MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pahitnya Kopi


__ADS_3

"Ini biaya untukmu, Kabuto-san. Terima kasih untuk artikelnya. Itu sangat bagus." Kata Tuan Park.


Orang yang bernama Kabuto itu hanya menyunggingkan senyuman terpaksabya sembari mengambil uang yang ada di dalam amplop yang Pain sodorkan kepadanya.


"Terima kasih banyak, Tuan."


Kata Kabuto.


"Tidak perlu sungkan seperti itu, kau hanya perlu ingat jika sampai kau membocorkan rahasia ini kepada siapapun, kau tahu apa yang akan terjadi, kan?"


Kabuto memucat. "Saya tidak akan mengatakannya pada siapapun. Anda bisa memegang ucapan saya."


"Baguslah, ketahuilah, ini yang dinamakan kekuasaan!" Tuan Park menyeringai.


.


.


.


Kurenai sedang menandatangani beberapa berkas penting, hari ini ia merasa sangat senang. Rencana pertama sudah mulai terlaksana. Pengendalian pion seperti Yura rupanya cukup membuahkan hasil.


Sesuai dugaannya, gadis polos seperti Yura bisa termakan omongannya juga. Hanya dengan sedikit pancingan saja membuat Yura sampai bertindak sejauh ini. Wanita memang banyak pertimbangan dan mudah goyah. Kekuatan manipulasinya memang cukup memuaskan.


Saat ini, ia hanya perlu mengorbankan Yura demi kemenangannya melawan Kakek Wijaya.


"Kau hanyalah tumbal kemenanganku, Anamiya-san. Berbuatlah semaumu. Manfaatkanlah apa yang ada padamu, maka kau akan mendapatkan segala keinginanmu, Anak muda memang menarik."


Setelah peresmian mega proyek pusat pembelanjaan modern di Akihabara, kerjasama antara Emperor Group dan Uchiyama Corp semakin baik. Bahkan, perusahaan make up dan fashion milik Kurenai juga menjadi perusahaan yang mulai menjalin kerjasama dengan Emperor Group untuk mengisi stok retail di bagian super mall.


Meski tak banyak, namun prusahaan make up dan fashion milik Kurenai memiliki saham di Kazehaya Group sebesar 0,2 %.


Perusahaan make up dan fashion milik Kurenai sangat menjajikan, Kurenai berhasil menawarkan produk dengan kualitas yang bagus. Brandnya juga mulai terkenal di Eropa, akan sangat menguntungkan jika bermitra dengan perusahaan ini. Emperor Group mulai meliriknya.


Kerja kerasnya dan tentu saja atas bantuan dari Azumane mulai berbuah manis. Dalam pandangan orang umum, maka saat ini adalah pencapaian terbaik dalam hidup. Perusahaan semakin maju, penghasilan banyak, dan penuh kemewahan.


Apa ada yang perlu dicacat atas pencapaian seperti itu? Apa perlu dikomen? Apa perlu disanggah? Apa ada yang belum memuaskan? Nyatanya manusia adalah manusia. Berotak dan berakal. Manusia selalu ingin lebih dan lebih. Tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah didapatkan. Akan selalu berjuang demi impian baru yang akan muncul setelah impian lama tercapai.


Akan selalu ada mimpi yang lain.


Akan selalu ada asa lain.


Layaknya Kurenai, wanita cantik ini adalah sosok ambisius dan prestisius yang akan selalu berjuang keras di dalam hidupnya yang keras. Ia tahu betul bagaimana rasanya terluka.

__ADS_1


Luka dalam tak begitu saja terobati. Luka dalam selalu meninggalkan bekas, menyesakkan jika teringat. Butuh perjuangan untuk menyembuhkannya, butuh upaya untuk menyembuhkannya, butuh obat untuk menyembuhkannya. Dimanakah obat itu? Hanya tergantung bagaimana pola pikirnya menentukan arah dan keputusan.


.


.


.


Kanada, pukul 20.08..


Shuhei memesan kopi hitam pahit dan mocca latte di sebuah kedai kopi yang berada di dekat jalanan utama daetah Ottawa. Memesan dua jenis kopi untuk dirinya dan Tuan Mudanya.


Setelah memesan kopi, ia kembali menghampiri Tuan Mudanya yang sedang duduk di kursi pengunjung dekat dengan tembok kaca yang menghadap langsung ke arah jalan.


Hari sudah malam, tapi kota Ottawa tidak mati. Masih banyak aktivitas, masih banyak orang berlalu-lalang kesana kemari. Lampu-lampu kota dan lampu-lampu bangunan menyala dengan berbagai modelnya. Warna-warni menambah kesan indah malam ini.


Bahkan sorot lampu kendaran juga menyumbangkan keindahannya.


Shuhei kembali memperhatikan Tuan Mudanya.


Yudha masih setia dengan tatapannya, melihat ke arah luar dinding kaca. Mata itu terasa kosong dan memikirkan sesuatu yang entah apa itu.


Pekerjaan dan urusan bisnis terlalui dengan sangat lancar. Proyek-proyek kerja sama juga semua berhasil tertanda tangani. Tapi mata Yudha tidak menancarkan suatu sorot kepuasan di sana. Mata itu terlihat-sedih?


Apa mungkin karena hal itu?


Dengan langkah tegapnya, Shuheipun menghampiri Yudha. Ia lalu duduk di hadapan Yudha.


Yudha tersadar ketika Shuhei menarik kursi di depannya. Suara dari kursi itu membangunkan lamunannya.


"Kau sudah memesannya?" Tanya Yudha akhirnya.


"Ya, saya sudah memesankan kopi pahit kesukaan Anda, Yudha-sama." Jawab Shuhei.


"Hm, begitu ya?"


"Ya. Anda ingin makan sesuatu? Di sini menyediakan pancake dan kacang." Tawar Shuhei.


"Tidak. Aku hanya ingin minum kopi pahit saja." Yudha kembali menatap ke arah luar dinding kaca.


Shuhei menatap kembali Tuan Mudanya itu. Sikapnya hari ini sangat berbeda. Lebih kalem dan berbicara sekenanya. Sangat berbeda saat urusan kerja, ide cermelang keluar begitu bsnyaknya dari mulut Yudha.


Tak lama setelah itu, pesanan dua cangkir kopipun datang. Seorang pelayan yang ramah menyapa mereka. Memberi isyarat untuk segera menikmati kopi itu selagi hangat.

__ADS_1


Yudha dan Shuhei mencicipi kopi mereka masing-masing. Sensasi hangat mendekati panas berpadu dengan aroma kopi yang khas.


Aroma yang sangat digilai bagi semua pecandu kopi.


"Shuhei, ada kabar tentang Melody?" Tanya Yudha. Ia meletakkan kopinya di meja kedai.


Shuhei menggeleng. "Tidak, Yudha-sama."


"Oh. Apa dia tidak mengirim pesan kepadamu seperti yang biasa dia lakukan?"


Shuhei kembali menggelengkan kepalanya. "Nona Melody sama sekali belum mengirimkan pesan apapun selama delapan hari ini, Yudha-sama."


"Oh."


"Ya."


Yudha kembalu menikmati secangkir kopi hitam pahit miliknya. Ia menyesapnya perlahan. menikmati setiap 'kepahitan' kopinya. Candu. Rasa pahit kopi seperti candu untuknya. Meski rasanya sangat pahit, ia sangat menyukainya dan selalu ketagihan untuk meminumnya lagi dan lagi.


Sejenak otaknya berpetualang ke masa lalu. Bukan mengingat bagaimana kisahnya dengan Yura, meninggalnya sang ayah, perjanjiannya dengan sang kakek, atau tentang kisahnya dengan Melody. Bukan itu.


Lalu apa masa lalu yang saat ini Yudha pikirkan?


Jangan tertawa! Ini memang akan sangat tidak penting untuk diceritakan. Yang jelas, sesuai fakta pikirannya, Kazehaya Yudha sedang memikirkan kopi!


Kopi?


Ya, kopi! Kopi yang menjadi candunya, kopi yang sering ia nikmati hampir setiap hari. Kopi pahit tanpa gula kesukaannya.


Sejak kapan ia mulai minum kopi? Ingatkah ia kapan waktu pertama kali mencicipi rasa kopi? Kenapa ia begitu menyukai rasa pahitnya? Bukankah banyak orang lebih menyukai rasa manis? Kenapa dirinya berbeda?


Yudha kembali menatap kopinya. Sudah terminum setengah lebih. Ada sisa kopi membentuk guratan melingkar di cangkirnya.


Yudha lalu memegang dadanya.


"Rasanya memang pahit."


.


.


.


"Tuan Muda, Anda tidak paham perasaan Anda saat ini. Tahukah Anda? Anda saat ini tengah merindukan Nona Melody."

__ADS_1


__ADS_2