MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Saga Masamune


__ADS_3

Diskotik..


Bagi beberapa orang terutama warga kota besar masuk ke dalam diskotik atau klub malam mungkin hal yang biasa. Diskotik memang telah menjadi “tempat rekreasi” bagi pengunjung setianya. Diskotik adalah tempat gaulnya “aktivis” gaya hidup metropolis.


Sementara bagi banyak orang lainnya diskotik adalah tempat yang tabu untuk dikunjungi. Dengan berbagai alasan, termasuk citranya yang lekat dengan kehidupan malam yang bebas, minuman keras hingga narkoba, diskotik menjadi tempat yang “terlarang” bagi banyak orang.


Suasana diskotik semakin malam, semakin ramai dan temaram. Hilir mudik orang dengan pakaian yang bermacam-macam gaya, mulai dari yang biasa hingga punggung terbuka, dari yang mengenakan jeans panjang hingga rok mini, semua melintas di depan mata. Aroma parfum dan rokok menyengat memenuhi ruang nafas. Sementara hentakan musik dari dalam diskotik sudah terdengar keras.


Ruangan diskotik ternama di kota itu cukup luas, dengan ada beberapa sofa tersedia di pinggir sementara sejumlah kursi berada di depannya menghadap ke panggung kecil. 


Tak ada lampu terang di dalamnya, hanya sorot lampu aneka warna yang menembak ke sana kemari. Sebuah lampu disko tampak berputar di tengah ruang. Musik yang diputar sangat menggoda badan untuk goyang. Hentakannya sangat keras hingga kuping tak bisa saling dengar. Berteriak pun nyaris percuma.


Malam makin larut. Suasana diskotik sempurna seperti apa yang hari-hari biasanya.  Beberapa orang mulai turun dari duduknya, mereka melantai menari saling berhadapan antara yang laki-laki dan wanita. Untuk beberapa saat mereka saling berangkulan dan ketika musik mengeras gerakan merekapun semakin menghayati.


Sungguh, pemandangan malam yang penuh gelora.


Satu persatu orang menyusul ikut menari sambil membawa gelas berisi minuman, entah jenis apa. Tentu saja minuman berakohol dari yang sedang sampai kuat. Maaf, teh oolong atau matcha di sini tidak ada.


Sejumlah orang di belakang dan yang duduk di sofa tetap asyik dengan kehidupan malamnya sendiri. Gelas-gelas minuman dan gelak tawa menemani mereka. Mungkin mereka inilah yang dinamakan aktivis kehidupan malam sejati.


Gila!


Hiburan malam seperti ini memanglah ada. Bahkan ada yang lebih gelap dan kelam dari sekedar rokok, minuman keras, dan juga narkoba. Apakah itu? Ya, apa lagi jika bukan sex bebas.


Musik keras dalam ruangan yang gelap dipenuhi aroma parfum, minuman dan rokok. Orang-orang, banyak di antaranya sepasang manusia, asyik berjoged mengikuti dentuman musik keras. Tawa mereka yang bercampur dengan kerasnya alunan musik membuat telinga pusing. Dan dalam sorot lampu disko yang temaram pakaian mereka yang tak biasa sempurna menghidupkan suasana “ajeb-ajeb”. Tempat seperti ini ternyata benar-benar nyata, tak hanya ada di layar kaca.


Jika kalian peduli dengan masa depan, tolong, jangan pernah sekalipun masuki dunia seperti ini. Akan sangat sulit keluar apa bila terjebak di sana.


Hidup itu hanya sekali, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya agar tak menyesal di akhir nanti. Tak semua hal yang membuat senang itu baik untuk diri. Cukup jadi orang yang biasa saja dan bertindak biasa saja pula. Jangan lupa untuk jauhi diskotik juga ya! Kalausekedar ingin joget, gampang itu mah! Tinggal stel musik dj keras-keras menggunakan speaker aktif yang jumbo. Beli lampu disko dan ganti lampu kamar dengan itu. Ah, jangan lupa beli susu kotak, kali saja nanti haus. V h h h h h h h h h h h h h h h h ngakak badai.


"Bajingan! Masalah ini saja kalian tidak bisa mengurusnya?" Saga kini benar-benar kesal pada ketiga bawahannya ini.


"Maaf, Saga-sama. Ini di luar perkiraan ka—"


"Diam, Tolol! Kalian bilang di luar perkiraan? Ini sudah kali ketiga kalian dikirim ke misi yang sama!" Saga pun akhirnya merebahkan badannya ke sofa yang ada di belakangnya. Dengan cepat, ia pun menuangkan alkohol ke gelas kecil dan langsung menenggaknya. Anak buahnya ini memang sudah membuatnya pusing tujuh keliling.


"Sekali lagi, maafkan kami, Saga-sama. Kami akan mencoba misi ini satu kali lagi. Kali ini kami jamin—" Lagi-lagi ucapan pria itu terhenti karena Saga memotongnya.


"Tidak. Tidak usah! Saya sendiri yang akan turun."


"T-tapi, Saga-sama—"


Saga pun langsung berdiri dan menggebrak meja yang ada di depannya. "Sudah! Kalian keluar dari ruanganku!"


"B-baik, Saga-sama." Dengan langkah teratur, ketiga bawahan Saga itu langsung keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Sial!" Umpat Saga setelah ketiga bawahannya itu menghilang di balik pintu.


"Sekretarisnya Yudha-sialan itu sangat pandai bersembunyi. Dia belum mati, tapi jejaknya sulit diikuti.


Mungkin untuk misi kali ini Saga memang harus turun tangan.


Cahaya terlihat berkilauan di mana-mana, siap menyambangi setiap mata yang melihat cahaya indah itu. Berkerlap-kerlip bagaikan bintang malam, dan berwarna-warni seperti pelangi. Suara musik dj juga terdengar mengiringi cahaya itu berputar, berputar di bawah para manusia yang tengah bersenang senang sekarang. Menikmati indahnya clubing di malam minggu.


Aroma bir tercium dimana-mana, menampilkan orang-orang yang tengah mabuk dibawah lampu disko bergoyang sesukanya, semaunya, sepuasnya. Terlihat juga beberapa pria hidung belang tengah berbelai mesra dengan para wanita penghibur. Termasuk seorang pria berambut raven yang sedang duduk manis diatas sebuah sofa merah dengan wanita cantik dipangkuannya.


"Malam ini, Saga-kun akan melakukan berapa ronde denganku?" Tanya wanita yang diketahui bernama Lady Shion, yang kini sedang duduk dipangkuan Saga dan membelai dada bidangnya.


"..." Saga tidak menjawab, ia terlalu sibuk menghisap cerutu mahalnya dari pada meladeni ucapan wanita ini. Tidak usah ditanya juga Lady Shion pasti sudah tau, kalau Saga akan memuaskannya hingga mata hari terbit.


Namun sayangya, Saga enggan bermain hari ini. Semenjak ia melihat fotonya Melody, ia menjadi tidak ingin bercinta.


"Rui-sama sudah menyetujui pelegalan senjata yang akan dikirim ke China. Dia akan membantu usaha penyelundupan kita." Bisik seorang pria berambut pirang yang ada disamping Saga. Sebut saja dia Nelson, seorang tangan kanan kepercayaan Saga Masamune.


Saga hanya mendehem, kemudian kembali menghisap cerutu dengan harga fantastisnya itu. Hidup dalam kekuasaan memang sangat menyenangkan.


Tidak hanya tangguh dan kuat, namun Saga dikenal sebagai orang yang jenius dalam hal berbisnis. Penyelundupan senjata, narkoba, organ tubuh, maupun manusia, tidak pernah ada yang terbongkar. Polisi tidak akan bisa mencium kejahatan Saga yang sangat rapih dan tertata. Tak ada ruginya menyuap orang dalam sebagai mata-matanya, padahal dia ketua polisi, tapi bisa semudah itu dirayu dengan uang. Dasar murahan.


Bruk.


Tiba-tiba saja seorang pria melemparkan sebuah map kearah Saga. "Lihat!" Tegasnya.


"Ini aku!" Pria itu segera membuka topi yang ia kenakan, menampilkan wajah ber-janggut yang tampan.


"Oh itu kau Komisaris Shin, ada apa?" Tanya Saga santai.


"Lihat saja-"


"Kalau bisa dijelaskan kenapa harus dilihat?" Cekat Saga segera memotong ucapan Komisaris Shin. Ia sungguh tidak suka jika ada orang yang berbelit-belit.


Saga itu sangat benci dengan hal-hal yang merepotkan. Sangat membencinya.


"Tempat pelacuranmu yang berada di Okayama terancam tercium oleh polisi. Mereka menyewa seorang ditektif rusia untuk melacaknya. Dan sepertinya dia sudah menemukanmu, dan sebentar lagi tempat itu akan ditutup!" Jelas Komisaris Shin cepat, melirik Saga yang sepertinya masih asik dengan cerutu mahalnya.


Anggota kepoluisian yang melakukan penyelidikan ini adalah ayahnya si kembar, Tachibana Shota, hanya saja Komisaris Lee sulit berbuat banyak mengingat Shota sendiri memiliki basik pendukung yang besar dari kepolisian.


Saga sedikit menyeringai, "Kau itu komisaris kepolisian Kyoto, yang memiliki akses besar di sebagian besar kepolisian di negara ini. Jadi selesaikan itu, bukankah karena itu aku menyewamu dan membayarmu dengan harga yang sangat mahal?" Kemudian ia beranjak, dan memakai jas putih yang ia gantungkan pada salah seorang anak buahnya.


"Baiklah tuan, saya akan mengerjakannya sebersih mungkin." Ujar Komisaris Shin kembali memakai topinya. Bisa bahaya jika ia ketahuan berada ditempat seperti ini.


"Hn. Jika kau gagal, kau tahu kan apa akibatnya?"

__ADS_1


"Ya, saya mengerti." Komisaris Shin mengangguk tanda mengerti.


Setelah itu Saga berjalan melewati Komisaris Shin, dengan rombongan anak buahnya yang mengekor dari belakang. Ia segera menyambangi mobil marcelagonya yang sudah terpajang indah didepan pintu diskotik. Ia bersiap untuk mengurusi urusannya yang lain.


Sebenarnya menjadi pemimpin Yakuza bukan keinginannya, walaupun dia sangat senang sekarang. Ayahnya, yang menjadikannya sebagai salah satu big boss disini.


Setelah Tuan Han mengurangi aktivitasnya sebagai ketua yakuza, Sagalah yang menggantikan posisinya, melanjutkan usaha ayah yang paling ia benci dengan terpaksa. Jika Saga bisa memilih, ia lebih senang terlahir dikeluarga miskin, melarat, tidak punya apa-apa, ketimbang ia harus terlahir di keluarga dengan harta berlimpah, tapi menjadi seorang anak dari pemimpin Yakuza.


Pemandangan kotor sudah Saga lihat sejak kecil. Pembunuhan, penyiksaan, pemandangan vulgar ketika ayahnya bermain bersama wanita-wanita jalang di ruang tamu, sudah menjadi pemandangannya setiap hari.


Hal ini membuatnya tak punya hati seperti. Tidak ada kasih sayang yang pernah ia kecap, karena sang ibu telah meniggal setelah melahirkannya.


Ayahnya? Oh, jangan berharap dari pria busuk itu, dia tidak akan pernah melakukannya. Jangankan berharap mendapat kasih sayang, menyentuh Saga saja Tuan Han hampir tidak pernah, Tuan Han lebih menyayangi Alvin dari pada dirinya yang tidak tau apa-apa.


"Sudah sampai, Tuan." Kata sang supir yang segera membuyarkan Saga dari lamunan panjangnya.


Kemudian Saga menuruni mobil, berjalan santai menuju rumah mewahnya yang sangat luar biasa indah, atau mungkin bisa dibilang rumah dewa?


"Konbawa, Saga-sama." Sapa para maid yang sudah berbaris rapi ketika Saga memasuki rumah sempurnanya itu.


"Hn." Saga hanya memberikan sautan khas keluarga Masamunenya. Karena sekarang matanya sedang tertuju pada seorang pria bermasker yang tengah berdiri di depan tangga.


"Ada apa Roni?" Sambil duduk santai diatas sofa, Saga melemparkan pertanyaannya.


Pria yang dipanggil Ronipun segera menyeringai menanggapi pertanyaan Saga. "Kau kenal dengan pria yang meminjam uang sebesar lima ratus juta yen sebulan lalu? Dia sekarang kabur entah kemana. Heh, dia mau main-main rupanya." Jawab Roni to the point.


Saga menyilangkan kakinya, kemudian menenggak segelas wine yang sudah disiapkan diatas meja. "Takeda, pengusaha restoran itu? Habisi saja!" Ucap Saga enteng. Kenapa masalah sekecil ini saja harus dilaporkan padanya? Bukankah anak buahnya saja bisa menyelesaikan ini.


"Ya, tapi dia mengancam akan membongkar semua usaha penyelundupan senjatamu ke China."


Dengan helaan nafas malas Saga segera melempar sebuah cek kearah Roni. "Itu hanya uang muka, sisanya akan aku bayar setelah kau menghabisinya"


"Ah.. Baiklah boss, aku akan menghabisinya sebelum mata hari terbit." Seringai Roni licik, kemudian segera keluar untuk menjalankan misinya.


.


.


.


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x


Jangan dianggap serius soal Saga. Itu hanya kira-kira penggambaran bagaimana kehidupan yakuza itu bagaimana. Untuk nama, tenang saja, itu juga tidak mengambil peran yang banyak. Tidak akan dipakai dalam cerita canon yang panjang.


Di sini, diketahui jika Saga tidak memiliki hubungan yang baik dengan sang ayah, Tuan Han. Jadi ia hanya bermuka dua di depan semua orang terutama sang ayah . Ia hanyalah wujud frustasi dari anak kecil yang masih tetap ingin bertahan dalam kerasnya kehidupan.

__ADS_1


Memang apa sih yang bisa diharapkan dari sosok seperti Tuan Han yang terkenal bejat, kejam, dan kelakuannya seperti setan itu? Saga termasuk hebat bisa bertahan sampai detik ini. Ia sudah berjuang keras untuk sampai ke tahap ini.


__ADS_2