
Hari ke 2 di Okinawa. Kamar inap Melodi & Yudha. Pagi hari yang cerah..
"A-apa yang harus aku lakukan? Ba-bagaimana ini? Mia bebek panggang sialan.. Ini pasti ulah dia! Kemarin dia yang menata dan merapikan pakaianku. Aku yakin saat itu dia mengambil pakaian renangku." Kesal Melody karena dia terpaksa memakai pakaian super sexy yang ada di tasnya yang ternyata bukan miliknya.
Pakaian super sexy atau lebih tepatnya bikini itu terlihat sangat cocok dengan tubuhnya yang langsing. Berwarna merah muda dan berenda membuatnya terlihat manis dan menggoda.
Bagaimana tidak, bikini sexy itu sukses mengekspo tubuh Melody. Putih mulus, perut rata, dan kaki jenjang semua terlihat sangat jelas di depan cermin.
"Haruskah aku keluar dengan pakaian se-seperti ini?" Melody menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak mungkin! Tidak, aku tak cukup memiliki keberanian. Bagaimana ini? Aduuh bagaimana ini? Aku sudah membuat yang lain menunggu."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka…
"Melody, bisakah kau lebih cepat? Yang lain sudah menunggu…" Kata Yudha nyelonong tanpa permisi.
Ak..
?
?
?
"Yu-Yudha…" Kaget Melody saat melihat Yudha di tengah pintu kamar dan sukses melihat sempurna tubuhnya yang terbalut bikini merah muda itu. Melody lantas menutupi bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Yudha terlihat kesulitan menelan ludahnya melihat kemolekkan tubuh Melody. Yudha tidak pernah sedikitpun membayangkan akan melihat tubuh Melody se'ekstrim' ini.
Perawatan tubuh yang Melody jalani selama ini memang berhasil. Yudha memandangi kaki jenjang Melody, berpindah ke atas, melihat V line dari bikini itu. Yudha kembali menelan ludahnya, meski Melody tak menyadarinya.
Ke atas lagi, berpindah ke perut yang rata, ke atas, sesuatu tertutupi ke dua tangan Melody yang saling bersilangan.
Kenapa rasanya menjadi panas? Bukankah AC kamar sudah menyala?
Cihh, sial, wajah Melody yang memerah semakin menggoda.
Yudha, kembalilah normal!
Yudha paham betul jika bikini itu pakaian lumrah untuk berenang dan bermain di pantai. Banyak teman wanitanya yang memakainya. Turis dan para pelancong juga memakainya. Bukankah itu biasa?
Apa reaksi dari para pengunjung pantai jika Melody memakai pakaian seperti itu? Mungkin mereka punya kesibukkan sendiri. Tapi bagaimana dengan para laki-laki? Nao? Yudha sangat mengenal Nao. Di rumahnya saja Nao berani memeluk Melody tanpa seijin darinya.
Bagaimana Nanti? Di pantai? Dengan pakaian minim bahan Melody?
Tidak, tidak, tidak!
Yudha yang terkenal lihai mengendalikan diri saja bisa kesulitan di hadapan Melody, apa lagi laki-laki yang lain? Tidak boleh! Melody itu istrinya! Istri yang baik harus menjaga nama baik keluarganya! Itu yang mencoba Yudha jadikan alasan logis.
Yakin?
__ADS_1
"Melody.." Panggil Yudha.
Melody memberanikan diri menoleh ke arah Yudha dengan tangan yang masih menutupi dadanya dan wajah yang memerah karena malu.
"Y-ya?"
Yudha berjalan mendekati Melody. Melody hanya terdiam saat Yudha semakin dekat dengannya. Melody benar-benar tidak tahu apa yang sedang Yudha pikirkan. Maklum saja, Melody sedang dipenuhi rasa malu. Ia tidak bisa berfikir apa-apa lagi.
"Melody apa kau berniat keluar dengan pakaian seperti itu?" Tanya Yudha.
"E-entahlah, sudah tidak ada pakaian renang lagi. Mia me-meminjamkannya kepadaku. A-aku lupa mem-membawa pa-pakaian re-renang." Melody harus mencari alasan logis agar Yudha tak bertanya yang aneh-aneh ya walau dibumbui kebohongan.
Bagai terpana, terhipnotis suasana atau apa, Melody hanya diam saja saat Yudha membuka silangan tangannya dengan sangat lembut. Melody tenggelam dengan tatapan tajam Yudha. Sangat kelam bagai tiada dasar. Semakin dalam, semakin gelap, dan semakin tenggelam.
Dengan santai Yudha menyibakkan tali bra sebelah kiri Melody, lalu dengan cepat Yudha membuat kiss mark di dada sebelah kiri Melody.
1
2
3
Butuh detik ke 4?
__ADS_1
"HUWAAAAAAA…."