
FLASHBACK ON
Setelah debat yang panjang karena ulah Yoga yang ingin menikahi Kurenai yang sedang mengandung anaknya, suasana kediaman Kazehaya semakin tak nyaman untuk sekedar bernafas.
Yoga sedang pergi mengantarkan Kurenai pulang. Kini Mikan yang memang sudah tinggal di kediaman Kazehaya sedang duduk termenung di taman belakang. Di depannya ada sebuah kolam cukup luas yang mana di dalamnya ada banyak ikan koi, tanaman teratai dan tanaman hias lainnya.
Mikan memandang ikan-ikan koi warna warni yang sedang berenang ke sana ke mari. Sangat cantik ketika mereka berlenggak-lenggok menarikan sirip-siripnya.
Ikan Koi itu selalu nampak indah. Wajar saja jika ikan ini harganya sangat mahal. Ikan Koi arau disebut juga ikan karper yang bersulam emas atau perak.
"Di Jepang, koi menjadi semacam simbol cinta dan persahabatan. Ini karena koi merupakan homofon untuk kata lain yang juga bermakna kasih sayang atau cinta. Ya, bahasa Jepangnya cinta adalah koi. Koi biasanya dipelihara sebagai hiasan dengan tujuan keindahkan dan keberuntungan di dalam rumah dan luar rumah bisa di kolam koi atau taman air, karena ikan koi dipercaya membawa keberuntungan. Orang seperti paman Wijaya mempercayai hal-hal seperti ini juga rupanya. Walau nyatanya, sepertinya keberuntungan soal cinta dalam keluarga ini tidaklah seindai corak ikan koi." Gumam Mikan.
Ikan Koi adalah sejenis ikan yang termasuk ikan mas (Cyprinus carpio) yang mempunyai ornamen yang sangat indah dan jinak. Hal ini membuat Mikan semakin betah memandanginya. Pikirannya seperti teraliri energi-energi positif ketika memandangi ikan-ikan koi itu.
Merasa tak puas hanya sekedar memandangi, Mikan pun mengambil pakan ikan yang sudah di sediakan di pinggir kolam. Ia menjumput dengan tangannya dan langsung menaburkannya ke dalam kolam. Terciptalah kerumunan ikan koi yang saling berebut makanan. Membuat gelembung-gelembung dan bunyi kemercik air yang indah dan merdu.
"Makan yang banyak ya, jangan berebut, aku masih memiliki pakan yang banyak untuk kalian!" Kata Mikan.
"Kak Mikan, pernah mencoba makan ikan koi?" Tanya Orion yang tiba-tiba muncul mendekat ke kolam.
"Kau mengagetkanku, Baka Orion! Kalau aku sampai jatuh bagaimana, hah?" Kesal Mikan.
"Kalau kak Mikan jatuh, paling basah bajunya. Lagian kolamnya kan tidak dalam-dalam amat. Seumpama kak Mikan tak bisa renang pun, aku pasti akan menyeburkan diri untuk menolong." Cengir Orion.
Mikan tersenyum. "Kau selalu memiliki stok kebaikan di hatimu ya?"
"Aku kan memang selalu baik hati. Oh iya, untuk pertanyaanku yang tadi, aku bertanya serius dan tidak bercanda." Kata Orion. Ia lalu duduk di pinggir kolam dengan beralaskan batu.
"Yang makan ikan koi?" Tanya Mikan.
Orion mengangguk. "Iya. Makan ikan Koi."
"Haruskah dijawab? Tentu saja tidak pernahlah! Ikan koi kan ikan hias. Masak ikan hias dimakan? Ada-ada saja kau ini."
"Tapi dulu aku pernah memakannya kok." Kata Orion santai.
"Hah?" Mikan tak habis pikir. Apa Orion saat ini sedang bercanda?
"Seriusan, Kak Mikan. Dulu ikan Koi ada yang mati dan cukup banyak. Aku pikir sayang saja. Aku pun meminta koki rumah untuk menggorengnya." Jelas Orion.
Kok jadi penasaran. Itu yang ada di benak Mikan. "Lalu?"
"Ya aku makan ikan koi gorengnya."
"Rasanya?"
"Rasanya... hmm.. rasanya seperti ikan."
"Hah?"
"Jangan hah saja, Kak Mikan!"
"Aku loh sudah mencoba mendengarkan baik-baik, tapi jawabanmu malah seperti itu. Huh!"
"Lha aku memangnya harus menjawab seperti apa? Ikan koi kan ikan, rasanya ya ikan, kan?"
"Ya maksudnya teksturnya bagaimana, lembut atau tidak? Amis atau tidak? Atau apa kek?"
"Nah loh, kok malah kak Mikan sewot sih?"
"Hei, aku ini sedang tidak sewot!"
.
__ADS_1
"Kawaii.." Senyum Orion.
"Kawaai jaanai!"
"Imutnya.."
"Aku tidak imut, Orion!"
"..."
"..."
Mereka terdiam saling tatap, lalu setelah itu mereka langsung tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang sedang kita bicarakan sih? Tidak jelas sekali. Astaga." Kata Mikan.
"Kak Mikan yang ceria memang yang paling cocok." Kata Orion.
Mikan lalu tersenyum. "Cih, kau selalu yang terbaik dalam menghibur orang, Orion."
"Hanya kepada kak Mikan saja." Kata Orion serius.
Mikan tak mengerti dengan nada suara Orion yang sampai di telinganya. Ada rasa tak biasa dimana nada suara itu memaksanya untuk berpikir dengan otaknya. Orion nampak lain. Khayalannya atau memang itu yang sedang terjadi?
Atau sedang bercanda? Ah, tak paham. Arahnya kemana sih?
"Kau juga bisa menghibur kakakmu itu." Kata Mikan.
"Menghibur orang yang menyakitimu?"
Mikan tak langsung menjawab kata-kata Orion. Tiba-tiba saja dadanya nyeri seperti terkenal sayatan silet. Bekasnya kecil, tapi sakitnya nyata.
"Ya kan dia juga kakakmu. Kau menyayanginya. Jika dia bersedih, kau berkewajiban menghibur dirinya." Kata Mikan.
"Jangan bilang kau belum berbicara lagi dengannya setelah kejadian itu?"
Orion memalingkan wajahnya. Ia enggan menjawab karena hal itu sudah jelas diketahui oleh Mikan tanpa harus berepot-repot untuk menjelaskannya.
"Orion..."
"Kak Mikan masih membelanya meski sudah disakiti sampai seperti itu? Kak Mikan itu sudah dilecehkan olehnya. Lalu, bukannya memperbaiki hubungan dengan kak Mikan, tapi dia malah menghamili wanita tidak jelas. Aku malas mengakuinya sebagai saudaraku." Kata Orion.
"Kalian sedarah. Ikatan itu tidak akan mudah putus. Malah tidak akan mungkin."
"Ikatan darahnya memang diperlihara Tuhan. Namun, aku bisa mendiamkannya."
"Dia tetap kakakmu."
"Ya, dia memang tetap kakakku."
"..."
"..."
"Orion.."
"Ya?"
"Sakit sekali... sakit sekali rasanya." Mikan memegangi dadanya dang menangis. Sedari tadi ia menahannya. Saat ini ia sudah tak kuasa. Semakin ia mencoba menahan, semakin sakit yang ia rasa. Dadanya sesak, menyempit, dan minim udara. Seolah tertindih beban, tercekik, dan engap.
Orion memeluk Mikan. Ia selalu tidak tega melihat Mikan menangis. Ia membiarkan dirinya menjadi tempat Mikan bersandar dan menangi sepuasnya.
Berapa lama pun, ia tidak masalah. Ia bisa menahan rasa pegalnya. Ia bisa membersihkan lagi bajunya yang penuh air mata Mikan. Tak masalah. Semua itu untuk Mikan. Semua itu demi Mikan. Demi sosok wanita yang sangat ia cintai sejak kecil.
__ADS_1
"Orion, kenapa kakakmu tega melakukan semua ini padaku? Dia pikir aku ini apa? Boneka? Mainan yang bisa ia mainkan sesuka hatinya? Aku ini memiliki hati yang bisa merasakan sakit. Aku mengenali luka karena saat ini sedang berteman dengannya. Kenapa kakakmu malah menaburi garam dari luka yang susah ia torehkan sebelumnya? ... Apa yang sudah aku lakukan kepadanya? Apa aku sudah berbuat buruk kepadanya? Apa aku menyakitinya? Dendam apa dia terhadapku sehingga ia melukai perasaanku yang lebih dari sekedar tulus mencintainya?" Oceh Mikan.
Ia memukul-mukul dada bidang Orion dengan tenaga lemahnya.
Tentulah ini tidak menimbulkan rasa sakit di fisiknya. Namun, rasa sakit itu justru muncul dari hatinya. Melihat Mikan yang sedang frustasi dan kesakitan, membuatnya juga ikut merasakan sakitnya, dan akan semakin sakit ketika air mata yang tadi sukses ia ganti dengan senyuman kembali menguasai Mikan.
"Aku sudah memeberikan seluruh hatiku untuk mencintainya selama ini. Aku tidak menuntutnya atas pelecehan yang aku terima. Namun apa? Apa ini? Dia mempermainkanku lagi dan lagi. Aku pikir dia tidak mencintaiku, ketika aku ingin menyerah, dia menguasaiku dengan menawarkan manisnya cinta. Aku yang haus akan balasan cinta darinya pun luluh dengan sangat mudahnya. Semua berjalan dengan baik. Hubungan yang aku dambakan juga memenuhi segalan anganku mengenai dirinya. Lalu tiba-tiba dia mengabaikanku selama setengah tahu. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu aku sudah tidur dengannya. Masalah itu belum usai, dalam dua bulan tak ada, dia datang membawa wanita lain yang mengandung anaknya. Jadi, setelah dia meniduriku, dia tidur dengan wanit itu ya? Hahaha. Betapa bodohnya aku. Ini prank paling sukses sepanjang masa! Selamat, selamat, aku memgucapakan selamat pada kakakmu yang sudah berhasil dengan apiknya menghancurkan hati dan hidupku!" Lanjut Mikan.
"..."
"Aku ingin mereka mati saja." Tambah Mikan.
"Aku akan membunuh mereka jika itu bisa membuat kak Mikan bahagia. Aku akan membunuh mereka jika itu bisa membalaskan tasa sakit yang kak Mikan derita." Kata Orion.
Mikan maih memeluk Orion. Ia mencengkram kemeja milik Orion. Ia menggeleng dan menyembunyikan kepalanya di dada Orion.
"Jika mereka mati dengan cepat, maka sudah tidak seru lagi. Aku ingin mereka tetap hidup dan merasakan apa yang aku rasa. Aku tak mau setelah mati, mereka justru akan bersama di akhirat sementara aku di sini sendirian menikmati luka. Aku tak mau itu terjadi." Kata Mikan.
Orion paham jika saat ini Mikan hanya sedang merancau tidak jelas. Rasa sakit di dalam hati Mikan pastilah sangat dalam sehingga membuat Mikan tak bisa berpikir dengan jernih.
"Kak Mikan..." Panggil Orion.
"Ya?"
"Jika denganku bagaimana?" Tanya Orion. Ia memandang jauh ke depan. Entah apa yang sedang ia pandang. Yang jelas, ia tak memandang Mikan yang saat ini sedang ad di dalam pelukkannya.
"Maksudmu?" Tanya Mikan.
"Pilihlah aku, maka aku akan memberikan semua cinta dan kasih sayang sebanyak yang kau inginkan!" Jawab Orion.
Mikan kaget. Ia melepaskan pelukkannya. Namu, Orion kembali meraih tubuhnya dan memeluknya dengan sangat erat. Ia berontak, tapi Orion tidak mau melepaskannya. Ia bersusah payah agar bisa lepas dari dekapan erat tangan Orion.
"O-Orion.. tolong jangan seperti ini!" Pinta Mikan.
"Dengan bersamaku, aku berjanji tidak akan pernah melukaimu. Aku berjanji tidak akan pernah melukaimu. Aku akan menjagamu dengan kasih. Aku akan merawatmu dengan sayang. Aku akan memperlakukanmu dengan cinta. Aku akan menjadikanmu satu satunya ratu dalam kisah cinta romansa milikmu dan milikku." Jelas Orion.
Ini adalah ungkapan setulus hati Orion. Ini adalah ungakapan yang sudah sejak dulu ingi ia sampaikan kepada Mikan, namu terpaksa tertunda berkali-kali karena ia menyadadi diri untuk tidak menjadi sosok yan diinginkan namun perubahan itu justru malah membuat Mikan tak nyaman.
"Aku tidak bisa membalas perasaanmu karena di dalam relung hatiku, kak Yoga masih bertahta. Semenyakitkannya luka, seperihnya luka, aku akan baik-baik. Aku tak masalan harus menanggungnya lagi demi masa depan yang lebih baik." Kata Mikan.
"Masa depan yang lebih baik apa, hah? Aku tidak mengerti apapun yang sedang kau bicarakan kerena orang lain pasti akan meninggakan laki-laki yang sudah menyakiti sebegitu dalamnya luka yang diterohkan.
"Orion, maafkan aku! Maaf, maaf karena aku tak bisa membalas perasaanmu kepadaku. Tolong akhiri perasaanmu terhadapku karena hanya dengan menyudahinya, maka kau akan baik-baik saja di masa depan." Kata Mikan.
"Kak Mikan, kau jahat ya? Taknya menolakku tapi kau juga menyuruhku untuk melupakan perasaanmu kepadaku. Kau sadar tidak sih jika saat ini aku sedang terluka karena perkataanmu?" Kata Orion. Ia akhirnya melepaskan pelukkan eratnya pada Mikan.
Ia luluh akan perkataan Mikan. Meski sebisa mungkin ia fokus dengan perasaannya, namun, Mikan sama sekali tidak bksa ka abaikan begitu saja.
"Kau tahu aku sudah jahat terhadapmu. Aku sangat jahat karena sudah melakukan itu semua kepadamu padahal kau adalah sosok yang amat sangat berarti di dalam hidupku terutama saat kak Yoga tak ada di sampingku. Kekuatan canda ceriamu memberikanku kekuatan untuk bangkit dan menghadapi semua hal yang tak bersahabat denganku. Terima kasih sudah memilihku, Orion. Tapi maaf, aku sungguh meminta maaf kepadamu. Aku tetap tak bisa menggantikan Yoga dari dalam hatiku. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan membukan hati untuk laki-laki lain selain kak Yoga." Jelas Mikan.
Sebagai orang yang selalu dengan Mikan ketika masih kecil, Orion tahu betul bagaimana besarnya perasaan Mikan terhadap kakaknya, Kazehaya Yoga. Rangan hati Mikan dipenuhi oleh Yoga dari pada dirinya. Ia tak memiliki tempat di hati Mikan secara romantis. Secara bagaimana ia menatap Mian dengan tatapan ingin memiliki layaknya seorang laki-laki dan perempuan.
"Jika aku terus memaksamu untuk menerima perasaanku, maka kau akan membenciku, kan?" Tanya Orion.
"Aku tak akan bisa membencimu hanya karna hal ini. Aku tak bisa melakukannya. Kau sangat berarti di dalam hidupku. Meski aku tak memandangmu sebagi seorang laki-laki seperti aku memandang kak Yoga. Maaf Orion, di mataku kau itu sosok adik yang aku sayangi dan akan selalu seperti itu." Kata Mikan.
"Sodesu ka? Begitu ya caramu memandangku? Padahal aku menawari semua yang bisa aku berikan kepadamu. Cinta dan kasih sayang, aku bisa memberikannya. Namun kau tetap kekeuh pada pendirianmu untuk tetap mencintai kak Yoga yang jelas-jelas susah mnyakitimu. Lembo lagi ke awal, aku tak akan memaksamu. Jika ini adalah pilihanmu. Ini berati adalah hakmu juga." Kata Orion.
Orion melangkahkan kaki untuk meninggalkan Mikan. Meski ia adalah seorang laki-laki, tapi ketika ia mengalami pengalaman yang menurutnya berat, lama-lama juga tidak tahan. Ia ingin bersandar pada apapun asal bisa sendirian saat ini.
"Orion, apa setelah semua ini terjadi kau akan tetap sama seperti dulu lagi?" Tanya Mikan agak berteriak karena Orion sudah agak jauh meninggalkannya.
Orion menoleh ke arah Mikan. Matanya memerah tapi ia tak menangis. "Menurutmu? Katanya dan kembali melenggang pergi.
__ADS_1
Mikan terperosot jatuh tak berdaya. Hari ini adalah ari yang sangat panjang.