvin itu sangat baik, aku yakin dia akan menerima segala fakta ini. Aku dan Melody sudah bahagia. Alvin akan memahaminya. Ya, awali semuanya dengan permintaan maaf." Batin Yudha.
Meski nyatanya, berulang kali Yudha mencari Alvin, tapi tidak pernah bisa bertemu. Permintaan maaf yang ingin ia ucapkan hanya bisa tersimpan di angan. Semua tertunda dan berlarut-larut. Membuat ikatan persaudaraan yang awalnya hangat itu berubah mendingin dan terasa jauh.
FLASH BACK OFF
__ADS_1