
Anggota baru dalam keluarga dari dirinya dan Yudha maksudnya anak?
ANAK?
"Anak maksud ibu mertua? Hoe, mana mungkin! Aku tidak akan membiarkan Yudha menyentuhku! Tidak akan! Aku tidak mau mengalami masa-masa seperti orang busung lapar! Tidak mau! Tunggu, tapi, bukankah itu bagian dari tugasku? Setelah aku memutuskan untuk menikah dengan Kazehaya Yudha, aku harus sudah siap dengan hal seperti ini. Aku melihat ke arah Yudha yang ada di depanku, aku memperhatikannya dari ujung rambut, wajah, tubuh, tangan, kaki, ia masih duduk di pangkuanku. Lalu aku melihat ke perut rataku.. Jika itu terjadi, maka akan ada kehidupan di perutku. Nanti perutku juga akan membesar karena ulah Yudha. Hiiiiiii. Tidak-tidak!" Batin Melody sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Melody sering melamun dan di akhiri dengan gelengan kepala. Kebiasaannya akhir-akhir ini semakin terlihat saja.
Yudha hanya mengamati tingkah Melody yang memang sudah ia sadari jika istrinya itu memang 'aneh'. Sering melamun, seolah memikirkan sesuatu, lalu menggelengkan kepala seperti orang bodoh.
"Jangan berimajinasi yang bukan-bukan hanya karena kata-kata dari Ibu, Melody!" Kata Yudha.
Rasanya Yudha mengganggu angan-angannya.
"TIDAK AKAN! YUDHA NO BAKA, MENYINGKIRLAH, BERAAAT!" Melody mendorong kasar tubuh Yudha yang ada di depannya.
Yudha terjatuh ke lantai kamar mereka. Ia terlihat sedang kesakitan.
"Issh, kau fikir perlakuanmu itu pantas kau lakukan, Melody? Berani kurang ajar sama suamimu ya!" Kata Yudha memegangi pantatnya yang sakit.
"Maaf, habisnya kau tidak menyingkir dari tubuhku, kau kan berat. Itu bukan berarti aku bersikap kurang ajar pada suami! Bedain dong!" Sanggah Melody.
Yudha bangkit dari jatuhnya. Pantatnya sakit sekali. Tapi tak apa, toh ia menang. Ia berhasil mengambil apa yang Melody sembunyikan darinya.
Melody baru sadar jika ia kehilangan lingeri dari tangan kanannya. Ia langsung melihat ke arah Yudha yang terlihat tengah tersenyum penuh kemenangan.
Ah, berakhir sudah.
Melody menundukkan kepalannya.
"Habislah sudah. Yudha pasti akan segera berpikiran yang tidak-tidak tentangku." Batinnya ngenes.
Yudha lalu mengamati sesuatu yang sedari tadi membuatnya penasaran. Butuh perjuangan berat untuk mengambilnya dari Melody.
Menurutnya, yang ada di tangannya saat ini seperti kain, ada rendanya. Apa ini? Ia yang memang sudah penasaran langsung melebarkan kain itu dan ya, ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Melody saat pertama kali melihat kain itu ia tunjukkan.
"I..ini?" Yudha mengamati lingerie itu dan melihat ke arah Melody.
__ADS_1
Kain transparan, tipis, dan berwarna hitam. Bukankah ini sangat sexy?
Lingerie-Melody, Melody-lingerie. Begitu seterusnya.
"Su-sudah kubilang itu bukan sesuatu hal yang pantas kau lihat, kan?" Melody bangkit dari ranjangnya dan menyambar lingerie itu dari tangan Yudha.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Tanya Yudha kesal.
Kenapa juga Yudha yang harus kesal? Harusnya dirinya yang kesal karena Yudha terlalu ngeyel ingin melihatnya. Sekarang giliran sudah tahu, Yudha malampiaskan kekesalannya pad dirinya.
Kesal dengan apa yang bukan dari kesalahannya itu bukan hal yang masuk akal!
"Haruskah aku bilang, 'ini pakaian dalam', Yudha tidak boleh melihatnya.' Mengertilah Yudha, itu memalukan!" Melody jadi ikutan kesal.
Yang salah Yudha, yang kesal juga Yudha.
"Hah, membuang tenangaku saja! Sudahlah, aku akan menemui kakek. Kau tidurlah!"
Lebih baik memang diakhiri saja. Ini memang memalukan, tak bisa diteruskan lebih lanjut. Tidak mungkin membahas lingirie sampai sedetao itu, kan?
"Hm. Ne, Yudha.." Panggil Melody.
"Maaf aku sudah mendorongmu tadi." Kata Melody akhirnya. Meski ia kesal, tapi ia tak ingin memperburuk suasana.
Ia juga tak mau bertengkar dengan Yudha hanya karena lingirie hitam, sexy, dan transparan sialan pemberian Mia itu.
"Tak apa." Jawab Yudha singkat. Memang lebih baik tak usah membahasnya lebih jauh.
Yudha berjalan keluar dari kamarnya dengan Melody. Ia menutup pelan pintu kamar mereka.
.
.
.
Hari ini Yudha akui, ia membuat banyak hal yang merepotkan. Berdansa dengan Melody, kakinya lumayan sakit karena beberapa kali terinjak heels Melody. Untung ia memakai sepatu, bagaimana kalau tidak? Akan sangat mengerikan jika warnanya sampai membiru.
__ADS_1
Hal merepotkan lagi masih berlanjut mengisi hari-harinya. Ya, tadi siang ia mendapatkan kunjungan tak terduga dari sahabat lamanya.
Saat bertemu dengan sahabat lamanya, ia malah sering dicuekin oleh Melody yang terlihat asyik sendiri. Giliran ia bisa bersama Melody, rencana bercandanya dengan Melody justru berakhir dengan pantat yang sakit. Sudah begitu, Ibunya malah semakin kepo saja semenjak kedatangan Melody di mansion Kazehaya.
Dan baru saja. Ahhh. Insiden lingerie itu membuat jantunganya berdetak tak karuan, pikirannyapun ikutan ambyar karenannya.
"Apa yang Yudha fikirkan setelah ini? Huwaaa, ini memalukan sekali." Batin Melody sambil memegangi bibirnya.
Di sana, di bibir tipisnya, ada bekas bibir Yudha. Ciuman tak sengaja dari suaminya. Ia hanya bisa memandangi pintu kamar yang baru saja tertutup rapat itu.
.
.
.
Semenjak ada Melody di mansion ini, di hidupnya pula, Yudha mulai mengalami banyak hal. Salah satunya, rasanya semua yang awalnya terlihat mudah untuk seorang Yudha, tiba-tiba terasa sulit dan kemudahan itu rasanya semakin menjauhinya. Ya memang menarik sih karena semua menjadi sulit untuk diprediksi.
Tetap saja, Melody banyak mengobrak-abrik hidupnya.
Ia menjadi sok peduli, ia menadi memiliki tanggungan, ia ingin mengerjai Melody, ia ingin membantu Melody menjadi sosok Kazehaya yang layak, ia ingin ini, ingin itu.
"Melody…" Batin Yudha sesaat setelah menutup pintu kamar mereka.
Yudha mengigit bibir bawahnya, berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi anatara dirinya dengan Melody.
Yudha kembali teringat insiden yang baru saja ia alami dengan Melody. Berebut sesuatu yang membuatnya penasaran, mencium Melody mesti tidak sengaja, dan ternyata, apa yang ia perebutkan dengan Melody itu hanyalah sebuah lingerie! Lingerie tipis, sangat transparan, dan terlihat seksi.
Otak Yudha mulai mengumpulkan pertanyaan. Pertanyaan yang membuatnya jauh lebih penasaran dari pada mengetahui apa yang Melody sembunyikan darinya.
"Kira-kira, jika Melody memakainya akan seperti apa ya? 🤔 Hoi, hoi, luruskan pikiranmu, Yudha! Apa yang sedang kau pikirkan, hah? Mendokusai!"
Mendokusai: Merepotkan.
Yudha membuang jauh pemikiran anehnya itu. Mukanya merah padam.
Saat ini yang jauh lebih penting adalah permainannya dengan sang kakek. Ia harus fokus jika ia ingin cepat bernafas lega dengan kemenangan di genggamannya. Ia harus menang melawan kakeknya! Ia sudah menerima kekalahan awal dengan menikahi Melody atas kehendak sang kakek, maka ia juga akan menuntut bayar dari apa yang sudah ia turuti dari kakeknya itu.
__ADS_1
Itu adalah langkah awal untuk membuat sang kakek kalah!