MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sebuah Awal


__ADS_3

Laki-laki berambut hitam itu mengatupkan kedua tangannya di depan sebuah kuil kemudian memejamkan mata. Wanita ayu yang sedang hamil di sebelahnya melakukan hal yang sama, mengikuti setiap gerak gerik si laki-laki sambil sesekali mengintip ke arahnya. Ia juga ikut memohon pada dewa, permohonan yang selalu sama sampai ia berpikir mungkin dewa pun sudah bosan mendengarnya. Ketika laki-laki itu menyadari kehadiran seseorang lalu menoleh, wanita itu sudah mempersiapkan sebuah senyuman paling manis yang bisa ia lakukan.


"Kenapa selalu mengikuti aku, Melody? Apa kau akan tumbuh jadi ekorku, hah?!" Tanya si laki-laki.


Kazehaya Melody malah tersipu dengan pertanyaan itu, membuat si laki-laki bergidik.


"Yudha, apa doamu?" tanyanya.


"Aku ingin jadi kuat dan hebat. Soalnya ke depan, masalah akan banyak menimpa keluarga kecil kita. Banyak yang harus aku lindungi. Dirimu dan juga anak-anak kita adalah prioritasku. Itu cita-citaku!" Yudha dengan tekat di dalam diri berapi-api. Ia paham apa yang akan menyapanya di masa depan. "Aku tak ingin kehilangan orang yang aku sayangi sekali lagi."


Tambahnya.


Melody hanya diam ketika mendengarkan ucapan Yudha, karena 15 tahun yang lalu ayahnya Yudha meninggal oleh orang jahat dalan sebuah sabotase kecelakaan. Yudha menjadi yatim dan hidup dibesarkan oleh sang kakek, Kazehaya Wijaya yang dikenal cukup keras itu dalam mendidik cucu.


Yudha kesepian dan butuh teman yang setia mendukungnya. Lalu wanita yang perutnya sudah membesar itu menggenggam jemari Yudha sambil tersenyum manis.


"Katanya doa orang lain lebih ampuh lho, jadi aku juga akan berdoa untukmu! Kita akan sama-sama melindungi keluarga. Janji ya?" Katanya.


Kazehaya Yudha menatapnya heran. "Memangnya tadi kau memohon apa?"


"Kalau aku mengatakannya, nanti doanya jadi tidak terkabul!" Melody mencoba mengelak. "Tapi janji ya, keluarga kita ini akan kita lindungi dari orang-orang jahat! Aku dan kau! Kita berdua, bersama-sama!"


Jemari keduanya bertautan, diiringi senyuman dan keyakinan yang menghiasi wajah mereka.


"Ya. Aku janji…"


.


.


.


Melody menghapus air matanyanya. Ia teringat akan kenangan yang hampir saja ia lupakan ketika berkunjung ke sebuah kuil di Miyagi dulu ketika jaman dirinya sedang PKL dan hangat-hangatnya menjalani hubungannya dengan Yudha yang mulai membaik.


Berdoa bersama Yudha dengan harapan yang sama. Ingin keluarga selamat dan bahagia. Sederhana, tapi jika menilik dengan apa yang terjadi saat ini, itu menjadi sangat sulit untuk di raih.


"Tolong tanda tangani di sini!" Pinta seorang notaris.

__ADS_1


Melody mengikuti setiap intruksi yang dituntunkan sang notaris.


Ya, siang ini ia sedang mengurus akta perpindahan saham milik Yudha ke Tuan Han. Harusnya ia tak bisa melakukannya, tapi ia menjadi wali Yudha, jadi ia bisa melakukannya. Lagi pula, ini juga atas persetujuan dari Yudha.


"Nah, semua sudah selesai. Sudah saya sahkan juga. Jadi harusnya buat ke dapannya sudah tak akan ada lagi masalah. Kepemilikkan saham ini sudah resmi pindah tangan ke Matsuoka Han." Kata Notaris.


"Ya. Terima kasih atas bantuannya." Kata Melody.


"Sama-sama."


Usai berpamitan dengan notaris itu, Melody pun keluar sambil memeluk dokumen yang batu saja selesai dibuat itu.


"Yudha, doaku adalah ingin kau sehat dan hidup lama bersamaku. Menua bersamaku dan mati bersamaku. Aku akan menyelamatkanmu meski aku harus berkorban banyak hal... Aku ingin melihatmu, Yudh. Aku ingin bertemu denganmu..." Batin Melody.


"Melody-sama, apa harus seperti ini?" Tanya Ayane.


"Untuk mendapatkan tangkapan yang besar, maka yang perlu dikorbankan juga banyak, kan? Lagi pula, yang ingin kita tangkap itu paus. Umpannya pun juga harus besar." Jawab Melody.


"Nona, tapi pau makan plankton. Plankton kecil."


Sebenarnya tidak penting juga untuk membahas ini. Lagi pula ini juga hanyalah pengandaian.


"Tapi saya masih khawatir, apakah Yudha-sama benar-benar akan Tuan Han bebaskan atau tidak."


"Aku sadari jika aku tak bisa bergerak sendiri. Namun aku percaya pada paman-pamanku."


"Semoga rencana itu berhasil."


"Ya. Semoga saja. Jika tidak, aku sungguh tak tahu lagi harus bagaimana."


.


.


.


Ketika Melody sedang menuju sebuah restoran untuk makan siang, ia bertemu dengan Saga. Saga Masamune.

__ADS_1


"Melody-san?" Kata Saga.


"Sa-Saga-san?" Gumam Melody.


"Sedang apa Anda di sini? Makan siang?" Saga nampak senang karena bisa berjumpa dengan Melody secara kebetulan seperti ini. Beberapa hari terakhir, kepalanya dipenuhi oleh wanita cantik ini.


"Ya, saya ingin makan siang di restoran ini." Melody sendiri sejujurnya tidak begitu menyukai Saga yang menurutnya suka berlebihan.


"Kebetulan saya makan sendirian, ayo kita makan bersama!" Ajak Saga.


"Ah, tapi saya sudah bersama dengan teman saya." Melody memperkenalkan Ayane. Ayane mengangguk dan tersenyum pada Saga.


Melody sendiri ogah jika harus bersama dengan Saga. Ia tak mau terlampau dekat dengan si tampan ini. Ia tak mau menjalin hubungan dengan laki-laki asing ini dengan jauh lebih dalam lagi. Instingnya bilang jika sebaiknya ia tak bersama dengan Saga.


"Kazehaya-san, apakah Anda sedang berusaha untuk menghindari saya?!" Tanya Saga yang mencengkeram pergelangan tangan milik Melody itu.


"Lepaskan tangan saya!" Melody menatap Saga geram. "Ini tempat umum, sebaiknya kendalikan sikap Anda, Saga-san!" Melody dengan paksa melepaskan tangannya dari genggaman Saga.


"Apa saya salah? Apa saya sudah membuat Anda marah? Apakah ajakkan dari saya itu sangat merepotkan bagi Anda sehingga terkesan tak suka saya berada si samping Anda." Tanya Saga keheranan, "Kenapa Anda jadi aneh sepryi ini? Sikap Anda ini membuat saya pusing, Kazehaya-san!"


"Kalau Anda pusing seharusnya Anda minum obat, bukan malah menahan saya seperti ini!" Kata Melody dengan sinis.


"Saya hanya mengajak Anda makan bersama, dengan teman Anda juga tidak masalah. Haruskah Anda memperlakukan saya seperti ini?"


Benar juga. Bagi Melody, Saga itu sebenarnya tak ada yang salah soal mengajak makan bersama. Ini hanya dirinya saja yang terlampau sensitif akibat jauh dari Yudha.


"Maafkan saya, Saga-san. Saya lelah bekerja beberapa hari ini, bukannya mau menghindari Anda atau membuat Anda marah seperti ini." Jelas Melody.


"Saya tidak marah, Kazehaya-san. Saya hanya merasa sedih ketika Anda terang-terangan berusaha menghindari saya saja. Saya ini tidak memiliki niat buruk kepada Anda."


Sudah berusaha menghindar, tapi tetap gagal. Alhasil, mereka bertiga pun makan siang bersama di restoran tempat mereka bertemu itu.


Di sini, Saga nampak begitu bahagia karena bisa makan bersana ďengan wanita pujaannya.


Ini cinta?


Sayangnya, Saga tidak tahu jika dirinya dan Melody itu saudara.

__ADS_1


__ADS_2