MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah koma 27


__ADS_3

Kyoto. Hari berikutnya.


Yudha dan Shuhei dibantu Orion sedang mengurusi pemindahan Aron ke Tokyo.


Sebuah helli milik Yudha mendarat di atas gedung rumah sakit Kyoto Healthy Center. Tiga orang perawat mendorong cepat ranjang pasien menuju helli itu. Yudha, Shuhei, dan Orion mengikuti dari belakang. Ada beberapa orang berjas hitam yang juga andil di sana. Diketahui mereka adalah orang-orang Orion dari organisasi yakuza Fajar Keemasan.


Para perawat memastika Aron bisa duduk dengan nyaman di kursi helli yang tak begitu luas itu.


"Paman, maaf, tolong tahan rasa sakitnya, kita akan berusaha sangat cepat agar sampai ke Tokyo." Kata Yudha. Ia lalu menyelimuti Aron dengan kain tebal.


Shuhei duduk di samping pilot helli. Seorang mantan anggota Air force atau Angkatan Udara.


"Paman tidak ikut ke Tokyo?" Tanya Yudha yang kini sudah ada di dalam helli. Duduk di samping Aron.


"Paman akan menjenguk. Paman harus melakukan dealing dulu dengan yakuza Macan Selatan." Jawab orion.


Ya, Kyoto adalah wilayah organisasi yakuza Macan Selatan. Diketahui jika Yakuza Macan Selatan dipimpin oleh ayah tiri Alvin, Uchiyama Azumane.


"Itu akan sangat merepotkan." Kata Yudha.


Bentrokkan dua kubu yakuza penguasa Jepang itu tidak sesantai yang ada di film. Yudha tahu jika sehabis ini akan ada acara baku tembak. Kedua kubu pasti tidak akan menyukai jika musuh berani menginjakkan kaki di wilayah kekuasaannya.


Mirisnya, korban nyawa tentulah ada.


"Jaga diri paman!" Kata Yudha.


"Iya. Jaga dirimu juga!" Kata Orion.


"Hn."


Usai berpamitan, pesawat helli itupun lepas landas menuju Tokyo. Orion hanya bisa melihat ke atas pesawat helli yang ditumpangi oleh dua anak didiknya dan sahabatnya.


"Masalah akan sangat besar, Yudh. Tidak sesederhana yang kau pikirkan. Cih, kurcaci Macan Selatan tidak tahu siapa yang mereka hadapi sepertinya.." Batin Orion.


.


.


.


Di dalam helli...


Yudha sedang berpikir keras. Otaknya kembali harus ia paksa memikirkan banyak hal selain tidur.


"Apakah ayah tirinya Alvin otak dari penculikkan paman Aron? Jika benar dia terlibat, lalu apa yang dia incar dari paman Aron? Hah, aku belum bisa menanyai banyak hal pada paman Aron. Paman Aron perlu pemulihan fisik terlebih dahulu." Batin Yudha.


Yudha memijat kepalanya. Semakin sangat pusing.


.


.


.


Sesampainya di Tokyo, pesawat helli itu mendarat di atap gedung rumah sakit Kazehaya International. Pesawat helli itu sudah ditunggu dokter utama dan beberapa perawat. Mereka dengan sigap menangani Aron.


Ketika Aron sudah nyaman di ranjang pasiennya dan siap dibawa ke IGD, Yudha melihat Melody di depan pintu masuk Lift. Angin yang cukup kencang itu menerbangkan rambut dan kain baju Melody.


Sosok istri yang sangat ia rindukan tengah menyambut kedatangannya.


"Kalian urus paman Aron dan pastikan dia mendapatkan perawatan yang terbaik!" Kata Yudha.


"Baik, Yudha-sama." Kata Dokter dan diikuti oleh para perawat.


"Shuhei, tolong bantu urus paman Aron!" Pinta Yudha.


"Baik, saya akan melaksanakan perintah Anda." Kata Shuhei. Ia menundukkan badannya pada Yudha. "Kalian semua, cepat bawa Aron-san masuk ke dalam!" Perintah Shuhei lantang.

__ADS_1


"Baik, Tuan Shuhei."


"Yudha-sama, saya permisi." Kata Shuhei.


"Hn."


Rombongan itu kemudian mendorong ranjang pasien itu menuju lift, bersimpangan dengan Melody sekilas. Melody hanya bisa menujukkan betapa kagetnya ia saat melihat kondisi tubuh Aron yang penuh perban itu. Ia bahkan menutup mulutnya karena saking terkejutnya.


Orang yang hampir setahun yang lalu menyampaikan lamaran keluarga Kazehaya kepadanya kini terbaring lemah tak berdaya. Sangat miris melihatnya. Kenapa orang sebaik Aron bisa mengalami hal seperti ini?


"Nona Melody, tidak apa-apa. Saya yang akan mengurusnya. Anda temui saja Yudha-sama!" Pintai Shuhei.


Melody mengangguk dan dengan cepat ia menekan tombol open pada lift itu. Pintu lift terbuka.


"Arigato gozaimasu, Melody-sama."


"Hn."


Pintupun tertutup kembali usai Shuhei dan rombongan masuk ke dalam.


Melody berbalik dan menatap ke arah dimana suaminya berdiri.


Kemeja putih dan celana bahan hitam. Dua paduan warna yang sangat Yudha sukai. Yudha sangat sering memakai pakain seperti itu. Kemeja dan celana bahan. Sangat jarang bisa ia temukan Yudha memakai kaos oblong. Jujur saja, ia ingin berkencan dengan Yudha seperti pasangan muda-mudi pada umumnya. Berjalan kaki menyusuri taman dan bergandengan tangan. Memakai baju couple dan mencicipi ice cream di pinggir jalan.


Melody masih setia menatap suaminya. Cara berpakaian yang tidak rapi. Kemeja tidak dimasukkan ke dalam celana. Kancing kemeja tak terpasang pada tempatnya, Yudha memang membiarkannya terbuka. Tidak telanjang karena Yudha memakai kaos dalam senada dengan kemejanya.


Yudha berdiri tak begitu tegak. Rambut acak-acakkannya tersapu angin. Begitupun dengan kemeja yang dipakainya. Yudha melepas kaca mata hitamnya dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.


Tubuh ramping dan tinggi, meski cenderung kurus. Sangat mirip tokoh ikemen di dalam manga atapun anime. Publik saja banyak yang menyebut jika Yudha ini adalah sosok suami nasional idaman banyak wanita.


Bukankah Yudha itu sangat tampan?


Terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa.


Ketika helli itu mengudara atas perintah Yudha, angin bergerak lebih kencang. Membuat Melody harus memejamkan matanya untuk menahan kuatnya angin.


Kekuatan angin itu semakin berkurang, Melody menyingkirkan rambutnya yang mengganggu pandangannya. Ia perlahan membuka kedua matanya. Dilihatnya samar-samar Yudha sedang berjalan mendekatinya.


Dan tak butuh waktu yang lama untuk berdiri di hadapan Melody.


Yudha mengeluarkan tangannya dari dalam saku celananya. Ia kemudian menakupkannya di depan dada.


"Sudah lama ya, istriku.." Kata Yudha. Ia menatap Melody dengan senyuman tipisnya.


"..." Melody tak menanggapi sapaan dari Yudha. Ia malah berbalik badan dan bersiap meninggalkan Yudha.


Yudha menahan pundak Melody dan dengan cepat ia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.


"Maaf tidak menceritakan semua yang terjadi kepadamu." Kata Yudha.


"Kurasa aku masih kurang bekerja keras agar kau bisa sepenuhnya mempercayaiku." Kata Melody dingin.


"Bukan seperti itu. Alasannya masih sama. Aku minta maaf." Yudha mencium tengkuk Melody.


Agar tidak khawatir?


Melodypun luluh, ia cukup dewasa untuk memahami Yudha. Iapun berbalik dan membalas pelukkan Yudha. Menenggelamkan diri dalam hangatnya pelukkan orang yang sangat dicintai. Meneteskan air mata dengan banyak rasa. Sedih dari rasa rindu yang tertahan karena lama tak bertemu. Bahagia karena akhirnya bisa bersua.


Yang terpenting Yudha baik-baik saja.


Melody mengencangkan cengkramannya pada kemeja yang Yudha pakai. Yudhapun menambah eratnya pelukkannya. Melody pasti sangat senang dirinya bisa pulang dengan selamat.


"Aku senang kau memelukku seperti ini, tapi apa kau tidak kasihan sama si kembar? Mereka terhimpit loh.." Kata Yudha.


"Aku ingin melepaskan pelukkan ini karena takut si kembar kenapa-kenapa, tapi tanganku tak ingin melepaskanmu." Kata Melody. Ia menatap Yudha dengan masih kedua tangannya memeluk Yudha. "Dou shiyou?" Lanjutnya. Ia malah terisak semakin keras.


Selalu saja menangis jika itu tentang Yudha. Haruskah ia menjadikan lagi kehamilannya itu sebagai alasan?

__ADS_1


Dou shiyou: Bagaimana ini?


Yudha tersenyum. Ia memegang kedua pipi Melody dengan kedua tangannya. Ia mencium bibir Melody lembut dan setelah itu ia mencium kening Melody.


"Kalau begitu, biarkan seperti ini lebih lama lagi. Hm?" Kata Yudha.


Melody mengangguk dan kembali memeluk Yudha. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang Yudha.


Yudha menikmati moment indah ini. Ia membalas memeluk istrinya yang tengah berbadan tiga itu. Merengkuh tubuh Melody kedalam pelukkan kedua tangannya.


"Yudh, you know?" Kata Melody.


"What?"


"I did three things everyday; miss you, miss you, and miss you more."


I did three things everyday; miss you, miss you, and miss you more: Aku melakukan tiga hal setiap hari; merindukanmu , merindukanmu , dan semakin merindukanmu.


"Hm, i know.." Gumam Yudha senang.


"I am sorry that I can’t stop missing you. Your photographs fill my heart with joy bright." Melody kembali melanjutkan kata-katanya.


I am sorry that I can’t stop missing you. Your photographs fill my heart with joy bright: Aku minta maaf karena aku tidak bisa berhenti merindukanmu. Foto-fotomu membuat hariku berwarna


"I'm so happy coz your english goes well, Mel. Same with me. Separation is not issue when I see you on my fantasies." Kata Yudha.


I'm so happy coz your English goes well, Mel. Same with me. Separation is not issue when I see you on my fantasies: Aku bahagia karena bahasa Ingrismu semakin baik. Aku juga sama. Jarak bukan masalah saat aku bertemu dirimu dalam mimpiku.


"Aku memang buruk di akuntansi, tapi aku tak akan kalah di bahasa Inggris!" Kata Melody.


"Ketika kau jauh dariku, aku bisa merasakan betapa cintamu selalu memanggil-manggil jiwaku, begitu juga aku, karena hatiku selalu merindukanmu." Kata Yudha.


"Gombal." Meski begitu, Melody masih saja tersipu malu.


"When you miss me, just take a look at the stars in the sky. I am the star who would watch over and take care of you up there." Lanjut Yudha yang semakin menggombal.


When you miss me, just take a look at the stars in the sky. I am the star who would watch over and take care of you up there: Ketika kau merindukanku lihatlah bintang-bintang di langit. Aku adalah sebuah bintang yang akan selalu mengawasi dan menjagamu dari atas sana.


Preet banget sumpah!


Sayangnya, Melody malah semakin terlena akan kata-kata manis Yudha.


"Lagi!" Pinta Melody.


Yudha ingin tertawa. Sebenarnya sejak kapan ia mendadak menjadi seorang penyair sepertu ini, heh?


"Ketika aku merindukanmu , aku tidak perlu pergi jauh. Aku hanya harus melihat ke dalam hatiku karena di situlah aku akan menemukan mu." Kata Yudha. "Lagi?" Lanjutnya.


"Sekali lagi!" Pinta Melody.


"Kau yakin bisa mengatasinya? Kulihat wajahmu sudah sangat memerah." Kata Yudha.


"Once more time, ok? Please!"


"Ketika kau rindu padaku lihat saja ke langit malam dan ingatlah, aku bagaikan bintang, mungkin kau tidak dapat melihatku karena mendung yang tebal, tetapi aku selalu ada di langit sana untuk dirimu." Kata Yudha.


Aw.


"Yudh?"


"Ya?"


"Bolehkah aku pingsan dalam kemanisan ini?"


"Ja-jangan.." Yudha malah menjadi khawatir, pasalnya muka Melody memanas dan seperti bakso lobster yang merah menggoda.


Cih, rasanya ia ingin segera menyantap Melody.

__ADS_1


Dan gilanya. Ia butuh seper sekian detik ketika sebuah ciuman panjang membungkam mulutnya.


Sejak kapan Melody menjadi seberani ini?


__ADS_2