MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 22


__ADS_3

Berikut adalah alur waktunya mengambil sehari sebelumnya dari chapter kemarin. Jadi hari uang dipakai adalah hari saat Shuhei pulang ke Tokyo.


________________________________________


Kyoto (京都市 Kyōto-shi) adalah kota yang terletak di Pulau Honshu, Jepang. Kota ini merupakan bagian dari daerah metropolitan Osaka-Kobe-Kyoto. Kyoto memiliki banyak situs bersejarah dan merupakan ibu kota Prefektur Kyoto.



Kyoto telah menjadi ibukota dari Negeri Jepang, tempat tinggal Sang Kaisar Jepang selama 1000 tahun lebih, dari tahun 794 hingga tahun 1868. Selama berabad-abad lamanya, Kyoto mengalami banyak peperangan, bahkan sempat menjadi target operasi bom atom pada perang dunia II. Namun Kyoto tetap bertahan hingga kini, dan menjadi salah satu kota terindah di Jepang dengan penduduk mencapai 1,5 juta jiwa.



Kuil-kuil yang mententramkan hati, berbagai taman dengan keindahan yang agung, juga bangunan tradisional Jepang, dan para Geisha, menjadikan Kyoto sebuah kota yang menunjukkan kehidupan asli masyarakat Jepang, dengan semangat Zen yang terus hidup. Berkunjung ke Kyoto, dapat menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa, tidak hanya untuk sekedar wisata, tetapi juga pengalaman spritual.


________________________________________


"Paman Aron. Paman baik-baik saja?" Tanya Yudha.


"Yu-Yudha?" Kata Aron lemah.


Yudha merasa sangat miris melihat bagaimana kondisi Aron saat ini. Penuh luka dan tubuhnya sangat kurus. Ia memang sudah siap akan kemungkinan terburuk seperti luka yang seperti ini. Ia hanya tidak menyangkan jika bayangan luka dalam ingatannya akan berwujud separah ini.


Semengerikan apa siksaan yang diterima oleh paman angkatnya ini?


"Paman, ini seperti orang berbeda, apa paman memiliki ide tentang para penculik ini?" Tanya Yudha.


"Maafkan saya, Yudha-sama. Sa-saya tidak paham." Jawab Aron.


"Maafkan aku, paman. Maaf, jangan bicara terlebih dahulu! Paman istrirahat saja! Biar aku yang mencari cara." Kata Yudha.


Di sini mereka. Di dalam sebuah ruangan yang tak dikenali. Disekap berdua dalam ruangan yanh sama. Bagusnya, ada sebuah ranjang besar di dalamnya. Yudha jadi bisa membantu Aron istirahat nyaman di ranjang itu.


Yudha maupun Aron tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Seingat Yudha, ia sedang menyelinap ke rumah dimana Aron disekap. Tiba-tiba saja ada yang membekap mulutnya dengan kain. Matanya menggelap dan iapun tak sadarkan diri. Ketika ia sadar, ia sudah berada di ruangan yang berbeda. Ia yakin jika tempatnya juga berbeda. Ia sama sekali tak mengenali tempat ini.


Semakin bingung lagi karena pada saat ia sadar, paman angkat yang ingin ia selamatkan justru sudah ada di sampingnya.


Apa kali ini ia sedang disekap dengan orang yang sama dengan orang yang menyekap Aron?


Apakah orang yang menyekapnya saat ini adalah orang lain yang menginginkan dirinya dan Aron? Jadi orang itu sekalian menyelematkan Aron?


Menyelamatkan mungkin bukan pemilihan kata yang tepat. Intinya, dipindah tangankan.


"Aku senang paman Aron masih hidup. Namun kondisinya sangat menyedihkan. Aku harus segera keluar dari sini dan membawa paman Aron ke rumah sakit!"


Yudha sebenarnya kembali bingung dan terheran-heran. Ada selang infus tertancap di tangan Aron. Sebagian luka parah milik Aron juga terbalut oleh kain perban. Ada di lengan, dada, kaki, dan kepala Aron.


Aron mendapatkan perawatan medis?


Siapakah sebenarnya orang-orang yang menculiknya saat ini?

__ADS_1


Tidakkah ini perlakuan yang terlalu baik untuk dilakukan seorang penculik?


Penculik merawat baik-baik tawanannya?


Sedikit konyol, ataukah memang butuh uang tebusan makanya tawanan dijaga baik-baik?


Meski hal itu memiliki kemungkinan, tapi sepertinua itu tidaklah mungkin. Ada alasan lebih besar daripada itu.


Namun lagi..


Alasan apakah itu?


Yudha memijat kepalanya yang sangat pusing. Efek obat bius masih terasa.


Ia mencoba menenangkan diri dan pikirannya terlebih dahulu. Saat ini ia terlalu banyak berpikir karena masalah yang baru saja ia alami.


"Aku kehilangan ponselku. Aku tak bisa menghubingi Shuhei. Shuhei pasti juga kesulitan melacak keberadaanku. Apa yang harus aku lakukan? Lalu Melody? Astaga, dia pasti akan sangat kesal karena aku mengabaikannya seharian ini. Sejak semalam malahan... Menurutku dia marah jauh lebih baik daripada dia bersedih karena diriku... Kuharap kau tak menangis karena aku tak mengabarimu, Mel." Batin Yudha.


Yudha menoleh Aron yang terbaring lemah.


"Aku tak mungkin memaksa tubuh paman Aron untuk berduel dengan para penculik. Aku memang harus cari jalan lain agar bisa segera keluar dari tempat ini bersama paman Aron. Oke , aku mencari-cari sesuatu dan mulai melihat-lihat bagaimana struktur bangunan kamar ini." Lanjut batin Yudha.


Yudha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ada sebuah jendela besar di sana. Dengan cepat Yudha mencoba membuka jendelanya dan berhasil terbuka.


"Aku bisa melarikan diri dengan jendela ini. Namun bagaimana caranya membuat paman Aron bisa melakukan hal yg sama."


Ketika Yudha sedang sibuk karena berusaha membuat jalur kabur, tiba-tiba ada orang yang mengagetkan Yudha.


Yudha lamgsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa kagetnya Yudha saat mendapati siapa yang sedag berbicara dengannya saat ini.


"Paman Orion?" Tanya Yudha. Ia melebarkan kedua matanya.


Orion tersenyum. "Yo keponakanku yang super nakal!"


"Ini sungguh pamanku? Paman yang membawaku dan paman Aron ke sin?"


"Tentu. Siapa lagi kalau bukan pamanmu yang keren ini? Beri tepuk tangan!"


Yudha tentu saja ogah melakukannya. Mana mau ia melakukan hal konyol seperti ini.


"Cih, masih saja bersikap dingin seperti dulu."


"Paman bagaimana bisa paman menemukanku dan paman Aron?" Tanya Yudha yang memilih mengabaikan pertanyaan Orion yang menurutnya tak penting itu.


"Diabaikan. Hmm. Setelah mendengar ayah kecelakaan dan Aron menghilang, aku langsung fokus mencari Aron selama ini. Saat kemarin anak buahku menemukan lokasi penyekapan Aron akupun langsung turun tangan. Tak aku sangka jika kau juga bergerak. Kau tahu apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Orion.


Yudha menggelengkan kepalanya.


"Kau sangag ceroboh! Bagaimana jika kau terluka? Main masuk sarang musuh saja! Ajaran Aron memang tak berguna. Harusnya kau serang jarak jauh saja dengan senapan. Itu jauh lebih aman." Kata Orion.

__ADS_1


Yudha merasa sedang kembali ke masa-masa ia terjebak di antara pertengkaran heboh pamannya karena membandingkan cara pengajaran seni bela diri yang baik. Sampai saat inipun, Yudha masih mendengarngnya langsung dari Orion. Pamannya memang tak banyak mengalami perubahan.


"Sudahlah, Paman! Yang penting paman berhasil menyelamatkanku dan paman Aron." Kata Yudha.


"Sukanya menganggap enteng!"


"Haha, yang penting kan semyanya haik-baik saja. Apapun itu, terima kasih banyak karena sudah datang menolongku dan paman Aron." Kata Yudha sopan.


Orion mengacak-acak pucuk kepala Yudha. "Sama-sama. Ngomong-ngomong, kau sudah tumbuh dewasa ya? Paman sudah melihat istrimu, sangat cantik." Kata Orion.


"Paman akan segera dipanggil kakek." Kata Yudha.


"Haha, paman menunggu saat itu tiba. Akan sangat seru ketika anakmu memanggilku dengan sebutan 'kakek'." Orion tertawa renyah.


"Paman kurang tua!"


"Kau saja yang terlalu terburu-buru memiliki anak. Bagaimana? Enak tidak punya istri yang bisa nuruti nafsu setiap kali ingin?" Goda Orion.


"Paman, kita baru saja bertemu setelah sekian lama, bisa tidak bahas yang lain? Menikahlah jika paman ingin merasakannya!"


"Lah, paman saja bisa melakukannya berkali-kali meski belum menikah." Kata Orion dengan senyuman tengilnya.


"Paman mengerikan."


"Meski mengerikan, tapi masih tetap pamanmu, kan?"


"Ya, tentu saja. Paman adalah pamanku."


"Paman senang mendengarnya. Nah Yudh, kau menginginkan sesuatu? Paman akan usahain." Tanya Orion.


"Tidak ada, aku hanya ingin paman Aron segera mendapatkan perawatan yang layak. Luka yang ia terima cukup serius." Jawab Yudha.


"Benar apa katamu, kita memang harus segera membawa Aron ke rumah sakit. Namun tunggu sampai suasana reda. Orang-orang dari kelompok yang menculikmu sedang berkeliaran untuk mencarimu dan Aron. Aku hanya bisa memanggil dokter untuk sementara."


Yudha menganalisa. Ia memang terdidik. Keputusan Orion memang ada benarnya. "Aku akan menunggu sampai suasana membaik. Yang penting saat ini."


Kazehaya Orion hanya menyunggingkan senyumannya. Ia memang harus menahan dua orang ini untuk menjaganya agar tidak terjadi hal yang merepotkan di kelak kemudian hari.


"Nenekmu pasti saat ini sedang sangat puas." Kata Orion.


Tudha menaikkan sebelah alisnya. " Nenek?"


"Iya, nenekmu meminta seribu orang untuk mengawasimu!"


"Ha-hah?"


________________________________________


Pendek kata dulu. lagi, aku minta maaf untuk typo. Seriusan tadi nagantuk banget aku teetidur beberapa kali sambil ngetik. Kadang ada yang tidak nyambung sama sekali.

__ADS_1


Oh iya, karena ada kegiatan tasyakuran, aku meliburkan diri untuk hari esok dan mungkin juga kamis. Bye bye sebentar.. 😉😉


__ADS_2